Clarissa Atmaja yang baru kembali dari studinya disambut dengan tanggal pernikahan untuk menikahi laki-laki yang sudah menjadi tunangannya, laki-laki pilihan papanya. Namun, saat kembalinya ia dipertemukan dengan laki-laki yang menggetarkan hatinya, dan membuatnya jatuh cinta.
Angga yang dulunya pria yang hangat, berubah jadi dingin dan tak ingin lagi mengenal dengan yang namanya perempuan karena sakit hati dengan perempuan masa lalunya. Sehingga, membuat orang-orang berpikir dan menganggapnya laki-laki yang tidak normal atau tidak menyukai perempuan. Tetapi, Rissa bertekad untuk mengejar cintanya, dan menaklukkan laki-laki yang ia sukai. Tidak peduli dengan statusnya yang sudah bertunangan, dan tentang isu mengenai laki-laki yang ia sukai.
Mampukah Rissa menaklukkan hati Angga Wijaya atau ia akan menikahi laki-laki pilihan papanya yang sudah menjadi tunangannya?
oh ya kak jika berkenan follow Instagram aku mamika759
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngintipin apaan?
Melly berlari masuk ke kamarnya, memberitahukan tamu yang berada di luar pada kedua sahabatnya.
"Lo, kenapa?" tanya Anggun terkejut melihat Melly yang berlarian masuk ke kamarnya. Melly mengatur nafasnya yang tersengal. Rissa yang melihat gelagat aneh sahabatnya itu, ia berpikir pasti tamu yang tak diharapkan datang.
"Siapa yang datang? Apa Erik kemari lagi? Apa Bokap gue?" tebak Rissa.
Melly mengatur ritme nafasnya sebelum menjawabnya.
"Kakak, Lo, kemari!" jawab Melly.
"Reno?" ucap Rissa dan Anggun bersamaan mendengar ucapan Melly.
"Iya." Melly menganggukkan kepalanya.
"Nyun.. buruan, Lo, buka Nyun!" Melly meminta Anggun untuk membukakan pintu buat Reno.
"Enak aja! Lo, aja yang buka! Gue malas ketemu sama dia! Mau ngapain lagi dia kemari?" rutu Anggun.
"Woy! adeknya ada di sini. Pasti mau nemuin adeknya lah!" seru Melly. "Lo, ngga usah ke-GRan, mikir dia mau nemuin, Lo!"
"Siapa yang ke-GRan?" kesal Anggun.
"Emang, kenapa, Lo?" tanya Rissa dengan menaikkan dagunya menatap Anggun.
"Nggak, gue nggak kenapa-napa. Gue cuma malas aja liat kakak, Lo!" ucap Anggun.
Rissa heran, ia menoleh ke arah Melly meminta penjelasan. Ia tidak tahu, ada permasalahan apa sahabatnya dengan kakaknya sehingga membuat sahabatnya itu sangat kesal dengan kakaknya.
"Ris, mau dibukain apa nggak?" Melly meminta persetujuan Rissa sebelum membukakan pintu.
"Iya, Lo, suruh masuk aja!" jawab Rissa lesu.
"Nyun, buka, Nyun!" Melly menyuruh Anggun membukakan pintu untuk Reno.
Anggun memutar bola matanya jengah, ia berjalan menuju ke kamar mandi. Bukannya berjalan keluar membukakan pintu.
Rissa menggeleng melihat tingkah sahabatnya. "Dia kenapa?" Rissa menoleh ke arah Melly.
"Gue juga nggak tau!" jawab Melly. "Ris, Lo, aja yang buka pintunya! Gue juga malas liat muka kakak, Lo, yang nggak tau malu itu!" ucap Melly.
Mereka tak menghiraukan suara bel yang terus berbunyi. Reno tidak berhenti menekan belnya. "Emang, Reno, ngapain kalian?" Rissa masih penasaran apa yang tidak ia ketahui selama ia di London.
"Udah, Lo, bukain aja pintunya!" Melly berjalan ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya.
Rissa menggeleng melihat sahabatnya itu. Ia pun berjalan keluar kamarnya.
"Iya, sabar!" teriak Rissa berjalan menuju pintu. Rissa membuka pintu apartemennya, terlihat sosok tampan yang wajahnya hampir mirip dengan dirinya, yang usianya terpaut lima tahun lebih tua dari Rissa.
"Masuk!" Rissa menggeser tubuhnya ke samping, membiarkan kakaknya masuk.
Rissa berjalan menuju sofa, diikuti Reno dibelakangnya.
"Papa nyuruh, Mas, jemput kamu!" ucap Reno.
Rissa mendesah, mendudukkan tubuhnya di sofa, dan meminta kakaknya untuk duduk.
"Aku belom mau pulang. Bilang sama Papa, nanti aku pulang. Tapi, nggak sekarang!"
"Kamu bilang sendiri, nanti di rumah! Mas, kesini hanya untuk menjemput kamu, bukan untuk menyampaikan pesan kamu, ke papa," jawab Reno. Reno melihat sekeliling, ia tidak melihat penampakan sosok kedua sahabat adiknya itu.
"Kamu sendirian?" Rissa menggeleng. "Mereka di kamar." jawabnya.
Reno menganggukkan kepalanya, matanya mencari kamar yang di tempati adiknya, dan kedua sahabatnya. Matanya berhenti saat melihat sebuah pintu yang tertutup rapat. Itu pasti kamar yang ditempati adiknya, dan sahabatnya, tebak Reno.
"Cepetan, kamu siap-siap!" perintah Reno. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 19.06. "Mas, masih ada kerjaan!" sambungnya.
"Mas, aku belom mau pulang, sekarang!" jawab Rissa kesal, karena kakaknya masih memaksanya.
Reno menggeleng, ia mengambil ponselnya dari saku jaketnya. Ia segera mencari nomor papanya, dan langsung menghubungi papanya.
"Ini, kamu ngomong sendiri!" Reno memberikan ponselnya pada adiknya setelah tersambung. Ia tahu adiknya itu menolak pulang karena tidak ingin menikah dengan Erik. Namun, dirinya juga tidak bisa membantu, karena orang yang paling berkuasa di rumah mereka. Di rumah, Tidak ada yang berani membantah papanya.
Rissa menghela nafasnya, dengan malas ia meraih ponsel Reno dari tangannya, "Malam, Pa. Rissa malam ini, belum bisa pulang!"
"Iya, Pa. Nanti Rissa pulang. Tapi, Nggak sekarang."
"Pa, Rissa pasti pulang. Papa nggak usah khawatir Rissa kabur. Lagian, Papa juga tahu Rissa tinggal dimana, dan dimana Rissa kerja."
"Iya.. iya.. bentar lagi Rissa pulang!" Rissa langsung mengembalikan ponsel kakaknya.
Rissa menghela nafasnya panjang, menyandarkan tubuhnya. Ia tidak ingin pulang, tetapi papanya mengancamnya. Papanya akan meminta perusahaan yang memperkerjakan sahabatnya untuk memberhentikan kedua sahabatnya.
"Bokap, Lo, bisanya ngancem, Mulu!" rutu Rissa pada Reno.
"Udah, cepet kamu bersiap!" perintah Reno.
"Iya, aku ganti baju dulu!" Rissa beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya mengganti pakaiannya.
***
Dengan tidak bersemangat, ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Reno udah pulang?" Rissa menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Anggun.
"Dia mau jemput, Lo!" tanya Melly.
"Iya," jawab Rissa lesu. Ia berjalan ke arah lemari, membukanya dan mengambil pakaian yang akan ia pakai.
"Lo, yakin mau pulang?" tanya Anggun.
"Iya," jawabnya sungkan.
Melly dan Anggun saling melirik. Mereka tidak bisa berkata apa-apa, dan tidak bisa menolong Rissa, karena yang dihadapi papanya Rissa. Mereka hanya melihat Rissa membuka pakaiannya dari atas tempat tidur.
Ting tong.. Suara bel apartemen kembali berbunyi.
"Nggun, Lo, buka, Nggun!" ucap Melly saat bel apartemen mereka kembali berbunyi. Yah, tadi Rissa mengunci pintunya.
"Lo, aja!" sahut Anggun.
Rissa menggelengkan kepalanya, "Jadi, Lo, mau nyuruh gue?" ucap Rissa menatap kedua sahabatnya. Mereka berdua kompak menganggukkan kepalanya.
Rissa mendesah, "Kalian kenapa sih? Apa kakak gue ganggu kalian?" ucap Rissa menatap kedua sahabatnya bergantian. Mereka berdua hanya diam.
"Kalian liat, gue belom selesai ganti baju! Apa kalian tega liat penampilan gue kayak mau berenang, ngebukain pintu?" kesal Rissa. Yah, karena dirinya hanya memakai dalaman.
"Sudah, kalian buka aja! Paling itu, orang yang nganterin makanan kita. Kalau Reno ganggu kalian, kalian teriak aja panggil gue!" ucap Rissa.
"Lo, aja yang buka! Lo, kan yang pesen makan!" perintah Melly pada Anggun. Anggun membulatkan matanya menatap Melly mendengar ucapan sahabatnya itu.
Anggun berdecih, "Awas aja, Lo, kalau ikut makan!" Melly yang mendengar ucapan Anggun menyengir, "Nasi goreng, gue!"
"Ngga ada nasi goreng. Lo, ngga pesen makan!"
Anggun menghela nafasnya panjang, "Kakak Lo, tu ada telinga, tapi pura-pura nggak denger! Buka apa pintu. Dasar berat tangan banget!" rutu Anggun bangkit dari duduknya, berjalan keluar membukakan pintu.
"Dia kenapa? Perasaan gue, dia nggak lagi PMS, deh!" tanya Rissa pada Melly. Melly hanya diam, ia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu. Melly membuka sedikit pintu kamarnya untuk mengintip Anggun.
"Lo, ngintipin apaan?" Rissa merasa aneh, ia berjalan mendekati Melly, dan ikut mengintip.
Bersambung
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa dukungannya, rate 5, vote, like, dan komentar 😍😘