Karin Emira Brisia adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang ceria. Namun di malam itu, hidupnya hancur seketika saat bertemu dengan CEO yang dingin.
CEO itu menyeretnya ke sebuah kamar dan mengambil sesuatu yang paling berharga darinya. Akhirnya, Karin di usir dari rumahnya sendiri dan melakukan kawin kontrak.
Ig : @reinata_r
Untuk readers tersayang
Jangan lupa boom like dan vote nya yah, dan masukkan ke list favorite kalian. Selalu beri dukungan buat author yah...
Gomawo chingu 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
Happy Reading...
Desiran awan hitam mulai menghiasi langit biru, sinar matahari mulai memberontak dan menyusup melewati celah-celah awan hitam yang tak lagi kokoh dengan pertahanannya.
Sudah 5 hari Karin berkutat dengan kegiatannya di kampus. Sinta yang merasa bosan dan ingin refreshing pun mengajak Karin singgah ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
" Sin, uangku tinggal goceng nih. Ambil di ATM dulu yuk "
" Siap boss... . "
Mereka akhirnya singgah terlebih dahulu di ATM yang terdapat di dalam mall itu. Setelah Sinta berhasil menggesek kartunya, kini giliran Karin yang mencoba menggesek kartu debit yang diberikan Marcel untuk pertama kalinya.
Deg...
Jantung Karin seolah ingin melompat keluar saat memandangi angka-angka yang berjejer di layar mesin ATM, membuatnya mencabut kartu itu tanpa mengambil sepeserpun dari dalamnya.
" Udah? " Tanya Sinta yang tadi menunggu Karin di luar.
" Bentar "
Karin mengeluarkan ponselnya dari tas selempangnya, mencari-cari nama asisten Reihan yang bertengger di urutan paling atas nomor kontak yang disimpannya.
" Halo nona, ada yang bisa saya bantu? " Reyhan memulai obrolannya.
" Maaf asisten Rey, kartu debit yang dulu anda berikan pada saya sepertinya salah. "
" Maksutnya? "
" Saldo ATM nya satu miliar lebih, sepertinya anda salah memberi kartu pada saya "
Mendengar temannya menyemut angka satu miliyar membuat Sinta yang masih di sampingnya terlonjak kaget, " Rin... ".
" Ssstttt... . " Karin membungkam Sinta dengan desisannya.
" Kartu itu memang diperuntukkan untuk anda nona, nona bebas untuk membelanjakannya "
" Tapi... "
" Maaf nona, saya ada pertemuan bisnis bersama tuan marcel. Saya tutup dulu..."
Telepon pun terputus, tapi Karin masih mematung di tempatnya. Sinta menepuk pundak Karin yang membuat Karin terlonjak dari lamunannya.
" Rin, beneran yang ku dengar? Kartu debit yang di kasih suamimu saldonya satu miliar lebih? "
Karin mengangguk, Sinta yang disampingnya langsung menutup mulutnya yang menganga sebelum meneteskan air liurnya.
" Gila, suamimu sekaya itu sampai ngasih kamu satu miliyar " Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya takjub.
" Sana ambil uang, aku udah lapar nih " Sambung Sinta yang hanya di balas dengan anggukan ringan dari Karin.
Karin memasuki ATM itu untuk kedua kalinya, mengambil uang 500 ribu dan langsung memasukkannya ke dalam dompet. Sekarang dompetnya tak lagi sepi setelah 5 lembar pecahan 100 ribu menjadi penghuni barunya.
Sinta dan Karin menyambangi tempat buah terlebih dahulu, Karin yang sedari tadi merengek ingin memakan buah stoberi, membuat Sinta berdecak kesal tapi akhirnya menurutinya.
Karin mengambil 4 box kecil stroberi yang terlihat sangat segar, langsung membayarnya tanpa menambah belanjaannya karena hanya itu yang ia inginkan sekarang.
Karin dan Sinta duduk berhadapan di sebuah restoran Korea didalam mall. Karin mulai melahap stroberinya, sedang Sinta hanya duduk mematung melihat kerakusan temannya itu sembari menunggu makanan pesanannya.
" Rin, nggak kembung perut lo ngabisin 4 box stroberi sendiri? "
" Enak lagi Sin, mau? "
Karin menyodorkan stroberi yang hanya tersisa dua biji, membuat Sinta menolaknya karena tak tega merenggut biji terakhir dari Karin.
Mereka pun mulai menikmati makanannya, Karin yang tadi sudah menghabiskan 4 box stroberi seolah masih kelaparan dengan melahap makanannya dengan rakus.
Kringggggg.....
Bunyi ponsel berhasil menusuk kedua pasang telinga itu. Baru saja melahap setengah dari makanannya, membuat Sinta menghentikan aktifitasnya sejenak dan mengangkat telepon yang berdering di saku tas nya.
" Apa sih mas... . " Sewot Sinta yang selalu mendapat gangguan dari kakak laki-lakinya.
" ... "
" Apa! Katanya tiga hari lagi. Oke, aku kesana sekarang. "
Sinta memutus sambungan teleponnya.
" Ada apa Sin? "
" Bokap gue udah pulang Rin, mas Bagas nyuruh gue jemput di bandara, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri? "
" Santai aja Sin, salam buat om Reimon ya. Nanti kapan-kapan aku sempetin jenguk "
Sinta akhirnya meninggalkan Karin seorang diri, sedang Karin masih melanjutkan makanannya karena merasa sayang kalau harus meninggalkan makanan menggiurkan itu.
Setelah selesai dengan makanannya, Karin segera keluar dari restoran itu berniat untuk pulang. Tiba-tiba kepalanya terasa sangat berat, pandangannya mulai kabur. Ia menepikan tubuhnya menyender dinding, sedang tangannya setia memegangi kepalanya berusaha menetralisir rasa pusingnya.
Tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya di bahunya, menjadi penopang kakinya yang kini mulai lemah tak bertenaga.
" Karin, kamu sakit? "
Karin menoleh, menatap laki-laki yang kini setia mencengkeram bahunya
" Pak Beni..., Kepala saya pusing banget pak. Bisa tolong anter saya duduk di kursi itu pak? " Karin menunjuk kursi yang berjejer rapi di depannya.
Beni tak keberatan, ia setia mendekap Karin yang sudah tak berdaya itu dan mengantarnya menuju kursi yang berjarak tak jauh darinya.
Tanpa di sangka, sepasang sorot mata tajam kini tengah menatap Karin dan Beni penuh dengan amarah. Pemilik sorot mata itu mengepalkan tangannya, seolah siap menerkam apapun untuk melampiaskan amarahnya.
" Tuan...? "
" Kamu selesaikan rapatnya "
__________
Hi hi hi🐣
Happy reading tercintah...
luph luph luph😘😘😘
tapi cba penulisan nya jangan kbnyakan nya 🙏🙏🙏