Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27. Nonton Drama
Bab. 27
Di kala berada pada posisi yang begitu intim seperti itu, apa yang dikhawatirkan oleh Killa pun terjadi. Sekaligus membuat wanita itu merasa tenang.
Di mana Nadia dengan langkah terburu masuk begitu saja. Sembari membawa potongan kain di tangannya. Tanpa bisa mengetuk pintu terlebih dulu. Kebetulan juga pintu ruangan Killa terbuka. Sehingga mempermudah wanita muda itu melangkah masuk.
"Mbak, ini kain yang dari ...."
Nadia tidak melanjutkan ucapannya di saat mengangkat kepalanya dan melihat sesuatu yang sering dia lihat di sebuah drama. Di mana momen seperti ini selalu sukses membuat penonton deg degan masal dan juga salah tingkah sendiri.
Sama seperti apa yang Nadia rasakan saat ini. Ingin melanjutkan langkah, itu jelas tidak mungkin. Ingin balik kanan pun juga tidak memungkinkan bagi Nadia. Karena dirinya terlanjur mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak boleh ia ketahui.
"Ah, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Nad!" Pekik Killa. Wanita itu mendorong tubuh Vano sekuat mungkin hingga pria itu akhirnya beranjak dari atas tubuhnya.
Sementara lidah Nadia seolah kelu hanya untuk menyahut sanggahan dari atasannya tersebut. Padahal apa yang Nadia lihat sudah begitu jelas. Kalaupun memang ada apa apanya, itu juga tidak masalah bagi Nadia.
"I-iya," hanya itu yang bisa Nadia ucapkan. Itu pun masih tergagap. Di tambah lagi Nadia melihat adegan yang benar-benar nyata di depannya saat ini.
Di mana dengan penuh sikap lembutnya pria bule itu membantu Killa untuk berdiri. Bahkan juga membantu merapikan baju serta rambut Killa yang terlihat berantakan memang. Ingin memalingkan wajah, pun Nadia rasa sangat sayang sekali. Kapan lagi bisa melihat adegan seperti yang ada di drama-drama dengan nyata.
Merasa malu karena ketahuan Nadia, Killa menepis tangan Vano sembari melotot ke arah pria itu. Memberi isyarat untuk tidak membantunya. Namun, hal itu Vano abaikan begitu saja.
"Jaga tanganmu." Tekan Killa dengan suara yang lirih. Seperti sedang berbisik.
Vano menahan tawanya melihat wajah galak Killa. Bukannya terlihat galak, tetapi malah menggemaskan dan sangat lucu. Karena wajah Killa yang mungil dan terlihat seperti masih ABG, tidak pantas sama sekali memasang ekspresi seperti ini.
Lebih menggemaskan lagi jika memasang wajah ketakutan serta pasrah. Seperti apa yang tadi Killa perlihatkan. Namun ekpresi itu juga menjadi kelemahan Vano.
Bukan rasa kasihan yang Vano rasa, melainkan rasa ingin memiliki dan memonopoli Killa hanya untuk dirinya sendiri. Bahkan kalau bisa, akan Vano taruh di kamar tanpa memperlihatkan ke orang lain.
"Cium dulu, baru aku nggak sentuh-sentuh lagi di depan dia," bisik Vano dengan tatapan yang begitu menyebalkan di mata Killa. Terutama senyuman penuh maksud Vano.
"Jangan harap!" Sentak Killa yang justru mendapat balasan kekehan dari Vano.
Killa mendorong tubuh Vano agar agak menjauh darinya, lalu melangkah ke arah Nadia yang masih mematung di tempatnya sedari tadi. Mungkin Nadia masih shock dengan apa yang barusan dia lihat.
"Itu kain yang dari mana, Nad?" tanya Killa berusaha semaksimal mungkin dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
Meskipun rasa kaget itu masih begitu terasa, Nadia juga berusaha untuk bekerja secara profesional. Apa yang sudah dilakukan dua orang di depannya saat ini, bukanlah menjadi urusannya.
"Ini yang dipesan dari Kalimantan, Mbak," jawab Nadia dengan nada yang gemetar.
Lalu menyerahkan kain tersebut pada Killa, guna Killa periksa sendiri. Hal yang menjadi kebiasaan Killa sebelum mengolah bahan menjadi sebuah baju yang sangat cantik dan khas akan butiknya.
"Ya udah, kamu kembali kerja dulu, gih." Suruh Killa.
Nadia pun menurut dan segera pamit. Namun, belum sampai tangan menjangkau pintu ruangan Killa, Nadia berhenti dan berbalik badan. Wanita itu menyampaikan hal yang membuat Killa ketar ketir ketakutan.
"Oh ya, Mbak! Tadi Ibuk bilang katanya Den Gara minta dijemput sama Mbak langsung, kalau Mbak sudah pulang," ucap Nadia menyampaikan pesannya dari sang ibu. Di mana ibunya Nadia yang menjaga Gara beberapa hari ini.
"Iya," jawab Killa singkat.
Kemudian Nadia pergi meninggalkan ruangan Killa dan tidak lupa menutup pintu ruangan tersebut. Takut-takut nanti kalau ada pegawai yang lain melihat apa yang bakalan mereka lakukan setelah kepergian dirinya.
"Astagaahh ... berasa nonton drama langsung." gumam Nadia di balik pintu sambil mengusap dadanya. Di mana detak jantungnya berdetak tidak beraturan.
Sementara itu di dalam ruangannya sendiri, Killa merasa susah hanya sekedar untuk mengambil oksigen. Terlebih lagi ketika mendapat pertanyaan dari Vano.
"Siapa Gara itu?" tanya Vano sembari melangkah mendekat ke arah Killa.