NovelToon NovelToon
Adeline In Disguise

Adeline In Disguise

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:391.1k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Kedua orang tuanya meninggal berbarengan, tiga adik kecilnya terancam kelaparan, Adeline Dewi dipaksa untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih instan daripada sekedar 'pendamping bayaran'. Memang dasar semprul, ia nekat menjadi ART di rumah konglomerat memalsukan foto di ijazah dengan dokumen dari calon kandidat sebelumnya yang ia tipu.

Tujuan utama Adeline, mencuri dan balas dendam.
Sedikit-sedikit barang mewah yang tampaknya tak terpakai, ia ambil dan ia jual. Syukur-syukur dapat perhiasan.
Tapi aksinya ketahuan oleh pemilik rumah, Argan Atmorajasa. Salah Adeline sendiri, dengan seenaknya mencium laki-laki itu di depan teman-teman Argan. Sudah pasti pria itu langsung menandai Adeline.

Tapi, ada alasan kuat kenapa di usia 36 Argan masih melajang. Dan saat tahu alasannya, membuat Adeline ingin mundur saja rasanya.

Di lain pihak ia juga diganggu oleh Dewa, Si Kepala Bodyguard dengan pesona luar biasa. Ia menyimpan sejuta misteri, apakah termasuk rahasia Adeline juga?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lagi-Lagi Penembakan

Pria tinggi besar yang dihormati sekaligus di benci banyak kalangan pengusaha itu mengangkat dagunya seakan menantang semua orang yang ada di ruangan mewah itu.

Dinginnya AC, kakunya lantai marmer dan dinding granit itu tidak bisa membuat semua orang nyaman. Pria di atas podium itu seakan datang membawa berita buruk.

Padahal ia hanya tersenyum sinis. Itu saja sudah membuat banyak orang merinding sekaligus mencibir.

Karena tidak ada yang tahu hal licik apa lagi yang sedang Argan Atmorajasa pikirkan untuk lawannya.

Sementara, Argan Atmorajasa ‘Yang Asli’ berdiri di sisinya, agak ke belakang, dengan senyum semanis bidadara seakan berusaha menenangkan banyak orang terhadap tingkah Argan Yang palsu.

Padahal, semakin manis senyumnya, itu kode bagi Argan Palsu untuk berakting mengintimidasi semuanya.

Dan Adeline menyadari keanehan itu.

Argan selalu memakai earpiece yang sama bentuknya dengan yang dipakai Dewa. Saat menjawab pertanyaan yang spontan dari audience, Argan selalu bilang ‘kita lihat saja nanti’. Namun ada beberapa petinggi dan pejabat penting yang melontarkan pertanyaan, sudah pasti harus langsung di jawab, karena mereka klien penting bagi perusahaan, Argan akan berpikir seenak, sementara Dewa memalingkan wajahnya

Seakan Dewa sedang berbicara dengan berbisik, dan Argan mendengarkan instruksi darinya.

Jawaban dari Argan selanjutnya sudah pasti bukan ‘kita lihat saja nanti’ tapi berkaitan dengan tujuan perusahaan sebenarnya.

Kalau jawabannya agak panjang, Dewa turun dari podium seakan mengamankan, tapi Adeline bisa melihat kalau bibir Dewa sedang berbicara.

Orang lain mungkin mengira kalau Dewa sedang berbicara kepada rekan sesama bodyguardnya, namun Adeline yang mengenali semua bodyguard Argan bisa melihat kalau tidak ada satu pun yang berbicara. Malah justru, Argan berbicara sesuai dengan gerak mulut Dewa.

Namun dalam diamnya, Adeline mewaspadai seseorang.

Pria itu ada di seberang sana, berjalan perlahan sambil menatap ke arah Argan. Seakan ia menyimpan dendam yang cukup lama yang sebentar lagi akan meledak keluar.

Ryan.

Adeline mengernyit, lalu menyambar ponselnya. Ia googling informasi mengenai siapa saja kakak dari Ryan Bestari ini.

Lalu didapat sebuah nama, Arnold Bestari.

Adeline mencari-cari wajah yang mirip dengan foto Arnold di google. Dan ketemu. Ada Arnold di antara para eksekutif muda, menatap ke arah Argan sambil tersenyum. Kumpulan di sana itu adalah para klien dari Venezio Grup, perusahaan milik Argan.

Saat sedang memikirkan mengenai bagaimana kedua bersaudara itu bereaksi berbeda terhadap Argan, seorang wanita berdiri di sebelah Adeline.

“Ya Pak, aduh saya tidak tahu Pak, maafkan saya ya Pak. Baik Pak, besok pagi akan saya rapikan. Maaf sekali lagi Pak...” desis wanita di sebelah Adeline dengan lirih sambil berbicara lewat teleponnya.

“Duh gimana iniiii...” dan wanita itu pun mengeluh sambil menutup sambungan teleponnya. Kelihatannya ada masalah dalam pekerjaannya. Hal itu membuat Adeline mengernyit dan menoleh.

Lalu langsung buang muka.

Tentu saja ia buang muka.

Di sebelahnya berdiri wanita yang paling tidak ingin ditemuinya.

Ade Putri.

“Kenapa ni cewek di sini sih?!” bisik Adeline kaget banget.

Perlahan kakinya ia geser ke samping, berusaha menjauh.

Geser sekali lagi.

Sekali lagi...

Sekali lag-

“Eh, aku kayaknya kenal kamu deh...” Dan Ade Putri pun mengernyit sambil menatap Adeline.

Adeline menoleh lalu mengangkat dagunya, “Siapa ya?” tanyanya berpura-pura tak kenal.

“Di suatu tempat... di mana ya? Lupa aku. Kamu salah satu rekanan bukan?”

“Rekanan apa ya?” Adeline balik bertanya sambil pasang tampang jutek.

“Eh? Kamu ada pekerjaan yang berhubungan dengan C-Corp tidak?”

“C-Corp? Hm... sepertinya tidak.” Ini juga bohong, padahal ada.

“Aku kerja di C-Corp, mungkin kita pernah bertemu.”

“Bisa jadi.” Adeline mengangguk sambil memalingkan wajahnya ke segala arah agar tidak terlalu diingat Ade Putri. Ditambah, ia sekali lagi menggeser kakinya ke samping. Pokoknya sebisa mungkin kabur dari sana.

“Itu Boss ku,” Ade Putri malah mendekat sambil menunjuk ke seorang pria yang duduk di sebelah Arnold. “Namanya Randy Gaspar. Apa kamu kenal dia?”

“Oh. Oke.” Jawab Adeline asal-asalan.

“Kalau kamu mau tahu, meja di sana itu diperuntukkan bagi rekanan Venezio Grup. Termasuk Boss ku. Sohib Kental Atmorajasa, hehe.” Kata Ade Putri.

“Hm... di sebelah Boss kamu, ada Arnold Bestari. Bukannya itu perusahaan saingan ya?” tanya Adeline.

“Kalau Pak Arnoldnya bukan pesaing, Tapi kubu Ryan Bestari, adiknya Pak Arnold, baru pesaing Venezio. Bestari Grup sekarang jadi dua kubu soalnya. Katanya kalau kelompoknya Ryan, dia langkahnya cepat namun tidak terkendali, sifatnya destruktif, menghancurkan. Sementara kalau kubunya Pak Arnold, berusaha santai dan menjaga relasi dengan rival-rivalnya, lebih sportif, intinya.” Kata Ade Putri.

Kalimat itu langsung membuat bulu kuduk Adeline meremang. Ia merasakan adanya suatu firasat buruk. Perasaannya langsung tidak enak.

Ia ingat ucapannya ke Ryan tempo dulu.

“Ini kesempatan kamu untuk menjegal lawan. Semua orang benci padamu, jadi bertindaklah seperti Joker. Kamu tidak perlu terlihat baik. Semakin jahat kamu, semakin kamu diakui.”

Kata-kata yang ini dia lontarkan ke Ryan saat mereka di kamar VIP.

“Faaaaakkkk...” desis Adeline super duper menyesal. “Gue ngasih wejangan ke sikopet...”

“Kenapa Mbak?” tanya Ade Putri.

“Nggak... nggak papa.” Adeline mengibaskan tangannya tapi lalu memegangi perutnya yang mual.

“Eh, kita belum kenalan ya? Aku Ade Putri. Kamu siapa? Dari perusahaan mana?” Ade Putri mengulurkan tangannya.

“Aku... bukan siapa-siapa, nggak usah kenal aku, nanti kamu nyesel.” Adelie masih berusaha melipir menjauh.

“Aku beneran yakin kita pernah ketemu loh. Wajah kamu terasa familiar soalnya.” Kata Ade Putri sambil mengernyit.

Adeline mengernyit sebal ke Ade Putri. Lalu matanya berusaha mencari posisi dimana Ryan berada.

Ryan berdiri di seberang mereka, sekitar jarak 10 meter. Menatap masam ke arah Argan dengan tangan disembunyikan di kantong celananya.

Namun wajah laki-laki itu menoleh ke arah lain. Dan sedikit mengangguk.

Adeline mengikuti arah tatapannya.

Seorang pria mengenakan baju batik, seragam yang diperuntukan bagi karyawan hotel dan wartawan. Mengangguk ke arah Ryan.

Lalu maju perlahan ke arah podium sambil mengangkat ponselnya seakan sedang merekam, namun tangan yang satunya ke arah pinggang, seakan berusaha mencabut sesuatu benda dari sana.

Posisi pria berbaju batik itu berada tepat di bawah podium di mana Argan berada.

Sementara Dewa sedang di pinggir panggung di sisi satunya karena sedang memberi instruksi ke Argan, Bodyguard yang lain ada di sudut-sudut panggung namun seakan tidak menyadari kalau pria berbaju batik itu berjalan mendekat. Karena Wartawan memang kerap berlalu-lalang.

Kalau hanya berbaju batik mungkin tidak mencurigakan, karena di sini karyawan hotel berseliweran, Namun masalahnya orang yang satu ini saling mengangguk dengan Ryan di sana. Mereka jelas saling kenal.

Adeline reflek maju ke arah Argan, ia berjalan agak terburu-buru.

“Eh... aku ingat kamu sekarang! Kamu waktu itu ketemu aku di rumah Atmo-" seru Ade Putri.

Namun Adeline tidak mengindahkannya dan langsung berlari ke arah Argan, posisi terdekatnya saat ini.

Karena kalau lewat bawah podium, ia harus menembus kerumunan orang, ia lebih baik menembus kerumunan Bodyguard.

“Mbak Ade, kok buru-bur-“

“Pinjem badan lo Gard!” potong Adeline sambil teriak ke arah Bodyguard Argan, ia lari sekuat tenaga, naik ke atas meja, loncat dan menginjak dada si Bodyguard sebagai pijakan transit, padahal itu orang di posisi berdiri loh, lalu lompat ke arah podium, dan menerjang Argan.

DORR!! DORR!!

Tepat saat bunyi peluru ditembakkan.

Semua hadirin kaget dan langsung berteriak,

Para Bodyguard Argan sigap membekuk si pelaku.

“Ryan Bestari!!” seru Adeline ke Dewa.

Dewa mengejar Ryan Bestari yang kini berusaha melarikan diri.

Masalahnya, gerak Dewa agak lambat karena betisnya masih luka akibat tertembak.

Ryan berlari menaiki tangga, mungkin di atas sana sudah ada helikopter menunggunya.

Adeline pun melihat kesempatan untuk memanjat ke atas.

“Boss! Angkat gue ke atas!!” seru Adeline ke Argan.

“Astaga!! Lo Gila!!” seru Argan Shock. Tapi ia berdiri juga dan mengangkat tubuh Adeline.

“Bahu yang satunya go blok!!” Seru Argan saat bahunya diinjak Adeline. Ni cewek suka banget sih nginjak badan orang.

“Sori lupa Njir!!” seru Adeline sambil memanjat ke area lampu podium, lalu meraih railing selasar.

Ia lompat dari sana dan akhirnya mendarat di lantai dua, berlari sekuat tenaganya ke arah tangga darurat dengan gaun megar-megar dan sepatu hak tinggi 8 senti, tepat saat Ryan keluar dari tangga dan berhadapan dengannya.

“Stop!!” seru Adeline menghadangnya.

Ryan terdiam dan menghentikan langkahnya saat melihat Adeline.

“Wah, wah... sayang. Kamu serius nih?” tanya Ryan.

1
Daanii Irsyad Aufa
selalu keren sih karya ka septira.. banyak konspirasi dan intrik d setiap novelnya. yg jelas no female menyek menyek. semuanya wanita tangguh walo semengeringakan apa hidup nya
Daanii Irsyad Aufa
Rin calonmu ko loh, JK esema tapi 🤣🤣
Daanii Irsyad Aufa
betul bgt dek vlada. anyway MBK Ellin AQ minta 1porsi sedekah yah
Daanii Irsyad Aufa
duh si Ellin lama2 ko kaya black widow sih
Daanii Irsyad Aufa
🤣🤣🤣🤣 berlian mata Najwa tajem dong 🤭😄
Katherina Ajawaila
lucu nih kayanya ceritanya, seru aja
sukensri hardiati
waaduuuh...ini sih belum tamat
Bundanya Pandu Pharamadina
Adeline
ponii
👍👍
ponii
oke lurrrr
gasss🔥🔥🔥🔥👌
ˢᵘᵖᵉʳ爪乇🦸
percayalah, kamu bukan terlahir utk menjadi kriminil Del, makanya semesta tak merestui niat jelekmu
Hesti Ariani
yg menjadi bacaan wajib kalau ke NT, banyak penulis bagus, tapi karya mbak Septira ini one of a kind, beda. bagiku ini adalah mood bosster
Kustri
admil sdh bisa jd wali koq, syarat" sdh memenuhi
Kustri
gmn crits'a, gara" brangkas kebuka koq malah jd urusan selakangan🤫😁
Kustri
hati" ada CCTV
Kustri
adel pinter ngopeni adik"e, ra ene sg iri"an
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
cemburu buta gak cari siapa yg slah main trabas bunuh sana sini gendeng lu
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
langsung main kepemilikan ya pak, kagak udah basa basi 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
panas mas 🤭🤣
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
adel malu ihh, ditolak loh 🤭🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!