Sequel dari OH MY JENY
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
" Kau selalu bilang padaku, apa yang harus kau lakukan untuk membalas semuanya Dean?"
" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan!"
" Kalau begitu menikahlah dengan putriku!"
Deg
Tubuh Dean menegang seketika
Kebohongan yang dilakukan Bulan membuat sang ayah murka. Hingga Ken memaksa putrinya untuk menikah bersama pria pilihannya yaitu Dean sebastian. Seorang pengusaha sukses yang sangat cerdas dari Paris
"Aku sungguh tidak menyukainya, dia terlalu pendiam dia bukan tipeku sama sekali Dad"
Baca selanjutnya ➡➡➡
Selalu tinggalkan Jejak, Like dan Vote 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak akan menyentuhmu
-
-
Dean ikut membaringkan dirinya disamping Bulan. Gadis itu tidur seperti mayat samasekali tak menyadari Dean membawanya ke kamar. Netra coklat terang Dean terus menatapi Bulan, ia bergerak memiring dan menumpu tubuhnya dengan siku
Tangan Dean terulur menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Bulan. Bulu mata yang lentik menarik perhatian Dean, ia tak tahan untuk tidak menyentuhnya hingga Bulan merasa terusik
" Shut up Bryan. " gumam Bulan sambil menampar pipi Dean. Bahkan saat tertidur pun gadis itu masih saja galak dan menganiayanya
Dean segera meraih tangan Bulan di pipinya. Ia cekal dan ia perhatikan dengan lekat, jemari itu sangat lentik dua kali lipat lebih kecil dari miliknya. Lagi-lagi Dean tersenyum mengingat ucapannya tadi pada Jery
" Adikku?." ucap Dean mengulum senyumnya lalu kembali menatap wajahnya
" Aku akan menganggapmu adikku agar kita bisa hidup dengan baik dan nyaman mulai sekarang karena kau terlalu kecil untuk menjadi istriku." gumam Dean lalu membawa tubuh itu dalam pelukannya. Entah kenapa memeluk Bulan membuatnya sangat nyaman dan sepertinya Bulan pun merasakan hal yang sama. Gadis itu menyusupkan wajahnya didada Dean dan membalas pelukannya dengan begitu erat hingga Dean memejamkan mata meresapi kenyamanan itu
" Sejak kecil aku sangat menginginkan seorang adik, aku tidak pernah punya teman bermain, aku selalu berdua bersama mama dan aku tidak pernah punya waktu bermain karena harus membantu mama mencari uang. Bulan .. aku akan menyayangimu seperti seorang adik, tetaplah bersamaku, sejak kau ada rumah tidak terasa sepi dan aku tidak sendiri lagi. " gumam Dean lalu tak berapa lama ia pun ikut terlelap
" Anak durhaka tidak tahu diuntung. Mati saja kau." suara keras seorang pria memekik di telinga Dean, dan tangan besar itu terus menimpa tubuhnya yang menyusut takut menyisakan sakit yang membuat semua tulangnya terasa ngilu. Tubuh kecil Dean bergetar, airmata bahkan tak bisa keluar dari matanya karena Dean terlalu takut. Lalu tangan besar itu menggusurnya hingga Dean merasa sekujur tubuhnya terasa sakit, kaki, tangan dan punggung Dean dipenuhi luka dan berdarah karena terus bergesekan dengan aspal. Dean hanya terdiam tak menangis ataupun meronta, ia hanya mengepalkan kedua tangannya. Dean tidak mengenali tempat itu, semuanya terasa gelap, hanya suara tangisan sang mama yang terdengar dari jauh mencarinya. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya melayang saat dorongan dari belakang begitu kuat menghantamnya
Dean membuka kedua matanya seketika, nafasnya tersengal, keringat dingin tampak bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Dean terus mengusap wajahnya, ini mimpi buruk yang selalu datang berulang sejak Dean kehilangan sang Mama
" Huft mimpi itu lagi. " gumamnya lalu bangun . Maniknya mengedar setiap sudut kamar , ia tak menemukan Bulan setahunya tadi Bulan dalam pelukannya
" Bulan. " panggil Dean takut dengan nafas yang masih terengah
" Ada apa?" Bulan melongokan kepalanya dari pintu kamar mandi. Bulan mengernyitkan dahinya aneh melihat wajah Dean yang terlihat memucat dan berkeringat sampai rambutnya terlihat basah. Lalu ia mendekati Dean ke sisi ranjang. Secepat kilat Dean menarik Bulan hingga Bulan duduk dipangkuannya
" Kenapa kau tidak memelukku?" ucap Dean memelas dan terlihat ketakutan
" Aku tidak tahan ingin kekamar mandi tadi. "
" Peluk aku. " perintah Dean. Bulan langsung melakukannya, ia memeluk lehernya meskipun ia merasa aneh dengan sikap Dean dan lebih anehnya kenapa sekarang Bulan jadi penurut pada Dean. Spontan Dean melingkarkan kedua tangannya pada Bulan dan membenamkan wajahnya didada yang tertutupi kaos itu
" Dean jangan seperti ini. " pekik Bulan mencoba mendorong Dean namun Dean malah semakin merekatkan kedua tangannya
" Sebentar, hanya sebentar. " gumam Dean. Bulan hanya menghela nafasnya, sejujurnya ia merasa canggung dengan posisi seperti ini
" Mama .. Mama .. " gumam Dean lagi pelan nyaris tak bersuara
" Dean kau bermimpi buruk?"
Dean hanya menganggukan kepalanya pelan
" Baiklah jika itu mimpi buruk aku akan memakluminya. " ucap Bulan. Kini ia mengusap-usap rambut belakang pria itu, lembut dan membuat Dean tenang
" Kau seperti mamaku. " gumam Dean lagi
" Berhentilah mencari kesempatan," saut Bulan. Ia merasa tubuhnya mendadak panas dan geli dengan wajah Dean yang berada didadanya terlebih pria itu mendusel-duselkan hidungnya disana
Seketika Dean mengubah posisinya, ia bergerak berbaring kembali dengan wajah yang tak menjauh sedikitpun dari dada Bulan
" Aku tidak akan macam-macam. Aku tidak akan menyentuhmu." ucap Dean
" Baiklah, aku akan memegang ucapanmu. " saut Bulan membuat Dean langsung menjauhkan wajahnya dan menengadah menatap Bulan yang juga menatapnya. Mereka bersitatap cukup lama
" Kau tidak mau melakukannya denganku?"
" Aku terlalu kecil untuk melakukan hal seperti itu. " saut Bulan beralasan. Nyatanya ia telah berjanji akan memberikan semuanya pada James dan Bulan tidak akan mengingkari janji itu karena ia mencintai James. Namun raut wajah Bulan juga terlihat merasa bersalah pada Dean
" Aku juga tidak bernafsu denganmu. " ucap Dean menjauhkan tubuhnya lalu beranjak bangun
Bulan mendengus kesal, ia tiba-tiba merasa marah Dean mengatakan itu. Ia merasa terhina bahkan James yang dipuja-puja wanita pun sangat ingin menikmati tubuhnya
" Kau hanya bernafsu pada wanita dewasa itu? begitu?"
Dean turun dari kasur, ia merapihkan kemejanya yang kusut. Keringat yang merenung didahinya ia usap dengan sapu tangan dari saku celananya. Kemudian ia merapikan sedikit tatanan rambutnya yang acak-acakan di cermin, ia sama sekali tak menghiraukan Bulan yang kini memberikan tatapan tajam padanya
" Ayo kita pulang. " ajak Dean tanpa berniat menjawab pertanyaan Bulan dan keluar begitu saja
" Dean. " teriak Bulan geram lalu berlari keluar menyusul Dean
Mereka kini berada didalam mobil. Sejak dari kantor Dean gadis itu masih saja cemberut. begitupun dengan Dean pria itu juga diam tak bersuara mereka larut dalam pikirannya masing-masing
Dean memarkirkan mobilnya disebuah restaurant klasik yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia membuka pintu dan keluar begitu saja. Jika suami istri yang normal mungkin Dean akan membujuk dan merayu Bulan tetapi pria itu melengos begitu saja masuk kedalam restaurant meninggalkan Bulan yang semakin geram
Bulan terus celingukan kedalam restaurant itu berharap Dean menyusul dan membujuknya untuk masuk. Namun setelah lama menunggu ternyata Dean tak kunjung datang membuatnya mau tak mau keluar dari mobil dan menyusul Dean masuk kedalam
Tangan Bulan gatal ingin sekali menjambak rambut Dean saking kesalnya. Dan Bulan tidak mengerti kenapa ia sekesal ini hanya karena mendengar ucapan Dean yang tidak memiliki nafsu dengannya. Apa pria itu sudah benar-benar merebut hatinya dari James?
Bulan terus menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikirannya tentang Dean. Ia bukan wanita yang mudah jatuh cinta. Dengan James saja ia harus menunggu berbulan-bulan lamanya apalagi dengan Dean? yang notabennya tak ia sukai sejak dulu bahkan mereka selalu bertengkar meski Bulan akui belakangan ini sikap Dean melembut padanya
-
-