🍁Sequel dari SEMESTA RAI.🍁
Ranu Wais Prianggoro.
Tampan, terlahir dari keluarga kaya. Sejak lahir, seolah seluruh perhatian dunia berpusat padanya. Pesonanya sebagai konten kreator nomor 1 di indonesia, membuatnya tidak pernah luput dari perhatian dari semua orang.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Miara Tisha, gadis yang sama sekali tidak peduli dengan ketenaran yang disandang Ranu. Gadis yang sama sekali mengabaikannya padahal orang-orang di sekitarnya sibuk menginginkan perhatian Ranu.
Dan sejak saat itu, hati Ranu seperti tertarik ke dunia Mia.
Bagaimana perjalaan kisah Ranu demi menarik perhatian Mia?
Yukk,, cuuussss...➡️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PiEl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Datang Tiba-Tiba.
Sudah seminggu ini Mia sibuk dengan aktifitasnya rumah-kampus-perpustakaan-rumah. Ia ingin mengejar tesisnya agar cepat selesai.
Seperti sore ini, ia baru saja kembali dari kampus. Ia kelelahan karna jarak halte Trans Jogja lumayan jauh dari rumahnya. Ia memang biasa menggunakan tranportasi umum seperti bus Trans Jogja. Atau kalau sedang terburu-buru, ia akan memesan ojek online untuk mengantarkannya ke kampus.
Mia mengernyit saat melihat pintu rumahnya yang terbuka lebar. Ia curiga kalau itu adalah maling. Namun ia segera menepis fikiran itu saat melihat sepeda motor milik Tari yang ada di depan pintu. Ia tersenyum senang.
Perlahan Mia masuk ke dalam rumah. Ia sengaja tidak mengucapkan salam karna Tari bukan seorang muslim.
“Mbak Mia!!” Pekik gadis bertubuh kurus itu yang langsung menghambur kepada Mia. Mereka berpelukan dengan sangat erat. Saling melepas rindu satu sama lain.
“Udah dari tadi nyampenya?” Tanya Mia setelah melepaskan pelukan.
“Jam 4 tadi.” Jawab Tari.
“Gak capek apa motoran dari Boyolali ke sini?”
Tari menggeleng. “Malah seru lho mbak. Bisa lihat-lihat. Berhenti sesuka hati.” Pamernya kemudian.
“Mbak kok sore banget pulangnya? Biasanya gak sampe jam segini.” Imbuh Tari.
“Lagi ngejar target. Biar cepet sidang. Hehehehe. Mana oleh-oleh buat aku?”
“Ada. Santai aja. Oleh-olehku juga, mana?”
“Tenang aja. Masih rapi di bugkusannya.”
“Udah gak sabar pengen minum kopi yang mbak Mia bawa. Candu aku.”
“Aku bawain juga buat yayangmu. Heeee.”
“Uuuh. Mbak Mia emang paling baik. Seneng banget pasti dia.”
“Ya udah, mbak mau ke atas dulu. Mandi. Udah lengket ini badan.”
Tari mengangguk. Ia kembali sibuk membongkar barangnya. Karna memang kamarnya berada di lantai bawah.
Mia ngontrak di rumah itu bersama dengan Tari dan Haya. Haya yang berasal dari Jambi adalah temannya satu kampus dan satu jurusan. Sementara Tari, ia kuliah dikampus lain dan tengah mengambil s1 Keguruan. Walaupun latar belakang, dan agama mereka berbeda, tapi mereka selalu kompak dalam segala hal. Itulah yang membuat ketiganya betah tinggal dalam satu rumah.
Selesai sholat maghrib, Mia melanjutkan kegiatannya dengan mengaji. Hal yang selalu ia lakukan sambil menunggu waktu isya tiba. Barulah setelah selesai sholat isya, ia bergabung dengan Tari yang sedang menonton tv di ruang tamu.
“Apa filmnya?” Tanya Mia sambil duduk di sofa.
“Biasa, drakor. Hehehehe.”
“Baru, ya?”
“Iya, baru tayang. Ngomong-ngomong Mbak Haya kapan pulangnya, Mbak?”
“Katanya besok. Soalnya kan senin juga kita udah masuk.” Jelas Mia.
“Ooh. Tapi itu di depan, udah laku itu rumah? Malah kayaknya lagi di bangun ya, Mbak?”
“Iya. Udah di beli. Katanya mau di jadiin kos-kosan.”
“Wiih. Kosan cewek apa cowok?”
“Kamu ini. Udah punya yayang juga.” Hardik Mia. Tari hanya tekekeh saja.
Obrolan itu terhenti saat terdengar bel rumah berbunyi. Kedua gadis itu hanya saling tatap kemudian Tari beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.
Tari membuka pagar pintu gerbang dan terpaku melihat sosok pria tampan yang sedang berdiri di hadapannya. Ia tau siapa itu. Karna dia adalah salah satu penggemarnya.
“Ranu? Mas Ranu?” Tanya Tari tak percaya. Mulutnya bahkan sampai ternganga.
“Oh, hai? Mia-nya ada?”
Masih dengan ekspresi bingung, Tari menganggukkan kepalanya. Perlahan ia berbalik dan masuk ke dalam rumah.
“Mbak, Mbak. Di depan,,, di depan ada..... Itu... Itu... Ya ampun!! Aku gak percaya bisa ketemu dan ngelihat wajahnya sedekat ini.. Ya ampun!!!” Pekik Tari kegirangan. Ia menjejak-jejakkan kakinya karna saking senangnya.
Sementara Mia hanya mengernyit saja. Heran melihat tingkah Tari. “Ada siapa?”
“Itu... Ranu. Nyariin Mbak Mia.” Ujar Tari setelah ia berhasil menguasai dirinya.
“Ranu?” Mia mengernyit heran. Namun ia tetap berdiri dan berjalan untuk menemui Ranu.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Ranu dengan senyum khasnya.
“Wa’alikum salam. Kok bisa ada disini? Kapan datang?”
“Tadi siang. Makan yuk. Kamu belum makan kan?” Tebak Ranu.
“Kok bisa tau kalau aku belum makan?”
“Ya tau dong. Aku kan punya mata batin. Hahahaha.”
“Dasar. Kenapa gak telfon dulu kalau mau dateng?”
“Kejutan. Siapa tau kamu lagi kangen sama aku. Hehehe.”
“Ngarep. Tunggu bentar. Aku ambil dompet dulu.” Pamit Mia kemudian ia masuk ke dalam rumah.
Ranu menunggu Mia dengan menyandarkan tubuhnya di sisi mobil. Sesekali ia memperhatikan proyek pekerjaan kos-kosan milik Ayahnya dan Akash. Baru beberap hari di kerjakan, jadi belum nampak banyak perubahan.
Beberapa saat kemudian, Mia sudah keluar dengan menenteng tas kecilnya.
“Udah, ayo.”
Ranu tersenyum menanggapi. Ia segera masuk dan duduk di balik kemudi. Kemudian menyalakan mobil dan mulai melajukan mobil keluar komplek.
“Sendirian?” Tanya Mia memecah keheningan.
“Iya. Si Arnav lagi sibuk di kantor Mamanya.”
“Ooh.”
“Mau makan apa?” Tanya Ranu.
“Oseng-oseng mercon itu di terminal. Enak plus murah. Gimana?”
“Tempatnya terbuka?” Tanya Ranu. Ia ragu. Bukan apa, ia tidak ingin terganggu oleh penggemarnya.
“Gak terlalu sih. Ada tempat sepinya. Kita bisa duduk disana.”
“Yeee. Katanya gak boleh berduaan di tempat sepi.”
“Parno. Bukan sepi begitu. Maksudku, ada tempat lesehan di bawah pohon yang biasanya gak ramai.”
“Oohhh. Kirain kamu pengen berduaan aja sama aku.”
“Ngarep.”
“Hahahahahahaha.”
Sesampainya di tujuan, Mia segera turun dari mobil dan memesan menu kepada ibu penjual. Sementara Ranu menunggu dengan santai di sebelah mobilnya. Itu juga atas perintah dari Mia.
Setelah memesan, Mia kembali menghampiri Ranu dan mengajaknya duduk dilesehan di bawah pohon dekat pagar pembatas. Ternyata disana memang benar-benar tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasang muda mudi yang tengah serius menyantap makanan mereka.
Mereka mengambil duduk di tikar bagian pojok. Untungnya, tak ada yang memperhatikan kalau itu adalah Ranu.
Beberapa saat kemudian, pesanan mereka sudah sampai. Aroma pedas langsung menyeruak dari kepulan asap di piring yang berisi tumis ayam super pedas.
“Bapak sama Ibu mau ke sini, ya?” Ucap Ranu tiba-tiba.
“Enggak. Siapa yang bilang?”
“Mas Fuan. Kemarin sempet chatingan sama dia. Katanya Bapak sama Ibu mau kesini. Ada yang mau pesta, katanya gitu.”
“Kok aku gak di kasih tau, ya?”
“Kasihann.. Hahahahaha.”
“Salah info kali...”
“Ya gak mungkin lah salah info. Orang Mas Fuan sendiri yang bilang.”
“Tapi aku gak ada di bilang.” Mia jadi kesal sendiri. Ia tidak terima kalau Ranu mengetahui lebih dulu ketimbang dirinya.
“Ya udah, coba nanti tanya sendiri sama Ibu.” Tanting Ranu.
Mia hanya mencibir saja. Rasanya ia masih tidak terima. Kenapa Fuan malah memberitahu Ranu? Bukan memberitahu dirinya? Memikirkan itu membuatnya kesal.
“Kenapa kamu yang malah di kasih tau?”
Ranu hanya mengangkat kedua bahunya saja. Ia juga tidak mengerti kenapa dia yang malah di beritahu oleh Fuan.
“Tapi kami di sini gak ada saudara. Siapa yang mau pesta? Apa temen Ayah?”
“Kalau itu aku kurang tau. Tanya langsung aja sama Pak Zul.”
Dan lagi, Mia hanya mengerucutkan bibirnya saja. Kemudian ia kembali fokus untuk menyantap hidangan di hadapannya.
walaupun bukan otor/novel populer dan masih sedikit yg mengenal tp aku suka ceritanya
🤣🤣🤣🤣