Kebahagiaan Ayu dan Queen terenggut saat nyawa sang mama meregang nyawa di meja operasi karena melahirkan adik mereka.
Derita Ayu dan Queen di mulai saat ayah mereka Aditya menikah dengan Lisa dan tak lama dijebloskan ke penjara karena fitnah yang dilakukan oleh Rudi mantan pacar Lisa Ibu sambung mereka.
Sikap Lisa yang manis sebagai ibu sambung berubah menjadi iblis yang menakutkan buat Ayu dan Queen karena hasutan Rudi hingga membuat nyawa Queen melayang karena kekejamannya.
Kematian Queen dan siksaan yang dilakukan Lisa dan Rudi merubah sifat Ayu 180 derajat menjadi seorang pendendam, dan introver kepercayaannya terhadap orang lain luntur. Tidak ada lagi kasih sayang dalam kamus Ayu. Puncak dari semua ke kebiadaban Lisa dan Rudi adalah saat Ayu hampir di perkosa Rudi dan kepergok Lisa.
Rudi berdalih dia rayu oleh Ayu, seketika hal ini membuat Lisa kalap dan hampir membunuh Ayu.
Ayu berusaha kabur dan bertemu seseorang yang akan merubahnya untuk balas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesialan Rudi
Tok tok tok
"Yuk, buka pintunya Yuk" Suara Rudi dari balik pintu kamar di mana Ayu berada.
Beberapa kali Rudi mengetuk pintu dan memanggil nama ayah tapi tidak ada jawaban sama sekali kamar terasa hening bahkan helaan nafas pun tidak terdengar.
"Jangan-jangan dia pingsan atau terjadi sesuatu dengannya." Buru-buru Rudi merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan kunci cadangan pintu kamar Ayu.
Ceklek
Bola mata Rudi menyapu seluruh ruangan tapi sayang, sosok yang dia cari tak ditemukan. Rudi berjalan menuju kamar mandi.
Tok tok tok
”Yuk, Ayu kamu ada di dalam?" tanya Rudi memanggil Ayu sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
Kembali Rudi mengetuk pintu kamar mandi tapi tak ada sahutan bahkan tak terdengar suara apapun baik itu gemericik air atau hembusan nafas seseorang. Perlahan tangan kanan Rudi memegang handle pintu kamar mandi lalu menekannya ke bawah dan dia pun mendorong perlahan pintu kamar mandi itu.
"Yuk, Ayu. Apa kamu ada di dalam?" Kembali dengan hati-hati Rudi bertanya sambil sedikit demi sedikit membuka pintu kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi setengah terbuka Rudi dibuat tercengang kaget karena dia tidak menemukan Ayu di situ.
"Ke mana Ayu, Kenapa dia tidak ada di sini? Apa jangan-jangan dia sembunyi di dalam lemari atau di kolong ranjang?" tanya Rudi mulai khawatir dan bergegas memeriksa lemari serta kolong tempat tidur.
BUKK
"Sial! Anak itu sudah ada di sini!," geram Rudi sambil meninju kasur yang tepat ada di sampingnya.
Rudi berjalan keluar menyusuri setiap ruangan yang ada di apartemennya untuk menemukan keberadaan Ayu. Hampir semua sisi ruang apartemennya dia periksa tanpa ada yang terlewat.
Rudi kembali ke kamar Ayu, lambaian kain gorden yang tertiup angin membuat Rudi curiga dan memeriksa lebih teliti jendela kamar Ayu. Saat manik matanya menangkap daun jendela yang sedikit terbuka Rudi baru menyadari kalau Ayu benar-benar melarikan diri dengan loncat keluar dari lantai 7 apartemennya.
"Haiisstt! Anak itu benar-benar nekat!" dengus nya kesal memandang ke bawah dari jendela apartemennya.
"Gila dia memakai kabel wi-fi untuk turun ke bawah, aku rasa Dia tidak mungkin selamat. Dia pasti terjatuh ke kolam." Asumsi Rudi saat melihat kabel wi-fi yang bergelantungan tak beraturan.
Rudi bergegas menyambar kunci kotak mobilnya yang ada di atas meja ruang tamu dia lalu bergegas berjalan setengah berlari keluar dari apartemennya.
Saat Rudi berada di lantai bawah, dia langsung menuju kolam renang. Dengan seksama Rudi perhatikan sekitar kolam renang untuk memeriksa apa ada tanda tangan bekas seseorang yang jatuh dari atas dari atas ke kolam renang itu.
Rudi memperhatikan air kolam renang yang begitu tenang bahkan tanpa riak gelombang sedikitpun. Rudi kembali berjalan ke lobby apartemen dia melirik dua wanita muda petugas resepsionis yang sedang sibuk menerima telepon melayani penghuni apartemen.
”Maaf Nona-nona, apa tadi ada yang melihat gadis remaja yang berenang di kolam apartemen?" tanya Rudi pada dua orang wanita muda petugas resepsionis apartemen.
"Dari tadi saya datang sampai sekarang, saya belum lihat ada yang berenang Pak," jawab salah satu wanita petugas resepsionis sambil melirik ke arah rekannya.
"Betul Pak saya juga belum lihat ada yang ke kolam renang." jawab wanita petugas satunya lagi sambil menguatkan jawaban rekannya.
"Terima kasih."dua kata yang keluar dari bibir Rudi sebelum dia pergi meninggalkan apartemen untuk menuju area parkir.
"Sialan! Ke mana Ayu kabur? Jangankan mayatnya tanda bekas dia jatuh pun tak ada. Gue yakin seandainya dia jatuh dari apartemen gue kecil kemungkinan dia selamat tapi bukan berarti dia tidak selamat tapi siapa orang yang telah menolongnya kalau memang dia terjatuh ke dalam kolam renang itu." gumam Rudi bertanya pada dirinya sendiri.
Rudi mulai mengeluarkan mobilnya dari area parkir dan melaju di atas jalan raya beraspal yang makin panas oleh terik matahari. Kepadatan lalu lintas dan juga Gedung-gedung tinggi membusungkan dadanya seakan sedang tertawakan kesialannya Rudi siang ini.
***
Rumah sakit.
Suara dering HP entah sudah berapa kali berteriak-teriak di genggaman wanita muda itu tapi tetap saja dia tidak menggubrisnya.
"Nona Diandra!" Panggil suara dokter muda berkacamata yang sudah berdiri di belakang wanita muda itu membuyarkan lamunan wanita muda itu sehingga dia reflek menengok ke belakang.
"Ya," jawab Diandra gadis yang sedari tadi terus memperhatikan Ayu yang sedang terbaring lemah di atas ranjangnya.
"Tolong diangkat itu handphone anda, bunyinya sangat mengganggu pasien yang ada di sini atau kalau tidak mau diangkat lebih baik di silent saja hp-nya." Saran dokter muda itu yang sedang duduk di meja kerjanya tak jauh dari ranjang Ayu.
"Oh, sorry." saut Diandra sambil mematikan ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
Diandra beranjak dari duduknya lalu berjalan ke meja dokter, begitu sampai di meja dokter Dia sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya ke arah dokter muda itu hingga membuat dokter muda itu terkejut tiba-tiba hingga diapun reflek sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Syailendra." gumam Diandra mengeja nama dokter muda itu yang tertulis bordir indah di baju dinas berwarna hijau tosca.
Diandra kembali menarik tubuhnya lalu dengan santainya duduk di depan kursi yang tepat berada di depan meja kerja dokter muda itu.
"Nggak berat bawa kek gitu?" tanya Diandra setengah mengejek sambil menarik lengkung di salah satu sudut kanan bibirnya
Pertanyaan Diandra tak pelak membuat Andra panggilan Syailendra mengernyitkan dahi.
"Maksud anda?" Jawab Andra balik bertanya
"Buset dah, wajahnya 180% langsung berubah horor, kalau gue bilang namanya kek candi Borobudur bisa ditelantarin tuh bocah." batin Diandra merasa tidak enak dengan pertanyaannya.
"Maksud gue, nama dokter ngingetin pelajaran sejarah yang selalu bikin berat mata gue di kelas," jawab Diandra dengan santainya.
"Hmm," Andra hanya berdehan dan meneruskan kesibukannya.
Krucuk krucuk krucuk
Suara cacing berdemo dari perut Diandra membuat Andra tak mampu menahan senyum. Tangan kekar Andra meraih molen cake rasa keju jatah sarapannya dari rumah sakit lalu mengulurkannya pada Diandra.
Tanpa ragu dan malu Diandra langsung menyambar molen itu dan membuka salah satu sisinya untuk mengeluarkan setengah molen di dalamnya.
"Thanks rezeki anak soleh nggak boleh ditolak hehehe," ucap Diandra tertawa garing.
"Cih, tuh cewek kalau di lihat dari dandanannya dah pasti cewek plus plus," bisik perawat yang tadi mana pergi Anda pada rekannya.
Rekannya yang sedang mengganti botol infus seorang pasien hanya menjawab dengan senyum.
"Dokter Andra! Gadis itu siuman," yang sedang mengobati luka Ayu.
Andra dan Diandra beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri ranjang Ayu.
Bersambung...
duh ngeriiiii, pembully an, kekerasan, obrolan serampangan
masih ada typo
duhh anak sekarang ngerii pintar tapi gak ada norma dan atittude jadi nya gitu bisanya mbully omongan nya ngabsen Kebon binatang
dan Lisa... tunggu karmanya