"Mas, kamu harus tau. Mantan suamiku dulu, dia sempat menyesal karena mengambil keputusan terlalu cepat dan dalam keadaan emosi."
Menghirup nafas lebih dalam, Rey menyadari kesalahannya. "Dan itu sama dengan yang Mas lakukan ke kamu?"
"Iya,"
Rey menyesali ucapan talaknya yang diucapkan satu kali. Lantas apa yang membuat Fitri hampir dicerai lagi oleh suami keduanya?
Kesalahan apa yang dilakukannya dimasa lalu yang menyebabkan hidupnya di penuhi sejuta luka?
(adult romance)
Jangan lupa siapin tisu sebelum membaca dari bab awal 😢
@ana_miauw
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin memabukkan
Kedatangan Mama Nuning disambut baik oleh Ibu Sonya dan keluarga. Mereka berbincang di ruang tamu yang cukup besar, terlihatlah anak-anak tiri Ibu Sonya yang masih terlihat kecil-kecil. Paling kecil umur lima tahun, dan yang paling besar tujuh belas tahun.
Mama duduk disamping Ibu Sonya, Fitri bercanda dengan adik-adiknya di karpet bawah. Rey, duduk dengan Ayah tiri Fitri.
Kadang mereka terlihat serius, kadang tertawa terbahak-bahak. Tapi tetap suara Mama Nuning yang mendominasi. Beliau memang tak terkalahkan.
"Uwalah mbak, kok ya repot-repot oleh-olehnya banyak sekali." Ucap Ibu yang kebingungan, satu meja belakang penuh dengan buah tangannya.
"Bukan apa-apa itu Bu Sonya, hanya kue-kue kering biasa." Jawab Mama ramah.
"Sebelumnya saya minta maaf ya Bu Sonya, karena pernikahan ini baru dilakukan secara siri. Itu Pun kemarin kejadiannya memang nggak sengaja. Ya mungkin memang sudah jodoh mereka. Jodoh ngga ada yang tau kan?" Mama menjeda ucapannya.
"Dan, anak saya memang sedikit bodoh Bu Sonya."
Reyhan melebarkan matanya. "Mama!"
"Kalau putra Bu Nuning ngga bodoh, ngga besan kita Bu..." Ucap suami Bu Sonya.
"Haa... Ha... Haaaa..." Semua tergelak tawa karena celoteh suami Bu Sonya.
"Jadi kapan bisa diresmikan?" Tanya Bu Sonya.
"Rey sudah mengurus berkasnya ke KUA. Tapi kalau resepsi, Rey juga sudah tanyakan sama Fitri katanya tidak perlu, menurut kalian bagaimana?" Rey mengajukan pendapat. Mereka semua celingukan saling menatap satu sama lain berharap salah satunya memberi jawaban.
"Terserah yang mau menjalani saja Nak Reyhan. Kita semua jadi orang tua hanya ikut-ikutan. Kalau misalnya diadakan resepsi pasti kami akan datang." ucap Bu Sonya lembut.
"Baiklah, nanti dibicarakan lagi ya Bu..." ucap Reyhan.
Rupanya lemah lembut bicaranya Fitri itu menurun dari ibunya. Pantas saja, bikin betah lama-lama berbicara dengan beliau. Apalagi Mama yang kalau ketemu dengan sesama emak-emak langsung nyambung dan membicarakan kebutuhan. Nggak juga ketinggalan membicarakan sinetron-sinetron favoritnya ikan terbang.
Kalau Rey lebih membicarakan bisnis dan tempat-tempat yang sering dikunjungi. Sementar Fitri malah lebih senang mengajari adik-adiknya belajar online.
Percakapan masih berlanjut sampai semua orang-orang itu makan malam bersama. Hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rey, Fitri dan Mama pamit pulang takut kemalaman. Perjalanan yang ditempuh lumayan jauh.
***
"Pantas saja anaknya cantik begini, ibunya juga cantik siiih..." Puji Rey, keduanya sedang berjalan ke kamarnya. Satu tangan Rey melingkar dipinggang.
Membuka pintu kamar, "Iyaaah makasih, Mas Reyhaan. Mas Reyhan ganteng kalau nggak berulah," Dilihatnya tangan Reyhan menggelitik perut Fitri, pembuat Fitri sedikit kegelian. "Hihihi, aduuh tangannya nggak usah nakal!"
Fitri duduk di meja rias, satu tangannya melepas peniti-peniti hijab yang menusuk di sela-sela hijabnya. Aktifitasnya semakin payah, Reyhan terus menempel layaknya perangko.
"Biar aku bantu,"
"Cara bantunya gimana? Kalau melepas peniti cuma yang pake yang tau letaknya dimana."
Ucapan Fitri tidak mendapat jawaban, "Singkirkan kepalanya Mas, ini susah ngelepasnya."
"Iya, iya."
Beralih memeluk dari belakang Fitri merasakan Reyhan mengecup tengkuknya berulang-ulang membuat dirinya merasakan gelenyar-gelenyar aneh. Bagi perempuan, bagian itu termasuk titik sensitifnya.
Terlihat dari cermin, Fitri sangat malu. Wajahnya kian memanas yang dia lihat kini wajah itu bersemu merah.
Setelah kegiatan itu selesai, Fitri berbalik menghadap Reyhan. Kenapa dari tadi nungguin, Apa maunya sih? Dari tadi ndusel-ndusel terus, kenapa dia jadi mesum begini.
Namun belum sempat ia mengucap, mulutnya seketika langsung dibungkam.
"Mas... In... Empppttt emmpppttt.."
Awalnya Fitri memberontak, tapi lama-lama terbawa suasana. Kabut gairah menuntunnya hingga nafas mereka terengah-engah. Ciuman mereka terasa sangat memabukkan. Menahan tengkuknya, tangan Fitri mengalung pada leher Reyhan. Lama kelamaan ciuman itu semakin menuntut.
Melepas pagutannya, Fitri baru menyadari. "Mas, pintunya belum ditutup!"
Aaaahhh ganggu aja.
.....
To be continued.
@ana_miauw
pemeran utama pria selalu salah, dia dibohongi ujung2 dia juga yang salah, dia pergi kerja lama dia juga salah, dua ujuga yang dibuat menyesal, mengemis2 maaf, pemeran utama pria di novel selalu dibuat karakter bodoh yang Terima saja diperlakukan apapun dan pada lahir dia dibuat mengemis2 pada istrinya
pemeran utama wanita selalu akan dibenarkan, dia membohongi suami dengan kebohongan yang sangat menyakitkan tapi ujung2 pemeran utama pria juga yang salah dan mengemus maaf, pemeran utama wanita pergi dari rumah dan buat suami kayak pengemis dan menderita novel anggap biasa saja bukan kesalahan yang perlu dibesar2kan dan tidak perlu minta maaf tapi pemeran utama pria pergi karena kerja yang sangat penting udah dibuat jadi kesalahan fatal dan dapat hukuman dan diremehkan pria lain
vano lelaki lain yang suka pada pemeran utama pria terlalu diistimewakan dan tidak pernah dianggap salah dan bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita dan bebas memprovokasi pemeran utama pria, kesalahan sangat banyak, meleceh wanita, memaki jalang pada peran utama wanita, menghancurkan rumah tangga adiknya tapi karena tidak dianggap salah dana tidak perlu dapat balasan