NovelToon NovelToon
BUNGLON (SEMUA NYA AKAN AKU BALASKAN

BUNGLON (SEMUA NYA AKAN AKU BALASKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / TimeTravel / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Makmisshalu

Callista terkejut bukan main, kala dirinya mendapati kembali jika dirinya telah kembali ke lima tahun lalu..

Dimana dia kembali pada awal pernikahan dengan Darius suami yang di di cintai secara ugal-ugalan.

Namun kini cinta itu telah berubah menjadi kebencian, segala perbuatan Darius di kehidupan lalu selalu di ingat nya.

Kini hanya akan hidup untuk membalas kan dendam nya di masa lalu.

Akan kah Callista mampu membalas dendam nya, yuk kita simak aja cerita nya sama-sama.

Warning, mungkin akan terdapat beberapa typo dan flashback di cerita Mak ini, jadi jangan heran ya😅.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makmisshalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Tirai Dosa dan Senyuman Tersembunyi

​Suasana kediaman Darma Atmaja malam itu terasa begitu menyesakkan, seolah setiap jengkal temboknya menyimpan rahasia busuk yang perlahan mulai membusuk dari dalam.

Rencana pembunuhan dan perampasan harta yang baru saja disusun di ruang kerja tadi seolah menjadi bahan bakar bagi nafsu-nafsu liar yang selama ini bersembunyi di balik topeng keluarga terhormat.

​Setelah rapat iblis itu usai, keempatnya membubarkan diri menuju kamar masing-masing dengan ambisi yang kian menggelegak.

Darma, pria yang merasa dirinya sebagai penguasa tertinggi, melangkah berat menuju kamarnya dengan pikiran yang masih melayang pada pundi-pundi uang yang akan segera ia kuasai dari Dorry Corporation.

​Di lorong yang remang, Darius tidak membuang waktu.

Langkahnya mantap menuju kamar Caroline. Baginya, kamar itu bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan zona di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri—seorang pria yang tidak lagi terikat oleh moralitas semu.

Hubungan terlarang antara ia dan anak dari selingkuhan paman istrinya itu sudah menjadi rahasia umum di antara mereka, bahkan Darma, sang kepala keluarga, tampaknya sudah tidak lagi peduli atau mungkin terlalu angkuh untuk mempermasalahkannya selama kepentingannya tetap terjaga.

​Sementara itu, Rose berdiri mematung di ambang pintu kamarnya, menatap punggung Darius yang menghilang di balik pintu kamar Caroline.

Ada kobaran api kebencian dan kekesalan yang tersulut di balik tatapannya.

Ia merasa dikhianati oleh situasi, namun di depan Darma, ia tetap harus menjadi istri yang patuh.

Ia menarik napas dalam, memejamkan mata, dan merencanakan rutinitas malamnya yang menjijikkan: menunggu Darma terlelap, memberikan pelayanan fisik sebagai rutinitas kewajiban, lalu menyelinap keluar saat sang suami sudah mendengkur untuk mencari pelampiasan di kamar lain.

.

.

.

​Di balik pintu kamar Caroline yang tertutup rapat, dunia seolah berhenti berputar.

Caroline yang sedari tadi tampak lemah dengan wajah pucatnya, seketika berubah saat melihat Darius melangkah masuk.

Penyakit jantungnya seolah terlupa, digantikan oleh rasa lapar yang mendalam akan sentuhan pria yang paling ia inginkan di dunia ini.

​"Darius... kamu lama sekali," bisik Caroline dengan suara parau yang manja.

​Darius menyeringai, mendekat dan mengusap pipi Caroline dengan ibu jarinya.

"Sabar, Sayang. Bukankah kita sudah punya rencana besar? Tapi aku tahu, tubuhmu butuh sesuatu untuk menenangkan detak jantungmu itu." ​Tanpa basa-basi, kegilaan itu dimulai.

Mereka berdua bukanlah manusia yang mengenal batas.

Dalam keadaan Caroline yang harusnya beristirahat, mereka justru memilih untuk larut dalam pelampiasan yang keji.

Darius, yang biasanya kasar kepada Rose, justru selalu menunjukkan sisi yang sangat berbeda di hadapan Caroline.

Ia bergerak dengan kelembutan yang menyesatkan, penuh dengan bisikan-bisikan manis yang memabukkan.

​Sret...

​Pakaian sutra itu terlepas, membiarkan kulit mereka saling bersentuhan di bawah temaram lampu kamar.

​"Ah... Darius, pelan... jangan berhenti," rintih Caroline, suaranya melengking tertahan, menciptakan melodi sumbang di balik dinding kamar yang kedap suara.

​"Aku di sini, Caroline. Hanya untukmu," jawab Darius lembut.

​Suara gesekan kulit, napas yang memburu, dan desahan-desahan manja yang keluar dari bibir Caroline memenuhi ruangan.

Setiap sentuhan Darius seolah menjadi obat bius bagi Caroline.

​"Darius... ahhh... lebih lagi... jangan pernah lepaskan aku," desah Caroline, jemarinya mencengkeram sprei dengan kuat seiring dengan ritme yang semakin intens.

​Suasana di kamar itu kembali menjadi saksi bisu betapa dua manusia ini telah kehilangan akal sehat.

Tidak ada rasa takut akan ketahuan, tidak ada rasa bersalah.

Yang ada hanyalah keringat yang bercucuran dan suara-suara erangan yang semakin liar di tengah malam yang sunyi.

Mereka seolah sedang menantang takdir, melakukan dosa di atas janji-janji busuk untuk merampas hidup Callista.

……………………………………………

​Di sisi lain kota, atmosfer yang menyelimuti Callista jauh lebih terang, meski masih diselimuti oleh rahasia masa depan.

Setelah pertemuan dengan Julian Dorry, Callista melangkah keluar dari hotel dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

​Julian. seperti nya Pria itu mengingat semuanya. Tatapan matanya, cengkeraman tangannya pada pulpen—semuanya adalah bukti bahwa dia bukan lagi Julian yang dingin di kehidupan pertama.

Dia adalah Julian yang membawa memori, Julian yang nanti akan menjadi sekutu terbesarnya.

​Saat Callista tiba di kediamannya, ia bahkan tidak menyadari bahwa ia terus tersenyum sejak keluar dari lift hotel.

Wajahnya yang biasanya tertutup kacamata tebal kini tampak lebih hidup.

​Lily, pelayan pribadinya yang super aktif, langsung menyambut dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

​"Nona! Astaga, Nona tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi! Apakah kencannya... maksud saya, pertemuan kerjanya berjalan begitu luar biasa?" goda Lily, sambil terus memutar-mutar ujung apronnya dengan ekspresi yang konyol.

"Apakah Tuan Dorry itu setampan yang diberitakan? Atau mungkin, ada sesuatu yang lebih dari sekadar bisnis?"

​Callista hanya tertawa kecil, berusaha menutupi rona merah di pipinya.

"Hanya pertemuan bisnis yang sukses, Lily. Jangan terlalu berlebihan."

​"Oh, ayolah Nona! Saya ini punya insting tajam! Senyum Nona itu bukan senyum wanita yang baru saja menandatangani kontrak miliaran, itu adalah senyum wanita yang baru saja memenangkan hati seseorang!" sahut Lily lagi, kali ini dengan gaya genit yang sengaja dibuat-buat untuk memancing reaksi Callista.

​Di sudut ruangan, Liz—pelayan Callista yang lain—hanya berdiri diam.

Ia memperhatikan Callista dengan senyuman ringan yang tenang.

Liz jauh lebih dewasa dan memahami bahwa Callista sedang berada di titik balik hidupnya.

Ia tidak ikut heboh seperti Lily, namun tatapannya menunjukkan dukungan yang tulus.

​"Biarkan Nona beristirahat, Lily," ujar Liz dengan suara lembut.

"Nona pasti lelah setelah hari yang panjang."

​Callista menatap kedua pelayannya, merasa beruntung masih memiliki mereka di sisinya di kehidupan kedua ini.

"Terima kasih, Liz. Lily, kamu benar-benar berisik malam ini, tapi terima kasih atas perhatiannya." ​Callista melangkah menuju kamarnya, namun senyuman itu tetap bertengger di wajahnya.

Ia teringat kembali tatapan Julian. Detak jantungnya saat berada di depan pria itu tadi masih terasa jelas.

​Dia bersamaku, pikir Callista.

​Ia tahu, pertempuran melawan Darius dan komplotannya baru saja dimulai.

Ia tahu bahwa bahaya sedang mengintainya, terutama dengan rencana jahat mereka soal transplantasi jantung.

Namun, dengan Julian yang kini berdiri di sisinya, ketakutan yang dulu menghantuinya perlahan mulai mencair.

​Sesampainya di kamar, Callista duduk di depan cermin.

Ia melepas kacamata tebalnya dan menatap bayangannya sendiri.

Di cermin itu, ia tidak lagi melihat wanita culun yang menjadi objek penghinaan.

Ia melihat seorang wanita yang siap membalas dendam, wanita yang akan memastikan bahwa setiap tetes air mata dan darah yang ia tumpahkan di kehidupan pertama akan dibayar lunas dengan kehancuran total bagi mereka yang telah mengkhianatinya.

​Malam itu, di satu sisi kota, sebuah neraka kecil sedang diciptakan oleh nafsu dan keserakahan, sementara di sisi lain, sebuah harapan mulai disusun dengan ketenangan yang mematikan.

Callista Atmaja bukanlah lagi mangsa. Dia adalah pemburu yang sedang membiarkan mangsanya masuk ke dalam perangkap yang mereka buat sendiri.

Dan Julian Dorry adalah kunci yang akan memastikan gerbang jebakan itu tertutup rapat, mengunci nasib para penghianat dalam kegelapan yang tak akan pernah bisa mereka hindari lagi.

​Kehidupan kedua ini, adalah milik Callista. Dan tidak ada seorang pun, baik itu Darius, Caroline, atau siapapun, yang bisa mencurinya kembali.

Callista memejamkan mata, membiarkan bayangan Julian tersenyum di dalam pikirannya, bersiap menyambut hari esok dengan kekuatan baru yang tidak lagi bisa digoyahkan oleh siapa pun.

1
aristi
obat apa yg masih panas?? jamu kah???
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
😅🤣🤣 Hhiii jijay ya, penyakitan pula
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Ga bakal bisa nemu lah 😏 mo nyari ampe akaran juga bakal ketemu /Facepalm/
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝ мαкmiss ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: kadian tau🤣😅
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Surat cerai kah yg ditandatangani
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Mimpi apa si Julian
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Mimpi dikejar hantuuu 👻
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣 Hadeeuhh sabar ya kalian para pengawal /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣🤣 Gelo kabeh eta mah mak /Facepalm/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Darma na ga ikut main gila juga kah 🤣 biar sekalian
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣🤣 Ho'oh ning 😅 ampun da ah /Facepalm/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Wah bersatu /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Ayo Chalista mainkak /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Calista beraksi /Determined//Determined/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Cepet hempaskan eta kadal burik
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
😅 Diam2 mereka ngoleksi vidio si Darius
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Ga dikasih obat ge udah kaya binatang, ini lagi di tambah obat 😅 hadeeuh /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣 Paraahh /Facepalm/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Pengawal na pada gereget 🤣
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣 Karungan mak trus alungken kacitarum 🤣 tuman
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Niko ampe huek hueekk
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝ мαкmiss ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: kan pasti huek, orang sehari pun tak terlrwatkan
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Pokona mah tiada hari tanpa ngadon 🤣/Facepalm//Puke/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Halaahh siah bucin 🤣/Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Gulet wae cigana 🤣/Facepalm/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Dasar oray kadut
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: Ho'oh meni hyng ngubur idup2 da /Facepalm/
total 2 replies
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Siap2 menghancurkan hama wereng 😅
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ: 🤣🤣 Ho'oh mak hayu lah geuraa /Determined//Determined/
total 2 replies
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 kok gak capek" ya Darius🤣🤣🤭🤭🤭
ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝ мαкmiss ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: dia anuu sa... 🙈🙈🙈🙈
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!