Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP
Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.
Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Nicho melirik Alvin yang sedang menerima telfon. Sepupunya itu langsung beranjak dari duduknya dan sedikit menjauh dari meja tempat mereka makan.
Nicho mengalihkan pandangan ke Sisil. Wanita itu terlihat asik menghabiskan es krim vanila di tangannya.
"Kamu itu jangan mau kalau di ajak Alvin.!" Teguran Nicho langsung mendapatkan tanggapan dari Sisil yang menatapnya heran. Sejak tadi Nicho tidak mau bicara, tapi begitu bicara malah langsung menegurnya.
"Jangan sampai berduaan di dalam 1 ruangan.!" Serunya lagi.
"Malah bengong.! Denger nggak kamu.?!" Nicho menjentikkan kening Sisil. Wanita itu reflek berteriak dan mengusap keningnya.
"Ya ampun sakit kak.!" Protesnya kesal. Bibirnya selalu mencebik saat sedang marah.
"Makanya kalo di ajak ngomong dengerin.! Jangan bengong,,," Kilah Nicho tanpa merasa bersalah sedikitpun sudah membuat Sisil berteriak kesakitan.
"Dari tadi juga aku denger. Tapi bingung aja kenapa kak Nicho ngelarang aku pergi sama kak Alvin," Ujarnya. Bagaimana Sisil tidak bingung, tiba - tiba Nicho memberikan peringatan dan larangan padanya tanpa alasan.
"Kamu itu kalo di bilangin nurut aja.! Si Alvin itu brengs*k, kamu bisa di apa apain nanti.!"
Nicho masih saja bersikeras untuk membuat Sisil lebih waspada dengan Alvin.
"Kakak itu jangan suka jelek - jelekin orang, apa lagi kak Alvin itu sepupu kakak sendiri. Lagi pula kak Alvin itu orangnya baik kok,"
Sisil sudah tau siapa Alvin, keduanya sempat bercerita satu sama lain tentang keluar mereka, saat dalam perjalanan menuju kafe.
Banyak hal yang Alvin tanyakan padanya, dan begitu juga sebaliknya.
"Kamu itu kalau di bila,,,,
" Udah selesai makannya.?" Tiba - tiba Alvin datang dan bertanya pada Sisil. Nicho hanya memutar malas bola matanya.
"Udah kak,, kenapa memangnya.? Kakak mau pergi ya,,?"
"Iya, mau ketemu temen dulu. Pulang sekarang yuk,,," Anaknya. Alvin terlihat tidak memperdulikan keberadaan Nicho sedikitpun. Laki - laki itu seolah menganggap tidak ada Nicho di sana.
"Oke,,," Sisil Mengambil ponsel dan memasukannya kedalam tas.
"Aku pulang duluan kak,,," Pamitnya pada Nicho.
"Aku ada urusan sama kamu.!" Tegas Nicho. Dia mencekal pergelangan tangan Sisil untuk mencegahnya pergi.
"Lu pulang sendiri aja.!" Serunya pada Alvin dengan tatapan jengah.
"Enak aja.! Gue tuh dateng sama Sisil, jadi pulang juga harus sama dia," Kini Alvin juga ikut memegang pergelangan tangan Sisil, lalu menarik ke arahnya. Nicho reflek berdiri dan menarik balik tangan Karin.
"Nggak ada peraturan seperti itu. Lepas.!!" Geram Nicho. Dia memukul tangan Alvin agar mau melepaskan tangan Sisil.
"Kalo lu ada urusan sama Sisil, lu dateng aja ke apartemennya.! Sekarang biar gue anter Sisil pulang. Dateng sama gue, pulang juga sama gue,,!" Seru Alvin tak mau kalah. Dan keduanya semakin gencar berdebat.
Sementara itu Sisil terlihat pusing menghadapi kedua laki - laki yang sedang memperebutkan tangannya. Sisil pasrah saja saat di tarik oleh Nicho, begitu juga saat di tarik Alvin. Tubuhnya bergeser ke kanan dan kiri sambil terus mendengarkan perdebatan kedua laki - laki itu.
"Lepas iihh,,," Pada akhirnya Sisil memilih untuk menghempaskan tangan Nicho dan Alvin secara bersamaan.
"Sakit tau.!" Keluh Sisil ketus.
"Lihat nih, sampe merah begini,,," Sisil menunjukan kedua pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman tangan Nicho dan Alvin.
"Udah ah, aku pulang sendiri aja." Sisil langsung bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Nicho dan Alvin yang kini saling menatap tajam.
"Gara - gara elu..!!!" Bentak Nicho kesal. Dia bahkan sampai mendorong sebelah bahu Alvin.
"Kenapa nyalahin gue.! Lu tuh yang ngerecokin kencan gue.!" Alvin balas mendorong bahu Nicho.
"Nggak bisa liat orang seneng dikit.!"
"Bentar lagi Sisil masuk perangkap gue, eh malah ada pengacau,,"
Alvin terus menyerocos panjang lebar. Hal itu mengundang rasa kesal Nicho yang terlihat sudah sampai di ubun - ubun.
"Lu kalo main - main, cari cewek lain.! Sisil itu cewek baik - baik, jangan sampe lu ngerusak dia.!"
Seru Nicho. Alvin tersenyum kecut mendengarnya.
"Sejak kapan lu peduli sama cewek yang mau gue jadiin target.?" Tanya Alvin dengan senyum sinis.
"Lu cinta sama doi.?" Tanyanya lagi dengan raut wajah yang terkesan meledek.
"Jangan gila.! Gue cuma nggak mau lu ngerusak masa depan cewek.! Masih mending kalo lu mau tobat dan tanggung jawab,,!!"
"Masih banyak cewek lain yang sama - sama butuh belaian kayak lu.! Dan berhenti jadiin Sisil target kebiadaban elu.!"
Nicho terlihat geram dengan sepupunya itu. Tabiatnya sangat buruk dan sulit untuk di hentikan. Tidak akan jadi masalah kalau wanita yang dia kencani sama - sama membutuhkan se*s. Nicho hanya tidak suka jika Alvin mencari wanita yang masih polos dan virgin pastinya. Dia merasa kasihan pada wanita yang menjadi korban Alvin, karna Nicho juga memiliki adik perempuan.
"Bilang aja lu punya perasaan sama dia.!" Tuduh Alvin yakin.
"Udahlah, gue cabut dulu,,,!" Alvin pergi begitu saja.
Nicho menghela nafas. Rasanya percuma saja menasehati sepupunya yang memang sejak dulu seperti itu.
...*****...
Nicho sampai ke apartemen pukul 7 malam. Sejak tadi siang dia berada di kafe, menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk mengalihkan pikirannya yang sedang bimbang karna ancaman dari Papa Alex. Nicho tidak habis pikir kenapa tiba - tiba Papa Alex menyuruhnya untuk membawa wanita ke rumah. Nicho hanya khawatir jika sang Papa benar - benar menutup semua usaha yang sudah dia bangun sendiri dengan susah payah.
"2 minggu.! Apa Papa sudah gila.!" Geram Nicho kesal. Dia terus berjalan cepat menelusuri koridor yang cukup sepi.
Waktu 2 minggu sangat singkat untuk menemukan wanita yang bisa dia bawa ke rumah.
Nicho mengerutkan kening begitu sampai di depan apartemennya. Pintu apartemennya tidak tertutup dengan benar.
"Alvin ceroboh sekali.!" Geram Nicho kesal. Dia mendorong pintu itu dan buat terbelalak begitu mendapati Alvin sedang memacu tubuhnya di atas tubuh wanita yang masih memakai dress.
******* keduanya yang terdengar erotis membuat Nicho bergidik ngeri.
"Bangs*t,,!" Geram Nicho pelan.
Dia menarik pintu dan menutupnya kembali. Wajahnya terlihat memerah karna ulah Alvin. Berani - beraninya dia membawa wanita ke apartemennya dan melakukan cocok taman di sofa.
"Alvin sialan.!" Ujarnya lagi.
Nicho jadi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Meski kesal dan marah, dia tidak punya niatan untuk menyuruh kedua orang itu keluar dari apartemennya. Nicho masih memikirkan perasaan wanita itu yang pastinya akan sangat malu kalau aksi bejadnya di pergoki seseorang.
"Kakak sedang apa.? Kok berdiri disini.?"
Nicho menatap Sisil. Wanita itu memakai baju tidur lengan pendek dan celana pendek. Rambut panjang di cepol ke atas. Meski bajunya masih terbilang wajar dan tertutup di bagian atas, tapi entah kenapa terlihat seksi.
"Kak,,,!" Sisil sampai harus menegur Nicho karna laki - laki itu terus diam.
"Kakak itu mau pergi atau baru pulang.?"
"Baru pulang,,," Jawab Nicho singkat. Manik matanya masih saja memperhatikan penampilan Sisil.
"Terus kenapa nggak masuk.?"
Tanyanya lagi, Sisil melihat ke arah pintu. Terlihat bingung karna seperti enggan masuk ke dalam.
"Ada bajing*n di dalam." Sahutnya datar.
"Mau kemana kamu.?" Kali ini Nicho baru sadar kalau Sisil memegang dompet di tangannya. Dandi pastikan wanita itu akan keluar.
"Mau ke supermarket depan. Aku kehabisan bahan kue dan makanan."
Nicho mengerutkan keningnya.
"Ke supermarket dengan baju seperti itu.?" Tanya Nicho dengan tatapan sinis.
"Memangnya kenapa.? nggak robek, nggak terbuka, paha dan dadaku masih aman,," Sahut Sisil cuek.
"Ganti.! Pakai celana panjang. Aku antar ke luar nanti." Seru Nicho.
"Waktu 5 menit untuk ganti baju.!" Tegasnya cepat. Sisil langsung mendelik. Dia ingin protes tapi Nicho menunjuk ke arah pintu apartemennya dengan tatapan tajam. Memintanya untuk segara kembali ke apartemen dan mengganti baju.
"Oke,,,Oke,,! Bawel.!" Geram Sisil sambil beranjak dari hadapan Nicho.
"Alvin sialan,,,!" Nicho memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Karna melihat adegan panas tadi, pikirannya jadi menerawang kemana - mana.
...*****...
...Vote lagi yuk yang belum ☺...
Biar mikir jg laki model bgtu. Ribet bgt soal anak merid jg blm ada setaun