Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 24
Setelah perdebatan panjang, Arras membereskan baju- baju sang istri dan meminta kepada orang kepercayaan Bunda sofia, untuk mencarikan baju- baju untuk sang istri, sebagai ganti karena beberapa baju kotor dengan noda membandal.
" Astagfirullah, kenapa Atthaya jadi kayak gitu " gerutu Arras, sambil melipat kembali, baju- baju sang istri.
Sedangkan Hazi, sudah terlelap dan menjelajahi alam mimpi, setelah dirinya membersihkan diri, hari ini dirinya cukup lelah dan hormon yang tidak stabil.
Setelah tadi ia jujur pada suaminya, ia juga sedikit lebih lega tentang hatinya, tapi ia juga tetap menyisihkan ruang untuk kekecewaan itu.
Karena dirinya sejak dulu, sering kali di kecewakan oleh ekspetasinya sediri, karena ego kedua orang tuanya yang lebih mengutamakan sang Kakak.
...****************...
Di pesantren Darunnajah, ponsel Hanzzah yang di berikan pada dirinya setelah dirinya menyelesaikan tugasnya, kini terus berdering.
Namun Hanzza sama sekali tidak ingin mengangkat panggilan tersebut, panggilan itu dari kakak pertamanya Yaitu Mila.
Bulek Aisyah melihat Hanzzah yang sedang menonton tv dan memakan camilan lalu beralih ke arah ponsel Hanzzah.
" Angkat le..." pinta bulek Aisyah pada Hanzzah.
" enggak mau bulek, bulek aja yang angkat aku masih kecewa dengan mbak mila" jawab Hanzza yang masih asik menonton tv.
Bulek Aisyah kemudian mengambil ponsel Hanzzah dan menekan tombol biru, lalu menekan tombol Loudspeaker, lalu meletakkan kembali ponsel Hanzzah kemeja dan duduk di samping Hanzzah.
" Halo.. Assalamualaikum dek... ini mbak mila, dek... kabar yang beredar tentang umi dan abi enggak bener kan dek?" suara Mila terdengar setelah bulek Aisyah menerima panggilan tersebut.
Hannzah sama sekali tidak menggubrisnya, Bulek Aisyah mengusap kepala Hanzzah dan memberikan isyarat untuk menjawab ucapan kakaknya.
" Halo... dek, adek gapapa kan ?" tanya Mila dengan suara yang begitu sesak.
Bulek Aisyah menarik nafasnya panjang, sejujurnya ia juga begitu kecewa dengan Mila, dia yang selalu di sayang dan di berikan apapun dari pada Hazi, namun dia juga yang begitu mengecewakan keluarga.
" Waalaikumsalam Mila, ini bulek..." jawab bulek Aisyah sambil menatap keponakannya yang berusaha tidak peduli, namun dalam hatinya begitu hancur.
" bulek berita yang beredar itu semua hoaks kan bulek? umi sama abi mana bulek? mereka gapapa kan bulek? terus kok bulek yang angkat telfon adek, adek dimana bulek?" runtunan pertanyaan dari Mila yang membuat Hanzzah semakin jenggah.
Hanzzah kemudian mengambil ponsel tersebut, "enggak usah sok peduli sama apa yang terjadi, kalau mbak aja enggak inget, awal dari semuanya itu adalah mbak sendiri " jawab Hanzzah kemudian mematikan panggilan secara sepihak dan menangis sejadi- jadinya, dirinya hancur, walau ia anak terakhir tapi ia mengetahui semua masalah di keluarga ini.
Bulek Aisyah merasa iba, ia memang sudah menganggap anak- anak dari kakaknya adalah anaknya sendiri terutama Hazi, karena beliau cukup lama mendapatkan keturunan dan Hazi lah yang menjadi pancingan.
Hingga akhirnya ia mendapatkan keturunan yang kini seumur dengan Hanzzah, ia bernama Zidann yang sedang mondok di daerah malang.
Bulek Aisyah meraih tubuh Hanzzah dan memeluknya Hanzzah menangis sejadi- jadinya, ia rindu kedua orang tuanya, ia rindu kakaknya.
" Han, benci mbak Mila bulek, Han enggak mau ketemu mbak Mila lagi" ucap Hanzzah di sela tangisnya.
...****************...
Keesokan harinya Hazi bangun pukul tujuh pagi, ia bangun karena suaminya yang masuk ke dalam apartemen dan membangunkannya.
" ck... apasih" gerutu Hazi ketika, Arras meraup wajahnya dengan air .
" Kamu enggak kerja? bukannya kamu jaga pagi, ini udah jam tujuh lohh" tanya Arras yang sedari tadi membangunkan sang istri dan sudah banyak cara yang ia coba untuk membangunkan istrinya.
Seketika Hazi bangun dari tidurnya dan berteriak saat melihat suaminya yang tepat berada di sampingnya, " Aaaaaaaaa " teriak Hazi dan kembali menarik selimutnya.
" Mas.... kenapa mas bisa masuk sini sih" gerutu Hazi, ia menarik kembali karena ia hanya menggunakan baju pendek dan celana pendek, sedangkan selama ini ia belum membuka jilbab di depan suaminya.
" Kamu lupa? kan kamu yang kasih aku kode apartemen kamu kemarin, makanya aku bisa masuk, ini kok malah narik selimut lagi sih.... ayooo bukanya kamu jaga pagi" jawab Arras yang menarik selimut Hazi.
Hazi yang mengegam selimut tersebut terlalu kuat, hingga mereka main tarik menarik selimut.
" Mas keluar dulu, aku enggak pakai jilbab" pinta Hazi.
" Lah... kenapa mas harus keluar, kan kita udah nikah jadi bukannya semua tubuh mu ini, halal untuk mas lihat dan nikmati" jawab Arras yang mencoba untuk menggoda sang istri.
Siapa tau ia bisa menjadi obat untuk kesedihan apa yang istri nya rasakan beberapa waktu ini, walau ia juga tidak tahu betapa sedihnya Hazi, karena Hazi selalu bersikap jika dirinya kuat.
" enggak, keluar mas" balas Hazi yang sengaja menendang tubuh suaminya hingga terjatuh.
" awwww " pekik Arras.
Hazi sedikit mengintip dari balik selimutnya, "kok kamu di bawah mas?" tanya Hazi, seakan tidak sadar apa yang di lakukannya baru saja.
" Pakai nanya lagi, yang nendang mas siapa kalau bukan kamu, sampai mas nyungsep gini?" balas Arras .
" mana kenceng banget lagi nendangnya " imbuh Arras.
Seketika Hazi berdiri menyibakan selimutnya dan menampilkan dirinya yang hanya menggunakan dress tidur yang panjangnya setengah Paha.
Arras yang melihat itu tampak susah payah menelan ludahnya karena melihat kecantikan sang istri dengan rambut berwarna coklat dan berantakan khas bangun tidur.
Namun sialnya itu membuat Hazi terlihat begitu cantik dan tanpa polesan make up sama sekali, Arras berdiri dan menatap ke arah Hazi.
Hazi yang sadar akan penampilannya segera meraih selimut dan menutupi dirinya dengan selimut miliknya.
" Mas, mau ngapain?" tanya Hazi, saat melihat Arrad yang berjalan perlahan,namun pasti ke arah dirinya.
Arras tanpa aba- aba mengangkat istrinya seperti mengangkat kayu bakar dan membawa Hazi untuk ke kamar mandi.
" ringan banget sih... enggak di kasih makan ama suaminya yaaa" ujar Arras yang berusaha untuk menahan diri, walau hasratnya memberontak ingin di penuhi.