NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Kalisha

Takdir Cinta Kalisha

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Yani Wi

Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.

Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.


"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Euforia juara.

"Icha...! Icha...! Icha...!! Hore Icha hebat!"

"Wah nggak menyangka ya!"

"Satu piala lagi untuk sekolah kita. Mantap!"

Riuh rendah suara temanku menyambut diriku pagi ini. Mereka di dalam kelas tapi suara mereka berisik saat aku datang lebih cepat. Hari ini aku melihat mereka berbeda dari kemarin. Semuanya menyambut aku.

"Ada apa? Mengapa kalian bisa heboh begini?"

"Aaa Ichaa kamu nggak tahu atau pura-pura tidak tahu?" kalimat dan pertanyaan teman-teman bikin aku jadi bego.

"Kenapa memang, kok kalian histeris begini?"

"Boleh minta jajan sama tim mading gak ya. Traktirin kita ya Cha, kan sudah menang."

"Apa?? Ooh menang Mading?" Aku sama sekali tak ngeh.

"Loh bagaimana sih Ica belum tahu. Mading kalian menang ikut lomba Icha, dapat juara." Kalimat Andi akhirnya buatku ngeh.

"Benarkah? Horeee! Kita juara! Nai kita juara!"

Nai baru saja masuk pintu, saat namanya ku sebut. Diia melongo. Sama seperti aku, Nai belum tersambung dengan situasi. Ku tepuk bahu Nai pelan, "Heh pagi-pagi jangan melongo, kemasukan lalat tahu. Nai kita juara, mading juara 1."

"Oh itu maka kalian seru-seruan ya. Icha, yang dapat juara tuh kalian bukan aku. Aku tidak ikut dalam tim mading sekolah."

"Aku memegang kedua tangan Nai, "Tapi ini sekolah kita berdua dan teman-teman yang lain. Aah senang sekali!"

"Oke selamat kalau begitu atas kerja keras kalian. Jadi ada selamatannya nih?" Tanya Nai.

"Selamatan apa? Siapa juga yang mau traktir. Uang dari mana?"

"Itu cha uangnya diambil dari hadiah lomba kan bisa?

"Kayak nggak tau saja, lomba itu dapatnya piala dan piagam bukan uang. Sudah disebutkan saat pendaftaran."

"Oh begitu, yaahh jadi nggak ada makan-makan nih."

"Makan di rumah masing-masing saja terus kita video call. Nah jadi makan bersama iiqiiqiqii."

"Harusnya ini dirayakan." Nai terlihat seperti berpikir. Entah ide apa lagi yang mau ia tambahkan.

"Sebenarnya aku juga belum tahu kalau juara lomba. Elang belum informasi tapi teman-teman sudah ribut duluan. Tahu dari mana ya?"

"Teman-teman, kalian tahu dari mana kalau sekolah kita juara 1 lomba mading?" Tanya Nai pada teman-teman.

"Tahu dari temenku, Nai. Kawanku sekolah di SMA 10. Sekolahnya ikut lomba juga dan katanya sekolah kita yang mendapatkan juara. Coba tanyakan dulu Elang," kata seorang teman.

Semoga saja bukan berita buruk atau berita kegagalan. Melihat teman-teman sudah senang mendengar berita itu, jadi takut jika mereka kecewa karena sebenarnya tidak mendapatkan juara. Aku harus mencari kepastian berita ini.

Ku katakan pada teman-teman, " Tunggu ya aku tanya Elang dulu informasi pastinya. Berita ini benar atau tidak. Takutnya kalian sudah senang duluan ternyata cuma kabar burung. Kecewa kaaan."

Aku menemukan nomor kontak telepon elang. Bersama dengan itu bunyi bel masuk berbunyi. Kami semua bubar dan mencari tempat duduk masing-masing.

Pelajaran berlangsung tertib. Semua konsentrasi mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh pak guru. Seperti biasa bagi yang cepat selesai boleh istirahat di luar.

Aku menutup buku bersiap mengantarkan kemeja pak guru. Nai menegurku, "Ssst...sudah selesai? Cepat sekali."

"Iya sudah selesai, bye. Aku mau cari elang."

"Uuhhuy uuasyiik, awas kena semprot lagi sama Arin.'

"Biarkan, aku nggak takut."

Nai menggeleng-geleng. Aku tak yakin apakah Elang sudah keluar dari kelas atau belum. Aku saja keluarnya lebih cepat dari jam istirahat. Anak-anak lain belum keluar dari kelas. Aku berjalan ke deretan kelas IPA. Hubunganku dan elang hanyalah sebatas teman jadi tak perlu takut atas tuduhan Arin. Biarkan saja Arin termakan dengan anggapannya sendiri pada diriku.

Aku berdiri di depan kelas IPA, tiada satu orang pun teman Elang yang keluar. Apakah mereka mendapat tugas khusus?

"Icha kamu di sini?" Ku kenal suara Elang. Dia menegur dari belakang.

"hai Elang kamu di luar? Teman-temanmu masih di dalam semua."

"Aku dari toilet. Aku cepat selesai mengerjakan soal. Mereka belum ada yang selesai. Kamu lagi apa di sini, menunggu teman ya?"

"Oh sama kalau gitu. Aku mau tanya, apa benar sekolah kita dapat juara 1 lomba Mading?"

"Oh iya aku lupa info ke kamu, kita menang. Mading kita menang. Aku lupa karena ujian hari ini maafkan aku ya."

"Syukurlah kita dapat juara. Teman-temanku di kelas heboh banget pada senang sekolah kita juara."

Elang tersenyum simpul. Dia juga bertambah puas dengan hasil kerja tim kami, "Ini berkat turun tangan kamu."

"Bukan, ini berkat kerja kita bersama," kataku. Dalam suatu tim semua anggota berperan dan punya andil atas kemenangan.

'Info ke anak-anak mading. Kita kumpul di rumahku ya, pulang sekolah. Aku sudah memesan bakso yang biasa lewat di depan rumah."

"Apakah tukang bakso sudah siap sedia siang ini?" Begitu cepat Elang menyusun rencana ini.

"Sudah. Aku bangun tidur segera menghubungi Abang bakso. Aku mau traktir teman-teman karena usaha mereka kita bisa menang. Sebenarnya aku dapat info tadi malam, hanya saja aku belum sempat menghubungi kamu. Aku fokus ujian mid semester ini. Tolong ya Cha, kabari anak-anak mading.'

"Siap bos! Asyik nih. Apakah aku boleh mengajak Nai? Boleh ya Lang?"

"Boleh, boleh. Ajak saja Nai sekalian. Oke ya, jumpa lagi siang nanti.

Aku menggangguk. Sebelum ku pergi, Arin keluar dari kelasnya. Kelas Arin adalah kelas Elang. Ku bergegas pergi sebelum Arin bertindak seperti kemarin, mencegatku.

"Icha tunggu!" Suara Arin memanggil. Aku terus melangkah. Abaikan Arin dengan sikap tengilnya. Arin hanya mengerti perasaan sendiri, tidak ingin mengerti perasaan orang lain. dia akan langsung mengatakan apa yang ada di hati meskipun suatu hal yang diucapkan tidak benar.

"Selamat atau kena damprat, Cha?" Nai Sudah menungguku di depan kelas. Melihatku datang wajahnya tampak lega.

"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja. Barusan dia panggil aku tapi aku tak peduli aku jalan saja."

"Bagus! Anak seperti itu tidak perlu diladeni terus-menerus. Lalu Cha beritanya betul nggak?"

"Yang mana? Oh itu ya, benar. Kata Elang kita juara 1."

"Cakep. Aku mau ajak Elang makan-makan." Nai semangat. Apa aku tak salah dengar? Mau kena damprat Arin juga ya si Nai ini atau itu sebagai pancingan saja agar Elang benar-benar mengajak makan-makan untuk merayakan kemenangan. Suara Arin saja masih terngiang panas di telinga. Seandainya Nai dimarahi Arin karena dekat-dekat Elang, aku akan turut mendengar suara cempreng Arin sedang marah-marah.

"Heh apa aku tak salah dengar? Arin mau dikemanakan Nai?"

"Masa bodoh. Kita ini kawannya Elang. Main dengan Elang itu hal biasa. Arin tak seharusnya melarang kita. Dia bukan siapa-siapanya elang."

Ucapan Nai tidak salah tapi aku mulai jenuh berhadapan dengan Arin. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Arin menyakitkan hati. Tak jarang membuatku rasa malas berangkat sekolah. Enggan bertemu dengan Arin.

Tapi apa daya sekolah tetaplah sekolah. Tujuan mencari ilmu harus selesai sampai tingkat akhir. Arin dan Mimi sebagai batu sandungan harus bisa ku hadapi.

"Aku bosan Nai. Muak lihat Arin." Netraku mulai berkaca-kaca tapi aku segera sadar. Aku tak boleh lemah. Aku adalah anak papa. Papa panutanku sebagai sosok yang tegar. Aku harus mencontoh papa.

"Yeaah sedih lagi. Jangan dipikirkan si Arin itu. Dia hanya akan membuatmu lemah," Nai selalu menguatkan diriku. aku mengusap mata dengan telapak tangan.

"Oh ya aku mau info ke tim mading. Elang mengumpulkan mereka di kos-an Elang." Aku mencari beberapa nama dari mereka di handphone. muncul nama-nama di benakku Tik, Anto, Raswin, Ilena.

"Mereka mau disuruh apa oleh Elang?"

"Makan bersama elang di kos-an elang."

"Wuuuih asyik tuh. Cha, aku nggak diajak ya? Kamu melupakan aku, Cha."

"Kamu dapat undangan spesial dari Elang. Terkhusus untuk kamu disuruh hadir nanti siang." Aku hanya bercanda.

"Mau, mau Cha!"

Siang hari sepulang sekolah....

Anak-anak dari ekstrakurikuler majalah dinding berkumpul di kos-an Elang termasuk aku. Di sebelah pagar, abang bakso menyiapkan bakso untuk kami. Lalu mengantarkan kepada kami bakso yang telah siap disantap.

Terjalin suasana akrab di antara kami. Santai, gembira dan kekeluargaan. Siapa sangka suasana akrab dan rileks ini harus terganggu dengan kedatangan Arin dengan seorang temannya. Dari kejauhan dua orang anak itu sedang berjalan ke tempat kami berada. Rusak sudah ketenangan ini.

"Nai, dia lewat sini," Aku menyenggol lengan Nai. Nai mencari orang yang kumaksud. Senyum sinis terpancar dari wajah Nai.

"Tenang saja dia cuma lewat."

Perkiraan nai salah Arin dan kawannya belok ke kiri masuk ke pintu pagar kos-an elang

"Iya Arin ada apa?" Nah rasain ditanya Elang. Elang saja tidak menginginkan kedatangannya. Oh tidak tahu malu tidak diajak nimbrung tapi datang kemari.

"Ku dengar kalian sedang makan-makan merayakan kemenangan. Aku boleh ya ikut gabung." Arin minta persetujuan Elang.

Elang tak segera menjawab. Akhirnya ia mengangguk memberi persetujuan Arin bisa ikut duduk di situ. Aku ingin pergi secepatnya dari situ namun tangan Nai menahanku.

"Seharusnya mereka tidak berada di sini, bukan kamu. Tetaplah duduk Icha," bisik nai.

"Jika baksonya masih ada minta saja sama si abang tapi kalau sudah habis berarti belum rezeki kalian," kata Elang kepada Arin. Elang masuk ke dalam rumah.

"Bang baksonya masih ada nggak?" Tanya Arin.

"Masih neng, ada untuk satu piring. Lebih sedikit baksonya, cuma kalau dua piring nggak cukup."

"Boleh bang saya mau."

"Tunggu saya ambilkan neng.'

"Tuh lihat rambutnya dari dulu, nggak pernah model lain selalu ekor satu. Ketinggalan banget." bisik-bisik itu sampai di tempatku. Untungnya adik-adik kelas sedang asyik makan bakso sembari ketawa-ketiwi antara mereka. Mereka tidak menghirukan ucapan Arin.

"Hihihi iya. Memangnya dia nggak ingin ya ganti model rambut. Lihatlah banyak sekali model rambut baru zaman sekarang." Teman Arin ikut bicara.

"Ssabar ya cha. Anggap saja itu cuma angin lewat."

"Angin lewat yang mengandung gelombang panas," kataku. Emosiku mulai naik.

Elang datang dari dalam. Ia membawa sebuah kotak dan bungkus kado. kemudian dia memanggil aku, "Icha Aku boleh minta tolong nggak? Tolong bungkuskan ini."

"A-aku... boleh, boleh Lang. Berikan kadonya!" Elang menyerahkan kado itu padaku.

"Terima kasih. Ini adalah kado untuk mamaku, mama ulang tahun besok."

Aku menangkap kesal di raut wajah Arin. Cemburu, iri, marah padaku. Elang minta tolong padaku bukan pada dirinya.

"Terus Yun, dia ikut lomba, lomba gambar fashion begitulah, tapi kulihat biasa aja sih gambarnya." Mulut Arinn terus mengucapkan kalimat menjatuhkan tertuju padaku. Sayang sekali suasana akrab seperti ini harus dirusak dengan kehadiran Arin. Untuk itu Aku tidak ingin memperkeruh suasana dengan membalas perlakuan Arin padaku.

Iyun menyambung kalimat Arin, "Palingan gambar dia tersisih dari yang lain. Segitu banyak peserta. Majalah Mudi itu majalah paling keren. Pakaian-pakaian yang ditampilkan modis dan trendy, sedangkan hasil karya dia tidak menarik.

Bagaimana Iyun bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa karya gambarku tidak menarik. Okelah Iyun mengatakan seperti itu tetapi penggemar majalah Mudi yang lain tidak mungkin menilai sama dengan penilaian Iyun.

"Sudah Cha, sudah rapi. Kita tempelkan pita ini di sudut sini." Nai membantuku membungkus kado.

"Manis sekali tampilannya ya Nai, kira-kira apa ya di dalamnya?" Tanyaku.

"Tidak tahu, hanya elang yang tahu apa yang diberikan kepada ibunya."

"Terima kasih sudah menolongku kalian memang baik." Puji elang ketika ku serahkan kado yang terbungkus indah. Ku rasa darah Arin mendidih mendengar pujian ini. Lagipula Elang belum mengajak Arin dan Iyun mengobrol.

"Sama-sama Elang."

"Elang, selamat ya madingnya mendapatkan juara 1." Arin selalu berusaha menarik perhatian Elang.

"Terima kasih Arin. Kami mengerjakan bersama-sama. Sebuah prestasi buat kami semua." Elang merendahkan diri.

"Kamu ketuanya berhasil memimpin mereka."

"Apa artinya aku tanpa mereka. Ide-ide mereka semua yahud."

"Elang baksonya enak, terima kasih ya. Aku dan Iyun diajak makan. Aku pulang dulu Elang." Hhhh sok ramah dan lembut. Memuakkan.

"Oke pulanglah," balas Elang.

Sudah kenyang lantas pulang. Enak sekali dia tapi tidak apa, daripada mereka lebih lama di sini. Menyakiti hatiku saja.

Tak lupa sebelum pergi, Arin menghampiri aku dan Nai. Menyentil aku dengan kata yang menyakitkan, "Sketsa kamu jelek. Jangan harap kamu bisa menang. Peserta lain banyak yang bagus karyanya," katanya dengan suara pelan namun menjatuhkan mental.

"Jelek di mata kamu belum tentu jelek bagi orang lain," balasku.

"Arin kostum kelas sudah dibagikan belum?! Semua harus menerima hari ini." Elang dari tempatnya berdiri bertanya kepada Arin.

Pertanyaan itu dijawab oleh alin, "Sudah sebagian. Aku suruh mereka ambil ke rumahku saja."

"Kenapa tidak dibawa ke sekolah?" Tanya Elang lagi.

"Ketinggalan karena aku terburu-buru pagi ini. Aku pulang ya!"

"Pulang saja." Nai jawab sesuka hati. Arin menoleh tapi tidak berkata apa-apa.

Hari ini kata-kata Arin tidak hilang dalam ingatanku. Ucapan itu menoreh luka padahal bukan sekali ini Arin berkata begitu.

Braaak!

Aku menutup pintu dengan kasar. Jikalau ada papa sudah tentu aku dimarahi.

"Icha kenapa nak?" Suara mama terdengar dari luar kamar. Aku kira tak ada seorang pun di dalam rumah hingga aku bebas meluapkan kekesalan ini.

"Tak ada Ma," Ku tahan tangis. Menahan suara agar sewajarnya. Tak boleh ada getaran suara karena menahan tangis.

"Tidurlah jika lelah."

"Baik Ma." Ku benamkan wajah di bawah bantal. Air mataku luruh dan banjir basahi bantal. Mengapa aku ikut lomba sketsa? Mengapa aku menurut kata Arin?

Sekarang aku jadi bahan cemooh Arin. Luka ini tak hilang sampai kapanpun. Arin keterlaluan.

...ΩΩ bersambungΩΩ...

1
Embun Kesiangan
season dua Thor 🥰🌹🌹
🌻Yani Wi💕: 😘😘😘😘😘😘🤗😇🌹🙏
total 1 replies
Embun Kesiangan
ternyata dijodohin sama Icha ya Thor 😍
Embun Kesiangan
duh jgn sampai elang dijodohkan
Embun Kesiangan
semangat Icha ☺️
TK
bunga untuk semangat ✍️
TK
semangat othor hebat 👍
R.F
semangat kk
R.F
2like dan 1mawarku hadir k
semamgat
Bening 💫~^-^
semangat kkak 🥰
TK
bunga untuk Thor 🌷👍
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘😘😘
🌻Yani Wi💕: terima kasih.💐
total 1 replies
R.F
2 like dan satu mawarku hadir
Semangat kaka
Neyna 🎭🖌️
semangat kak 💪💕💕
lina
cakep bner itu tempatnya.. bikin ngiler
R.F
2 like hadie. semangaf kak. lije balik iya
Bening 💫~^-^
terus semangat kkak 🥰
Bening 💫~^-^
semangat kak 🥰
TK
dua bunga untuk Thor 👍✍️
Irma Kirana
Semangat 😁😁👍
🌻Yani Wi💕
Aamiin. 😃😃😄

Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!