Acara reuni yang seharusnya berjalan dengan menyenangkan, seketika berubah menjadi mencekam dan menegangkan, saat seorang pembunuh berantai muncul membunuh satu persatu para alumni yang mengikuti acara reunian tersebut.
Membuat mereka yang mengikuti acara reunian saling curiga dan saling tak percaya. Pembunuh berantai berada diantara mereka.
Akankah ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Apa si Nicholas masih berada di gudang? Pasti dia pelakunya!" David berkata dengan begitu emosi sambil masuk ke dalam vila, berjalan menuju gudang, dia harus memastikan sendiri apakah Nicholas ada disana atau tidak. Karena hanya Nicholas satu-satunya orang yang paling mencurigakan bagi David.
Bukan hanya David, tapi semua orang yang ada disana pun bergegas untuk mengikuti David, karena mereka juga ingin memastikan apakah Nicholas berada di gudang atau tidak. Jika Nicholas tidak berada disana, itu artinya berarti kecurigaan mereka selama ini benar bahwa memang Nicholas pelaku yang sebenarnya.
Ceklek!
Begitu sampai di depan gudang, David pun membuka pintu, dia dan yang lainnya tertegun begitu melihat Nicholas masih berada disana, dengan keadaan kaki dan tangannya masih terikat dengan tali.
Helena sangat merasakan lega karena Nicholas mau mendengarkan saran darinya untuk tidak melarikan diri, padahal jika Nicholas berniat untuk melarikan diri, dia bisa melakukannya, apalagi di gudang tersebut terdapat jendela yang berukuran cukup besar.
Nicholas mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja ada tiga belas orang masuk ke dalam gudang secara bersamaan seakan sedang memastikan sesuatu. Membuat dia berpikir apakah terjadi sesuatu di saat mereka sedang menjelajah.
"Ada apa ini? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Nicholas sambil menatap ke arah ketiga belas orang yang ada dihadapannya secara bergantian.
Nicholas baru menyadari bahwa sahabatnya tidak ada disana, "Heru mana?"
Helena menggigit bibir bawahnya, saat ini dia sama sekali tidak tahu keberadaan Heru dimana, entah Heru sedang tersesat atau mungkin saja pria itu bernasib sama seperti Sisil dan Arkan yang dibunuh oleh psikopat yang mengerikan itu.
Sementara David terlihat salah tingkah, karena dia takut ketahuan sudah membunuh Heru.
"Heru menghilang." lirih Helena dengan nada pelan.
Nicholas nampak mematung mendengarnya, apa yang Helena katakan kepadanya sungguh sebuah pukulan yang berat untuknya. Mata pria itu nampak berkaca-kaca.
"Heru menghilang? Mengapa bisa? Kenapa kalian meninggalkannya?" teriak Nicholas, emosi pria itu meledak. Dia menatap semua orang yang ada disana dengan penuh emosi.
Dicky yang merasa satu tim dengan Heru, dia pun mencoba menjelaskan kronologi yang terjadi mengapa Heru bisa menghilang. "Saat itu Heru berpamitan padaku untuk buang air kecil, karena dia sangat lama sekali, aku menyusulnya. Karena aku tidak bisa menemukan Heru, aku terus mencarinya."
Lina membenarkan perkataan Dicky. "Iya, aku sampai kehilangan jejak Heru dan Dicky, tapi akhirnya aku bisa bertemu kembali dengan Dicky. Sementara kami tidak bisa menemukan Heru."
Nicholas menundukkan kepalanya, dia sangat merasa gelisah sekali, begitu mengkhawatirkan sahabatnya.
Kini giliran Beni yang berkata. "Tapi ada hal yang lebih mengerikan, Panji melihat Sisil dan Arkan dibunuh secara sadis oleh seorang psikopat."
"Psikopat?" Nicholas mengerutkan keningnya, rupanya dugaannya benar, orang yang memasukkan obat tidur ke dalam minumannya adalah seorang psikopat. Psikopat itu sengaja mencuri semua ponsel dan alat komunikasi lainnya milik mereka agar menutup akses mereka untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga mereka tidak bisa meminta pertolongan. Mungkin orang itu ingin membantai mereka semua.
"Aku rasa Hilda, Heru, Atta, dan Kevin pun mengalami hal yang sama. Mereka mungkin dibunuh oleh psikopat itu." lirih Chika. Matanya nampak sembab, karena harus kehilangan kedua sahabat terdekatnya.
Sekarang giliran Pingkan yang berbicara. "Sebenarnya kita memiliki kesalahan apa sama psikopat itu? Kenapa dia ingin membunuh kita?"
Adam mencoba menenangkan Pingkan, "Tenang saja, aku pasti akan melindungimu." Dia mengusap-usap pundak Pingkan untuk menenangkannya.
"Nicholas sudah tidak terbukti bersalah, dia bukan pelakunya. Karena itu aku ingin kalian melepaskannya!" Helena meminta semua orang yang ada disana untuk melepaskan Nicholas.
Namun, David tidak setuju dengan permintaan dari Helena. "Aku gak setuju, bagaimana kalau dia juga bagian dari psikopat itu? Bisa saja kan psikopat disini itu lebih dari satu orang?"
Kemudian Nicholas menghela nafas, dia menatap tajam ke arah David. "Jika aku ingin berburuk sangka, aku juga bisa berburuk sangka padamu. Apakah mungkin kamu yang membunuh Heru? Kenapa kamu kemarin mencekiknya?"
Walaupun Heru hanya bercerita kepada Nicholas bahwa dia mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari David, tapi Nicholas diam-diam memperhatikan lehernya Heru yang seakan ada tanda bekas cekikan walaupun nampak samar-samar.
Semua orang yang ada disana nampak terkejut mendengar perkataan Nicholas yang mengatakan bahwa David telah mencekik Heru kemarin.
"Kenapa kamu mencekik Heru kemarin?" Nicholas mengulangi pertanyaannya kepada David dengan nada tinggi, ingin sekali dia menghajar pria itu, tapi kemarin Heru menyuruh Nicholas untuk menahan emosinya, Heru bilang dia tidak ingin ada keributan di acara reunian ini karenanya.
"Iya, aku yang memang mencekik Heru kemarin. Itu karena aku emosi padanya. Kamu tahu sendiri kan betapa miskinnya dia, dia ketahuan mencuri uangku, karena itulah aku mencekik lehernya hanya untuk memberikan peringatan padanya. Dan masalah hilangnya Heru aku gak tahu apa-apa, dia pasti bernasib sama seperti yang lainnya." Setelah berkata panjang lebar seperti itu, David pun memutuskan untuk segera pergi dari gudang.
Tanpa menunggu persetujuan dari siapapun, Helena segera membuka tali yang mengikat kaki dan tangannya Nicholas, memang harus dia yang membuka tali itu, agar tidak ketahuan bahwa sebenarnya Nicholas tidak benar-benar diikat. Sementara yang lainnya membiarkannya begitu saja, karena mungkin memang Nicholas bukanlah pelakunya.
Setelah ikatan tali di tangan dan kakinya terlepas, Nicholas segera bangkit, dia berjalan dengan cepat untuk menyusul David.
David sangat terkejut begitu Nicholas tiba-tiba saja menarik lengannya, lalu melayangkan pukulan keras ke wajahnya.
Bugh!
Pukulan keras tersebut membuat tubuh David terhuyung hampir saja terjatuh, beruntung dia bisa menahan tubuhnya sendiri agar tidak jatuh begitu saja.
Nicholas tidak terima sahabatnya di tuduh sebagai seorang pencuri. Nicholas masih mengingat dengan jelas ketika dulu dia menawarkan pekerjaan kepada Heru tanpa melalui interview, saking jujurnya seorang Heru, dia menolak tawaran dari Nicholas, dia tidak ingin masuk ke dalam perusahaan Nicholas hanya karena mereka begitu dekat, apalagi dia sadar diri bahwa dia hanyalah lulusan SMA.
"Heru tidak mungkin mencuri uangmu, aku sangat mempercayai Heru. Jika Heru menghilang karena ulahmu, aku tidak akan pernah memaafkan kamu!" Nicholas berkata seperti itu dengan nada tinggi, lalu dia memukul kembali wajah David.
Bugh!
Pukulan keduanya sukses membuat David terjengkang ke lantai.
"Brengsek!" David sangat terlihat tidak terima dipukul seperti itu oleh Nicholas, membuat emosinya terpancing. Nicholas sudah meruntuhkan harga dirinya.
Beruntung ada Arya dan Bayu yang segera memisahkan mereka berdua. Bayu memeluk David, sementara Arya memeluk Nicholas.
"Sudah! Sudah! Kalian jangan bertengkar."
Kemudian terlihat seorang pria tersenyum kecut memandangi David, sebenarnya dia tahu bahwa David begitu terlihat gelisah, karena David takut ketahuan sudah membunuh Heru. Mungkin karena David adalah seorang pembunuh amatiran sehingga David tidak bisa seperti dirinya. Walaupun dia sudah membunuh lima orang di pulau ini, tapi dia begitu terlihat tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan gelagat yang mencurigakan.