NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Di Ujung Tanduk

Langkah kaki Ben menjauh, meninggalkan gema tajam di lantai marmer sebelum akhirnya menghilang ke arah ruang kontrol keamanan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Gita atau Baron yang baru saja muncul di ujung lorong karena mendengar suara Alba. Ia hanya berlalu, meninggalkan Lala yang masih mematung, dadanya naik turun dengan napas yang belum sepenuhnya stabil.

​Bagi Gita, perilaku Ben hanyalah sikap kaku "mesin tua" yang terganggu oleh perubahan jadwal. Namun bagi Lala, kepergian Ben adalah sebuah teror yang tertunda. Pria itu baru saja memberinya peringatan tanpa kata bahwa ia sedang diawasi di dalam kandangnya sendiri.

​Di Ruang Desain

​Lala mencoba fokus, namun tangannya terus gemetar. Ia bukanlah agen rahasia yang dingin; ia hanyalah seorang gadis yang terdesak keadaan.

Hari-harinya selama tujuh bulan terakhir adalah mimpi buruk kemiskinan yang nyata—mencari makan dari satu toko ke toko lain, diusir karena kecerobohannya, dan akhirnya, entah bagaimana, ia kembali ke tempat yang paling ia hindari namun juga paling ia rindukan.

​Ia sedang mencoba membuka gulungan kertas desainnya, namun ujung kertas itu tersangkut dan membuat seluruh sketsa jatuh berserakan ke lantai.

​"Aduh, bodohnya aku..." gumam Lala panik. Ia segera berjongkok, merangkak di lantai untuk memungut kertas-kertas itu. Rambutnya yang diikat asal-asalan terlepas satu sisi, jatuh menutupi matanya. Ia menyumpah kecil, mencoba merapikan pakaiannya yang sedikit miring karena gerakan cerobohnya tadi.

​Tiba-tiba, sebuah sepatu pantofel hitam berhenti tepat di depan wajahnya yang sedang menunduk di lantai.

​Lala membeku. Ia perlahan mendongak, dan mendapati Ben berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Pria itu tidak berkata apa-apa, ia hanya menatap bagaimana Lala merangkak memungut kertas dengan wajah memerah karena malu dan takut.

​Ben berjongkok. Gerakannya sangat presisi dan tenang, kontras dengan Lala yang panik. Ia memungut satu lembar sketsa yang berada di dekat kaki Lala. Ben melihat gambar itu lama—desain kamar bayi yang hangat, penuh kasih, dan sangat tulus.

​"Masih sekacau dulu," suara Ben rendah, nyaris seperti bisikan, namun sarat dengan ancaman. "Kau pikir dengan kembali ke sini, kau bisa memperbaiki semuanya?"

​Lala bangkit berdiri dengan susah payah, ia memeluk kertas-kertasnya erat ke dada, mencoba menutupi tubuhnya yang gemetar.

"Aku... aku hanya butuh uang, Tuan Ben. Sumpah. Aku sudah tidak lagi bekerja untuk siapapun. Aku benar-benar hanya butuh pekerjaan ini untuk bayar kontrakan."

​Ben berdiri, memangkas jarak di antara mereka hingga Lala harus mendongak untuk menatap matanya. Ben tidak mencekiknya kali ini, namun ia meletakkan satu tangan di dinding, tepat di samping kepala Lala, mengurungnya.

​"Kontrakan?" Ben terkekeh sarkastik, namun matanya sama sekali tidak tersenyum. "Kau pikir aku peduli? Kau adalah risiko bagi keluarga ini, Lala. Dan setiap kali kau menumpahkan kopimu atau menjatuhkan sketsamu di depanku, kau hanya membuktikan satu hal: kau adalah makhluk paling tidak stabil yang pernah kuawasi."

​"Aku tidak bermaksud mengganggu keamanan kalian..." mata Lala berkaca-kaca, kecerobohannya membuat suasana menjadi semakin canggung. Ia tidak sengaja menyenggol meja, membuat sebuah vas bunga kecil hampir jatuh, namun dengan cekatan ia menangkapnya meski harus terhuyung-huyung.

​Ben menangkap lengan Lala sebelum gadis itu jatuh, mencengkeramnya dengan cukup kuat. "Lihat? Bahkan di saat kau ketakutan, kau tetap saja berantakan."

​Ben melepaskan lengannya seolah tersengat listrik, lalu membuang muka. "Kerjakan desain itu. Selesaikan secepat mungkin. Dan selama kau di sini, jangan pernah menginjakkan kakimu di luar area yang ditentukan. Jika kau berani melanggar, atau jika kau ketahuan berbohong tentang keadaanmu yang sebenarnya..."

​Ben mendekat, membisikkan ancaman itu tepat di depan wajah Lala yang pucat. "...aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari mansion ini lagi."

​Ben berbalik dan pergi, meninggalkan Lala yang berdiri mematung, mengatur napasnya yang tersengal. Lala memegang dadanya yang berdegup kencang, tidak tahu apakah detak jantung itu karena ketakutan pada ancaman Ben, atau karena fakta bahwa pria itu—meski begitu kejam—tetap berada di sana, mengawasi setiap langkah cerobohnya.

Lala melirik ke pintu ruang desain yang tertutup rapat, memastikan tidak ada bayangan yang lewat. Setelah memastikan aman, ia segera beralih ke meja kecil di sudut ruangan di mana pelayan tadi meninggalkan nampan berisi teh hangat dan sepiring macaron serta kue-kue kering.

​Perutnya kembali mengeluarkan bunyi nyaring yang memalukan di tengah keheningan ruangan. Tanpa memedulikan etika atau rasa takutnya, Lala segera meraih secangkir teh itu. Namun, karena tangannya masih sedikit gemetar akibat pertemuan menegangkan dengan Ben tadi, ia tidak sengaja menyenggol tepi piring keramik.

​Prang!

​Piring kecil itu tergelincir, dan dengan gerakan panik yang sudah menjadi ciri khasnya, Lala mencoba menangkapnya. Teh panas di cangkir tumpah membasahi sketsanya yang baru saja ia kerjakan dengan susah payah.

​"Oh, tidak, tidak, tidak!" Lala memekik tertahan. Ia segera meletakkan cangkir itu kembali ke meja, namun cangkir itu justru bergetar dan tumpah lebih banyak ke atas meja marmer.

​Ia segera mengambil serbet untuk membersihkan tumpahan, namun kakinya justru tersandung ujung karpet. Tubuh Lala oleng, ia terpaksa menahan beban tubuhnya di atas meja, membuat napasnya memburu.

Rambutnya yang tadinya sudah dirapikan kembali berantakan, dan wajahnya kini memerah karena panik sekaligus lapar.

​Ia terdiam sejenak, menunduk melihat kekacauan yang ia buat sendiri. "Kenapa selalu aku yang begini..." gumamnya lirih, merasa sangat bodoh dan tak berdaya.

​Tiba-tiba, pintu ruang desain terbuka.

​Ben muncul di sana, auranya terasa menekan. Ia baru saja lewat saat mendengar suara piring pecah.

Matanya menyapu ruangan—melihat teh yang tumpah membanjiri meja, sketsa yang basah kuyup, dan Lala yang berdiri dengan posisi canggung, memegang serbet dengan wajah tertunduk ketakutan.

​Ben terdiam di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan rahang yang mengeras. Ia tidak langsung marah, namun tatapannya yang setajam jaguar itu membuat Lala merasa seolah ia baru saja melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan.

​"Belum ada satu jam kau di sini," suara Ben memecah kesunyian, dingin dan tajam. "Dan kau sudah berhasil menghancurkan meja ini."

​Lala tidak berani mendongak. Ia hanya bisa meremas serbet di tangannya. "Aku... aku hanya lapar, Tuan. Maafkan aku."

​Ben berjalan masuk, langkahnya yang tenang terasa sangat mengintimidasi. Ia berhenti tepat di samping Lala, mengambil alih serbet dari tangan gadis itu dengan gerakan kasar namun cepat. Ia mulai membersihkan tumpahan teh di meja dengan efisiensi yang luar biasa, membuat Lala merasa semakin tidak berguna.

​"Kau ceroboh," gumam Ben, matanya menatap tajam ke arah Lala yang masih gemetar di sampingnya. "Di luar sana, mungkin kau bisa hidup dengan kecerobohanmu. Tapi di sini, di bawah pengawasanku... setiap tindakan bodohmu adalah peringatan bagiku."

​Ben meletakkan serbet itu kembali ke meja dengan kasar, lalu menatap Lala tepat di matanya. "Makanlah kue-kue itu sebelum kau jatuh pingsan dan merepotkanku lagi. Tapi jika aku mendengar suara piring pecah satu kali lagi, aku tidak akan membiarkanmu menyelesaikan desain ini. Kau mengerti?"

​Lala mengangguk cepat, takut-takut. Ben membalikkan badan, namun sebelum ia melangkah keluar, ia berhenti sejenak. "Dan berhenti menyebutku 'Tuan'. Kau sedang tidak bekerja di sebuah kafe. Panggil aku Ben."

​Pintu tertutup kembali. Lala masih berdiri di sana, ternganga, napasnya tersengal. Ia baru saja dibentak, dibantu dibersihkan tumpahannya, dan diperbolehkan makan—semuanya dalam satu rangkaian interaksi yang membuatnya merasa seperti berada di ujung tanduk.

***

Like dan Like 😁

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!