Sequel Istri Kesayangan Tuan Muda
Patah hati yang dirasakan Sena membuatnya berpikir bahwa semua pria sama, Gadis berusia 24 tahun itu memutuskan untuk tidak mencintai lagi. Sena takut terluka untuk yang kedua kali.
Namun, kehadiran dua pria tampan Zac dan Evan yang tiba-tiba mengusik hidupnya. Membuatnya kalang kabut, ia kembali dihadapkan situasi sulit. Zac dan Evan berusaha untuk mencuri hatinya dengan segala cara.
Bagaimana sikap Sena dalam menghadapi kedua pria tampan itu? Apakah salah satu dari mereka berhasil membuat Sena jatuh cinta?
Temukan jawabannya di novel sequel Istri Kesayangan Tuan Muda ya. "Let Me Love You"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ucapan Terima Kasih
Setelah mematikan ponselnya, Sena terdiam seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Jika gadis itu bukan Sena, pasti akan dengan mudah menjawab iya atas jawaban perasaan Zac. Namun, sayangnya ia adalah Sena. Gadis yang begitu teguh pada pendiriannya.
Saat ia memasuki halaman Coffee Shop tempatnya bekerja, semua orang yang merupakan karyawan kafe atau rekan kerjanya yang baru saja datang menatap ke arah mobil yang ia naiki.
Bagaimana tidak, mobil Mercedes keluaran terbaru milik Zac itu benar-benar sudah menyita perhatian banyak orang sejak ia pertama menjejakkan kaki di atas kendaraan mewah itu.
Mobil berhenti tepat di samping pintu masuk karyawan, Ia sebenarnya meminta turun di depan dan akan jalan kaki masuk ke dalam kafe. Namun, sang sopir tidak mengabulkan permintaannya karena itu sama halnya dengan tidak menjalankan perintah Zac dengan baik.
Apalagi pria berjas yang bertugas mengantarkannya hari ini benar-benar memperlakukannya seperti Tuan Putri sungguhan. Pria yang bertugas menjadi sopirnya kini membuka pintu mobil seraya mengulas senyum.
Saat Ia turun dari mobil, beberapa karyawan yang datang bersamaan dengan dirinya seolah tampak menunggu siapa yang akan turun dari mobil mewah itu dan benar saja. Ketika semua orang melihatnya turun, ada pandangan takjub sekaligus iri yang ditujukan padanya.
“Silahkan, Nona Sena!” ucap sopir Zac seraya mengulas senyum lalu menundukkan kepala.
Dengan sedikit canggung Sena membalas pria berjas rapi itu. “Terima kasih, Pak! O ya, nanti anda tidak usah menjemput saya, saya sudah katakan hal itu kepada Tuan Zac. Terima kasih banyak sudah mengantarkan saya!” balasnya dengan ikut menundukkan kepala sembari mengulas senyum.
Pria itu tampak ingin membantah kalimatnya. Namun, Ia buru-buru berjalan dan masuk ke dalam kafe. Baru saja Ia menjejakkan kaki di kafe megah milik keluarga Widirga itu, Ia sudah disambut dengan seorang pria yang tampak bersedekap dengan wajah tak bersahabat.
“Wow, lo benar-benar pintar milih cowok, ya?!” ledek Evan yang entah sudah berdiri sejak kapan di sana.
Mata mereka saling beradu, mereka saling pandang untuk beberapa detik. Sebelum akhirnya Sena mengalihkan perhatiannya.
“Anda salah paham, Tuan Zac bukan kekasih saya. Dia hanya membantu saya saja, Bos Evan!” Ada sedikit keraguan saat Ia menyebut nama Evan dengan panggilan bos. Namun, pria di hadapannya malah terlihat senang dengan panggilan yang ditujukan untuknya. “O ya, saya kemarin lupa belum mengucapkan terima kasih kepada anda karena sudah menolong saya. Terima kasih banyak!” Imbuhnya seraya menundukkan kepala.
Bukannya tak senang dengan ucapan terima kasih gadis itu, tapi entah kenapa ketika Sena menyinggung kejadian kemarin malam. Tiba-tiba membuatnya tak nyaman.
Namun, saat Ia mendengar langsung dari Sena. Bahwa pria yang Ia temui kemarin di lokasi kejadian bukanlah siapa-siapa gadis itu, entah kenapa membuatnya bernapas lega.
Ya, perasaan Evan mulai terusik setelah Ia berusaha menyelamatkan Sena dari percobaan penculikan kemarin. Ia seolah melihat sisi lain dari seorang Sena.
Tetapi di sisi lain ada perasaan tak senang ketika melihat gadis itu bertemu dengan pria asing. Perasaan itu muncul dengan sendirinya, hingga membuatnya tak bisa tidur semalaman karena terus terbayang oleh gadis yang sudah ia selamatkan.
Sena seorang gadis polos yang jarang Ia temui di zaman sekarang, kepolosan gadis itu terlihat begitu alami dan tanpa rekayasa. Ia sering menemui gadis yang polosnya hanya dibuat-buat, tapi Sena berbeda. Sangat berbeda.
“Nggak perlu, lagian gue juga bakal ngelakuin hal sama jika gadis itu bukan elo. Jadi lo nggak usah GeEr!”
Sena lagi-lagi harus mendengar kalimat tak mengenakan dari pria arogan yang sudah menyelamatkannya itu. Ia hanya bisa mencoba bersabar untuk menghadapi pria yang merupakan putra pemilik kafe ini.
“Eh, tunggu. Kalau lo mau berterima kasih, lo harus berterima kasih yang benar!” tambah Evan dengan tersenyum menyeringai.
“Maksud anda?” keningnya berkerut demi mendengar kalimat Evan.
“Traktir gue makan, nanti gue bakal terima ucapan terima kasih lo!” tawar pria itu dengan masih mengulas senyum.
Tak berpikir panjang, Sena segera mengangguk mengiyakan tawaran pria itu. Setidaknya dengan cara itu, Ia bisa membalas kebaikan Evan. “Baik, kapan dan di mana?”
“Nanti setelah lo pulang kerja, tempatnya nanti gue yang nentuin!” balas pria itu cepat.
Meskipun sedikit tak yakin dengan waktu yang ditentukan oleh Evan. Namun, Ia mencoba menyanggupinya. “Iya, baiklah!”
Percakapan mereka harus terhenti karena kehadiran Ellen. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang akan menginjak angka tiga itu, tampak mengamati adik satu-satunya.
“Van, kamu nggak salah minum obat, 'kan? Tumben-tumbenan kamu sekarang rajin ke kafe pagi-pagi. Biasanya juga nggak pernah berkunjung ke sini!” ledek Ellen seraya melihat secara bergantian ke arahnya dan Sena.
Namun, beberapa detik kemudian. Ellen seolah menemukan jawaban atas perubahan sikap sang adik.
“Kebetulan aja, Kak, lagi mau ketemu klien sekitar sini. Jadi, ya sekalian aja mampir,” kilah Evan. Namun tak lama Ia kembali berucap. “Gue cabut dulu kalau gitu!” pria itu berjalan meninggalkan Sena dan Ellen. Namun, baru beberapa langkah Ia memutar tubuhnya dan melihat kearah Sena. “Jangan lupa, nanti malam!” ucapnya seraya menunjuk ke arah Sena.
Membuat wanita yang baru saja menikah lima bulan yang lalu itu mengulas senyum demi melihat perubahan sikap sang adik. Ellen terlihat sangat senang, apalagi gadis yang sudah membuat perubahan pada adiknya itu adalah Sena, seorang gadis yang sangat baik.
Ellen sudah tahu banyak tentang siapa Sena dari mamanya, dan Ia sangat setuju dengan rencana mamanya untuk menjodohkan Sena dengan Evan.
....😘😘😘😘😘