Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama Kali Bagi Harui
Hari berganti hari. Musim salju yang dingin telah terganti oleh musim semi. Binatang binatang kembali memeriahkan sekeliling. Banyak bunga yang bertebaran di mana-mana. Pemandangan paling terbaik adalah pagi dan keindahan tepat disore hari.
Gadis cantik berambut panjang biru gelap yang menghampiri kakinya tengah berjalan menuju luar Mansion, dengan kibaran rambutnya sangat indah, layaknya bintang malam yang singgah. Mata senada dengan rambutnya itu melihat sekelilingnya.
Sungguh perubahan yang langka hanya sekejap.
Cklek!
Hiragi baru saja pulang dari toko perpustakaan Biara, saat ini dia selalu melanjutkan novel biru itu yang berjudul 'Sad Knight' dia merasa itu bukanlah petunjuk mengapa berada di dunia asing ini, justru karena alur ceritanya sangat unik dan menarik.
Saat ini latihannya menjadi terbatas karena harus membantu Biara mengatur toko, kini Harui menjadwalkan latihannya menjadi hari sabtu dan minggu.
"Harui belum pulang juga~" Ucap Hiragi yang sedang berdiam diri di ruangannya. Biara masih bertahan di tokonya karena harus mengurus beberapa hal sedangkan Hiragi, belakangan ini kepalanya sering sakit.
Dia melakukan hal yang sama setiap harinya. Di Mansion ini hanya ada Gorsa, Erthan sedang mengadakan rapat di Istana langsung karena akan ada diadakan beberapa festival, sedangkan Harui dia panggil oleh pihak Negara Utara, yaitu tempat berasal Gorsa.
"Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah menanyakan sesuatu pada Gorsa tentang Negara Utara, apa lebih baik aku menanyakan sesuatu tentang dirinya?"
Hiragi bergegas untuk ke bawah menemui Gorsa, dia mengikat asal rambut panjangnya ke belakang, Hiragi tidak pernah berniat memotongnya, itupun karena ucapan Harui, Harui lumayan senang dengan rambut Hiragi yang panjang.
Di sisi lain, Gorsa sedang membaca buku di ruang tengah lantai dua. Karena merasa bosan yang Gorsa lakukan hanya makan tidur dan bernafas.
"Gorsa!"
Hiragi langsung ikut duduk di seberang sofa dan beberapa makanan dia bawa.
"Jika ingin menanyakan kapan pulang untuk Harui, kirim pesan sendiri." Ucap acuh Gorsa yang masih terbaring dengan buku di hadapannya.
"Bukan itu yang ingin ku tanyakan Kau berasal dari Negara Flores bagian Utara kan, aku ingin tahu seperti apa di sana."
Gorsa tersentak mendengar permintaan dari Hiragi, dia pikir gadis itu tahu tentang keadaan Negara Flores. Tapi Gorsa tetap mendiamkan gadis itu, mungkin ada sesuatu yang Gorsa pikirkan.
"Apa itu tidak keterlaluan." Tanya Gorsa balik.
"Gorsa! Kau hampir dua bulan di sini, tapi aku tidak mengetahui apa-apa tentangmu, apa tidak boleh, setidaknya beri tahu sedikit tentang dirimu padaku."
Gorsa masih diam setelah mendengarkan perkataan Hiragi. Gadis itu menghela nafas panjang. Mungkin memang ada beberapa hal yang tidak harus diketahui oleh dirinya.
"Gorsa ayo makan malam, tidak perlu menunggu paman Erthan dan Harui."
Gorsa baru tergerak saat Hiragi menawarinya makan.
"Mungkin memang hobinya hanya makan." Batin Hiragi.
"Kami pulang~"
Harui dan Erthan bersamaan memasuki rumah, Hiragi dan Gorsa sedang asik pada dunia masing-masing tanpa mengetahui bahwa Erthan dan Harui telah pulang.
"Harui!... Paman selamat datang!" Ucap Hiragi yang baru tersadar.
"Aku lapar~" Rintih Harui langsung menuju meja makan bersamaan dengan Erthan.
Hiragi pun langsung berlari mengikuti Harui dan berbisik padanya.
"Harui~"
Harui hanya melirikkan matanya.
"Seperti apa Negara Flores bagian Utara itu~ Gorsa tidak ingin memberitauku."
"Jika dia yang berasal dari sana tetap menutupinya darimu, mengapa harus menanyakannya padaku?"
Kraak
Hancur harapan. Perkataan pedas Harui sama sekali tidak berubah. Hiragi meninggalkan meja makan lalu. kembali ke kamarnya dengan raut wajah kesal.
sejam kedepan Biara pun baru pulang. Hiragi tetap bertahan di kamar Biara sampai gadis itu pulang
"Hiragi?"
Panggil Biara yang baru masuk ke kamarnya langsung melihat Hiragi.
"Biara~ kau lama sekali."
Setelah Biara selesai membersihkan badannya dia langsung menuju ranjangnya, serta Hiragi ingin menanyakan beberapa pertanyaan pada Biara, tentang Gorsa.
"Biara apakah kau pernah mendengar tentang Negara Flores bagian Utara?" Tanya Hiragi pada Biara yang sedang mengeringkan rambutnya sambil mengemil makanan.
"Uhuuk! Uhuk!"
"Ada apa denganmu, bagaimana kau tidak tahu tentang Negara itu, kau ini yang benar saja."
Biara tertawa mendengar pertanyaan yang barusan Hiragi lontarkan, padahal bagi Hiragi itu tidak lucu sama sekali.
"Eh?!"
Jika Biara mengatakan itu berarti hanya orang-orang dari dunia ini yang tahu, tapi tidak dengan Hiragi yang pendatang. Hiragi hampir kehilangan akalnya menanyai hal seperti ini, bahkan dia tidak sadar bahwa Biara tidak pernah tahu identitas sebenarnya Hiragi dari dunia lain.
Hiragi langsung beranjak dari ranjang dan berfikir lebih keras.
"Hiragi, kau baik-baik saja?" Tanya Biara yang mulai aneh melihat tingkah Hiragi.
"Gor-Gorsa!! Pria itu!"
BRAK!
Hiragi membuka pintu dengan keras hingga menciptakan benturan kuat, dia berlari dengan cepat menuju lantai dua tepat di mana kamar Gorsa berada.
"Aku sama sekali tidak menyadarinya, tapi mengapa Gorsa tetap diam... Apakah... Dia tahu?!"
Duk duk duk!
Brak!
"Gorsa!"
"Astaga! Kau ini masuk tiba-tiba, untung saja aku masih memakai pakaianku!"
Hiragi tidak memperdulikan apapun yang dikatakan Gorsa, gadis itu mendekat kearah Gorsa dan memegang erat kedua lengan kain itu.
"Jadi kau tahu bahwa aku bukan dari dunia ini!?" Tanya Hiragi pada intinya. "Sejak kapan kau tau?!"
Gorsa menunduk terdiam, tidak menjawab apapun.
"Apa kau-woa!"
BRUAK!
Cklek!
"Mengapa di sini ramai seka-"
Hal yang tak pernah ada di
pikirannya pun terlintas begitu saja. Hati yang selalu tenang sekarang menjadi rapuh serapuh rapuhnya. Kini bintang yang selalu bersinar siang dan malam perlahan-lahan redup di matanya. Sesak dan sakit, perih dan sendu. Hati yang tidak siap menerima kenyataan patah begitu saja.
《Sebelumnya.》
Harui mendengar langkah kaki yang cepat seperti berlari. Di Mansion ini siapa lagi kalau bukan Hiragi. Karena pusing dengan suara itu Harui memutuskan keluar untuk menegur gadis itu. Namun disaat yang salah, disaat hatinya masih terlalu kaku untuk mengenal hal luar pikirannya.
Perasaan ini sungguh tak pernah Harui rasakan sebelumnya, masih tak mengerti namun terus merasakan.
Harui melihat Hiragi merebahi tubuh Gorsa. Membuatnya terdiam sejenak melepas ganggang pintu.
"A-Ah ma-maaf!"
Hiragi langsung berdiri dari bawah dan menatap Harui yang sedang menatapnya.
"Harui-Itu ta-"
"Ah, tentu saja, kalian teruskan saja, aku dan Paman harus mengurus beberapa hal." Ucap kaku Harui dan lenyap dari tempat itu.
Gorsa saat ini mungkin telah melakukan kesalahan yang fatal, harusnya dia tahu bahwa Harui pasti memiliki perasaan pada Hiragi, namun hal itu masih terpendam jauh dalam dirinya.
"Harui itu kenapa?"
Gorsa masih tidak menyangka bahwa Hiragi tidak menyadari hal itu, apakah dia bertolak belakang dengan Harui. Gorsa sama sekali tidak pernah memaksakan dirinya untuk bisa bersama Hiragi, hanya saja saat ini waktu begitu tidak mendukung.
Di sisi lain. Harui memasuki kamarnya dan kembali tidur, dan memaksa keadaan bahwa hari ini dia tidak melihat apa-apa.
Mungkin beberapa orang mengatakan bahwa saat mengenal apa itu keindahan akan selalu terus membuatnya makin indah tanpa tahu apa dibalik keindahan itu, begitu pun hati yang selalu bisa merasakan apapun namun tidak tahu apa penyebab dibalik itu.
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????