Hanya kenyataan yang sangat cepat membuat ku merasakan hidup bersama orang baru yang sama sekali tidak aku kenal terlebih di usiaku yang baru menginjak 18 tahun.
Dan kejadian kejadian yang terjadi seperti proses kehidupan terkhusus untukku.
Angelina Clarzie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace Putry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Angelina POV
Aku duduk sambil memandangi beberapa potret membahagiakan antara aku dan Xavie. Haha sungguh miris.
Baru dalam waktu dekat aku bersamanya. Aku kehilangan orang terkasih dalam hidupku. Aku baru bisa merasakan seperti itu rasanya di cintai oleh orang baru tetapi lihat sekarang? Kenyataan singkat menamparku kembali.
Tidak semua orang asing yang masuk di kehidupan ku akan mencintai ku dengan tulus. Seandainya aku tidak bertemu dan di jodohkan dengannya apakah aku bisa dapatkan yang lebih baik??. Sekelebat bayangan pertemuan dulu dan juga beberapa liburan yang kami jalani beserta semua kejutan di dalamnya.
Seperti di cerita dongeng bukan? Sungguh miris.
"Miris sekali hidupmu Angelina. Di dunia ini tidak ada yang benar-benar tulus mencintaimu."Ucap ku kepada diri ku sendiri.
"Kenapa bicara seperti itu Sayang??.Aku mencintai mu dengan tulus."Ujar seseorang di belakangku. Xavie. Beberapa saat lalu Xavie masuk dan menatap ku dalam diam.
"Hahhaha."Tawa ku terdengar mengema dalam kamar ini."Cukup berpura-pura Tuan Xavie yang terhormat."
Aku berbalik dan langsung saja menatap tajam ke arah Xavie. Aku bisa melihat kilatan terkejut dan emosi yang mulai tersulut di kedua bola matanya.
"Kenapa? Mau apalagi kamu kesini? Bukannya aku sudah bicara tadi? Akhiri hubungan sialan ini."Ujarku menahan geraman dan sambil berteriak. Air mataku jatuh tak tertahankan.
"Diam Angelina."Bentak Xavie keras di depanku. Amarah terlihat di wajahnya.
Aku semakin tidak suka dengan sikapnya. Aku langsung saja kembali berteriak.
"Kamuu.. Kamu pembohong Tuan. Kamu mempermainkan aku bukan? Sudah puas hem??.Kenapa tidak menemani perempuan yang kamu simpan itu di luaran sana hah? Kenapa kamu di sini sekarang brengsek?."Ujarku kasar.
"Apa maksudmu Angelina? kenapa kamu malah berkata seperti itu dan memutuskan hubungan kita sepihak. Ingat aku tidak akan melepaskan mu sedetikpun Angelina Clarzie. Dan sampai mati pun kamu akan tetap menjadi milikku."Ujar Xavie datar dan penuh penekanan."Dan jangan sedikit pun lagi kamu bicara kalau hubungan kita ini hubungan sialan. Aku tidak akan segan-segan memberi hukuman kepadamu Angelina."
"Oh hukuman ? Dan apa katamu, aku milikmu? Hah sepertinya kamu sedang bermimpi dan bermain peran Tuan. Sejak kamu bermain-main di luar sana aku bukan lagi milikmu."Kataku dan langsung berjalan keluar kamar.
Xavie manarik tanganku dan langsung memojokkan ku dekat pintu keluar kamar.
"Aku tidak pernah bermain di belakangmu Angelina. Jangan pernah menfitnahku."
"Diamlah Xavie. Tutup mulut pembohongmu itu."
"Apa maksudmu sayang. Aku tidak pernah seperti itu."Ujar Xavie yang mulai lunak. Huh aku semakin mual akan ucapan dan bualan dari mulutnya ini.
"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri Xavie kamu bertemu dengan Xiela siang tadi. Apa itu yang di namakan tidak bermain di belakang calon istrimu yang tinggal menghitung waktu akan menjadi istri sah mu Xavie?.Aku kira kamu memiliki IQ yang tinggi untuk paham akan ucapanku barusan."Ucapku sambil memandang dalam ke arah matanya.
Xavie berdiri mematung tetapi matanya tetap terarah kepadaku.
"Kenapa diam hah? Sudah ketahuan bukan? Dan oh ada pesan dari perempuan simpanan mu itu. Tadi dia menelponmu dan meminta kamu untuk menemuinya. Silahkan menemuinya."Ujarku sambil mendorong badannya menjauh dariku. Langsung saja aku melangkahkan kaki keluar dari kamar.
"Satu lagi. Akhiri hubungan ini. Tidak ada pernikahan dan tidak ada lagi hubungan antara kita berdua. Selamat tinggal Tuan."Ujarku langsung berjalan keluar kamar.
Aku berniat pergi dari mansion ini. Tidak ada yang di harapkan lagi bukan dari semua yang telah terjadi. Langkahku terhenti ketika sebuah tangan menarik ku kedalam pelukannya.
"Ku mohon jangan pergi Angelina. Aku bisa menjelaskan semuanya."Ujar Xavie lemah.
"Lepas Xavie. Aku benar-benar tidak tahan lagi bersamamu. Bebaskan aku."Aku merasakan gelengan dari nya di belakangku. Sungguh berat buatku mengakhiri hubungan ini tetapi memang harus seperti ini.
"Jangan pergi ku mohon."Teriak Xavie keras di belakangku. Aku terkejut dan mematung.
"Aku harus pergi."Aku tetap memantapkan hati untuk pergi. Aku memberontak darinya tetapi apalah daya kekuatan Xavie lebih besar dariku.
Aku melihat ada amarah di wajahnya. Dia mendorongku dan aku terjatuh di atas ranjang besar kami. Xavie melihatku dengan tatapan seperti penuh ambisi. Jangann... Aku sungguh takut dengan tatapannya kali ini...
Xavie melangkah maju kearahku...
"Mau apa kamu Xavie. Jangan macam-macam."Peringatku kepadanya. Aku memundurkan diriku ke arah tepi ranjang.
Oh ya Tuhan. Saat ini jantungku seakan sudah copot dan tidak lagi di tempatnya..
"Menjauh dari ku sialan. Jangan macam-macam kamu Xavie."Aku melihatnya mengeleng. Dan ada setitik air mata menetes di kedua bola matanya. Dia semakin maju kearahku.
"Please Xavie. Biarkan aku pergi dan tolong jangan apa-apakan aku."
"Maaf Angelina hanya ini yang dapat membuat mu tidak pergi dariku."Ujarnya sewaktu didepanku dan langsung saja merobek gaun yang ku kenakan.
Aku berteriak meminta tolong dan Xavie? Jangan tanyakan apa yang dia perbuat sekarang. Xavie seperti kesetanan dan memaksaku berhubungan dengannya. Aku tidak bisa menolak dan juga tidak bisa berontak lebih keras lagi. Tenaga ku seakan terkuras habis.
Sakitt... Hanya itu yang kurasakan saat inii.. Dia memaksaku. Dia mengambil yang berharga dalam diriku...
Setelah mendapatkan kepuasannya dia mengecup keningku lama.
"Maafkan aku baby. Hanya ini cara agar kamu tidak pergi dariku."Ujarnya setelah itu dia terlelap di sampingku.
*****
Aku menangis sejadi-jadi nya di dalam kamar mandi kamar kami. Hancur sudah hidupku. Dan harga diriku tercoreng. Xavie sungguh tega..
Aku merasakan perih yang menjalar di sekitar pangkal paha ku. Tetapi aku tetap bangun. Hari ini semuanya akan selesai.
Setelah membersihkan diri aku berjalan keluar kamar tanpa melihat ke arah Xavie yang masih tertidur pulas di ranjang kami....
Aku melangkahkan kaki terus sampai didepan gerbang mansion. Ada beberapa pengawal yang bertanya kepadaku tetapi tidak ku pedulikan.
Selamat Tinggal Xavie.