Novel ini adalah sequel dari Terjebak Gairah Monster Tampan
Jeremy Suryawijaya adalah adik kandung dari Cintyara Alona Suryawijaya dengan bersuamikan Pria hebat yaitu kakak ipar Jeremy yang memberi Jeremy fasilitas penuh untuk memulai bisnisnya di usia yang begitu muda setelah kakaknya Alona menikah dan membina biduk Rumah tangga dengan Johan Rahadiningrat.
Pertemuan pertamanya dengan Kimberly Tejakusuma gadis cantik di Dreamy Internasional Highschool yakni adalah junior di sekolah yang sama dengannya. Gadis cantik itu seringkali mencuri pandang dan melihatnya dari kejauhan tingkah lucunya yang akhirnya membuat Jeremy juga jatuh hati padanya. Namun sayang seribu sayang ternyata Kimberly sudah di jodohkan dengan Arsen yang notabene berasal dari keluarga konglomerat yang orang tuanya bersahabat baik dengan Kimberly dan menjodohkan keduanya sedari bayi. Bagaimana cara Kimberly lepas dari belenggu perjodohan itu saat cintanya dengan Jeremy akhirnya bersambut?
Yuk mampir zeyeng ditunggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ippiiieee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan..
💒 Dreamy International High School
UKS
POV Jeremy
Ily…
Kenapa aku bisa menyayangimu sedalam ini?
Jeremy duduk di tepi ranjang UKS sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak pelan di atas keyboard, tetapi pikirannya terasa jauh lebih kacau dari gerakan tangannya.
Saat dulu Ily terus mendekatinya…
Ia bisa menahan diri.
Ia bisa berpura-pura tidak peduli.
Ia bisa bersikap dingin.
Namun hari ini semuanya terasa berbeda.
Begitu melihat Ily duduk bersama Arsen di kantin, dadanya terasa sesak. Seolah ada sesuatu yang menghantam keras di dalam hatinya.
Kenapa harus Arsen?
Kenapa harus pria itu?
Jeremy menekan ponselnya sedikit lebih kuat.
Di kepalanya terbayang lagi pemandangan di kantin tadi.
Ily tertawa.
Ily berbicara.
Ily duduk sangat dekat dengan Arsen.
Jeremy mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa harus dia…” gumamnya.
Ia kembali menatap layar ponselnya lalu mulai mengetik.
Sent Message
To : Bocil Semok!
Ily… jangan pergi dari hidupku.
Kapan kamu ingin les lagi?
Apa ada pelajaran yang sulit?
Jeremy membaca pesan itu.
Beberapa detik.
Lalu menghapus semuanya.
“Ah… sial.”
Ia melempar ponselnya pelan ke atas kasur lalu mengacak rambutnya sendiri.
Kenapa sesulit ini hanya untuk mengirim pesan?
Jeremy berdiri lalu berjalan mondar-mandir di dalam ruangan UKS.
“Kenapa kemarin aku menolakmu…”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Saat Ily mengatakan perasaannya…
Ia justru memilih menjauh.
Saat Ily mengejarnya…
Ia malah bersikap seolah tidak peduli.
Tetapi sekarang?
Begitu melihat Ily bersama pria lain…
Hatanya terasa seperti diremas.
Jeremy kembali duduk dan mengambil ponselnya lagi.
Jarinya kembali mengetik.
Sent Message
To : Bocil Semok!
Silakan saja lama-lama di kantin dengan tunanganmu.
Kecil-kecil sudah pintar menggoda orang.
Jeremy menatap pesan itu.
Beberapa detik.
Lalu menghapusnya lagi.
“Tidak… ini malah membuat dia semakin menjauh.”
Jeremy menghela napas panjang.
Ia mengetik lagi.
Sent Message
To : Bocil Semok!
Kimberly… bukankah kemarin kamu bilang masih menyukaiku?
Kenapa hari ini kamu terlihat sangat dekat dengan orang lain?
Jeremy langsung menggeleng.
“Tidak… tidak…”
Pesan itu juga ia hapus.
Jeremy menatap langit-langit UKS.
Kenapa semua kata terasa salah?
Kenapa setiap kalimat yang ia tulis terdengar seperti orang yang putus asa?
Padahal ia sendiri yang menolak Ily.
Jeremy kembali duduk tegak.
Tangannya mulai mengetik lagi.
Sent Message
To : Bocil Semok!
Kapan kamu ingin les lagi?
Aku ingin melihat perkembangan pelajaranmu.
Jeremy berhenti.
Ia membaca pesan itu sekali lagi.
Hari ini baru hari Senin.
Les mereka baru akan dilakukan akhir minggu.
“Ah… ini juga tidak masuk akal.”
Pesan itu pun ikut dihapus.
Jeremy menutup matanya sebentar.
“Kenapa aku jadi seperti ini…”
Ia mengusap dadanya sendiri.
Kenapa hatinya terasa sangat panas setiap kali mengingat Arsen?
Jeremy menggertakkan giginya.
Arsen.
Nama itu saja sudah cukup membuatnya kesal.
Jeremy berdiri lagi lalu berjalan mondar-mandir.
“Kenapa dia harus dekat dengan pria seperti itu…”
Arsen terkenal dengan sikapnya yang suka membuat masalah.
Banyak orang tahu reputasinya.
Tetapi tetap saja banyak orang yang tidak berani melawannya.
Jeremy mengepalkan tangannya.
“Kenapa kamu harus duduk di sebelahnya, Ily…”
Ia menendang pelan kaki ranjang UKS.
Di kepalanya terus terbayang wajah Ily yang tertawa di kantin tadi.
Jeremy menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku tidak rela…”
Ia berbisik pelan.
“Aku tidak rela melihatmu bersama pria lain.”
Jeremy menatap ponselnya lagi.
Ia mengetik sekali lagi.
Sent Message
To : Bocil Semok!
Bolehkah kita bertemu nanti?
Jeremy menatap kalimat itu lama.
Lalu kembali menghapusnya.
“Sial…”
Ia menjatuhkan ponselnya ke samping.
Kenapa gengsinya masih setinggi ini?
Padahal jelas-jelas hatinya sedang berantakan.
Jeremy mulai mengomel sendiri di dalam ruangan.
“Kenapa harus Arsen…”
“Kenapa bukan aku…”
“Kenapa kamu tertawa di depannya…”
Kata-kata itu keluar tanpa ia sadari.
Suara Jeremy bahkan mulai sedikit keras.
Untung saja penjaga UKS sedang tidak berada di ruangan.
Kalau tidak, mungkin Jeremy sudah dianggap benar-benar sakit.
Jeremy kembali duduk.
Ia menarik napas panjang.
Di kepalanya hanya ada satu wajah.
Ily.
Gadis kecil yang selalu berhasil membuat hatinya berantakan.
Jeremy memejamkan matanya.
“Aku tidak pernah ingin memperebutkanmu…”
Ia berbisik pelan.
Baginya, Ily bukan sesuatu yang bisa diperebutkan seperti hadiah.
Ily adalah seseorang yang berharga.
Seseorang yang ia inginkan untuk masa depannya.
Jeremy menghela napas lagi.
“Kalau suatu hari aku sudah mapan…”
Ia tersenyum kecil.
“Aku pasti akan datang melamarmu.”
Tetapi sekarang?
Ia bahkan tidak berani mengirim satu pesan pun.
Waktu terus berjalan.
Dua jam berlalu.
Jeremy bahkan tidak sadar bahwa dua jam pelajaran sudah selesai.
Ia masih duduk di UKS sambil memandangi ponselnya.
Tiba-tiba terdengar suara dari pintu.
Tok… tok… tok…
Jeremy langsung menoleh.
Pintu terbuka.
Cek… klek…
Demian masuk ke dalam ruangan.
“Jer?”
Demian melihat Jeremy yang duduk di ranjang UKS.
“Lo di sini?”
Jeremy tidak menjawab.
“Lo sakit beneran?”
Demian menyilangkan tangan sambil menatapnya.
“Atau sakit hati?”
Jeremy masih diam.
Demian berjalan mendekat.
“Eh jangan bilang lo sudah gila karena mikirin bocil itu.”
Jeremy memalingkan wajah.
Demian tertawa kecil.
“Bro… daripada lo pusing begini, kenapa nggak lo hubungi saja dia?”
Jeremy langsung menoleh.
“Telepon saja.”
Demian menunjuk ponsel Jeremy.
“Gue yakin perasaannya masih sama.”
Jeremy tidak menjawab.
Demian menghela napas.
“Masalahnya cuma satu.”
“Apa?”
“Gengsi lo.”
Jeremy terdiam.
Demian menatapnya tajam.
“Lo mau bocil cantik itu benar-benar dimiliki Arsen?”
Jeremy langsung menegang.
Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu.