NovelToon NovelToon
THE TRUTH

THE TRUTH

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Hana

Kenalin, aku Gading. Sekarang aku kuliah semester akhir di salah satu Universitas Negeri di Malang jurusan Ilmu Komunikasi. Aku juga salah satu anggota BEM fakultas.

Saat ini kita sedang sibuk dengan kegiatan OSPEK. Apa yang menarik adalah aku toba-tiba disuruh berpidato saat pembukaan OSPEK nantinya. Banyak hal menarik terjadi, sampai aku bertemu dengan dia yang tiba-tiba menghantam wajahku dengan tinjunya. Ada juga dia yang selalu cantik dan penuh semangat.

Dan juga, ada dia yang tidak ingin sekalipun dalam hidupku berpikir untuk bertemu dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Hana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPILOGUE

EPILOGUE

“Halo, kamu dimana?” Tanya Ratih lewat telepon.

“Aku di rumah, ada apa? Mau kesini?” jawabku.

“Nggak, kamu yang kesini, aku di kampus” katanya.

“Oke, aku juga mau jogging” jawabku.

“Oke.. aku tunggu, aku di gazebo dekat fakultas”

Sepuluh menit aku sudah sampai di tempat tujuan. Ternyata Ratih tidak sendiri, sudah ada Galih disana. Kampus terlihat sepi karena hari ini hari Minggu.

“Ada apa sih?” tanyaku.

“Nggak papa, Cuma pengen ngobrol aja” jawab Ratih. “Gading, aku mau tanya boleh?” lanjutnya.

“Apa?” Ratih tidak langsung menjawab tetapi tangannya mulai menjalar ke perutku dan mengelus-elusnya. “Apa sih?” tanyaku lagi.

“Ternyata tubuhmu bagus ya” katanya.

“Jadi kamu melihatnya?” saat sedang merawatku waktu aku sakit, dia sering memaksa mau menggantikan bajuku padahal aku bisa melakukannya sendiri.

“Dengan jelas” jawabnya “Boleh liat lagi?” sambil masih memegang perutku.

“Nggak, apaan sih” aku memindahkan tangannya.

“Kenapa?”

“Kamu udah sering liat kan?? Coba ganti kamu yang nunjukin” cetusku.

Tanpa berpikir panjang dia mengarahkan tubuhnya ke hadapanku sambil memegang baju bagian bawahnya. Dengan segera aku menghentikannya.

“Ngak nggak nggak.. aku cuma bercanda” kataku sambil memegang kedua tangannya.

“Wkwkwkwkwk..” terdengan Galih yang berada di sampingku tertawa lepas. Rasanya ingin sekali kujitak kepalanya.

“Galih aja biasa nunjukinnya, ya kan Galih?” katanya sambil memandang ke arah Galih.

Galih yang sedari tadi duduk tiba-tiba berdiri dan mulai mengangkat bajunya. Dengan segera aku memeluk Ratih dan mengarahkan wajahnya ke dadaku.

“Hyaa.. kamu ngapain?” kataku sambil sedikit membentak.

“Nunjukin doang, apa susahnya?” jawabnya dengan santai.

“Kamu ini, sudah sana pergi” dengan nada kesal, aku memintanya pergi.

Tanpa banyak bicara Galih berlalu begitu saja. Terdengar suara Ratih sedang senyum-senyum sendiri dibalik pelukanku.

“Kamu ngerjain aku ya?” tanyaku, dan dia masih tertawa.

“Hehe, soalnya kamu lucu kalau sedang panic” katanya.

“Lucu?” aku mulai tidak suka dengan kata itu.

Melihat wajahku yang jengkel, Ratih tiba-tiba menciumku dan aku hanya memandanginya, lalu dia terus menciumku berkali-kali.

“Apa kamu sesenang itu?” tanyaku saat melihat wajahnya yang terus tersenyum. Dia mengangguk sambil tersenyum. Menggemaskan sekali. Tangannya mulai melingkari leherku dan tidak berhenti menciumku. Aku tidak tahu harus berkata apa, tetapi ini g*la, dan aku menyukainya.

***

"Kak, gimana kalo aku ikut kursus bela diri?" tanya Galih padaku saat sarapan sebelum kita berangkat kuliah.

"Kamu udah bilang ke bosmu kalau keluar dari tempat kerja?"

"Udah" jawabnya singkat.

"Tapi kenapa tiba-tiba jadi pengen belajar bela diri?" tanyaku.

Aku tahu semua sudah berlalu, tidak seharusnya dia belajar bela diri. Karena menurutku dia sudah cukup lihai meskipun tidak pernah belajar ilmu bela diri secara formal.

"Biar nggak ngrepotin aja kalo misal ada sesuatu" jawabnya.

"Terserah deh, lagian kamu juga gak ada kerjaan selain kuliah. Kenapa nggak ikut BEM aja? Ada beberapa teman BEM menanyakanmu" kataku.

"Aku akan ikut UKM lain, selain BEM" katanya.

"Kenapa rasanya kamu kayak benci gitu?" tanyaku penasaran.

"Soalnya kebanyakan anggota BEM cuma cari tenar aja" mendengar jawabannya membuatku ingin sekali memukulnya, enak aja dia bilang anggota BEM cuma cari perhatian.

"Selama jadi anggota BEM tugas kita banyak, mana sempat cari perhatian?" protesku.

"Iya kalo Kakak mikirnya gitu, yang lain kan bisa jadi mikirnya beda" jelasnya.

" Lah sok tau kamu.." kataku sewot.

"Kebanyakan kan gitu .." tambahnya. Aku hanya diam dan memandanginya untuk beberapa saat.

"Kamu... aku punya saran untukmu, dan kamu harus mendengarkannya" Galih hanya memandangku dengan tatapan aneh. "Kamu harus berfikir dulu sebelum ngomong" kataku.

"Ha??" jawabnya.

"Karena setiap orang memiliki pengertian yang beda-beda. Bisa aja apa yang kamu katakan menyinggung perasaan" jelasku.

"Meskipun yang kukatakan itu benar?" sanggahnya.

"Kamu nggak tau apa yang dipikirkan lawan bicaramu, jadi apa yang kamu katakan, entah itu benar menurutmu, harus sesuai kondisi" kataku.

"Kakak tau aku bukan orang seperti itu" katanya.

"Iya, tapi kamu harus mencoba" sahutku.

"Iya.. iya..." jawabnya seperti hanya mengiyakan tanpa ada niatan untuk melakukannya. "Ya udah aku berangkat dulu" katanya.

"Oke, aku juga mau berangkat"

***

Sebelum PKL dilaksanakan, aku berencana untuk datang ke Rumah Sakit tempat tujuan PKL ku nanti. Mas Bayu terlihat sedang sibuk di ruang kerjanya.

"Selamat pagi" sapaku sambil masuk dalam ruangannya.

"Hai Gading.. Kamu udah baikan" sambutnya.

"Udah kok..." jawabku singkat.

Aku duduk di sofa depan mejanya. Terlihat dia sedang sibuk membolak-balikkan berkas yang menumpuk. "Aku bawain apel, aku taruh sini ya" lanjutku sambil menaruh sekeranjang apel di atas meja dekat sofa.

"Oke makasih, syukurlah kalo kamu udah baikan. Galih gimana?" katanya tanpa memandang ke arahku.

"Baik juga" jawabku. "Kayaknya lagi banyak kerjaan ya?" lanjutku. Dia mulai melihat ke arahku dengan wajah yang kesal.

"Aku kurang tidur akhir-akhir ini jadi nggak usah ngajak ribut" jawabnya sewot.

"Hehe, iya maaf"

Mas Bayu beranjak dari meja kerjanya dan beralih duduk di sofa tepat di hadapanku.

"Kamu nggak bilang-bilang kalau mau kesini" katanya.

"Iya, biar surprise.." ledekku.

"Apaan, aku gak merasa dapat surprise" cetusnya. "Apa ada yang mengenalmu di sini?" tanyanya.

"Cuma resepsionis aja, soalnya aku harus ngisi data dulu tadi. Selain itu, pada nggak tau" jawabku.

"Oh ya? Trus, gimana responnya?"

"Biasa aja, malah kayak malu-malu gitu, padahal aku nggak godain" jelasku.

"Wkwkwkwk... aku jadi gak sabar nunggu kamu PKL nanti" katanya.

"Ha?? Kenapa?"

"Ya pengen tau aja respon mereka" jawabnya.

"Aku berharap bisa nyamar selama PKL, apa nggak bisa gitu?" tanyaku.

"Nggak bisa lah.. semua udah pada tau kalo kamu mau PKL di sini" jelasnya.

"Kenapa Mas bilang-bilang sih..." keluhku.

"Aku nggak bilang, tapi pada tau. Kan berkasmu udah masuk ke sini"

"Iya juga sih.. ya udah deh"

"Eh, Ratih gimana kabarnya?" tanya Mas Bayu.

"Baik kok" jawabku.

"Orang tuanya? mereka jadi tau kan kalo kalian pacaran?"

"Iya, biasa aja sih" sahutku.

"Maaf gak bisa nungguin lama-lama pas kamu sama Galih sakit" katanya.

"Iya nggak papa" jawabku. "Awalnya ibuknya Ratih agak gimana gitu, aku sempat panik. Tapi lama-lama biasa aja" jelasku.

Aku ingat saat ibunya Ratih pertama kali tahu kalau kita berdua pacaran, waktu itu di Rumah Sakit beliau sedang menjengukku bersama Ayah Ratih. Selama beliau datang, aku hanya memandanginya saja menunggu bagaimana responnya. Itu membuatku gelisah untuk beberapa saat. Sangat menegangkan sekali, tetapi aku harus mengatakannya.

"Ibuk, maafkan saya karena sering merepotkan Ratih" kataku waktu itu.

"Karena kamu lagi sakit, jadi nggak papa" jawabnya. "Tapi, apa adikmu nggak punya pacar atau teman dekat gitu, masak Ratih harus ngurus kalian berdua" keluhnya.

Aku tahu hal itu pasti akan dikeluhkan oleh Ibunya Ratih. Aku sempat ingin mencari seseorang yang mau bekerja merawat kita selama kita sakit. Tetapi Ratih menolaknya, dan aku tidak bisa membantahnya. Untung saja dia tidak sakit karena kelelahan. Karena beberapa kali Andi dan teman-temanku lainnya menggantikannya.

"Hehe, maafin saya Buk" kataku pada Ibunya Ratih.

"Maafin saya juga Buk" kata Galih juga.

"Ya udahlah, semoga kalian cepat sembuh" katanya.

Beberapa saat aku sempat berpikir, saat kau mendapatkan kesulitan, ada hal-hal lain yang akan dimudahkan. Ada hal-hal yang menghangatkan, selama kamu masih bisa mencintai dan dicintai.

SAMPAI JUMPA LAGI

1
Darah Biru (Bangsawan)
like + rate bintang ⭐⭐⭐⭐⭐👍🏻 saling mendukung ya Thor 👌
Darah Biru (Bangsawan)
mantap 👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
semangat 👍🏻
Darah Biru (Bangsawan)
like like 👍
Darah Biru (Bangsawan)
like + salam persahabatan
zsarul_
hai thorr aku mampir nihh 🤗
semangatt yaa
yuk baca juga cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
dijamin baper deh bacanyaa 😍
mari saling support ya thorr ❤️
thanks
Maria Jamila
cerita yg bagus n singkat.
terus berkarya... 👍☺️
Call Me Hana: asiyaap 👌makasih udah mampir ya 😊
total 1 replies
🌸Ar_Vi🌸
suka ceritanya.. singkat, jelas, dan tidak bertele2.. tapi aku yg baca jadi ngerasa kecepetan certanya.. masih pengen baca kisah mereka lg.. 🥰🥰
Call Me Hana: makasih masukannya 😊. pas nulis ini, aku sempat mikir buat part 2 nya. mungkin setelah project novel kedua ku 😉
total 1 replies
🌸Ar_Vi🌸
mau dong cowok kayak gading..😘😘
🌸Ar_Vi🌸
mungkin pak rudi adalah pamannya gading 🤔🤔
Call Me Hana: hmm 🤔🤔🤓 makasih udah mampir 😉
total 1 replies
Santysoru Sorusanty
nyimak
Call Me Hana: maksih ya.. udah mampir baca 😊
total 1 replies
Nureti
hai kak 👋
sukses untuk karyanya

jangan lupa mampir di karyaku yang menceritakan seorang cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY

Terimakasih 🙏
Nureti: terimakasih kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!