NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Simulasi LDM (Long Distance Marriage)

"Saya Jelita Putri Haryono. Saya adalah mahasiswi yang ada dalam vidio yang akhir-akhir ini viral di media sosial. Yang melibatkan saya dan seorang anggota Batalyon XXX, Letnan Baskara Wirayudha. Dalam vidio saya menyatakan diri jika saya hamil anak dari Letnan Baskara. Saya sudah melakukan pemeriksaan secara medis di Rumah Sakit Pelita dan hasil medisnya menyatakan jika saya tidak hamil.

"Bersama dengan ini, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya pada Letnan Baskara dan keluarga besarnya yang sudah dirugikan. Nama baik dan kredibilitasnya tercoreng karena masalah ini. Ini adalah vidio klarifikasi dan permohonan maaf saya secara resmi saya sampaikan pada Letnan Baskara beserta istri dan keluarga besarnya.

"Saya harap, setelah ini tidak ada lagi orang yang bergunjing dan menjelek-jelekkan Letnan Baskara. Saya memohon maaf juga pada kedua orang tua saya yang juga ikut menanggung malu atas kejadian ini. Sebagai wujud pertanggungjawaban, saya juga sudah meminta pengunggah vidio untuk menarik dan menghapus vidio yang viral kemarin...."

Aira menatap vidio klarifikasi yang dilakukan Jelita. Sebuah vidio pendek ucapan permintaan maaf dari Jelita yang penontonnya tidak sebanyak vidio viralnya kemarin.

"Lihat apa?" tanya Sinta saat melihat Aira tampak serius melihat ponsel.

Aira menunjukkan vidio klarifikasi itu pada Sinta.

"Orang kalau bagian dibagi hal yang bener nggak dikomen dan nggak direpost. Giliran berita jelek dan belum tentu bener, udah gampang komen dan repost," ucap Aira sedikit merasa kesal.

"Ya udah sih, yang penting masalahnya udah selesai. Buktinya bocah itu nggak hamil anak suami lo. Kelar! Masalah orang-orang yang masih bergunjing, vidio klarifikasinya nggak direpost, nggak usah dipedulikan. Yang penting lo tahu, orang-orang terdekat lo dan suami lo tahu kebenarannya. Selesai!" ucap Sinta tak acuh.

Aira mengangguk beberapa kali. "Tapi, harusnya,kan, Baskara nggak sampai kena hukum," gumam Aira yang masih dapat didengar Sinta.

"Lho, memangnya suami lo di hukum?"

Aira kembali membuang napas kasar. Ia merebahkan setengah tubuhnya di atas meja jaga.

"Soalnya, dia kayaknya bakal ditugaskan ke daerah konflik," ucap Aira lesu.

Sinta mengerutkan dahi. "Yang bener lo?"

Aira mengangguk. "Harusnya gue sejak awal bantu dia biar masalahnya nggak tambah gede."

"Ya udah, sih, nggak usah dipikirin lagi. Ambil hikmahnya dan buang jeleknya. Gue pikir kalau suami lo anak KSAD bakal bebas tugas. Ternyata enggak?"

"Hah! Gue pikir juga begitu!"

"Ambulance dalam 1 menit!"

Suara Ilma menginterupsi. Aira dan Sinta kembali berlari menuju lobi IGD, menunggu pasien yang diantarkan menggunakan ambulance.

Ambulance berhenti, pintu dibuka cepat. Detik itu juga Aira terkejut saat melihat Baskara turun dengan seragam taktisnya lengkap dengan pelindung kepala dan senjata laras panjang.

Aira terkejut. Ia membulatkan mata dan memfokuskan diri pada Baskara yang ikut turun dari ambulance.

"Mas Bas?"

Baskara mengangguk.

"Hai, Ai. Aku antar Panca. Dia jatuh waktu latihan."

Brangkar di keluarkan. Panca terbaring dengan kepala sudah diposisikan tepat di tengah dengan menggunakan bantal. Kaki dan tangannya juga sudah mendapat pertolongan pertama. Dibalut dengan kain dan kayu.

"Fraktur tangan dan kaki kiri. Permintaan CT Scan karena kepala terbentur."

Aira mengangguk paham. Ia segera membawa pasien menuju ruang observasi.

Aira memeriksa dengan cepat kesadaran pasien.

Panca membuka mata. Ia menatap sekelilingnya dan segera dapat mengenali Aira.

"Dokter Aira, saya tidak apa-apa," ucap Panca lirih.

Ia sedikit meringis saat kembali merasakan nyeri di sekitar tangan dan kakinya.

"Kamu tenang dulu. Biar saya periksa."

Aira memeriksa kedua mata Panca yang dapat berfungsi dengan normal.

"Saya nggak apa-apa."

"Tetap harus diperiksa."

"Tapi saya nggak apa-apa," ulang Panca seraya mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang masih tersisa.

Sinta menatap kesal. Muak dengan Panca yang sejak tadi meronta.

"Diam!" ucap Sinta tegas dengan sorot mata yang mengintimidasi.

Panca terdiam. Ia terpaku menatap Sinta dengan sorot mata terkejut.

"Biar kami lakukan pekerjaan kami. Anda diam!" lanjut Sinta tegas.

Panca diam. Terpaku sejenak. Ia mengembuskan napas panjang, lalu perlahan merebahkan kembali tubuhnya dan membiarkan Aira serta Sinta memeriksanya.

"Coba duduk!" perintah Sinta.

Panca mencoba duduk. Ia sedikit meringis karena merasa tangan kirinya sedikit nyeri. Sinta pun memindai kaki kiri Panca yang tampak sedikit bengkak.

"Ilma, permintaan CT Scan dan Rontgen tangan kaki," ucap Sinta tegas usai memeriksa.

Panca terdiam seraya memperhatikan Sinta yang berlalu pergi, kemudian ia menatap Aira yang berdiri di samping brangkarnya sebelum Baskara masuk.

"Siapa, Mbak?" tanya Panca.

"Apa? Kamu sakit-sakit masih ngider aja matanya." Bukan Aira yang menjawab, melainkan Baskara yang baru saja masuk dan duduk di kursi samping brangkar.

"Ck! Nggak gitu, Suh. Dokter yang barusan tadi, galak banget. Siapa, sih? Temen Mbak Aira?" tanya Panca mulai penasaran.

Aira menahan tawanya, lalu mengangguk.

"Kamu, sih, pakai nggak mau diperiksa. Rasain dimarahin sama Dokter Sinta."

"Ooo ... namanya Dokter Sinta?" ucap Panca seraya mengangguk beberapa kali.

Baskara menatap rekannya itu, lalu memukul lengannya.

"Kepala, tangan, kaki, diurusin dulu! Lagian kenapa sih tadi pakai jatuh segala?" tanya Baskara setengah kesal.

Ia sudah khawatir setengah mati saat latihan penyelamatan sandera dan posisi repling, Panca terjatuh keras langsung ke tanah. Namun, yang dikhawatirkan justru cengengesan.

"Kepleset, Suh. Tangan licin. Pegangan lepas. Ya udah," jawab Panca santai.

Ia kembali diam saat melihat Sinta datang membawa kursi roda. Kehadirannya pun disambut tatapan Aira dan Baskara.

"Lo yang antar ke radiologi?" bisik Aira.

Sinta mengangguk. "Takut kabur," jawab Sinta yang masih dapat di dengar oleh Panca.

"Saya nggak akan kabur. Kaki saya sakit!" sahut Panca kesal.

Sinta menatap tajam, lalu meminta Panca untuk duduk di kursi roda yang sudah ia siapkan.

"Tadi soalnya nggak mau diperiksa. Takut pasien kabur nggak bayar!" celetuk Sinta.

"Wah, meremehkan! Dok, saya nggak mungkin kabur ada Danton saya nemenin. Kalau kabur bisa ditembak ditempat saya, Dok," ucap Panca usai berusaha keras memindahkan tubuhnya ke kursi roda.

Sinta mendorong Panca ditemani Baskara yang mengekor di belakangnya, lalu Aira menarik tangan Baskara dan sempat membuat Baskara menaikkan alisnya.

"Mas disini saja."

"Kenapa?"

"Biarin aja mereka. Lagipula Mas bawa senjata. Kalau ke sana apa orang-orang nggak takut nanti," ucap Aira.

Baskara menatap senjata dan pakaiannya sendiri, lalu tertawa.

"Oh, iya. Tadi panik jadi nggak letak senjata dulu."

"Tunggu di sini saja. Mas latihan sampai kapan?" tanya Aira.

"Minggu depan. Maaf, ya, mas belum bisa pulang. Habis liburan malah kamu harus sendirian di rumah."

Aira tersenyum.

"Nggak apa-apa. Persiapan tugas, Mas. Mas Panca ikut juga?"

Baskara mengangguk.

"Tapi kalau ternyata tangan dan kaki cidera apa akan ikut tugas juga?"

Baskara menatap Aira. Ia mengusap lembut puncak kepala istrinya itu seraya tersenyum.

"Atasan yang akan memutuskan dia berangkat atau tidak."

Aira mengangguk dan membulatkan bibirnya. Baskara yang sejak tadi memperhatikan sepintas wajah sang istri ada yang sedikit berubah. Wajah Aira tampak sedikit tirus.

"Kamu baik-baik saja, kan, Ai?"

"Hah? Baik, kok."

"Sudah makan?"

Belum sempat Aira menjawab, ia mendengar dari seorang perawat jika ada pasien lain yang akan datang dengan ambulance.

"Sebentar, ada pasien," ucap Aira.

Ia segera berlari menuju lobi IGD menyambut kedatangan ambulance dan pasiennya.

"Pasien serangan jantung!"

Aira mendorong bed dengan tergesa-gesa. Wajahnya panik saat baru saja mendapatkan pasien seorang laki-laki berumur sekitar enam puluh tahunan yang baru saja mengalami serangan jantung. Saat ini setiap detik sangat berharga.

"Kesadaran negatif! Code blue!" teriak Aira.

Ia segera naik ke atas tubuh pasien dan melakukan prosedur RJP (Resusitasi Jantung Paru). Aira menekan bagian dada pasien. Memompanya sebanyak 100 sampai 120 kali dalam satu menit. Aira berusaha semaksimal mungkin agar pasien mendapatkan kembali kesadarannya.

Hal itu tidak lepas dari pengamatan Baskara. Ada gurat-gurat rasa bangga yang menyelimutinya saat melihat Aira berhadapan dengan pasiennya. Baskara sadar, tidak hanya tugasnya menjaga negara yang berat. Tugas Aira juga sama beratnya. Jika Baskara menjadi garda terdepan pertahanan negara, Aira adalah garda terdepan menjaga agar jantung tetap berdetak dan nyawa pasien tetap bisa di selamatkan.

Panca sudah selesai diperiksa. Sinta sudah kembali dan meminta Panca untuk menunggu sejenak hasil radiologi rumah sakit sebelum mendapat keputusan selanjutnya.

Perhatian Baskara masih tertuju pada Aira yang masih bekerja keras mengembalikan denyut jantung pasiennya.

"Aku nggak apa-apa, Suh. Minta pulang saja. Nggak rela aku kalau namaku dicoret dari daftar tugas gara-gara cidera kecil ini."

Baskara menoleh ke sumber suara.

"Cidera kecil kalau tidak bisa pegang senjata juga tidak boleh berangkat, Suh. Kita akan ada di daerah konflik. Kondisi mental dan fisikmu harus prima. Tahu sendiri, kan? Kalau kamu nggak bisa pegang senjata, gimana bisa melawan musuh?"

Panca menggeram kesal. Wajahnya tampak kecewa. Lalu, Sinta kembali datang membawa hasil pemeriksaan radiologi.

"Hasil pemeriksaannya sudah keluar. Fraktur tangan kiri dan retak di bagian engkel. Harus rawat inap untuk prosedur operasi."

Mata Panca membulat. Sedetik itu juga ia menutup matanya dengan tangan kanannya. Bahunya bergetar. Ada sebuah kekecewaan terpendam di sana. Kecewa karena dia dapat dipastikan akan dicoret dari daftar tugasnya.

Sinta menatap Panca sedikit iba. Entah kenapa hasil pemeriksaan itu membuat pria yang semula terlihat kuat tiba-tiba menangis.

"Ndan ... saya diperintah Kapten Aga untuk menjemput."

Horas datang bersama Raditya. Mereka menatap Panca yang sedang bersedih di tempatnya.

"Patah tulang," ucap Baskara memberikan informasi pada kedua anggotanya. Keduanya menatap Panca dengan pandangan kosong, lalu tangan mereka terulur menepuk lengan kanan Panca seolah menyalurkan semangat untuk rekannya itu.

Panca membuka mata. Ia mengusap air matanya kasar, lalu menatap Sinta.

"Apa tidak bisa rawat jalan saja, Dok? Nanti pemulihannya lama kalau harus operasi," pinta Panca.

Raut wajahnya tampak sangat frustrasi. Kecewa seolah ia baru saja gagal mencapai sesuatu yang sudah ia impikan sejak lama.

Baskara meremas bahu kanan sahabatnya itu.

"Fokus pada kondisi kesehatanmu dulu."

"Nggak! Aku nggak rela kalau namaku di coret dari daftar. Aku nggak rela harus lihat kalian berangkat tanpa aku!" ujar Panca melampiaskan rasa kecewanya.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau Anda harus dirawat," ucap Sinta tegas.

Panca menatap kesal. "Dokter nggak akan paham!"

Sinta menatap tajam.

"Saya mungkin nggak paham soal latihan militer dan tugas negara, tapi saya paham kondisi badan Anda yang tidak memungkinkan untuk ikut terjun dalam penugasan! Kalau Anda tidak bisa menjaga diri Anda dan memaksa berangkat tugas, bunuh diri namanya!" ucap Sinta tegas.

Panca menatap Sinta. Ia kembali diam dan menurut. Ekspresinya pasrah.

"Kalau yang bilang dokter cantik. Nurut," bisik Horas.

Baskara tersenyum. Ia kembali menoleh menatap ruang tempat Aira bertugas. Ia melihat istrinya tampak kelelahan, rambutnya mulai tidak beraturan, begitu pula napasnya. Namun, ada gurat kelegaan di sana. Pasien yang tadi ia usahakan dan diperjuangkan itu... hidup.

Usai mengirimkan pasien ke ruang ICCU untuk mendapat perawatan jantung yang lebih intensif, Aira menatap sekeliling ruang IGD mencari Baskara yang sudah tidak terlihat lagi di sana.

"Suami lo udah balik ke barak. Dia mau tugas ya, Ra?" tanya Sinta seolah tahu apa yang Aira cari barusan.

Raut wajah Aira tampak sedikit kecewa. Bertemu Baskara setelah seminggu lebih tidak bertemu dan bahkan tidak berkomunikasi walau hanya sebentar cukup membuat hatinya menghangat.

Aira mengangguk. Ia pun duduk dan beristirahat di ruang dokter jaga.

"Tahu dari mana?" Tanyanya heran.

"Teman suami lo yang cidera tadi."

"Dia bilang kalau mau tugas?"

Sinta mengangguk. "Sampai nangis karena nggak bisa ikut gabung tugas. Maksa juga tu nggak mau dirawat dan operasi. Maunya ikut tugas. Segitunya ...."

Aira mendengus, lalu tertawa. "Lo akan paham kalau lo masuk dan terjun langsung menyelami kehidupan para halo dek itu. Eh, ini apa?" tanya Aira saat mendapati sebuah kantong makanan bertuliskan namanya.

"Oh, itu titipan suami lo."

Aira terkejut. "Hah? Mas Bas?"

"Cieee yang udah manggil ayangnya pake mas," goda Sinta.

Namun, Aira tidak menggubrisnya. Ia menatap kantong makanan itu dan berjalan menuju ruang loker untuk beristirahat sejenak.

Untuk : Dokter Aira.

Aira mengulum senyum saat membaca tulisan di luar kantong makanan itu. Ia membukanya perlahan dan melihat isi di dalam kantong itu. Segelas es matcha latte dan satu buah burger ukuran besar dengan dua daging pattie dan dua keju slice lengkap dengan sayurnya.

Aira mengerutkan dahi saat melihat sebuah sticky note terpasang di atas kertas penutup burgernya. Ada sebuah pesan tertulis disana.

Sedang simulasi LDM. Perintah komandan : makan!

_______________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!