NovelToon NovelToon
Tubuh Suci

Tubuh Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Reina

Yun Xiao, putra keluarga Yun terlahir dengan tubuh Suci, salah satu dari 7 tubuh yang mendominasi. Apakah Yun Xiao akan membawa kemakmuran yang belum pernah keluarga Yun lihat, atau pada akhirnya Yun Xiao akan sama seperti para leluhur tubuh Suci sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26 Orang Dari Masa Lalu, Yun Zhi

Disisi lain, Ji Qingyi berdiri atas lautan yang luas. Sama seperti Yun Xiao dia dapat melihat banyak gelembung di dalam laut itu.

"Takdir telah ditentukan!"

Sebuah gelembung besar muncul, Ji Qingyi hanya menatapnya. Dia tidak terlalu paham dengan apa yang sedang terjadi.

Gelembung itu pecah, seorang perempuan muncul. Dari pecahan gelembung itu. Rambutnya panjang berkilau laksana malam, kulitnya seputih giok, dan matanya bening seperti cahaya bulan.

Keanggunannya begitu memikat, seakan lautan sendiri tunduk pada pesonanya.

Riak halus menyambut setiap langkahnya di atas lautan, seolah air tak berani menenggelamkan kakinya. Ji Qingyi terdiam, matanya terpaku pada sosok itu, bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga aura agung yang mengelilinginya.

Perempuan itu menoleh perlahan, tatapannya menembus seakan mampu membaca hati. Senyum tipis tersungging di wajahnya, lembut namun menyimpan misteri.

"Pohon perjodohan memang sulit untuk dipahami." Kata perempuan itu lembut.

Matanya melirik Ji Qingyi, mencoba membaca takdirnya. Namun perempuan itu tidak dapat melihat apapun, seolah olah sesuatu menghalangi pengelihatannya.

"Gadis yang cantik." Perempuan itu memuji Ji Qingyi dan mendekatinya. "Nona ini bernama Yun Zhi, Siapa namamu Gadis kecil?"

Ji Qingyi mengambil pose hormat dan memperkenalkan namanya, "Gadis kecil ini bernama Ji Qingyi."

"Nama yang bagus." Yun Zhi tersenyum kecil. Dia lalu berjalan, pemandangan mereka seketika berubah, menjadi sebuah pegunungan yang telah hancur.

Tidak peduli ke arah mana mata melihat, hanya ada kehancuran.

Yun Zhi terus berjalan, Ji Qingyi hanya mengikutinya dari belakang.

Mereka telah berjalan sangat lama, dan pemandangan sama sekali tidak berubah. Ji Qingyi yakin mereka jalan lurus ke depan, tetapi entah kenapa Ji Qingyi berfikir kalau mereka hanya berputar di tempat yang sama.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan, Qingyi?"

"Tempat apa ini, Senior Yun Zhi?" Ji Qingyi bertanya tanpa ada keraguan.

"Panggil saja nona Yun Zhi." Yun Zhi diam untuk sesaat, dan berkata "Tempat dimana kematian menjemput ku..."

Ji Qingyi tertegun, langkahnya sempat terhenti. Kata-kata itu begitu ringan diucapkan Yun Zhi, namun mengandung beban yang berat.

“Tempat dimana kematian menjemputmu…?” Qingyi mengulang pelan, suaranya nyaris bergetar.

Yun Zhi berhenti berjalan, lalu menoleh. Angin dingin berhembus, membawa serpihan debu dan abu yang beterbangan di antara reruntuhan. Senyumnya tetap lembut, namun matanya memancarkan kesedihan yang sulit disembunyikan.

“Ya. Di sinilah akhir dari takdirku dulu, sekaligus awal dari sesuatu yang lebih besar.” Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang ramping menyapu udara, dan seketika bayangan samar-samar muncul di sekitar mereka, sosok-sosok bertarung, darah yang membasahi tanah, dan jeritan yang menggema.

Ji Qingyi memandang dengan ngeri, tapi Yun Zhi tetap tenang, seolah pemandangan itu hanyalah kenangan jauh yang sudah tak bisa menyentuhnya lagi.

“Qingyi,” suara Yun Zhi melembut, “takdir selalu berjalan dengan caranya sendiri. Bahkan bila aku, seorang yang dahulu menguasai langit dan bumi, tetap tak mampu mengubah akhir yang sudah digariskan.”

Ia menundukkan wajahnya sedikit, lalu menambahkan dengan suara hampir berbisik,

“Namun… bukan berarti takdir tidak bisa di ubah, Leluhurku telah membuktikannya."

Langkah Yun Zhi berhenti di atas tanah yang retak, dan seketika bayangan di sekeliling mereka menjadi semakin jelas. Tidak lagi samar, melainkan seperti kenyataan yang hidup kembali.

Langit yang merah darah, gunung-gunung runtuh, dan lautan api melahap dunia. Ji Qingyi melihatnya, mahluk hitam aneh menyerbu dari segala arah.

Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang perempuan yang wajahnya sama persis dengan Yun Zhi, mengenakan jubah putih yang berlumur darah. Dia berdiri sendirian, memegang pedang panjang berkilau, menghadapi para musuh tanpa rasa takut.

“Itu…” Ji Qingyi terbelalak.

“Itulah aku, di masa lalu,” bisik Yun Zhi, suaranya mengandung getir. “Saat dunia runtuh, aku memilih menjadi tembok terakhir, meski tahu akhirnya hanyalah kehancuran.”

Sosok Yun Zhi terus mengayunkan pedangnya, tubuhnya berlumur darah, entah darah musuh, entah darahnya sendiri. Nafasnya kian berat, langkahnya goyah, namun sorot matanya tetap teguh.

“Meski langit runtuh… aku tidak akan mundur,” gumamnya lirih.

Jeritan menggema, bumi retak, dan cahaya pedangnya semakin redup. Hingga akhirnya, sebuah tombak hitam menembus dadanya. Darah segar memancar, tubuhnya terhuyung, namun ia tetap berdiri.

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Yun Zhi menebas sekali lagi, cahaya pedang itu membelah kegelapan, membuat musuh mundur sesaat. Tapi tubuhnya tak lagi mampu menopang. Pedang jatuh dari genggaman, ia berlutut, dan darah terus mengalir membasahi tanah yang sudah porak-poranda.

Matanya yang bening menatap langit yang merah darah. Senyumnya samar, lebih seperti penyerahan diri.

“Namun aku tetaplah manusia…” bisiknya pelan.

“Garis keturunan keluarga Yun… memiliki dua kehidupan… dan aku… telah menggunakannya sekali.”

Kesadarannya mulai memudar, pandangannya kabur.

Saat itulah, dari tengah kekacauan, seorang pria berlari menembus kobaran api dan lautan musuh. Matanya basah, air mata jatuh deras di wajah yang kotor oleh debu dan darah.

“Yun Zhi!!!” teriaknya, suaranya keras dan penuh keputusasaan.

Ia meraih tubuh Yun Zhi yang hampir tumbang, memeluknya erat seolah ingin menahan agar jiwa itu tidak pergi.

“Jangan tinggalkan aku… bukan begini akhirnya…!” Suaranya pecah, sebuah tangisan yang menusuk jiwa, bergema di antara kehancuran.

Yun Zhi menatapnya samar, senyumnya tipis, begitu lembut.

“Maafkan aku… tapi takdirku sudah sampai di sini…”

Tangannya yang gemetar perlahan menyentuh wajah pria itu, menghapus air mata yang mengalir.

“Menangislah… bila itu membuatmu lebih kuat. Tapi jangan lupakan… aku akan selalu… ada di dalam hatimu.”

"Tidak... Aku Leng Yao tidak akan pernah menerima takdir seperti ini!"

Air mata terus berjatuhan, Leng Yao menjadi sangat marah, tetapi tangisan kesedihan juga dapat terdengar.

Sebuah gerbang besar muncul di langit, melihat itu Yun Zhi langsung terkejut, dia ingin berbicara tetapi dia tidak bisa melakukannya.

Dibalik gerbang itu, terlihat jutaan orang suci yang sedang bersujud, menyanyikan pujian akan Leng Yao.

Leng Yao tidak terlalu mempedulikannya, dia dengan paksa mengekstrak kehidupan orang suci itu dan memasukkan ke dalam tubuh Yun Zhi.

Energi suci itu sangat besar, meski begitu tetap tidak bisa menyelamatkan kehidupan Yun Zhi, energi suci itu hanya bisa menunda kematiannya.

Di tengah rasa sedih itu, Leng Yao telah memutuskannya, dengan menggendong tubuh Yun Zhi, Leng Yao pergi menuju ras rubah kuno, tempat dimana pohon perjodohan berada.

1
aurel
hai Thor aku sudah mampir, jangan lupa mampir juga di karya aku " istri ku adalah kakak ipar ku"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!