NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terdesak oleh Keadaan.

Kini, dua kotak makanan tersaji di atas meja. Aroma hidangan yang masih hangat membuat Nafisa kembali mengambil sendok. Ia menyuapkan makanan ke mulutnya, lalu mengunyah perlahan.

Sesekali, pandangannya melirik ke arah Dewangga yang duduk tak jauh darinya. Pria itu tampak menikmati makan siangnya tanpa banyak bicara.

Namun, di tengah aktivitas tersebut, Nafisa teringat pada kesepakatannya dengan Fiona. Ia meletakkan sendok, lalu menatap atasannya sejenak sebelum memberanikan diri membuka suara.

“Pak, saya boleh bertanya?”

Dewangga mengangkat pandangan. “Katakan.”

Nafisa merapatkan kedua tangannya di atas meja, berusaha menyusun kata-kata agar maksudnya tersampaikan dengan baik.

“Saya sedang mengajukan pengalihan jabatan saya, Pak.”

Dewangga menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh dengan kening sedikit berkerut.

“Maksudmu?”

“Saya dan Fiona sedang bersaing untuk menentukan desain terbaik. Kalau desain Fiona terpilih, saya harus menyerahkan jabatan kepala tim kepada dia.”

Dewangga terlihat meletakkan sendoknya. Tatapannya kini tertuju penuh pada Nafisa.

“Siapa yang membuat kesepakatan itu tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada saya?”

“Saya duluan, Pak.”

Dewangga mengamatinya selama beberapa saat, seolah berusaha memahami alasan di balik keputusan tersebut.

“Kenapa kamu cepat sekali mengambil keputusan, Nafisa?’

Nafisa tersenyum tipis. “Saya hanya ingin memberikan kesempatan kepada orang lain, Pak. Saya tinggal menunggu keputusan Bapak, itu saja. Lagi pula, saya belum terlalu senior di perusahaan. Apa pantas kalau saya tiba-tiba ditunjuk menjadi kepala tim?”

Ia mengembuskan napas pelan, kemudian meraih gelas minumnya. Setelah meneguk sedikit air, ia kembali menatap Dewangga.

“Lagipula, saya merasa lebih tenang menjadi karyawan biasa tanpa harus memegang jabatan. Rasanya lebih bebas. Jadi, saya berharap Bapak bisa menyetujui permintaan saya.”

Nafisa hendak kembali mengambil sendok, tetapi gerakannya terhenti ketika menyadari Dewangga sedang mencondongkan tubuh ke arahnya.

Pria itu rupanya hendak mengambil sesuatu di sisi meja, tepat di dekat tempat Nafisa duduk.

Jarak wajah mereka mendadak begitu dekat.

Mata Nafisa sontak membelalak. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas sorot mata Dewangga yang kini tertuju kepadanya. Jantungnya berdegup lebih cepat, membuatnya sejenak lupa pada kalimat yang baru saja hendak diucapkan.

‘Astaga, dekat sekali!’

Nafisa buru-buru memalingkan wajah. Ia menarik napas pelan, berusaha bersikap biasa saja meski pipinya terasa menghangat.

“Jadi apa?” tanya Dewangga.

Suara pria itu terdengar rendah, bahkan sedikit berbisik karena jarak mereka yang masih dekat.

Nafisa menelan ludah. “J-jadi, Bapak harus setuju.”

Dewangga menatapnya sesaat sebelum akhirnya kembali bersandar di kursinya.

Nafisa pun mengangguk kecil. “Iya, Pak. Terima kasih.”

Setelah itu, Nafisa kembali mengambil sendok dan melanjutkan makan siangnya. Ia berusaha memusatkan perhatian pada makanan di hadapannya, meski sesekali pandangannya tanpa sadar melirik ke arah Dewangga.

Dewangga yang duduk di seberang Nafisa perlahan meraih ponselnya. Ia melirik wanita itu sekilas, memastikan Nafisa sedang sibuk menikmati makanannya.

Setelah merasa aman, ia membuka aplikasi kamera, lalu mengarahkan lensa ponselnya ke wajah Nafisa.

Klik.

Sebuah foto berhasil diambil tanpa sepengetahuan wanita itu.

Dewangga segera menurunkan ponselnya dan membuka hasil jepretan tersebut. Sudut bibirnya terangkat tipis saat melihat wajah Nafisa yang tertangkap kamera dengan begitu jelas.

Beberapa saat kemudian setelah ia puas memperhatikan foto itu, Dewangga akhirnya mengunci layar dan meletakkannya di samping kotak makanan.

Ia lalu mengambil sendok dan melanjutkan makan siangnya. Sesekali, pandangannya mencuri-curi arah ke Nafisa.

Dewangga menahan senyum, lalu kembali menunduk untuk menyuapkan makanan ke mulutnya.

‘Sepertinya, menyimpan satu foto saja tidak ada salahnya.’

.

.

Waktu tanpa terasa terlah berlalu hingga langit berwarna kuning yang menghiasi cakrawala kini berubah warna oranye, tanpa sore akhirnya tiba.

Di sisi lain, Yulia duduk di ruang tamu sambil membaca majalah. Sesekali, ia membalik halaman dengan santai.

Namun, ketenangan itu terusik ketika suara pintu terbuka terdengar dari arah depan. Yulia mengalihkan pandangannya dari majalah, lalu menoleh ke arah pintu.

“Damar?”

Senyum tipis sempat terbit di bibirnya, tetapi perlahan menghilang ketika melihat pria itu masuk sambil menarik sebuah koper.

Yulia meletakkan majalahnya di atas meja, kemudian bangkit dari duduknya. “Kenapa bawa koper?” tanyanya penasaran.

Damar mengembuskan napas panjang. Wajahnya tampak kusut, seolah baru saja menghadapi masalah besar.

“Ayah mengusirku karena tetangga sudah pada tahu kalau aku selingkuh sama mertuaku sendiri, Sayang.”

Mata Yulia langsung terbelalak. “Kok bisa tahu?”

“Tetanggaku ternyata tuh nguping. Jadi, ya, begitulah.” Damar mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku juga gak tahu harus bagaimana. Pusing!”

Yulia terdiam. Perasaannya mendadak tidak tenang setelah mendengar pengakuan Damar.

Belum sempat Yulia mengatakan sesuatu, Damar sudah kembali menarik kopernya dan berjalan melewatinya begitu saja.

“Mas, mau ke mana?” tanyanya sambil bergegas mengikuti pria itu.

Namun, Damar tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju kamar, meninggalkannya yang semakin diliputi kecemasan.

Yulia memilih memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, menyusul Damar yang sudah masuk lebih dulu.

Setibanya di dalam kamar. Ia melihat pria itu duduk dengan gelisah di sisi ranjang.

“Masalah belum selesai, malah nambah lagi masalah. Sekarang harus bagaimana?” gumamnya pelan.

“Dam—”

“Apa?” sahut Damar, sedikit ketus.

Yulia mengurungkan niatnya untuk mengeluh. Ia menarik napas sebelum duduk di samping pria itu.

“Kita harus segera menikah dan pergi jauh dari sini. Aku takut tetangga di sini pada tahu kalau kita ....” Kalimatnya menggantung. Ia tidak sanggup melanjutkannya, apalagi membayangkan bagaimana orang-orang akan memandang dirinya jika perselingkuhan itu terbongkar.

Damar menoleh sekilas, lalu menghela napas panjang.

“Sabar, Sayang. Surat cerainya belum resmi keluar. Kalau begitu, kita menikah siri saja dulu. Kamu mau?”

Yulia mengerjap beberapa kali. “Nikah siri?” ulangnya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

“Iya. Mau atau enggak, itu kamu yang memutuskan, Sayang. Aku ikut saja.”

Yulia terdiam cukup lama. Pikirannya berkecamuk, menimbang berbagai kemungkinan yang bisa terjadi setelah keputusan itu diambil.

Namun, ia merasa tidak memiliki banyak pilihan. Hubungannya dengan Damar sudah telanjur terbongkar di lingkungan tempat tinggal pria itu. Belum lagi perutnya yang kini mulai membulat, membuatnya semakin sulit menyembunyikan kehamilannya.

Jika mereka terus menunda, masalah yang lebih besar bisa saja muncul.

Yulia akhirnya menoleh kepada Damar. “Kapan?”

“Secepatnya.”

Perempuan itu menunduk, meremas jemarinya sendiri sebelum akhirnya mengangguk pasrah.

“Baiklah,” jawabnya lirih.

Suasana pun seketika kening. Tak ada obrolan di antara mereka. Namun keheningan itu tak bertahan lama saat suara Damar kembali terdengar.

“Lalu, bagaimana? Nafisa setuju menjual rumah ini?”

Yulia yang mendengar pertanyaan Damar, ia menggeleng pelan.

“Enggak, Dam. Dia kekeuh gak mau menjual rumah itu.”

Damar mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. “Kalau begitu, jual saja tanpa persetujuannya. Palsukan tanda tangan Nafisa. Beres.”

Yulia langsung menoleh. “Tapi, apa nggak berisiko, Dam?” tanyanya ragu.

“Ini keadaan, Sayang.” Damar mengangkat bahu seolah masalah itu bukan sesuatu yang perlu dipusingkan. “Aku juga akan menjual mobilku. Kita butuh uang untuk memulai hidup baru di desa.”

Yulia terdiam. Menimbang-nimbang keputusannya untuk melakukan apa yang Damar ucapkan.

Akhirnya, ia menghela napas pasrah. “Baiklah, akan aku coba.”

Damar segera menoleh kepadanya. “Secepatnya, Sayang. Aku gak mau kita keteteran kalau berita tentang hubungan kita tersebar luas.”

“Iya, Dam. Nanti aku hubungi notaris mendiang suamiku.”

Setelah percakapan itu, suasana di antara mereka kembali tenang. Yulia bergeser mendekat, lalu duduk di pangkuan Damar. Tangannya meraih tangan pria itu dan membawanya ke perutnya yang mulai membesar.

“Sudah berapa hari kamu gak mengelus calon anak kita, Dam,” rengeknya manja.

Damar menurunkan pandangannya ke perut Yulia. Tangannya bergerak mengusapnya perlahan, membuat perempuan itu tersenyum tipis.

“Apa kamu gak mengidam, Sayang?” tanyanya.

“Ngidam, sih, tapi bagaimana lagi.” Yulia mengerucutkan bibir. “Aku tahan karena lagi pusing memikirkan masalah kita.”

Damar mengusap perutnya sekali lagi sebelum menatap wajah Yulia. “Kalau begitu, katakan saja. Kamu mau makan apa?”

Yulia langsung mengangkat wajahnya. “Makan rujak kayaknya enak, Sayang. Ayo, keluar beli rujak.”

Damar terkekeh melihat perubahan ekspresi perempuan itu. “Ayo.”

Yulia segera turun dari pangkuannya. Setelah Damar berdiri, ia merangkul lengan pria itu dan berjalan bersamanya menuju pintu depan.

Namun, begitu mereka keluar dari rumah, langkah Yulia sempat melambat.

Beberapa ibu-ibu yang berada di sekitar rumah tampak menatap ke arah mereka. Bahkan, salah seorang di antaranya berbisik kepada temannya sambil sesekali melirik Yulia dan Damar.

Seketika, perasaan Yulia menjadi tidak enak. Ia mulai bertanya-tanya apakah para tetangga itu sudah mendengar kabar tentang hubungan mereka.

Meski begitu, Yulia berusaha mengabaikan tatapan tersebut dan segera masuk ke mobil setelah Damar membukakan pintu untuknya. Tak lama kemudian, pria itu duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin.

Perlahan, mobil mereka bergerak meninggalkan pekarangan rumah.

Sepanjang perjalanan, Yulia masih belum mampu menyingkirkan kegelisahan yang sejak tadi mengusik pikirannya. Ia melirik Damar yang sedang fokus menyetir.

“Damar, kamu lihat gam ibu-ibu yang sedang berkumpul tadi?” tanyanya akhirnya.

Damar melirik sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan. “Lihat. Kenapa, Sayang?”

“Mereka sepertinya sedang membicarakan kita.”

“Biarkan saja,” jawab Damar singkat.

Yulia menoleh lebih jauh ke arah suaminya itu. “Tetap saja, bagaimana kalau kita digerebek ramai-ramai, Mas?”

Yulia menunggu beberapa saat, berharap pria itu memberikan jawaban. Namun, kini sudah melewati beberapa detik tapi dirinya tak kunjung mendapatkan jawab dari Damar.

Yulia memilih menyandarkan punggungnya ke kursi. Percuma saja bertanya jika Damar tidak mau menanggapi kekhawatirannya.

Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah gerobak penjual rujak di pinggir jalan.

“Kita beli di sini saja, ya, Sayang,” ujar Damar sembari melepas sabuk pengamannya.

Yulia mengangguk. Ia segera membuka pintu mobil, lalu turun dan berjalan menghampiri gerobak tersebut.

“Pak, rujaknya satu porsi,” pesannya kepada penjual.

“Siap, Bu!” sahut si penjual.

“Jangan pedas-pedas, Bang. Takut istri saya sakit perut.”

Yulia langsung menoleh kepada Damar. Senyum kecil terbit di bibirnya.

Yulia perlahan meraih tangan Damar, lalu menggenggamnya erat. Sentuhan itu membuat pria di sampingnya menoleh dengan alis sedikit terangkat.

“Kenapa, Sayang?” tanya Damar.

Yulia menatap wajahnya, berusaha menyunggingkan senyum meski masih ada kegelisahan yang tersisa di hatinya.

“Dam, makasih, ya.”

Damar mengernyit. “Untuk apa?”

“Karena kamu masih mau bersamaku.” Yulia mengusap punggung tangan pria itu dengan ibu jarinya. “Kamu masih mau menemani aku, padahal sekarang kita sedang menghadapi banyak masalah.”

Damar terkekeh kecil, lalu menggelengkan kepala. “Kamu ngomong apa, sih, Sayang? Kamu kayak takut saja aku pergi meninggalkan kamu.”

Yulia terdiam sesaat. Senyum di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan tatapan penuh kecemasan.

“Kamu benar. Aku takut kamu pergi meninggalkan aku dan calon anak kita.”

Dirinya tidak sedang bercanda dengan ucapannya yang menyiratkan rasa ketakutan yang selalu menyelimuti benaknya.

“Enggak akan, Sayang. Aku gak akan meninggalkan kamu.”

Yulia menghela napas lega.

“Ini, Bu, sudah. Lima belas ribu,” ujar penjual rujak sambil menyodorkan bungkusan pesanan mereka.

Yulia segera melepaskan genggaman tangannya, lalu merogoh tas untuk mengambil dompet. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan uang, Damar lebih dahulu menahan tangannya.

“Biar aku saja yang bayar, Sayang.”

Yulia menoleh, mendapati Damar sudah mengeluarkan uang pas dari dompetnya. Pria itu menyerahkannya kepada penjual rujak, kemudian menerima bungkusan pesanan mereka.

“Terimakasih, Bang,” ucap Damar kepada penjual sebelum berbalik menghadap Yulia.

“Ayo, Sayang.” Ia mengulurkan tangan untuk menggandeng Yulia. “Kita mau ke mana lagi?”

Yulia menerima uluran tangannya. Ia melirik ke arah jalan, lalu menggeleng pelan.

“Ke mana saja. Aku lagi malas pulang ke rumah.”

Damar mengangguk tanpa banyak bertanya. “Oke.”

Mereka pun berjalan kembali menuju mobil. Setelah Yulia masuk ke kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman, Damar meletakkan bungkusan rujak dengan hati-hati, lalu duduk di belakang kemudi.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!