A Mystery Thriller Novel
Hansel hanyalah biang onar di sekolah lamanya. Predikat cowok tampan yang suka menebar cinta sana-sini melekat kuat. Namun saat terpaksa pindah sekolah, semuanya berubah. Hansel dihadapkan pada perkara sulit. Tepatnya saat seorang gadis misterius dengan tatapan kosong mengatakan, "Aku bisa membuat hidupmu lebih menarik dibanding kisah dari novel thriller."
Anehnya, gadis itu benar. Kasus-kasus bunuh diri marak terjadi di SMA Gajah Mada. Yang mengherankan: kenapa si gadis misterius ikut menjadi korban?
Teror tak berhenti sampai di situ. Setelah kasus bunuh diri, dilaporkan ada seorang gadis yang menginjak mata manusia di depan gerbang.
Hansel tentu tak tinggal diam, mendadak ia berubah menjadi Detektif Holmes-Poirot. Dibantu dengan rekan sejawat, Ali dan Grisel, ia akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Namun yang tidak Hansel tahu, akan ada luka besar yang menunggunya di akhir permainan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minnie Harissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Lima: Hanselio Kaban
Akhirnya kami menyimpulkan apa maksud dari kartu tersebut meski belum yakin betul.
Kartu pertama adalah As Sekop. Di dalam permainan kartu remi, As adalah nilai yang paling tinggi, lebih tinggi dibandingkan King yang nilainya 12. Dan di antara As-as lain, As sekop juga yang paling tinggi. Dan dari penelusuran kami, kartu-kartu tersebut juga memiliki sejarah makna. Untuk sekop sendiri berarti sebagai sebuah kepercayaan.
Sampai di sini kami tidak menemukan petunjuk lain lagi. Jadi kami mencoba menggabungkan antara sebuah kepercayaan dan seorang Nixie.
"Apa maksudnya Nixie adalah orang kepercayaan seseorang," cetus Grisel di kursinya. Kami memutuskan untuk mendiskusikan hal ini sepulang sekolah. Lalu di sinilah kami sekarang, di sebuah kafe tak jauh dari sekolah, membahas petunjuk yang kami dapat ditemani secangkir kopi.
"Terus orang itu merasa dikhianati dan merencanakan kematian Nixie," sambung Tengku yang agak mendrama.
"Mungkin," sahut Grisel lagi. Dari wajahnya sebenarnya ia tak yakin dengan jawaban Tengku, dan aku pun begitu. Tapi bisa saja sih.
Lalu untuk kartu kedua adalah joker. Saat pertama kali kami melihat, aku yakin, dalam hati masing-masing kami paham betul kenapa dipilih kartu ini untuk Jay.
“A joker is a little fool who is different from everyone else. He’s not a club, diamond, heart, or spade. He’s not an eight or a nine, a king or a jack. He is an outsider. He is placed in the same pack as the other cards, but he doesn’t belong there. Therefore, he can be removed without anybody missing him.”
(Jostein Gaarder – The Solitaire Mystery)
Menurutku joker itu benar-benar menyedihkan. Di satu sisi dia memang tampak keren dengan kemampuannya bisa menjadi apa saja, tapi dia adalah orang yang tidak punya jati diri. Seperti seekor bunglon yang berubah-ubah di segala kondisi.
"Joker ini munafik banget," cetus Grisel tiba-tiba. "Kayaknya dia mampu melakukan apa saja asal membawa kemenangan untuk orang yang dipihakinya."
"Kenapa kamu bilang gitu, Sel?" tanya Tengku dengan muka bingung.
"Ya, dia berubah-ubah di segala kondisi. Berarti hari ini dia bisa jadi kawan, besok-besok dia bisa jadi lawan dong."
"Aku setuju. Dalam permainan kartu juga begitu kan." Aku memberi pendapat sambil menyesap minumanku. "Siapa yang beruntung nemuin dia, maka dia bakal menjadi milik orang itu seutuhnya, dan menjadi apa pun yang orang itu butuhkan. Kalo butuh tiga, dia bisa gantikan. Kalo butuh Queen, dia juga bisa gantikan. Tapi saat selesai, maka dia juga selesai menjadi tiga atau pun Queen. Di lain kesempatan dia berubah lagi menjadi yang lain."
"Licik," potong Tengku dengan muka kesal. Kami berdua menaruh atensi penuh padanya, dan tiba-tiba ia salah tingkah. "Kesannya emang licik, kan?"
"Iya. Sifat yang kayak gitu bisa bikin seseorang jadi pengkhianat..."
"Pengkhianat?" Empat bola mata memerhatikanku. "Apa menurut kalian dia juga berkhianat?"
"Untuk sementara kita asumsikan gitu dulu. Mungkin masih terlalu cepat. Tapi ini bukan cuma pembunuhan acak, kayak para psikopat gila di luar sana, karena sampai ngasi petunjuk seperti ini. Pasti ada sebabnya, dan kita anggap aja dulu ini karena pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang paling dipercaya dan orang yang, mungkin awalnya adalah kawan, tiba-tiba berubah jadi lawan." Grisel tampak puas setelah mengatakan pendapatnya tersebut.
Aku sendiri tahu belum ada bukti kuat untuk statement kami ini. Kami masih mengira-ngira saja. Tapi... "Siapa kira-kira orang yang dikhianati sama mereka berdua?"
"Itu tugas kita buat nyari tau!" Grisel tersenyum semringah.
Senyum itu juga menular pada Tengku. "Kamu semangat banget ya, Sel."
"Apa berlebihan?" tanyanya malu-malu.
"Enggak kok. Gue suka semangat lo."
Tengku mencibir. "Suka semangatnya doang atau orangnya juga?"
"Suka o---"
Sial. Aku memberi pelototan pada Tengku yang malah tertawa girang. Kenapa Bisa-bisanya dia bertanya begitu?
***
"Kenapa gue bisa tiba-tiba nanya gitu. Bos bener-bener gak tau kenapa?" Di sampingku Tengku menampilkan wajah tengil yang rasanya ingin kutenggelamkan dalam kubangan air di dalam toilet. Alisnya terangkat tinggi, wajah kinclongnya dipenuhi cengiran lebar. Dia senang sekali mengajak bermain-main.
"Gue serius nanya!" kataku menahan rasa berang. Kini kami tinggal berdua di kafe selepas beberapa menit lalu Grisel memutuskan untuk pergi lebih dahulu.
Namun orang itu malah tertawa sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Bos-bos," ucapnya dengan nada prihatin, seolah-olah dia baru melihat makhluk terbodoh di muka bumi. "Muka Bos itu udah menjelaskan segalanya. Sayang banget Bos gak pernah ngeliat ekspresi sendiri waktu berhadapan sama Grisel. Mata Bos itu berbinar-binar setiap kali natap Grisel yang lagi bicara. Bos juga selalu menyunggingkan senyum samar kalo ngeliat dia. Memang samar banget, tapi itu senyum paling tulus yang pernah gue liat dari wajah Bos."
Hell. Apa-apaan itu! "Jijik banget banget gue denger penjelasan lo!" kataku tak terima dengan penjelasan yang menurunkan harga diriku. Seorang Hansel yang dulunya banyak dikejar-kejar wanita. Yang dulunya hanya menjadikan cewek-cewek sebagai hiburan. Makhluk yang dulu hanya ia pedulikan jika ia perlu saja. Apa itu tinggal dulu, ya? Tinggal masa lalu saja.
"Bos memang se'jijik' itu kali kalo menyangkut Grisel."
"Ah, ngarang lo," bantahku tetap tak terima. Maksudku, aku sama sekali tak merasa begitu. Lalu kenapa bisa-bisanya aku jadi sememalukan yang disebutkan Tengku. Jelas cowok ini hanya bercanda.
Iya, kan?
"Terserah deh kalo Bos gak percaya. Tapi nenek-nenek asem urat juga tau Bos suka sama dia."
Nenek-nenek asem urat tahu, tapi aku sendiri tidak tahu? Kan lucu. Ini pasti prank. Tapi... ada satu hal yang menggangguku. "Lo berasumsi kalo gue suka sama Grisel, benar?"
"Ih, gaya ngomong Bos lebay, ih."
Aku mendecih. "Jawab aja."
"Iya-iya."
"Oke, anggap aja itu emang bener." Aku memutar bola mata melihat senyum penuh arti dari bibir Tengku. "Terus... Kenapa lo gak marah sama gue kalo tau?"
Muka Tengku berubah bodoh. "Marah buat apa?"
Aku berdecak. Aduh... Payah memang punya teman begini. "Makanya jangan terlalu rakus sama kualitas wajah, jadinya Tuhan gak ngasih lo otak kan!"
"Ouch, sakit." Orang lebay itu memegangi dadanya. "Jahat banget sih lu, Bos."
"Maksud gue itu, lo selama ini nyepik-nyepik Grisel. Dan kesel juga waktu ngeliat Dieter sok akrab sama dia. Tapi kenapa lo santai aja kalo tau gue suka dia?"
Tengku kembali cengar-cengir. Sial. Aku salah bicara.
"Jawab aja!"
"Oke," responsnya cepat. "Bos, gue ini gak suka sama Grisel kayak lo suka sama dia. Gue godain dia ya karena gue ini kan emang pemikat hati wanita. Haram hukumnya kalo cewek cantik gak gue godain."
Wajahku menekuk mendengar penjelasannya. Sok kegantengan banget.
"Tapi ya gitu... Sebagai cowok ganteng, atau lebih tepatnya, yang paling ganteng di sekolah ini, gue gak bakal tertarik secara romantis ke cewek-cewek. Cowok ganteng itu milik semua cewek. Payah nanti urusannya kalo gue punya pacar. Kasihan fans-fans gue. Takutnya fans club gue juga dibubarin. Sayang banget kan, karena satu cewek, gue kehilangan berpuluh-puluh yang lain."
Aku yang dulu mungkin akan sangat menyetujui kata-katanya itu, lalu mengajak Tengku tos, dan kami akhirnya tertawa bersama. Tapi sekarang aku merasa dia jahanam sekali. Apalagi kepercayaan dirinya yang berlebihan itu.
"Coba gue tebak, lo kesel ngeliat Dieter bukan karena dia mantan Grisel kan, tapi karena dia lebih ganteng dari elo."
"Lebih ganteng apanya?" teriak Tengku di kupingku. "Muka bule kayak gitu rentan keliatan tua. Gak kayak muka gue gini, baby face."
"Muka kayak Dieter itu lebih macho kali."
Tengku memandangku aneh.
"Apa?"
"Jijik kali Bos muji cowok lain macho."
Ah. Susahnya bicara pada kacung satu ini. Tapi jika dipikir-pikir lagi memang benar sih. Astagfirullah. Bisa-bisanya aku berpikir tentang kemachoan seorang cowok.
***
Sincerely,
Dark Pappermint
puas juga gk apa"x dia mati😏
apa mungkin Gisel, Seno dan si mantannya Gisel arghh... bingung aku