Seorang wanita yang menolong bayi umur satu bulan, yang ternyata anak dari CEO yang paling populer di kalangan wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon menantu idaman
"Apakah Rafa sedang merindukan El, kalau itu mau mu dan dapat membuatmu senang papa akan lakukan" kata Rey
Akhirnya Rey menelfon nyonya Eli karena dia tidak punya nomor telfon El.
Sedangkan di mansion Maharaja El merasa gelisah tanpa tau apa sebabnya.
"El kamu kenapa kok mama lihat kamu gelisah banget dari tadi" kata nyonya Eli
"Gak tau ma, El merasa gak tenang ada apa yah ma" kata El
"Apa kamu udah shalat" kata nyonya Eli
"Udah ma" kata El
Tak lama hp nyonya Eli berdering. Nyonya Eli berjalan mengambil hpnya yang ada di sofa.
"Halo assalamualaikum Rey" kata nyonya Eli
"Halo waalaikumsalam tante" kata Rey
"Ada apa Rey menelfon tante" kata nyonya Eli
"Apa Rey mengganggu wakti tante" kata Rey
"Tidak sama sekali Rey, ada apa" kata Nyonya Eli
"Apakah Elnya ada tante, boleh saya bicara sebentar dengannya" kata Reu
"El ada kok tunggu tante bawa telfonya ke El" kata nyonya Eli
"Ada apa ma" kata El
"Ini Rey papanya Rafa mau bicara sama kamu" kata nyonya
"Tentang apa?" Tanya El
"Mama juga gak tau" kata nyonya Eli sambil menyerahkan hpnya
"Halo assalamualaikum" kata El
"Waalaikumsalam" kata
"Ada hal apa yang ingin kamu katakan" kata El
"El kamu ada waktu gak jam ini" kata Rey
"Iya, emang ada apa" kata El
"Kamu bisa ke rumah aku gak, Rafa nangis terus nyariin kamu" kata Rey
"Apa, oke aku kesana sekarang kamu sharelok aja ke nomor ini" kata El sambil menyebutkan nomor telfonnya
"Kalau gitu aku tutup dulu telfonnya" kata El
"Oke" kata Rey
"Assalamualaikum" kata El
"Waalaikumsalam" kata Rey
El memberikan hp itu ke mamanya dan berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap tapi di cegah oleh sang mama.
"El ada apa, kamu kelihatan khawatir setelah menerima telfon dari Rey
" kata nyonya Eli
"Itu ma, bayi yang El selamat hari itu menangis terus" kata El
"Rafa maksudnya" kata nyonya Eli
"Iya ma, kalau gitu El ke kamar dulu mau siap-siap untuk temuian bayi mungil itu, tapi mama izin El untuk pergi melihatnya kan" kata El
"Udah sana siap-siap" kata nyonya Eli
El pun berlari menuju kamarnya untuk siap-siap. Tak lama kemudian El keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi yang menambah kecantikan El. El berjalan ke arah mamanya yang sedang asik menonton tv.
"Ma, El jalan dulu yah assalamualaikum" kata El
"Waalaikumsalam, hati-hati bawa mobilnya" kata nyonya Eli
El memasuki mobil dan menjauh dari kediamannya. El telah mendapatkan sharelok dari Rey. Tidak lama kemudian El telah sampai di pintu pagar mansion Harja.
"Pak apakah saya boleh masuk" kata El
"Non ini yang atas nama El" tanya penjaga
"Iya pak" kata El
"Tuan Rey tadi bilang temannya yang bernama El akan datang" kata penjaga
"Terima kasih pak" kata El senyum
"Sama-sama non" kata penjaga
El memarkirkan mobilnya di halaman rumah Rey yang luar. El keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah, El menekan tombol bel tidak lama keluar pelayan.
"Nona El yah" tanya pelayan
"Iya" kata El senyum
"Silahkan masuk nona tuan Rey dan nyonya menunggu nona" kata pelayan
El pun masuk dan mengikuti pelayan itu. Di ruang keluarga Rey dan nyonya Firda telah melakukan semua cara agar Rafa tidak menangis malah sebaliknya tangisan Rafa semakin menjadi-jadi. Pelayan itu dan El telah berada di ruang keluarga
"Tuan, nyonya, nona El sudah datang, saya pamit ke dapur dulu bikin minum" kata pelayan, Rey dan nyonya menoleh kearah El
"Assalamualaikum" kata El
"Waalaikumsalam" jawab Rey dan mamanya serentak
El berjalan ke arah nyonya Firda dan menyaliminya.
"Anak ini sopan dan cara berpakaiannya pun sederhana tapi serasi dengan dirinya" kata nyonya Firda dalam hati
"Sini duduk El" kata nyonya Firda yang duduk melantai di karpet berbulu
"Iya tante" kata El
"Gak papa kita duduknya melantai" kata nyonya Firda
"Gak papa tante" kata El dengan senyum ramah
"Rafanya kenapa nangis Rey" kata El
"Rafa nyariin kamu" kata Rey
"Kok nyari saya, biasanya bayi nangis nyari ibunya. Ibunya Rafa mana?" Kara El
"Ibu Rafa telah meninggal El dan Rafa menganggap mu sebagai ibunya" kata Rey
"Maafkan saya, saya tidak kalau, maaf tante, Rey" kata El
"Gak papa" kata nyonya Firda
"Permisi nyonya, ini minumannya saya taruh dimana" kata pelayan
"Taruh di meja aja" kata nyonya Firda
"Saya permisi belakang nyonya, tuan, nona" kata pelayan
El yang melihat Rafa menangis terus-terusan ikut sedih. El refleks mengambil Rafa dari gendongan Rey dan mengendongnya. El menggendong Rafa dan berjalan menuju taman yang ada di mansion Harja untuk meredakan tangisan Rafa. Rafa yang melihat dan merasakan sentuhan dari El langsung berhenti menangis dan berganti dengan celoteh Rafa.
"Ma....ma....ma....ma" kata Rafa sambil tersenyum
Nyonya Firda dan Rey yang melihatnya dari jauh tersenyum.
"calon menantu idaman dan ibu yang baik" kata Nyonya Firda, Rey yang mendengar perkataan mamanya tersenyum
"Bagaimana kalau aku jodohkan Rey dengan dia" kata nyonya Firda dalam hati
"apakah wanita itu sudah menikah Rey" tanya nyonya Firda
"kenapa mama bertanya seperti itu" kata Rey
"Mama cuma mau tau aja emang gak boleh" kata Nyonya Firda
Rey tak menanggapi apa yang baru saja di katakan oleh sang mama dan memilih untuk melihat email yang masuk di hpnya. El yang telah berhasil menenangkan Rafa kembali ke ruang keluarga dan bergabung kembali dengan nyonya Firda dan Rey yang tengah duduk di karpet bulu.
"El tante boleh tanya sesuatu gak" kata nyonya Firda
"iya boleh tante, mau tanya apa?" kata El
"kamu udah kerja atau masih kuliah" kata nyonya Firda
"saya masih kuliah tante" kata El
"kamu udah punya pacar apa belum" kata nyonya Firda
"saya belum punya pasangan tante, El saat ini fokus kuliah lalu kerja masalah pasangan El belum berpikir untuk punya pasangan" kata El
Sedangkan Rey diam-diam menyimak percakapan keduanya. Dalam hati Rey bersorak gembira mendengar kata-kata El.
Sedangkan di restoran X Iyan dan Sisil telah selesai makan siang. Keduanya kembali ke kantor dan bersama-sama mengerjakan berkas keuangan kantor belum kekelar. Iyan yang hendak mengambil berkas tangan bertemu dengan tangan Sisil yang juga ingin mengambil berkas.
"Kenapa setiap aku bersentuhan dengan nih cewek, jantungku berdebar kencang seperti habis lari maraton" kata Iyan dalam hati
"Kenapa jantungku berdetak tak menentu bila bersentuhan dengan pak Iyan" kata Sisil dalam hati
"Apa jangan-jangan aku jatuh cinta sama dia" kata hati Sisil dan Rey bersamaan, kemudian pandangan mereka bertemu beberapa detik keduanya pun mememalingkan mukanya dan wajah keduanya memerah.
"Apa jalan pikiran kami sama" kata Iyan dalam hati
"jangan-jangan jalan pikiran kami sama, gak mungkin, mana mungkin itu terjadi" kata Sisil dalam hati
...****************...
semuanya, ini cerita pertama aku semoga kalian suka dengan ceritanya😊 dan jangan lupa dukunganya melalui vote😊 jika kalian suka ceritanya jangan lupa like untuk menyemangati author
Makasih yang udah mau mampir baca novel pertama yang aku buat😊😊😊
ceritanya bagus Thor tapi lembab kerana tidak terlalu peka dengan keadaan sekelilingnya