NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 — Kebenaran yang Belum Terbilang

Pintu ruangan perawatan tertutup pelan di belakang mereka. Lorong rumah sakit sepi, hanya suara langkah kaki sesekali terdengar dari kejauhan. Begitu menjauh dari jangkauan pendengaran siapa pun, Nadine berhenti berjalan seketika, berbalik menghadap adiknya. Tatapannya tajam, penuh kekhawatiran sekaligus keraguan.

"Jelaskan padaku, Meloudy," ucapnya rendah, namun tegas.

"Apa sebenarnya hubunganmu dengan pria itu?"

Meloudy menelan ludah, menunduk sejenak, tangan kirinya meremas ujung lengan kemeja panjangnya erat.

"Beliau… hanya atasan saya, Kak. Waktu itu kebetulan beliau sedang luang, lewat di dekat sini, lalu ikut naik menjenguk Ibu. Tidak ada yang lain."

"Hanya kebetulan?" potong Nadine cepat, tak sepenuhnya yakin.

"Kalau begitu, kenapa semalam kamu tak bilang kalau atasanmu itu pernah menjenguk Tante, dan baru mengatakannya sekarang?!"

Meloudy menarik napas pelan, menatap sepupunya dengan tenang, teguh pada apa yang ia rasakan.

"Karena bagi saya, itu hal biasa saja, Kak. Mengenai beliau tidur dengan wanita mana pun… itu urusan beliau, bukan urusan saya. Tidak ada hubungannya dengan saya."

Nadine tertekan sejenak, tak menyangka jawaban itu terdengar begitu tenang namun tegas.

"Tapi…"

"Kak," potong Meloudy lembut namun tak terbantahkan.

"Saya bekerja, beliau pimpinan. Itu saja. Saya tidak mencampuri kehidupan pribadi beliau, dan saya juga tidak ingin kehidupan saya dicampuri."

Ia tak menceritakan hal lain. Tak menceritakan bahwa di tempat khusus di lantai paling atas — atap kantor gedung pencakar langit, tempat mereka berdua kadang menyendiri — mereka berbagi atap yang sama, membuang segala rasa frustasi yang memuncak.

Di sana, mereka sesekali menyalakan rokok, menghirup kepulan asap yang menyembunyikan banyak hal — kelelahan, rasa frustasi, dan ketakutan yang tak terucap.

Ia sengaja tidak memberi tahu Nadine bahwa di tempat itu, di sela-sela kesunyian kantor, ia duduk bersama Vano, menatap langsung langit kota, menghirup asap yang sama, tanpa kata-kata yang perlu dijelaskan. Itu bagian dari dunianya yang ia pilih untuk ia jaga sendiri.

Nadine menatapnya lekat, melihat keteguhan di wajah keponakannya.

"Jadi kau berniat menyembunyikan hal-hal itu?"

Meloudy menunduk sedikit, namun suaranya tetap tenang.

"Bukan menyembunyikan, Kak. Hanya… tidak semua hal perlu diceritakan. Hal-hal di kantor, itu urusan ku. Tidak ada yang salah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Nadine menghela napas panjang, tampak belum sepenuhnya tenang, namun tak bisa lagi mendesak.

"Baiklah… kalau begitu. Tapi tetap ingat, Meloudy. Jaga dirimu baik baik, para konglomerat selalu menyusahkan."

"Aku mengerti, Kak," jawabnya lirih.

Namun di dalam hatinya, ia tahu — ada hal yang tak diucap, ruang yang dibaginya bersama Vano di tempat tertinggi itu, kepulan asap yang menyatukan napas mereka sesaat, dan rahasia itu tetap tersimpan rapat, di tempat yang tak boleh siapa pun ketaui.

Mereka berjalan kembali ke arah ruang perawatan, dan di antara mereka, kesunyian menyisakan satu kebenaran yang tak terbilang — bahwa baginya, kehidupan pribadi Vano memang bukan urusannya, namun momen-momen yang dibaginya bersama pria itu, di atap kantor, adalah miliknya seorang diri.

...****************...

Hari-hari berikutnya di kantor terasa berbeda. Udara yang biasanya tenang kini menyimpan sesuatu yang tak bernama, tergantung di setiap sudut ruangan.

Meloudy masuk seperti biasa, tepat waktu, berkas tersusun rapi di lengan, senyum tipis terpasang di wajahnya — namun hatinya selalu berdebar tak menentu setiap kali melangkah mendekati ruangan pimpinan. Ia tak tahu kata-katanya di lorong malam itu benar-benar didengar, tak tahu apa yang dipikirkan Vano.

Namun perubahan sikap Vano padanya itu datang, perlahan namun nyata.

Pagi itu, saat meloudy melaporkan laporan bulanan di ruang kerja Vano, ia bersiap untuk sapaan singkat, tatapan yang tak bertahan lama, kata 'terima kasih' yang datar — seperti biasa.

Tapi tidak.

Vano menerima berkas itu, namun tidak segera membukanya. Ia menatapnya lebih lama dari biasanya, tatapannya tidak lagi dingin atau sekadar resmi. Ada sesuatu di sana — perhatian, rasa hormat, dan sedikit rasa bersalah yang tersembunyi di balik kerutan pelan di keningnya.

"Terima kasih, Meloudy," ucapnya, nada suaranya lebih lembut, lebih tenang.

"Duduklah..."

Meloudy tertegun sejenak, lalu duduk di tepi kursi, menjaga sikap tetap tertib.

"Ada hal lain, Tuan?"

Vano menunduk sejenak, menarik napas pelan, lalu menatapnya kembali.

"Aku… ingin meminta maaf atas sikapku malam itu di hotel," ucapnya tulus, jujur tanpa topeng kekuasaan.

"Aku meninggalkan kesan yang buruk. Dan saya mendengar apa yang dikatakan kerabatmu tentang ku… di lorong itu."

Wajah Meloudy memerah seketika. Ia menunduk, tak berani menatap.

"Maafkan Kakak saya, Tuan. Ia tidak bermaksud…"

"Jangan meminta maaf," potong Vano lembut.

"Ia berhak berpendapat. Dan sebagian dari apa yang dikatakannya benar. Aku memang meninggalkan seseorang sendirian. Aku memang terlihat tidak bertanggung jawab. Hanya saja… situasinya tidak sesederhana itu."

Ia terdiam sejenak, seakan menimbang apakah harus melanjutkan.

"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang," lanjutnya pelan.

"Tapi aku ingin kau mengerti satu hal — aku pergi bukan karena tak peduli. Aku pergi karena sudah tak kuat lagi menyembunyikan semuanya. Beban ini, tekanan dari mana-mana… aku terjebak di antara apa yang harus kulakukan, dan apa yang sebenarnya kurasakan — sesuatu yang tak pernah kuinginkan terjadi."

Meloudy diam, mendengarkan dengan napas tertahan. Ia tak menyangka atasannya akan berbicara begitu terbuka kepadanya.

"Dan…" Vano menatapnya lekat, seakan ingin memastikan ia mengerti.

"Aku juga ingin meminta maaf kepadamu. Jika selama ini sikap ku membuatmu merasa tidak nyaman, itu bukan maksud ku, Meloudy."

Jantungnya berdegup kencang, dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Kata-kata itu begitu indah, namun ia tahu ia tak boleh terlalu berharap.

"Terima kasih, Tuan," jawabnya lirih, menunduk agar matanya yang berkaca-kaca tak terlihat.

"Saya hanya melakukan tugas saya."

Vano tersenyum tipis, senyum yang penuh kelelahan namun tulus.

"Padahal… kau adalah ketenangan yang ku temukan di tengah kekacauan yang ku rasakan."

Ia berhenti sejenak, menyadari telah berkata terlalu banyak, lalu mengangguk pelan.

"Kembalilah bekerja, Meloudy. Terima kasih sudah mendengarkan ku."

Meloudy berdiri, membungkuk pelan, lalu berjalan keluar ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk — bahagia, bingung, sekaligus takut. Pintu tertutup di belakangnya, dan ia berdiri diam di lorong, menahan diri agar tidak menangis, karena orang yang memiliki beban di pundak nya bukan hanya dirinya. Dan meloudy tau bagaimana rasanya.

Di balik pintu itu, Vano masih duduk diam, menatap ruang kosong di hadapannya. Ia belum tahu siapa wanita di hadapannya. Belum tahu bahwa ia sedang berbicara dengan sosok yang ia bayangkan setiap malam. Namun sesuatu telah berubah — dinding dingin yang ia bangun perlahan retak, dan cahaya mulai menyelinap masuk.

^^^Bersambung...^^^

1
Isma Iis
gak sekalian aja orangnya langsung bawa pulang suruh main gitar di depan anda Tuan Vano
Isma Iis
gak bisa Tuan, meloudy harus menyembunyikan lengannya terutama dari anda Tuan Vano
Isma Iis
pas tau ternyata meloudy itu Laudy, nyesal tau rasa
Isma Iis
galak amat
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
naws
hih bangga bgt pasti dia bisa deket2 sama vano 😖
naws
kalopun tau, harusnya elona gaboleh marah. mereka kan gak ada komitmen.
naws
dia napsunya bukan sama kamu mbak
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!