JIKA TIDAK TERTARIK, AUTHOR MOHON DENGAN SANGAT UNTUK TIDAK MEMBACANYA.
SILAHKAN SKIP SEJAK SAAT INI JUGA, KARENA AUTHOR TAK MEMAKSA KALIAN BACA.
TAPI JIKA KALIAN MENIKMATI ISI DARI CERITA INI, AUTHOR SANGAT BAHAGIA.
Pendaratan darurat membuat Daniel terpaksa menikahi seorang gadis.
Padahal niat hati masih ingin menanti cinta pertamanya, yang menghilang tanpa jejak.
Tabir misteri yang telah lama terkunci rapat, mulai terbuka perlahan, dan satu demi satu teka-teki mulai terpecahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
#27
Sejoli itu masih berpelukan erat, “Nona… jangan seperti ini…”
“Kenapa? aku memeluk kekasihku.” Jawab Carissa senang, ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Nick.
Sementara si pria sibuk menatap orang-orang yang mondar mandir di sekitarnya. “Orang-orang memperhatikan kita.”
“Biar saja, mereka pasti iri denganku,”
Tak kuasa lagi melarang sang pujaan hati, Nick pun balas memeluk Carissa, bahkan mendaratkan ciuman di pelipis dan puncak kepala gadis itu.
“Katakan lagi, aku ingin mendengarnya.” Pinta Carissa manja.
“Apa kamu tidak bosan, aku sudah mengulang nya ratusan kali.”
Carissa menggeleng, “never … bahkan jika bisa aku akan merekamnya, menjadikannya musik pengantar tidur.”
Nick terkekeh, ternyata manis sekali wanitanya.
Nick merangkum wajah Carissa dalam telapak tangannya, “I love you… more… and more… until the end of my life.”
Mendengarnya membuat Carissa bahagia, berdebar seperti ada jutaan kupu-kupu yang menari di dalam dadanya, “sudah??” Tanya Nick.
Carissa mengangguk senang, “aku pasti merindukanmu.” Rengek Carissa karena beberapa hari kedepan hidupnya akan sepi tanpa kehadiran Nick.
“Aku janji akan segera kembali.” Bisik Nick, sembari mencium ujung hidung Carissa.
Carissa kembali menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih, “berjanjilah kamu akan selalu hati-hati.” Pesan Carissa yang tahu seperti apa pekerjaan Nick.
Nick mengangguk, “sudah, beberapa menit lagi jam Check-in berakhir.”
Dan dengan berat hati, Carissa melepaskan pelukannya, Nick masih terus mengawasi dari kejauhan, menunggu hingga Carissa selesai proses Check-in dan memasuki ruang tunggu penumpang, baru kemudian ia pergi.
Ponsel di saku celananya bergetar, “sudah kalian kerjakan perintahku kemarin? … Aku kesana sekarang.”
Nick bergegas menuju tempat parkir, demi memburu waktu mendatangi lokasi berkumpulnya para anak buah Profesor Hardiman.
.
.
Jam pelajaran ke 4 baru saja berakhir, dan kini Naya tengah berjalan di koridor sekolah, menuju ruang istirahat Guru, ada waktu 45 menit sebelum ia masuk ke kelas berikutnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku baju nya, selain beberapa panggilan tak terjawab, bibirnya pun menyunggingkan senyum kala melihat wallpaper manis yang terpasang di layar ponselnya. Daniel yang bersikeras memajang gambar tersebut, foto mesra mereka ketika menghabiskan honeymoon singkat di Surabaya.
Bukan honeymoon mewah, tapi menginapnya di VVIP hotel mewah, Daniel hanya menuruti permintaan Naya berkeliling kota, sambil menikmati kuliner di sana. Karena Daniel sudah berjanji akan membawanya keliling Eropa, ketika waktu nya sudah memungkinkan.
Ponselnya kembali berdering, panggilan video, Naya menggeser tombol Hijau di layar ponselnya.
Wajah tampan itu tengah bersandar di kursi malas tepi kolam renang, “Hai … istriku …” Sapa Daniel.
Naya tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, ia menunduk sesaat menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu. “Hai … suamiku …” Balasnya.
Sedikit alay, tapi keduanya bahagia, bahkan othor pun nulisnya sambil cengar-cengir.
“Baru break?”
“Iya… masih ada waktu 40 menit sebelum kelas berikutnya.”
“I miss you wife.” Ungkap Daniel.
“Miss you too.”
“Really?”
“Yes… Really miss you… ini lagi di mana?” Tanya Naya yang membawa ponselnya mendekati meja pantry, kemudian menyeduh sebungkus kopi instan, tak lupa membawa sepotong roti kembali ke meja nya.
“Ini di rumah Opa, sedang menunggu Ryu makan siang.”
“Aahhh Ryu … tak sabar bertemu dengannya, apa dia sungguh lucu dan pintar seperti yang terlihat di video youtube orang tuanya?”
“Iya … bahkan aslinya lebih tampan, banyak yang bilang mirip seperti ku.”
Iya lah bang, wong kamu sama papanya Ryu saudara kembar. 🤧
“Oh God help me…”
“Kenapa? Tak percaya kalau suamimu ganteng?”
Naya kembali tersenyum malu, dirinya masih malu malu jika harus melempar pujian, “ish… ge er.” Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibir nya.
“Wah … istriku… tuhan istriku kenapa wajahnya begitu manis.”
Naya semakin tersipu mendengar pujian Daniel. “Udah ah … malu… Ada banyak orang nih.” Elak Naya, padahal di ruangan ini ia tengah seorang diri, karena Guru yang lain sedang di dalam kelas.
“Pasti bohong …”
“Mana ada aku bohong, kamu memang semanis itu kalau sedang malu-malu, menggemaskan kalau sedang mode berdebat, dan membuatku tak ingin pergi kalau sedang pasrah menggeliat setelah…”
“Yaaa… haruskah kamu membahas itu?” pekik Naya, kali ini bukan malu, tapi wajahnya sudah merah padam, karena suaminya terang terangan membahas aktivitas ranjang mereka.
“Hahahaha …” Daniel tertawa keras.
“Uncle…” Seru Ryu yang berlari ke arahnya, ia sudah memakai baju renang.
“Sudah selesai makan kudapannya?” Tanya Daniel, kembali membawa Ryu ke pelukannya.
“Hmmm…” Ryu mengangguk, Daniel membersihkan sisa susu coklat yang masih menempel di sudut bibir Ryu.
“Ini belepotan semua, pasti Mama marah,” tuturnya lembut.
“Kok uncle tahu…”
“Tau dong, Uncle kan sakti.”
“Seperti penyihir, di buku Aunty Luna?”
Daniel terkekeh, dulu Luna kecil suka membaca buku princess, sekarang Ryu ia cekoki dengan buku fantasi.
“Iya…”
“Ayo kita berenang…” Rengek Ryu.
“Sebentar, Ryu mau berkenalan dengan Aunty?”
“Aunty? Who is she?”
Daniel mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Ryu, “lihat… itu Aunty cantik, dia juga suka berhitung, sama seperti Ryu.”
“Hai … Ryuuu.” Sapa Naya, akhirnya ia bisa berkenalan dengan bocah lucu yang selama ini hanya ia lihat melalui video.
“Hai Aunty …” balas Ryu. “Aunty pacarnya Uncle ya?”
Daniel terperangah, darimana bocah berusia 3 tahun mengetahui istilah pacaran?
Sementara di ujung sana Naya tergelak, tapi tak urung meng iyakan saja pertanyaan Ryu. “Iya, Aunty pacarnya Uncle.”
Di luar dugaan Ryu bertepuk tangan kegirangan, “hei kenapa kamu bertepuk tangan?” Tanya Daniel heran.
“Aku memberi selamat, karena sekarang Uncle sudah jadi seorang pria sejati.” Jawab Ryu polos.
Tak salah lagi, ini pasti ulah Dean, entah apa saja yang sudah Dean suntikkan di kepala mungil Ryu, jika bertemu, Daniel berjanji dalam hati, bahwa ia akan menghajar Dean dengan tangannya sendiri.
Tawa Naya semakin lebar, mendengar obrolan lucu paman dan keponakan tersebut. Bahkan beberapa saat kemudian Naya di buat kewalahan dengan semua pertanyaan Ryu, namun sangat menyenangkan berbicara dengan bocah menggemaskan tersebut,
40 menit berlalu begitu cepat, obrolan itu terhenti karena Naya harus masuk ke kelas berikutnya.
.
.
“Daniel … ke ruangan Opa sekarang!!”
“Pergilah … jangan sampai Opa menunggumu,” Ucap Oma Stella, merelakan si sulung pergi ke ruang kerja sang suami, padahal ia masih rindu bercengkrama dengan Daniel.
(Ini kelanjutan aja ya, karena obrolan awal sudah othor tulis di extra part 8, novel ‘Dia, Istriku’, jika lupa silahkan baca lagi 😘)
“Bantuan apa yang kamu inginkan dari Opa?” tanya Opa Alex serius.
“Mmm … bisakah kita menyelidiki kembali kasus kebakaran di rumah Profesor Ricky 20 tahun silam?” Tanya Daniel penuh harap, ia yakin tak akan mudah membuka kembali kasus tersebut, karena sudah berlalu terlalu lama, bahkan waktu emas penyelidikan sudah hilang, yang akhirnya, jejak pelaku sudah tak lagi nampak di permukaan.
“Itu cukup sulit, mengingat kejadian nya sudah berlalu sangat lama.” Jawab Opa Alex, persis sama dengan apa yang Daniel pikirkan.
“Iya aku tahu Opa, tapi setelah aku mendengar cerita dari Papa Dika, semua peristiwa kejahatan ini sungguh tak adil Opa, Profesor Hardiman benar benar sudah berbuat dzalim pada keluarga Profesor Ricky.” Daniel mengepalkan tangannya, ada gurat emosi yang nampak di wajahnya.
“Atas dasar apa kamu meyakini bahwa Profesor Hardiman terlibat?”
“Sejujurnya aku tak tahu apa-apa Opa, tapi Papa Dika menceritakan beberapa misteri di balik kasus kebakaran di rumah Profesor Ricky, serta kecelakaan yang membuat Naya kehilangan ingatannya hingga saat ini.”
“Jika Naya hilang ingatan?”
Daniel membenarkan ucapan Opa Alex, “Jika Naya hilang ingatan, bagaimana mungkin Naya bersedia menikah denganmu?” lanjut Opa Alex.
“Hahaha … “ Daniel tergelak. “Itu kecelakaan kecil Opa.”
“Kecelakaan yang membuatmu beruntung menikahi gadis amnesia?”
Daniel tersipu mengingat memori pendaratan daruratnya beberapa minggu yang lalu. “Yah … bukankah jodoh memang akan kembali bertemu di saat yang tepat? Sama seperti Opa dan Oma.” Jawab Daniel bangga.
.
.
Jam 10 malam, ketika akhirnya Daniel Membaringkan tubuh lelah nya usai menemani Ryu bermain seharian. Ia melongok ponsel yang sejak beberapa jam yang lalu terabaikan, bermaksud menghubungi sang kekasih hati sebelum mengakhiri hari dengan istirahat.
Daniel urung memejamkan mata manakala melihat ada puluhan panggilan tak terjawab, dari Zaki, Danesh, Jupri, bahkan Papa Dika.
Daniel men dial nomor Danesh.
“Ya… kemana saja kami, kenapa sulit sekali menghubungimu?!!!” Pekik Danesh dengan suara melengking.
“Iya, maafkan aku, sejak usai makan malam tadi aku mengabaikan ponsel, kenapa?”
Beberapa saat tak terdengar jawaban.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu disana? Kalian baik-baik saja?... “ Rentetan pertanyaan bernada khawatir, terus Daniel lontarkan, mendadak perasaannya tak enak, “Jangan bilang kalau…”
“Kami kehilangan istrimu.”
Sesaat Daniel terdiam kaku, persendiannya seakan tak bisa digerakkan, disusul kemudian petir menyambar tubuhnya, hingga menimbulkan percikan api. “BAGAIMANA BISA?!!” Teriaknya tanpa sadar, ia lupa bahwa di ujung sana adalah adik sepupunya, bukan Zaki atau anak buahnya yang lain.
“Tenang dulu, tenang Bang… kami masih terus melacak jejak Naya, sepertinya sulitnya sinyal di daerah ini, dimanfaatkan dengan baik oleh si pelaku, ia bersembunyi di tempat yang tak terjangkau oleh sinyal ponsel, hingga alar pelacak yang ada di gelang Naya pun tak bisa kami lacak.”
Daniel mondar-mandir gelisah di kamarnya, beberapa kali ia menjambak rambut demu meredakan ketegangannya, “Aku ke Surabaya sekarang!” Pungkasnya.
“Ya … ini sudah hampir jam 11 malam, pesawat mana yang beroperasi jam segini?”
“Pesawat pribadi milik Alexander Geraldy, 3 jam lagi aku tiba!!”
Daniel segera mengakhiri panggilannya, ia bergegas menghubungi Tara yang saat ini menginap di Twenty Five Hotel pusat. “Ada yang bisa saya … ”
“Siapkan pesawat pribadi sekarang!!!” Perintah Daniel, tanpa menunggu Tara selesai bicara.
“Kenapa mendadak sekali Bos?”
“Aku mau semuanya siap dalam 30 menit!!”
“Baik, Bos…” Tara tak lagi banyak bertanya.
Setelah mengakhiri panggilan nya, Daniel bergegas membereskan semua barang-barang nya, tak banyak yang ia bawa, karena disini ataupun di sana, adalah rumahnya, jadi ia tak perlu membawa banyak perlengkapan pribadi.
Masih dengan perasaan panik bercampur gusar, ia bergegas mendatangi kamar orang tuanya. Wajah Mama Disya yang nampak karena Papa Kevin sedang berada di toilet.
“Ma … Aku harus kembali ke surabaya sekarang?”
“Kenapa mendadak sekali, kamu bilang besok?”
“Ada hal darurat Ma.” Jawab Daniel.
“Sepenting apa, sampai kamu tak bisa menundanya hingga esok.”
Daniel kebingungan, sungguh ia tak ingin menyampaikan berita bahagia pernikahannya dengan cara seperti ini. “Nanti Daniel ceritakan Ma … sekarang Daniel harus bergegas.”
“Ya sudah, Mama mengerti, hati-hati yah,” Mama Disya memeluk tubuh Daniel, kemudian mencium kening dan pipinya secara bergantian.
“Love you Mama.” Pamit Daniel sebelum berlalu pergi, setidaknya ia sudah dapat do'a dan ridho sang Mama, maka Daniel yakin, perjalanannya akan lancar sampai tujuan.
eehh tapi jangan² pamannya Mila /Naya itu Profesor Hardiman ya Papahnya Clarissa lagi setelah mendapatkan semua harta Ortunya Mila/Naya dia di buang waktu kecil dan Lupa semuanya.🤔