Benua Kasturia yang damai berubah menjadi medan pertempuran tiada henti. Sudah 200 tahun lamanya benua Kasturia terpecah menjadi tiga kekuatan besar. Masing-masing kekuatan saling bertempur. Pengkhianatan, agresi, politik, semuanya adalah hal penting bagi setiap negara untuk tetap bertahan di zaman peperangan ini.
Abyad, pemuda jenius yang tumbuh di pedesaan yang berbatasan langsung dengan negara berkonflik, bertekad untuk membawa perdamaian ke tanah Kasturia. Bersama dua teman setianya, Basril dan Sabina, Abyad terjun ke dalam dunia dengan kebusukan yang abadi, yang dipenuhi intrik yang membingungkan. Apakah perdamaian yang dicita-citakan Abyad akan terwujud? Ikuti terus petualangan Abyad mengarungi pertempuran tiada henti.
NB : Sumber cover dari Google
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mungka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27 : Hujan Badai
Mata Basril membesar melihat tas kulit berisi racun katak hijau. Dia bergidik ngeri membayangkan cairan itu menyentuh kulitnya.
"Kau takut, Basril?" Abyad tersenyum jahil melihat Basril yang ketakutan.
"Hei! Hentikan! Racun itu berbahaya bodoh!" Basril menghardik keras dan hanya dibalas tawa oleh Abyad.
"Kalian berdua, sebaiknya kita cepat menyelesaikannya!" Sabina berkata pendek tapi dingin. Pandangannya tajam melihat tingkah kedua temannya.
Abyad dan Basril menelan ludah. Sabina yang marah adalah hal terakhir yang ingin mereka lihat di dunia ini. Ingatan masa kecil tentang amarah Sabina membuat mereka berdua bergidik ngeri.
Tanpa ingin membuat Sabina murka, Abyad dan Basril melanjutkan pekerjaan pembuatan jebakan. Mereka melumuri racun katak kuning dengan dosis yang kecil ke ujung kayu-kayu yang telah dipotong sedemikian rupa. Mereka juga mengoleskan racun katak kuning itu ke rerumputan yang akan dilalui para pasukan Kekaisaran Gastonia. Setidaknya, kata Abyad, para kuda yang mereka tunggangi akan lumpuh setelah bersentuhan dengan racun-racun ini.
Arahan Abyad membuat pemasangan jebakan ini berlangsung cepat. Sebelum matahari mulai terbenam seutuhnya, jebakan yang bertujuan untuk memperlambat laju pasukan bantuan lawan telah siap. Kayu-kayu besar disangkutkan di atas pohon-pohon. Rumput-rumput telah dilumuri racun katak kuning. Tanah juga sudah digali hingga membentuk lubang besar lalu ditutupi dengan daun-daun kering. Sisanya adalah tugas Sabina untuk memancing mereka datang.
Jembatan juga telah selesai. Walaupun tidak terlihat bagus, setidaknya jembatan itu sudah bisa dilewati oleh Sabina dan pasukannya. Toh, pada akhirnya jembatan itu akan dihancurkan kembali.
***
Hari sudah malam. Matahari sudah menghilang. Angin kencang datang bersama gelap. Hujan lebat akan turun. Ali Pasha sudah berada di atas kudanya, begitu pula Abyad dan Basril. Mereka telah siap bergerak menuju kota Belussi. Jenderal Elianor yang malang diletakkan di dalam sebuah kurungan. Dialah yang akan menjadi kunci untuk menaklukkan kota Belussi.
"Kita akan berangkat sekarang!" perintah Ali Pasha dari atas kuda. "Sabina, berhati-hatilah. Kami akan menunggumu di kota Belussi."
Sabina mengangguk. "Jangan khawatir, Ali Pasha. Aku akan baik-baik saja."
Ali Pasha tersenyum canggung mendengar jawaban Sabina. Baginya, meninggalkan Sabina sendirian tetap saja berbahaya.
Abyad mendeham keras. "Kau hanya harus percaya kepada Sabina, Ali Pasha. Bagaimanapun, dia adalah wanita terkuat di Kesultanan Ammaruz, bahkan di seluruh benua Kasturia ini." Abyad berkata. Dia bisa melihat sorot mata Ali Pasha yang terlihat khawatir.
Ali Pasha kembali tersenyum canggung mendengar jawaban Abyad. Dia paham kenapa Abyad bisa berbicara seperti itu. Mereka bertiga adalah teman baik sedari kecil, tentu saja mereka akan paham satu sama lain.
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang." Ali Pasha mengangguk lalu memacu kudanya.
Di tengah angin yang sedang bertiup kencang, pasukan utama Kesultanan Ammaruz mulai bergerak menuju kota Belussi. Mereka bergerak membelah malam. Cahaya yang dihasilkan dari obor yang digenggam para tentara bergoyang-goyang apinya tertiup angin yang semakin menderu. Barisan mereka rapih. Dua kilo meter panjang pasukan Kesultanan Ammaruz itu jika diukur dari orang terdepan. Perlahan-lahan, kemah yang dihuni Sabina mulai jauh tertinggal di belakang.
***
"Sepertinya akan turun hujan lebat." Basril mengangkat tangannya. Dia bisa merasakan rintik-rintik hujan yang mulai turun. Basril menengadahkan kepalanya ke langit. Langit benar-benar gelap. Awan-awan hitam menutup pendar-pendar dari bintang-bintang.
"Bukan lebat lagi, Basril, melainkan badai. Wajar saja karena kita menuju daerah pegunungan. Kota Belussi berada di dataran tinggi yang membuat daerah itu memilki curah hujan yang tinggi." Abyad menjelaskan. Di kepalanya kini sedang terjadi sebuah rapat. Otaknya sedang memikirkan kendala apa saja yang akan mereka hadapi di depan sana. Abyad harus mencari jalan keluar dari setiap masalah yang muncul.
"Perjalanan ini akan panjang, empat hari. Setidaknya saat hujan semakin lebat, kita harus membangun perkemahan. Aku tidak ingin pasukan kita terkena penyakit kulit karena hujan ini." Ali Pasha berkata sambil menatap pasukannya.
Sudah enam jam mereka berjalan meninggalkan sungai Ilk menuju kota Belussi. Wajah-wajah kelelahan sudah jelas terlihat. Sebentar lagi tengah malam dan para pasukan butuh istirahat.
Jalanan mulai mendaki dikarenakan letak kota Belussi yang berada di pegunungan dan perbukitan. Hujan rintik-rintik juga membuat jalan menjadi licin. Zirah yang dikenakan pasukan Kesultanan Ammaruz sangatlah berat dan tentu saja mempersulit pergerakan.
"Kita cari tanah lapang, lalu membangun perkemahan di sana. Sebelum matahari terbit kita harus melanjutkan perjalanan," perintah Ali Pasha yang disusul anggukan oleh para pasukannya.
***
Sabina masih berdiri di depan kemahnya melihat pasukan Kesultanan Ammaruz yang berangsur-angsur pergi. Rombongan tentara itu kini hanya tampak sebagai titik-titik berwarna merah dari kejauhan.
Sabina menatap langit. Dia bisa mencium aroma hujan serta badai yang semakin mendekat. Didekapnya tubuhnya sendiri yang kedinginan karena angin kencang mulai berembus.
"Jika dugaanku benar, pasukan Kekaisaran Gastonia akan muncul besok siang. Semua persiapan harus sudah selesai sebelum waktunya tiba," gumam Sabina.
Dari balik kegelapan, muncul salah satu tentara Kesultanan Ammaruz berjalan mendekati Sabina. "Lapor, Nona Sabina. Semua daerah sekitar sungai Ilk telah ditelusuri. Tidak ada tanda-tanda pasukan Kekaisaran Gastonia. Semuanya terasa sepi."
"Terima kasih. Kau boleh beristirahat sekarang." Sabina menjawab pendek.
Dengan tiupan angin yang semakin kencang, Sabina memilih masuk ke dalam kemahnya. Dia menuangkan air hangat ke dalam gelas. Didekapnya gelas itu lalu dengan perlahan Sabina mulai meneguknya. Rasa hangat dari air menjalar memenuhi tenggorokan Sabina. Sabina mengembuskan napas pelan.
"Sebaiknya aku beristirahat sebentar. Sebelum matahari terbit, aku harus sudah bangun." Sabina bergumam pelan. Dia letakkan gelas berisi air hangatnya tadi di atas meja lalu berjalan menuju kasur.
"Semoga Abyad dan Basril baik-baik saja," pikir Sabina. Walaupun terkesan dingin dan tampak acuh, Sabina sebenarnya sangat memedulikan teman-temannya.
Angin kencang mulai berembus kuat. Tiupannya membuat kemah-kemah bergoyang. Hujan sudah mulai turun diiringi bunyi sambaran petir. Badai besar telah datang.
***
"Badai ini semakin parah! Tenda-tenda kita terbang terbawa angin." Basril berteriak sambil memegang salah satu tenda yang menari liar karena tiupan angin.
Hujan badai disertai angin kencang membuat pasukan Kesultanan Ammariz tidak bisa mendirikan perkemahan. Mereka harus bisa bertahan sampai hujan reda. Kilatan petir terang membelah langit. Bunyinya keras menggelegar. Bahkan, suara petir itu mampu membuat tanah bergetar.
Tidak ada yang menyadarinya. Hujan lebat ini menutupi pergerakan mereka. Gelap malam juga berhasil menyembunyikan keberadaan mereka. Pasukan besar Bendera berlambang bintang berkibar ditengah hujan badai.
"Ali Pasha, awas!"
tetap semangat dong
tetap semangat thor