Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Regantara tidak menjawab.
Ia hanya melemparkan tatapan dingin pada Alaric dan memberi isyarat agar sekretarisnya itu segera pergi.
Setelah itu ia memindahkan genggamannya dari pergelangan tangan Zara ke jemari wanita itu.
"Masuk." bisik Regantara datar, tanpa melepaskan ikatan jemari mereka.
Zara menghela napas pendek, menahan rasa panas yang menjalar di jemarinya akibat cengkeraman erat Regantara.
Di dalam, Jenderal Benedict duduk di kursi kebesaran cucunya.
Pria tua itu menyilangkan tangannya di atas meja, sedangkan Nakula berdiri kaku bagai patung di samping kirinya.
Tatapan tajam sang Jenderal terpaku pada jemari Regantara dan Zara yang bertautan erat.
"Duduk."
Regantara menarik kursi untuk Zara terlebih dahulu, sebelum ia menduduki kursi di sebelahnya.
"Kakek datang jauh-jauh dari kediaman utama bukan cuma untuk memamerkan wibawa di depan stafku, bukan?" sindir Regantara, seperti biasa ia memulai pembicaraan dengan nada menantang khas dirinya.
Jenderal mendengus keras, ia meletakkan sebuah map dokumen berwarna hitam yang bertuliskan simbol keluarga di atas meja, lalu mendorongnya tepat ke arah Zara.
"Aku datang untuk menyambut cucu menantuku secara resmi, bukan sebagai jaminan utang Adhitama, tapi sebagai Nyonya Muda Benedict."
Zara terpaku, matanya menatap map hitam bertuliskan simbol keluarga tersebut.
"Ini untuk Zara." Jenderal membuka map itu.
Sebuah black card yang berkilau mewah.
"Kakek sudah mendaftarkan nama lengkapmu ke sistem utama aset keluarga Benedict." lanjut Jenderal tua itu dengan nada pamer.
Pria tua itu bahkan sedikit membusungkan dadanya ke arah Regantara yang kini menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan tak percaya.
"Gunakan ini untuk membeli apa saja yang kamu suka, Zara. Beli baju baru, perhiasan, gedung, atau kalau perlu beli sekalian saham perusahaan Adhitama yang sengaja bikin kamu kesal itu!"
Nakula yang berdiri di samping sang tuan hanya bisa memejamkan mata sebentar, menahan napas menghadapi kelakuan tuannya yang mendadak berubah menjadi kakek yang teramat memanjakan cucu menantunya.
Zara membelalakkan matanya, rasa canggung langsung melingkupi dirinya saat menatap kartu hitam tanpa limit itu.
"K-Kakek... ini terlalu berlebihan, aku tidak bisa menerima ini." bisik Zara ragu, ia melirik Regantara di sebelahnya untuk meminta bantuan.
"Kenapa tidak bisa?" potong Jenderal cepat, alis tebalnya kembali menukik tajam, yang sebenarnya cuma pura-pura tersinggung.
"..."
"Di keluarga Benedict, tidak ada yang namanya berlebihan untuk seorang Nyonya Muda. Regantara mungkin pria irit yang tidak becus menyenangkan istrinya, tapi Kakekmu ini punya segalanya untukmu!" lanjut pria tua itu.
"Kakek, dia istriku. Aku tahu cara memenuhinya tanpa bantuan Kakek." tegur Regantara, genggaman tangannya di jemari Zara makin erat, karena merespons rasa tidak terimanya saat dikatai irit oleh kakeknya sendiri.
"Tahu darimana?" pangka Jenderal sinis sambil melirik jas hitam Regantara yang terikat di pinggang Zara.
"..."
"Membawakan jas untuk menutupinya saja harus Alaric yang gerak! Jangan banyak bicara, Regantara. Mulai hari ini, Zara berada di bawah perlindungan penuh atas nama kakekmu!"
"Kakek, aku bisa mengurus istriku sendiri." balas Regantara.
"Sudahlah, sekarang ayo kita pergi makan, Cu!" seru Jenderal tiba-tiba, ia menepuk meja dengan telapak tangannya.
"Makan?" ulang Zara.
"Iya, Kakek sudah menyuruh Nakula memesan seluruh lantai di restoran privat terbaik di kota ini. Kamu pasti belum makan siang dengan benar karena melayani cucu Kakek yang keras kepala ini!"
Zara meringis pelan, matanya refleks melirik kotak bekal di sudut meja yang tadi sempat terjatuh.
"Kakek." potong Regantara dingin.
Ia berdiri dari kursinya seraya menarik Zara ikut berdiri bersamanya. Tangannya merangkul pinggang Zara dengan posesif, menegaskan kembali batas kekuasaannya.
"Zara sedang tidak enak badan. Hari ini dia harus pulang dan beristirahat di mansion."
Jenderal ikut berdiri, menatap Regantara dengan tatapan penuh selidik yang tajam.
"Hmph! Alasan saja kamu, Regantara. Bilang saja kamu mau memonopoli cucu menantuku sendirian!" gertak sang Jenderal sambil merapikan jas mewahnya.
Pria tua itu kemudian menatap Zara dengan binar hangat.
"Baiklah, kalau begitu Kakek tidak akan mengganggu istirahatmu hari ini, Zara. Tapi ingat, simpan card itu. Kalau Regantara membuatmu kesal lagi, habiskan saja seluruh isi tabungannya!"
Zara tersenyum tipis, merasa tersentuh oleh perhatian protektif dari sang kakek yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.
"Terima kasih banyak, Kakek."
"Anak pintar." puji Jenderal puas.
Ia kemudian menepuk bahu Regantara sekali lagi dengan keras hingga cucunya itu sedikit menggeram.
"Nakula! Kita jalan. Biarkan dua orang muda ini menyelesaikan urusan rumah tangga mereka."
Begitu pintu ruang kerja tertutup rapat, hening kembali menyelimuti ruangan.
Regantara sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya di pinggang Zara.
Pria itu justru membalikkan tubuh Zara hingga menghadapnya, ia menatap mata bening wanita itu dengan tatapan dingin.
"Kakekku menyukaimu. Tapi jangan lupa, Nyonya Benedict... yang memiliki hak penuh atas dirimu tetaplah aku." bisik Regantara, tangannya perlahan naik mengusap rahang Zara.
Sedangkan di dalam lift yang bergerak perlahan turun menuju basement, Jenderal berdehem pelan, sambil membetulkan letak jam tangan mewahnya seraya melirik Nakula dari sudut mata.
Wajah garang yang baru saja ia pamerkan di depan Regantara mengendur seketika, berganti dengan binar bangga.
"Bagaimana tadi sikapku di depan cucu menantuku? Apa aku terlihat cukup berwibawa? Atau aku terlalu menakutkan sampai dia terlihat canggung?" tanya Jenderal.
Nakula yang berdiri tegap di sampingnya menahan senyum tipis. Ia sudah sangat mehamami tabiat tuannya ini.
"Sikap Anda sangat luar biasa, Tuan Besar. Anda berhasil menunjukkan ketegasan khas keluarga Benedict, sekaligus memberikan rasa aman pada Nyonya Muda. Tatapan dan senyuman Nyonya Muda tadi adalah bukti bahwa beliau sangat menghormati Anda." jawab Nakula dengan nada tegas dan penuh penghormatan.
"Benarkah? Sudah kuduga! Gadis itu punya mata yang bagus. Dia tahu siapa penguasa sebenarnya di keluarga ini, bukan cucu sialanku yang sok dingin itu!" sang Jenderal membusungkan dadanya, dengan bibir yang menyunggingkan senyum puas yang amat lebar.
Pria tua itu tertawa rendah, tawa penuh kemenangan yang bergema halus di dalam lift.
"Regantara pikir dia bisa menyembunyikan istrinya dariku selamanya." lanjut Jenderal dengan kilatan jenaka di matanya.