Reyhan, Hasby Nugraha, Dera, Nanda dan Baron. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama, menikah dan berstatus duda bersamaan.
Siapa sangka, di balik keceriaan dan kekonyolan mereka. Tersimpan misteri masa lalu yang rumit.
Siapa menduga, salah satu diantara mereka putra salah satu jutawan. Siapa yang mengira, salah satu diantara mereka putra seorang mafia yang di takuti dan telah membunuh salah satu ibu sahabat kelima duda tersebut.
Akankah persahabatan mereka tetap abadi hingga maut memisahkan? atau misteri masa lalu akan terkuak dan memecah belah persahabatan mereka?
Kunci dari jawaban itu semua terletak pada orang tua masing masing.
Bagaimana kisah selanjutnya yang akan mewarnai perjalanan mereka? asmara, wanita, dan pertengkaran diantara mereka akan menjadi batu sandungan persahabat kelima duda tersebut.
Semua tokoh terinspirasi dari member grup chat. Yuk ikuti kisahnya, jangan lupa vote, like dan komen ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendakian 2
Patma berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Pikirannya mulai kalut karna sudah satu minggu ini Reyhan tidak ada kabar untuknya. Tangannya memegang ponsel, sudah beberapa kali Patma mencoba menghubungi Reyhan, namun nomornya tetap saja tidak aktif.
"Kabar lu gimana sih Rey, bikin cemas mak aja lu ah." Gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Sudah dua hari, Reyhan tidak ada kabarnya. Patma hanya menemukan sebuah peta menuju gunung salak di kamar Reyhan. Setelah Patma menimbang baik dan buruknya, akhirnya Patma berinisiatif untuk mencari keberadaan putranya dengan mengajak Wina dan yang lain, serta melaporkan hilangnya Reyhan ke pihak berwajib.
Patma bergegas ke rumah Wina dan tak lama kemudian, Patma sampai di halaman rumah Wina dan kebetulan sekali Wina sedang berada di teras rumahnya bersama Komeng, Jarwo dan Dion.
"Winaaaa!" seru Patma berjalan tergesa gesa menghampiri mereka. "Si Hasby ada ngasih kabar ke elu kagak? si Reyhan gue teleponin kagak nyambung-nyambung." Ucap Patma.
"Lah, anak lu juga ilang?" tanya Komeng.
"Berarti anak anak kita pergi bersama entah kemana," timpal Jarwo.
"Gue cuma nemu ini di kamar Reyhan." Patma menunjukkan peta lokasi gunung salak. "Kemungkinan mereka pergi ke sana."
"Nah, sudah kuduga. Anak anak kalian pembawa sial. Putriku jadi ikutan nakal!" ucap Dion dengan nada tinggi.
"Enak saja lu nyalain, noh si Hasby yang biang keroknya!" tunjuk Patma ke arah Wina.
"Sudah, sudah. Bukan waktunya saling nyalain, lebih baik kita susul kesana takut ada ape ape," timpal Jarwo menengahi.
"Gimana kalau kita susul aja mereka? sekalian ajak si Komeng ama si Jarwo juga buat nyari mereka di gunung. Gue takut mereka kenapa-napa Winaaaa." Usul Patma pada Wina.
"Gue tadi juga bilang begitu, patimaahh!" seru Jarwo kesal.
"Ups, he he he." Patma tertawa malu karena tidak menyimak ucapan Jarwo.
"Makanye lu tenang." Timpal Komeng.
"Mana bisa gue tenang. Si Reyhan anak gue satu-satunya takut kenapa-napa. Kalau lu kagak mau, yaudah biar gue aja yang pergi ke sana." Balas Patma.
"Brakkk!"
Semua berjengkit kaget menatap ke arah Wina yang menggebrak meja, matanya melotot.
"Banyak omong, ayo berangkat!" ucap Wina menyetujui usul Jarwo dan Patma.
"Nah gitu dong dari tadi," sungut Patma, matanya mendelik ke arah Wina.
****
Patma tercengang melihat medan jalan yang sempit dan curam, di tambah tanaman liar yang menjuntai menghalangi pemandangan jalan setapaknya.
"KitabKagak salah gunung kan?" tanyanya pada Komeng yang berjalan di samping Patma.
"Lu berisik dari tadi, bisa diem gak?" rutuk Komeng mulai jengah dengan pertanyaan pertanyaan Patma. "Takut lu ngomong, biar gue gendong."
"Gue masih kagak paham, mau ngapain mereka pada kesini. Mana ngeri lagi tempatnya. Merinding gue Meng." Dumelnya sambil begidig ngeri.
Kicauan burung hantu dan burung lainnya yang bertengger di atas pohon besar. Pepohonan yang rimbun, hanya menyisakan celah untuk sinar matahari menerangi mereka semakin masuk ke dalam hutan.
Sepanjang jalan, Patma tidak ada hentinya mengumpat kesal di kala kakinya tersandung akar dan semak belukar yang menghalangi jalan setapak yang mereka lalui.
Sementara Wina, Dion dan Jarwo yang berada di depan, sesekali Jarwo menebas semak belukar dengan golok yang sudah di persiapkan dari sebelum berangkat.
"Kayanya kita salah jalan, seharusnya lewat sana!" tunjuk Jarwo ke arah utara.
"Payah lu, gue kira lu tau!" rutuk Wina, berhenti melangkah lalu menyalakan sebatang rokok. Semakin jauh mereka memasuki hutan, udara semakin dingin menusuk tulang.
Wina tengadahkan kepala memperhatikan cahaya matahari dari celah pepohonan yang rimbun.
"Hari sudah sore Wo, sebaiknya kita harus cepat sampai di lokasi di mana anak kita camping." Ujar Wina menoleh ke belakang memperhatikan Patma yang mulai kelelahan dan sibuk menepuk nyamuk yang menggigiti wajahnya.
"Patma! ayo cepat!" seru Wina memanggil Patma dan Komeng yang sudah tertinggal jauh.
"Iya!" sahut Patma, lalu berjalan mendahului Komeng.
"Huuuuuuu, huuuu!"
"Wina, lu denger suara yang menangis?" tanya Patma menajamkan pendengarannya, seraya menarik jaket Komeng yang baru saja sampai.
"Halah, paling juga burung hantu." Timpal Jarwo, tapi lama kelamaan suara tangisan itu semakin jelas.
"Wina, gue kok merinding." Ucap Patma pelan lalu bersembunyi di belakang tubuh Wina.
"Penakut lu, giliran marahin gue, suara lu paling banter kedengeran satu komplek." Umpat Wina.
"Tunggu, suara tangisan semakin lama semakin jelas. Itu suara perempuan!" kata Jarwo.
"Bagaimana kalau kita cari? siapa tahu itu suara putriku?" usul Dion.
"Kagak, gue takut!" tolak Patma.
"Ya sudah lu diem aja di sini, biar kita yang lihat siapa yang menangis." Timpal Wina, lalu berjalan mendahului Patma dan yang lain. Tak lama kemudian mereka pun mengikuti langkah Wina mencari sumber suara yang menangis.
"Sssttt, suaranya ada di balik pohon besar itu," ucap Jarwo pelan menunjuk ke arah pohon besar di depannya.
"Ayo kita lihat," timpal Komeng.
Perlahan mereka berjalan mengendap, Jarwo dan Komeng di depan. Di ikuti Dion, Patma dan Wina. Ternyata dugaan mereka benar, seorang wanita tengah duduk meringkuk sambil menangis.
"Kamu siapa?!!" seru Patma.
Perempuan itu tengadahkan wajah, lalu berdiri dan berteriak kaget.
"AAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Patma yang terkejut ikut berteriak.
"HUWAAAAAAAANTUUUUU!!!
"Plekk!!" Wina menepuk mulut Patma dengan tangan kanan.
"Sakit tau!!" rutuk Patma.
"Ayaaahhh!!" seru perempuan itu yang tak lain Rini lalu berlari memeluk Dion.
"Rini!"
"Wah, pasti terjadi sesuatu sama anak anak kita." Ucap Patma melihat Rini menangis dan hanya sendirian.
"Rin, di mana yang lain?" tanya Jarwo memperhatikan ke setiap arah dan berharap anaknya ada di sekitar hutan itu.
Rini melepaskan pelukannya, lalu berkata sambil menunjuk ke arah utara.
"Mereka di sana, tadi aku mau ambil kayu bakar. Tapi terpisah dari mereka..." ungkap Rini terisak.
"Kita harus segera ke sana sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." Usul Dion.
"Lu bener juga, ayo berangkat!" timpal Patma lalu berjalan mendahului, rasa takut yang tadi di rasakan Patma tidak ada lagi dan tergantikan rasa khawatir terhadap anak semata wayangnya.
baru baja udah srek Ama bahasenye
top markotop dah
B...
Msh muda bgt dah men'Duda'??
Ikutan nimbrung ma Mas mas Duda
🙏🤺🏃🥰