#2 My Daddy
Damian Xe Axelle Defron, bangsawan tampan yang mengalami kecelakaan hebat yang membuat matanya buta sebelah kanannya. sebenarnya ia bisa membuat matanya melihat kembali tapi ia harus melakukan sesuatu sebelum membuat matanya kembali normal.
Kelly De Savillion, gadis cinta pertamanya. Kini ia menemukan gadisnya di waktu yang tepat namun dengan matanya yang cacat.
"Gadis kecil, kita bertemu lagi. apa kau merindukan ku?" ujar Damian.
"Dami?"
"Yes, i am,"
Namun kali ini pertemuan mereka menghadapi situasi yang sangat sulit. seorang pria yang terobsesi dengan Kelly salah satu musuh Damian dan juga merupakan bangsawan ternama Calvin Molive Defron, memiliki marga yang sama dengan Damian karena mereka masih memiliki hubungan darah. sangat terobsesi gila dengan Kelly, gadis manis milik keluarga Xander dan Xavellion.
"Oh Damn! You touched something you shouldn't, you bastard!" Damian murka
Calvin menyeringai. "Why not? I'm crazy about that woman."
"She's mine dammit!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sofy adisty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.
Damian menggerakan tubuh Kelly dengan anggun, Kelly tampak bergerak hati hati karena kakinya terletak di atas kaki Damian. Kelly takut jika kakinya akan menyakiti Damian.
"Jangan terlalu tegang sayang," ucap Damian sambil tersenyum.
Kelly tersenyum kikuk, Damian memeluk pinggang Kelly dan kembali mengikuti alunan musik yang bergema di telinga mereka. Sampai di ketukan lagu terakhir, Damian mengangkat tubuh Kelly dengan memegang pinggangnya. Ia memeluk tubuh Kelly lalu mengecup bibirnya.
Dansa selesai, semua para tamu bersorak gembira dan memberi tepuk tangan untuk Damian dan Kelly.
"Kau sudah mahir berdansa," puji Damian.
"Bukannya ini karena dirimu?" tanya Kelly.
Damian menggenggam tangan Kelly, ia mengusap punggung tangan Kelly. Sebuah suara muncul di telinga Damian melewati earphone kecil yang terpasang di telinga nya. Ia terdiam sejenak membuat Kelly menatap bingung.
"Damian,"
"Bicaralah," ucap Damian sambil menyentuh telinganya.
"Calvin merencanakan sesuatu yang gila," ucap Dalton sambil menghela nafas kasar.
"Apa itu?" tanya Damian, ia menatap Kelly sambil mengelus pipinya.
"Di setiap sudut pilar bangunan ini sudah tertempel bom otomatis, Calvin bermaksud untuk meledakkan tempat ini jika ia berhasil atau tidak dalam menculik Kelly," ucap Dalton membuat tubuh Damian menegang.
"Apa kau tidak bisa menjinakkannya?" tanya Damian, ia meremas tangan Kelly dengan lembut.
Kelly menepuk lengan Damian sambil tersenyum, ia berusaha menghibur Damian untuk tetap tenang.
"Bisa, tapi waktu terlalu singkat. Waktu di bom yang sudah terpasang semua dengan waktu yang sama, hanya selisih sekian detik," balas Dalton dengan nada gusar. "Kurang lebih hanya sekitar empat atau lima bom yang bisa di jinakkan dalam waktu dekat. Sisa sepuluh lagi yang tidak bisa," sambungnya.
"Lakukan semampu mu. Aku akan membantumu," ucap Damian dengan cepat. "Aku sudah menduganya, tidak mungkin Calvin terlihat tenang hari ini tanpa melakukan sesuatu," sambungnya. Mereka menyelesaikan sambungan telfon nya
"Ayo sayang," ucap Damian, ia mengecup kening Kelly.
"Tuan Xavellion," panggil Damian dengan cepat.
Xavellion yang tengah berbincang dengan Kevan langsung menoleh. "Ada apa?" balasnya.
"Tuan Xavellion tolong bawa Kelly dan kakekku pergi dari sini. Lalu untuk para tamu ikut keluar menjauh dari tempat ini sekarang!"
...◇◇◇...
Xavellion langsung bangun dari duduknya, ia menatap serius. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku akan menceritakan detailnya nanti. Tidak ada waktu!" ucap Damian dengan cepat.
Kelly menahan lengan Damian. "Kau ingin kemana Dami?" tanyanya khawatir.
Damian menoleh, ia menepuk tangan Kelly. "Aku akan segera kembali," ucapnya sambil mengecup kening Kelly.
Damian menatap jam di dinding. "Tidak ada waktu, pergi sekarang!" ucapnya dengan serius.
"Ayo sayang," ucap Xavellion, ia langsung paham dengan apa yang akan di lakukan oleh Damian. "Untuk tamu biar aku yang mengatur nya," sambungnya.
"Dami," lirih Kelly, ia menatap kebelakang.
Damian hanya tersenyum dan mengangguk pelan, berusaha membuat suasana tetap tenang. "Pergilah, aku akan kembali saat semuanya selesai," ucapnya pada Kelly sambil tersenyum lembut. Saat semua orang sudah meninggalkan ballroom, Damian menyentuh telinganya.
"Dimana bajingan itu?" tanya Damian. Tatapannya menyalang marah.
"Aku sedang mengikutinya dari belakang, hati hati Damian. Tadi aku melihatnya dengan dua orang lain. Sepertinya mereka satu kubu," ucap Dalton.
Damian menggertakkan giginya. "Aku sudah lama tidak menghabisi bajingan seperti itu," ucapnya dengan kesal.
Damian bergerak menaiki tangga dan berhenti saat melihat dua orang berpakaian rapi berdiri di depannya dengan senjata api di tangan mereka masing masing. Teryata mereka adalah tangan kanan kakek mu dan penjaga nya. Heven dan Alvian, teryata mereka dalang penghianat yang ada di sini.
"Ah teryata kau," ucap Damian dengan sinis. "Kau sudah lama ya menjadi mata mata di keluargaku. Apa yang kau dapat? harta? kekuasaan? atau—"
"Nyawamu," balas Heven sambil menyeringai.
Damian ikut tertawa keras namun menjadi tawa yang mengerikan. "Kau mau nyawaku?" tanyanya dengan geli. Damian menggerakan jari telunjuknya, untuk menantang kedua orang di depannya.
"Buktikan kalau kalian pantas atas nyawaku,"
...◇◇◇...
Revana tampak serius mengurus bom otomatis yang ada di hadapannya, dengan obeng kecil yang terselip di telinganya. Ia fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.
"Apa aku daftar saja menjadi agen rahasia ya?" gumam Revana dengan pelan.
Klik'
Satu bom berhasil ia jinakan, Revana berusaha untuk menjinakkan semua bom dalam waktu yang singkat. Keringat di dahinya tampak berkumpul menandakan ia sangat amat fokus dengan hal yang sedang ia lakukan.
Tuk'
Tubuh Revana menegang saat merasakan ada benda dingin menempel di belakang kepalanya, tanpa menoleh pun ia tau jika yang di belakangnya adalah sebuah pistol.
"Lepaskan bom itu, angkat tangan mu," ucap seseorang di belakangnya.
Revana menelan salivanya dengan kasar, sial! Teryata ada lagi satu komplotan yang tersisa dari pihak Calvin.
"Don't worry," sebuah suara terdengar telinganya melalui earphone yang ia pakai. "Letakan saja bom itu dan angkat tanganmu. Ikuti instruksi ku," sambungnya.
Revana hanya bisa menurut, ia meletakkan bom tersebut dan semua peralatan di tangannya di lantai. Lalu berbalik perlahan dengan wajah gusar.
"Sudah berapa banyak yang kau ambil?" tanya pria itu sambil menodongkan pistol di dahi Revana.
Revana terdiam, ia menatap pistol tersebut. "Menurutmu?" tanyanya sambil tertawa mengejek.
Pria itu menarik pelatuk, Revana yang mendengar itu hanya bisa memejamkan matanya.
"Sexy girl, ikuti perintah ku. letakkan kedua tangan mu di telinga. Hitungan ketiga kau menunduk," lagi lagi suara Dalton mendominasi.
"Satu," Revana menelan salivanya.
Revana menutup kedua telinga nya membuat pria di depannya menatap bingung. "Apa yang kau lakukan?"
"Entahlah," balas Revana yang sudah berusaha untuk tetap tenang.
"Dua," Revana mengumpat, apa yang sebenarnya ingin di lakukan Dalton? "Katakan Peek a boo," sambung Dalton.
"Hey boy! Peek a boo!" ucap Revana sambil menyeringai.
"Merunduk sekarang!" perintah Dalton membuat Revana langsung menunduk, detik kemudian terdengar suara.
Dor'
Dor'
Revana memejamkan matanya saat terdengar suara tembakan, ia masih menutup telinganya.
Bruk"
Revana membuka matanya dan melihat pria yang tadi di depannya tewas seketika dengan luka tembak tepat di kepala dan lehernya.
Revana menatap luar jendela, ia pun menyipitkan matanya, saat melihat objek yang familliar. Gila! Teryata Dalton dari tadi memerhatikan nya lewat jendela di ruang seberang sambil membawa teropong di tangannya.
"Apa kau mau membuatku mati di tempat?" tanya Revana dengan kesal.
"Tapi kau tidak mati sekarang. Kau harus bersyukur dengan itu," ucap Dalton dengan santai.
"Dasar pria gila!" teriak Revana.
"Aku tidak mungkin membiarkan mu mati. Taruhan kita belum selesai, dan akan selesai," balas Dalton.
Revana terdiam di tempat, jangan bilang kalau pria ini—
"Aku belum merasakan tubuhmu Revana. Jadi, jangan mati,"
...◇◇◇...
...TBC ...
masa Damian hanya tau bucin doank
qu pikir bakal langsung perang saudara gitu