NovelToon NovelToon
Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:35.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Unchi

menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.

Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.


Baca kisahnya di sini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Usai ngopi, aku berjalan hendak menuju kamar. Tapi baju dan celana sudah siap di sebuah kursi depan TV. Sepertinya Azzahra menyiapkannya. Dia sengaja menyiapkan bajuku agar aku tak masuk kamar.

"Huft. Apes banget, mau masuk kamar aja masih belum boleh. Harapanku adalah menunggu Joy," gumamku. Lalu ku lihat jam di layar ponselku.

Masih jam 8 kurang sedikit. Waktunya masih amat sangat panjang. Lalu aku harus ngapain?

Aku coba mendekati kamar. Ku dengar Azzahra sedang berbincang. Terdengar panggilan umi di sana.

Aku terdiam sejenak. Mendengar panggilan umi, hatiku langsung bergetar.

Bagaimana ini?

Mungkinkah ini?

Aku hanya takut Azzahra akan mengadu pada orang tuanya. Bisa-bisa, umi Kulsum akan mengambil Azzahra dariku.

Tidak?

Tidak boleh. Azzahra gak boleh pergi sebelum dia tahu kenyataannya.

Ingin sekali kuping ini mendekat dan mendengarkan pembicaraan mereka. Namun sayang. Aku tak bisa mendengarnya.

Alhasil aku putuskan untuk mandi. Baju sudah disiapin juga, buat apa kalau gak mandi?

Usai mandi. Ku tengok Azzahra masih mengurung diri di kamar. Kali ini aku menguping. Ternyata dua sedang mengaji.

Merdu sekali. Tapi sayang, aku gak bisa mendekat. Hanya bisa mendengar dari luar kamar.

Dari pada hanya bengong gak jelas. Akhirnya ku buka ponselku. Melihat karyawan dari CCTV.

Semuanya terlihat lancar. Ada Ridwan dan Edo yang sedang menata sepatu. Ada yang mengelap juga. Sebagian ada yang jaga kasir. Ku rasa, toko masih aman tanpa aku kesana. Jadi lebih baik aku di rumah aja. Menunggu Joy sampai setengah 5.

Huft. Bingung.

Akhirnya ku coba mendekat ke pintu. Ternyata Azzahra telah usai mengajinya.

Ku ketuk pintu sekali. Tak ada sahutan.

Lanjut ku ketuk kedua kalinya. Kali ini aku sambil bertanya.

"Dik, mas boleh masuk gak?" tanyaku basa-basi. Bingung harus berbuat apa jika tidak begini.

Tanpa ada jawaban. Azzahra langsung membuka kamar.

"Silahkan," katanya.

Aku mengangguk. Fikirku Azzahra memang sudah luluh hatinya. Rupanya aku salah. Saat aku selangkah maju ke dalam kamar. Dia justru selangkah menjauh dari kamar.

Jika terus seperti ini. Aku bisa saja emosi sewaktu-waktu. Gimana jika aku tarik tangannya. Aku kunci seperti saat pertama kali aku mencium bibirnya itu. Apakah dia akan memaafkanku?

Sungguh konyol. Aku segera menggeleng. Sikap seperti itu akan menakuti dirinya. Aku sudah berjanji akan bertobat. Astagfirullah.

Karena banyak melamun. Aku gak sadar kalau sudah ditinggal sama Azzahra.

"Ya Allah... Istriku ini benar-benar bikin gemes," gumamku sambil tersenyum hampa.

Ku toleh ke kasur. Sangat rapi. Azzahra orangnya memang rapi. Bahkan kamarku yang berantakan, dirubah olehnya senyaman ini.

Sepertinya dia di kamar tak hanya bersantai seperti dalam bayanganku. Ku pikir dia rebahan guling-guling sambil sedih karena semalam. Rupanya dia malah beres-beres. Sebenarnya, Azzahra itu marah gak sih sama aku?

Ku tarik nafas panjang, lalu ku buang dengan lega. Aku berbaring ke kasur. Sisa harum dari baju Azzahra masih membekas di seprei ini.

Aku cium sambil memejamkan mata seprei yang sudah tertata rapi ini. Dari pada berantakan, akhirnya aku tengkurap. Berkali-kali aku mengendus baunya, kadang hilang kadang muncul lagi.

"Mas lagi ngapain?"

Alamak. Sontak aku terkejut bukan main. Pintu tadi belum ku tutup. Ditambah lagi aku sedang mengendus-endus seprei. Betapa malunya aku.

Segera aku mengganti posisi. Yang tadinya tengkurap jadi duduk menatapnya.

Dia menatapku dengan tajam. Melihatnya, hampir saja aku tak bisa menelan ludahku sendiri.

"Ah Dik. Mau rebahan juga?" tanyaku mengalihkan pertanyaannya.

Dia menatapku dengan aneh. Dia mendekat ke meja dan meraih ponselnya.

Sekali lagi dia menatapku. Kemudian dia keluar meninggalkanku sendiri.

Aku merasa sangat malu. Ku pejamkan mataku. Lalu aku membelakangi pintu.

"Argh! Malu! Malu!" Aku menonjoki guling dengan gemas.

"Astagfirullah, Mas!" ucapnya seperti kaget.

Aku menoleh ke belakang. Siapa sangka Azzahra akan kembali ke kamar. Mana gak ku tutup tadi.

"Ah jangan salah paham Dik," ucapku membela diriku sendiri.

Tapi dia terlihat cuek. Dia mendekat ke meja, mengambil sebuah kotak kecil miliknya.

Tanpa melihat ke arahku seperti sebelumnya, dia pergi begitu saja. Lalu ku lihat dia menutup pintu kamar.

Aku sudah gak tahan dengan ini. Serumah tapi kayak musuh.

Argh! Sekali lagi ku timpuk guling yang ada di depanku. Aku harus bicara sama Azzahra. Aku gak mau dia diamin aku.

"Ya, aku harus tanya padanya," gumamku sambil beranjak dari kasur.

Aku bercermin sebentar. Merapikan rambut. Siapa tahu hatinya akan meleleh jika melihatku rapi.

Ceklek.

Ku lihat Azzahra tengah duduk membelakangiku. Aku harus tetap berani bertanya. Sudah gak betah pokoknya jika kayak gini.

"Dik!! Sebenarnya kamu itu..."

"Astaghfirullahal'adzim!" teriakku saat melihat Azzahra memakai masker hitam.

"Ya Allah Dik! Jantung Mas hampir copot!" keluhku padanya sambil memegangi dadaku.

Wajahnya terlihat tetap datar.

Padahal aku mau bertanya, sebenarnya dia itu marah gak sih sama aku? Ngelihat dia pake masker hitam di siang bolong gini, aku jadi takut mau bertanya. Ngagetin aja emang si Azzahra ini.

Tapi dia masih tak meresponku. Dia terlihat sibuk dengan kotak kecil. Kayaknya itu peralatan masker hitam. Entah itu masker apa? Bisa jadi masker panci gosong atau apa itu. Heran aku.

"Dik! Mas ini bicara sama sampean. Kenapa diem aja!" ucapku kemudian. Aku ini orangnya gak bisa sabar lama-lama. Bahkan juga gak tahan untuk menahan.

Azzahra menoleh ke belakang. Menatapku lagi.

Hanya bahasa isyarat dari tangannya. Entah apa bahasa itu. Aku gak paham.

Ku tarik saja tangannya. Ku tatap wajahnya yang sangat hitam itu.

Aish! Lama-lama aku gak nyaman lihat wajahnya. Jadi ku urungkan saja.

"Ya udah, selesain dulu maskeranmu itu. Mas tunggu di ruang tamu!" kataku melepaskan tangannya. Dan pergi menjauh.

Ada-ada aja si Azzahra ini. Suka sekali mempermainkan perasaanku.

Aku duduk di ruang tamu sambil membuka CCTV toko. Aku agak tenang. Toko hari ini terlihat ramai. Stok di gudang pasti menipis. Sandal jepit terpantau ramai untuk para pedagang.

Saking sibuknya mengamati layar HP. Aku gak sadar jika Azzahra sudah berdiri di seberang meja. Tepat di depan HP ku.

Ku dongakkan kepalaku pelan. Hatiku berdesir melihat wajah Azzahra yang sudah tak mengenakan masker hitam itu.

Wajahnya terlihat lembab dan segar. Kali ini aku sulit menelan ludahku bukan karena rasa takut. Melainkan terpesona dengan wajahnya yang sangat cantik.

"Mas mau bicara apa?" tanyanya sambil duduk tepat di kursi depanku.

Aku terus menatapnya sampai telingaku ini gak dengar apa yang ia ucapkan.

"Kalau gak mau jawab. Lebih baik Azzah pergi!" ucapnya yang hendak berdiri.

Aku kembali gelagapan. Belum juga semenit menatapnya. Dia udah buru-buru mau pergi.

"Jangan!" cegahku.

"Oke Mas mau tanya!" Akhirnya aku bisa menelan ludah dengan lancar.

"Sebenarnya kamu itu kenapa sih diemin mas terus? Mas tahu mas ini salah! Tapi jangan begitu juga. Mas jadi stres!" ucapku kemudian. Uneg-unegku berhasil keluar.

"Azzah gak bermaksud diemin Mas!" jawabnya.

Gak diemin gimana? Lha wong tadi dia malah fokus pakai masker.

"Bohong!" tuduhku. "Kalau kamu gak diemin. Kenapa tadi malah sibuk pake masker hitam kayak panci gosong. Nakutin lagi!" gerutuku kesal.

Dia malah terkikik pelan.

"Apa yang lucu?" kesalku.

"Azzah lagi maskeran Mas. Jika Azzah banyak ngomong, yang ada maskernya retak. Lagian mas ada-ada aja. Orang lagi maskeran kok diajak ngomong. Ngajak ngomong tu sekarang. Pas Azzah sudah di depan mas," ungkapnya yang membuat hatiku berdebar-debar gak karuan.

Kok aku gak bisa marah lagi?

Joy, mana Joy? Jam berapa ini? Haruskah aku bercerita tanpa Joy?

Bersambung...

1
Arul Faiz
penasaran sama wajah azzahranya🤣
Sena
lanjut
cut Meutia
awas aja klo mustafa lengah
cut Meutia
lah diterima
Nana
next
Putri💗
lama gak up thor
cut Meutia
jangan mau maya, bisa2 ngrusak rt mu nanti
Juniya Ar
up
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
next
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
thor, lanjut jangan lama
Nana
bagus
Juwitha Arianty Ibrahim
ini kapan lagi up thor
cut Meutia
bagus thor
Juwitha Arianty Ibrahim
bagus crita nya update lagi domg thor
💜Balqish H😻
😍penasaran
Bella༄㉿ᶻ⋆
sabar ya mus🤭
💜Balqish H😻
next
💜Balqish H😻
gantengnya ma xioyu
Jack
next
Mia Ijaya
ya allah bneran ini tamat????????
Jack: belum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!