Atas dorongan nenek Ari menikah lagi dengan Dilla wanita pilihan nenek. Namira rela dimadu karena belum bisa memberikan keturunan untuk Ari. Bahkan, pernikahan itu berlangsung di depan matanya.
Kehadiran Dilla merubah rumah tangga mereka, sejak hari itu Namira berbagi cinta dengan madunya, meskipun Ari berusaha berlaku adil namun tetap saja menyisahkan luka di hati kedua istrinya.
Bukan hanya cinta Ari yang berusaha dipertahankan, gelar seorang ibu dari bayi yang lucupun menjadi rebutan.
Sampai kapan Namira dan Dilla tinggal di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Separuh Hidupku
Dilla terenyuh mendengarnya, tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau Namira akan membatalkan perjanjian mereka. Dilla tidak mengerti kenapa Namira begitu baik dan tulus menerima anak dari madunya sendiri.
"Bukannya Mbak menginginkan anak ini?" Dilla ingin memastikan kalau apa yang dikatakan Namira benar adanya.
Namira tersenyum, jari telunjuknya bermain di pipi Arya yang masih kemerahan.
"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku mau dia tapi, aku tidak mau memisahkan bayi ini dari ibunya. Aku benar-benar tulus menyayanginya."
Dilla semakin yakin kalau Namira memang memiliki hati lembut dan baik. Diam-diam di dalam hatinya ia semakin merasa bersalah. Bersalah karena sudah menyakiti dan sempat salah paham dan menyalahkan keegoisan Namira.
"Tapi aku tidak akan keberatan kalau kelak Arya akan menganggap Mbak sebagai ibu kandungnya."
Dilla mengulurkan Arya kepada Namira. Tidak ada yang bisa ia berikan untuk membalas kebaikan Namira selain membiarkan Namira merawat anaknya. Dilla tahu kalau hatinya tidak sebaik Namira, pastilah ia akan cemburu melihat anaknya lebih dekat dengan Namira tapi, melihat ketulusan Namira ia yakin bisa berbagi dengannya.
"Jangan sungkan, apa yang aku lakukan selama ini bukan untukmu, bukan untuk Mas Ari. Apa yang aku lakukan karena aku benar-benar ikhlas melakukannya kerena Allah. Meskipun begitu aku akan tetap mencurahkan kasih sayangku untuk Arya."
Dilla tidak kuasa menahan air matanya.
Namira menimang Arya. "Kalau gitu, mulai hari ini kita akan rawat Arya bersama-sama, dengan begitu Arya akan tumbuh dipenuhi kasih sayang dari kedua ibunya."
Namira meletakkan Arya ke dalam box bayi yang tidak jauh dari tempat tidur Dilla.
"Selagi Arya tidur, kamu istrahat saja." Namira membenarkan bantal Dilla, dan membantunya berbaring dengan aman. Kemudian, ia memanggil seorang ART untuk menjaga Dilla dan Arya.
"Makasih, Mbak," ucap Dilla ketika Namira sudah hampir menutup pintu kamar.
Namira hanya tersenyum dan kembali menutup pintu dengan rapat.
***
"Bu, di luar ada tamu," ucap seorang ART ketika Namira baru keluar dari kamar Dilla.
"Siapa?" tanya Namira penasaran, selama ia menetap di Villa baru sekarang ada yang datang mencarinya.
"Penata rias atau apalah tadi, saya lupa."
Namira mengernyitkan dahi. "Kalau tidak kenal kenapa diijinkan masuk?"
"Katanya mereka disuruh sama bapak."
Namira semakin penasaran, ia cepat-cepat turun ke lantai dasar. Dilihatnya dua orang yang tidak asing tersenyum kepadanya.
Penata rias terbaik dari kota yang sering bekerja sama dengannya. Mereka datang atas perintah Ari yang menyuruh memakeover Namira secantik mungkin dan memakai gaun pilihannya. Namira tidak mengerti untuk apa Ari melakukan semua ini. Tapi, ia tetap pasrah saat dua orang ini mendandaninya.
"Cantiknya," puji salah satu dari mereka.
Namira tersenyum dan berdiri memperhatikan penampilannya di depan cermin.
Gaun menjuntai warna putih sudah melekat di tubuhnya. Namira terlihat semakin cantik dan anggun.
"Suami saya ada di mana?"
"Ada di luar, Bu. Kita ke sana sekarang. Tapi ibu harus pakai ini."
"Penutup mata? Untuk apa?" Namira semakin penasaran, ntah sudah berapa jam ia dikurung di kamar dan kini, ia seperti dijadikan tawanan.
"Kami hanya mengikuti perintah, suami Ibu."
Namira pasrah saat matanya ditutup kain panjang hampir menyerupai dasi berwarna merah, kemudian ia diapit menuruni anak tangga.
***
Di luar Villa, ketika matahari sudah mulai tenggelam menyisahkan gelapnya malam, cahaya dari lilin-lilin yang disusun sedemikian rupa mengisi seluruh taman, mengelilingi meja yang berada di hamparan kelopak bunga mawar. Di mana sudah ada seorang pria memakai tuxedo warna hitam sedang menunggu Namira.
Ari tersenyum melihat siluet Namira semakin mendekatinya, istrinya itu terlihat sangat cantik memakai gaun pilihannya. Ari tidak bisa lagi menggambarkan seperti apa sempurnanya Namira, baik, anggun, pengertian persis seperti seorang bidadari.
Ari melangkah tegap menjemput Namira, ia memberikan isyarat kepada penata rias agar meninggalkan mereka berdua. Ari meraih tangan Namira dan mencium punggung tangannya.
Namira terkejut. "Jangan bercanda, Mas. Sampai kapan mataku ditutup seperti ini?"
"Sebentar sayang." Ari berdiri di depan Namira dan melepas kain penutup matanya. "Pelan-pelan buka mata kamu."
Namira mengerjapkan mata, hal pertama yang ditanggkap netra matanya adalah dada bidang Ari tepat di depan matanya, mereka berdiri diantara lilin-lilin kecil yang mengelilingi tempat ini.
"Ap-apa ini, Mas?" tanya Namira.
Ari tersenyum namun, tidak menjawab apapun. Ari menggendong Namira menuju meja tempat mereka dinner malam ini.
Namira sontak melingkarkan tangannya di leher Ari.
"Silahkan duduk ratu di hatiku."
Namira tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaannya saat ini, ia terkejut ketika Ari menekuk lutut di sampingnya.
"Kamu apa-apaan, Mas?" Namira memegang lengan Ari. "Berdirilah, duduk di sini." Namira menunjuk kursi lain di depannya.
Ari menggelengkan kepala, ia hanya diam menatap wajah Namira lalu meraih kedua tangannya.
Ari menarik napas dalam, berusaha menahan punggungnya yang bergetar akibat menahan semua rasa di dada, bersalah, bahagia, haru semua bercampur menjadi satu.
"Istriku, Namira... aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuatmu bahagia, aku tidak tahu bagaimana caranya menghapus semua luka yang sudah aku buat di hatimu, aku tidak tahu caranya membalas semua kebaikan dan ketulusanmu. Aku hanya seorang suami yang tidak tahu malu dan tidak tahu bersyukur. Ntah bagaimana caranya berterima kasih padamu tapi, aku mau kamu tahu kalau sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu. Kamu istri yang sempurna untukku."
Ari menjeda ucapannya, ia menunduk membiarkan setetes air mata membasahi pipinya, tangannya masih menggenggam erat tangan Namira. Ari diselimuti rasa takut kalau sewaktu-waktu Namira meninggalkannya lagi.
Mata Namira pun mulai berkaca-kaca, suasana ini mengingatkan ketika Ari melamarnya dulu.
Ari mengangkat kepala dan menatap manik mata Namira.
"Namira, aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku. Aku tanpamu tidak akan berarti apapun. Kehadiran Arya tidak akan mengubah apapun, karena tanpa kebesaran hatimu dulu, aku tidak mungkin menyentuh Dilla hinga dia mengandung dan melahirkan Arya. Sayang, bagiku kamu tetap menjadi istri yang sempurna dan ibu yang baik untuk Arya. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku karena kamulah separuh hidupku."
Ari menyadari keegoisannya, ia adalah laki-laki jahat yang sudah menduakan istri sempurna seperti Namira dan tetap menginginkan Namira selalu menemani hari-harinya. Ari takut kalau seiring berjalannya waktu kehadiran Arya akan menggoyahkan hati Namira hingga pergi meninggalkannya. Ari tidak bisa membayangkan seperti apa hidupnya tanpa Namira. Kerena Namira adalah belahan jiwanya.
Meskipun begitu, Ari tahu baik Dilla dan Namira sama-sama menahan cemburu, sakit hati ketika ia berada di sisi salah satu dari mereka. Tapi, mau bagaimana lagi? Ari sudah bergantung pada kedua istrinya. Dilla sebagai ibu dari anaknya dan Namira sebagai belahan jiwanya.
makasih kak thor dalam penulisan nya 😘😘