Raisa terlahir sebagai anak yang ceria selayaknya anak pada umumnya. Namun, setelah kejadian hilangnya sang adik semua kehangatan dan kebahagiaan yang dulu ia dapatkan di rumah sirna seketika. Hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang hilang berada di jalanan, melepas semua beban dan merasakan kebebasan yang telah lama terkurung dalam sangkar. Karena trauma masa lalu yang berbekas di hatinya, memaksanya terlihat kuat di hadapan semua orang. walau sebenarnya hatinya sangat rapuh, sampai dia tak tahu artinya pelukan hangat, pujian yang membanggakan dan kasih sayang yang tulus. Akankah Raisa menemukan jati dirinya lagi yang selama ini ia kubur dalam-dalam dan menemukan seseorang yang mampu melelehkan hatinya yang telah membeku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sjulerjn29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. UNEXPECTED
Ayah Raisa, yang sejak tadi menahan diri, akhirnya berdiri dengan langkah berat. Sorot matanya membara, napasnya memburu. Urat di pelipisnya menonjol.
“PACAR?!” suaranya mengguncang ruang tamu. Tangannya terangkat, menunjuk tajam ke arah anak buah Raisa. “Kamu berani main-main dengan putri saya?! Malam-malam keluar, pulang dengan luka-luka begini, lalu sekarang beraninya bilang kamu pacarnya?!”
Raisa tersentak, buru-buru berdiri walau kaki pincangnya membuat tubuhnya goyah. Ia menahan tangan ayahnya.
“Ayah, jangan! Ayah udah janji gak melukai orang lain lagi kan?"
“Diam, Raisa!” Ayahnya menoleh tajam, suaranya penuh getar emosi. Wajahnya kini antara murka, kecewa, sekaligus ketakutan kehilangan putri satu-satunya.
Raisa tak mampu menahan hingga tubuhnya terhempas ke punggung sofa, Sahabatnya yang melihat itu khawatir akhirnya maju, mencoba bicara.
“Yah… tenang dulu..Benar kata Raisa Yah."
“KAMU JUGA DIAM!" Ayah Raisa menghardik, membuat sahabat Raisa langsung terdiam, matanya kosong, seketika kaku di tempat.
Keheningan berikutnya begitu mencekam. Hanya terdengar rintihan Raisa yang mulai menjalar di tubuhnya dan napas berat ayahnya yang makin cepat, tanda penyakitnya mulai kambuh lagi. Bayangan sang ayah terpantul samar di dinding. Matanya memerah, wajahnya kusut dan penuh luka batin yang tak terlihat. Napasnya tersengal, dada terasa sesak seperti ditimpa beban yang sangat berat.
Tatapannya menusuk bagaikan belati, berpindah cepat dari anak buah Raisa ke putrinya. Tubuh atletisnya yang biasanya kokoh kini bergetar halus, bukan karena lemah, tapi karena amarah yang tak terbendung.
Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara dadanya naik turun cepat. Rasa khawatir, marah, dan sakit hati bercampur menjadi satu, membuat pikirannya kabur. Kata “pacar” itu bagai hantaman palu yang menyalakan kembali trauma di hatinya, membuatnya sulit membedakan kenyataan dan dugaan.
Ia tak langsung bicara, hanya berdiri terpaku dengan sorot mata liar, tapi semua orang di ruangan tahu bahwa badai besar baru saja bangkit di dalam dirinya.
“Tidak… Tidak mungkin… Ini semua gara-gara kamu…!!” Suaranya bergetar, napasnya tercekat.
Tiba-tiba, panik menyerang.
Tangan gemetar, jantung berdebar liar, dan otaknya diselimuti gelap yang membingungkan. Dia mulai berputar-putar di ruangan, suara napasnya berubah menjadi desis tajam.
“Aku gagal... Aku gagal jadi ayah… Aku gak bisa lindungin dia… Gak bisa...Dan sekarang dia bersama seorang pria..”
Tangannya menggenggam kepala, seperti ingin meremas segala kecemasan yang membanjiri pikirannya.
“Kamu bohong, Raisa... Kamu gak boleh…tinggalin Ayah Aku... aku…”
Panik itu berubah jadi amarah brutal yang tak terkendali. Amarah sang ayah makin menggila. Wajahnya merah padam, napasnya tersengal-sengal. Tanpa peduli siapa pun di sekitarnya, ia meraih apa saja yang bisa dijadikan pelampiasan. semua barang yang tertata rapih kini berserakan di lantai. Bahkan kursi kecil semua dilempar ke arah dinding, pecahannya beterbangan ke segala arah.
“Kalian menipuku! Semuanya pembohong!” teriaknya lantang, suara parau bercampur dengan deru napas tercekik.
Anak buah Raisa sigap merunduk, Raisa mundur perlahan sambil menutupi kepalanya dengan kedua lengan. Sementara sahabat Raisa hanya bisa menutup mulut dengan tangan, matanya melebar ngeri melihat pemandangan yang makin tak terkendali.
Namun ayah Raisa seolah kehilangan kendali penuh. Matanya berkaca-kaca tapi liar, Ia bahkan tak peduli jika barang yang dilempar bisa melukai putrinya sendiri. Tangannya meraih bingkai besar yang tergantung di dinding, lalu dihantamkan ke lantai hingga kayu dan kaca pecah berantakan.
“Aku tak butuh kebohongan lagi! Jangan rebut dia dariku!”
Suara keras itu mengguncang ruangan, membuat suasana makin mencekam. Getaran dari lemparan barang membuat lantai penuh pecahan tajam, aroma debu dan kayu terbakar gesekan memenuhi udara. Tubuhnya bergetar hebat, suara tangis dan jeritan pecah sekaligus.
“Tolong... tolong jangan pergi... Jangan tinggalkan aku...”
"Ayah, cukup…” Raisa mencoba meraih lengan ayahnya yang mulai kehilangan kendali, mencoba jadi jangkar di tengah amukan badai emosinya.
“Ayah, denger aku… Aku gak bakal tinggalin Ayah..Aku.."
Tapi sebelum kalimat itu selesai, kakinya lemas, rasa nyeri yang sejak tadi dipaksakan akhirnya menang dan tubuhnya limbung.
“Ra..Raisa!” Bobby berteriak dan berniat membantunya namun tertahan.
BRUK!!
Raisa terjatuh ke lantai, menahan teriakan karena sakit yang menjalar dari kakinya ke seluruh tubuh.
Seketika ruangan beku. Ayahnya langsung tersentak, seluruh kemarahannya lenyap digantikan kengerian.
“Raisa..."
Anak buahnya langsung maju, ingin membantu, tapi ayah Raisa mengangkat tangan.
“JANGAN SENTUH DIA!”
Lalu… lebih pelan…
“Jangan berani kamu dekati anak saya sedikitpun!! Atau.." Ayah Raisa mengangkat gelas berniat mengancamnya.
"Saya tidak peduli om, saya hanya khawatir terhadap Raisa itu saja.." Alex berusaha membantu Raisa untuk bangkit.
Tubuhnya yang kekar bergetar, urat-urat di lengannya menonjol jelas.
Dengan satu hentakan penuh emosi, ia meraih gelas kaca di meja lalu menghantamkannya ke lantai.
Pranggg!!
pecahan kaca berhamburan ke segala arah, memantulkan cahaya lampu kristal hingga berkilat-kilat.
Raisa tersentak melangkah mundur, kakinya hampir goyah karena pincang.
Refleks, anak buahnya langsung meraih pinggang Raisa dari samping, menariknya mendekat ke dadanya. Dengan cepat ia memutar tubuhnya sehingga punggungnya yang lebar dan penuh luka lebam jadi tameng untuk Raisa.
Raisa terselip di dalam pelukan itu kepalanya hampir menempel ke dada anak buahnya, bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat.
Tangannya menahan bahu Raisa dengan kuat, satu lagi melingkari punggungnya erat, seolah berkata “Aku akan lindungi kamu, apapun yang terjadi.”
Pecahan kaca beterbangan mengenai punggungnya, bahkan ada yang nyaris mengenai lengan Raisa, tapi berhasil ditangkis oleh lengannya yang kuat.
Mata Raisa melebar, air mata mulai menetes. Ia bisa merasakan betapa erat dan tulus pelukan itu, tapi di sisi lain justru membuat situasi makin berbahaya.
Karena saat ayahnya melihat itu, amarahnya justru memuncak. Tatapannya berubah jadi bara api.
Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup kuat, dan ia berteriak parau.
“Lepaskan putriku sekarang juga!!!”
Anak buah Raisa tidak bergerak, masih memeluk Raisa erat, tubuhnya sedikit membungkuk ke depan untuk melindunginya dari pecahan kaca yang berserakan. Bahunya naik turun karena menahan napas berat, tapi sorot matanya jelas bahwa ia siap menanggung apa pun demi melindungi bosnya itu.
Namun bukannya mereda, adegan itu justru menyulut bara emosi ayah Raisa. Matanya membelalak, wajahnya merah padam, napasnya semakin memburu.
“LEPASKAN PUTRI SAYA!” teriaknya.
Tangannya mengepal, tubuh atletisnya maju beberapa langkah dengan langkah berat yang menakutkan.
Tangan ayah Raisa yang berotot meraih sebuah piala besar berlapis emas yang terpajang megah. Itu bukan sekadar hiasan tapi piala itu simbol kejayaan, hasil kerja kerasnya bertahun-tahun. Tapi dalam ledakan emosinya, semua arti itu hilang.
Dengan raungan penuh amarah, ia mengangkat piala itu tinggi-tinggi, lalu membantingnya ke lantai. Suaranya menggema, logamnya ringsek, pecahannya berserakan, sebagian melenting menghantam kaki kursi. Napas ayah Raisa semakin berat, dada naik turun liar, wajahnya memerah, urat-urat lehernya menegang. Ia tak lagi melihat ruangan sebagai rumah, melainkan medan pelampiasan.
Bersambung...
Apa emosi Ayah Raisa akan mereda?
Dapatkah Alex melindungi Raisa dari amukan sang ayah?
Bagaimana dengan Bobby yang juga mulai kambuh dan berusaha menahannya sendiri?
Kawal terus kelanjutannya ya jangan lupa kasih suport seperti vote, like, komen dan subscribe agar tidak ketinggalan ceritanya ya. Terimakasih yang sudah setia semoga aku tetap semangat melanjutkan kisah Raisa.