Angkasa, seorang Kapten tentara Angkatan Udara yang tegas dan dingin berusia 28 tahun, sangat malas berhadapan dengan wanita. Namun dengan karakternya yang rumit itu, ia justru harus menikah dengan seorang gadis cerewet, ceplas-ceplos dan kekanakan bernama Aina Maura; Kekasih dari adik kembarnya sendiri, Samudera.
Pernikahan paksa tersebut terjadi ketika Samudera mengemban tugas penyelamatan sandera di Tongo, dan mewasiatkan agar Angkasa menikahi kekasihnya jika ia tak kembali lagi. Beban yang diemban Angkasa, perasaan duka serta kasih sayangnya pada adik kembarnya itu akhirnya mendorong Angkasa mengucapkan kata nikah di hadapan ayah Aina.
"Saya akan menikahinya, sekarang!"
Karakter Aina yang tidak cocok untuk Angkasa, membuatnya bersikap dingin bahkan mengacuhkan istrinya sendiri, "Saya tidak pernah mencintai kamu, semua terjadi karena permintaan adik saya dan mendiang ayah kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - Rasa Yang Tak Asing
Aina terbangun dengan sentakan.
Ia langsung duduk tegak dan melihat sekelilingnya dengan tegang. Setengah mengingat kembali kejadian yang baru terjadi sekitar pukul tujuh tadi. Tatapannya lalu mendarat pada jam di dinding atas lemari. Sudah tengah malam pukul 23.00, rupanya ia telah tertidur.
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, membuat Aina langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Dilihatnya dengan mata membelalak pria yang secara tak langsung telah ia sakiti selama ini.
Pria itu keluar kamar mandi bertelanjang dada sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk. Mata gelapnya langsung terpaku pada Aina, dan sosoknya begitu tegas. Tanpa ekspresi.
Jika mengharapkan kenyamanan, Aina jelas tak akan menemukannya saat ini. Kata-kata Dian masih memenuhi pikirannya sekarang, membuatnya serba salah dan canggung untuk menatap Angkasa, suaminya.
"Apa aku yang membuatmu terbangun?" Tanya Angkasa dengan ekspresi datar.
Aina menggelengkan kepalanya pelan, tanpa suara melengkingnya yang khas.
Udara malam yang dingin masuk melalui celah celah ventilasi jendela, menyentuh kulit putih Aina yang sensitif. Tapi itu tak akan jadi masalah. Aina tidak butuh seseorang untuk menggenggam tangannya, mungkin. Yang dibutuhkannya adalah bantuan untuk mencari jawaban yang jelas atas apa yang telah terjadi sebelum semua terlambat.
"Sewaktu tidur, Aina mimpi bersama dengan Kak Asa," ucap Aina, dan suaranya hampir tak terdengar di ruangan yang cukup besar itu.
"Tidak biasanya," Angkasa mengambil langkah menuju sofa di dekat tempat tidur, lengannya terlipat di depan dada bidangnya, sedangkan kakinya disilangkan di atas lutut. "Mungkin laki-laki yang kamu maksud itu adalah Samudera. Bukan saya."
"Bukan," ujar Aina saat nyeri dan sakit mulai terasa. Pinggulnya berdenyut, sementara. matanya merah dan perih. Ditambah lagi, perutnya keroncongan, dan itu membuatnya teringat bahwa Ia belum makan sejak kedatangan Dian tadi.
"Aina memang memimpikan Kak Asa." Aina mengakui itu semua, mungkin karena pikiran tentang Angkasa sungguh telah merasuk ke dalam benaknya. Namun, Asa tak memberikan respon apa pun, untuk menjaga gengsinya. "Sudah berapa lama Kak Asa pulang?"
"Dua jam yang lalu." Jawab Angkasa singkat.
"Aina kelelahan sampai tidak sadar kakak pulang." Luar biasa kepikiran lebih tepatnya. Tapi Angkasa tak perlu tahu keadaan Aina sebelum tertidur itu. Aina menarik rambutnya ke belakang dan berpaling dari Angkasa. Suaminya itu terlalu mengintimidasi. Terlalu.... terfokus padanya. Tubuh Aina bergetar di bawah tatapan Angkasa dan ia tidak ingin berpikir tentang itu sekarang.
Sebaliknya, Aina akan bersusah payah menyembunyikan ingatan tentang Dian tadi dengan cara memperhatikan sekeliling kamar. Sudah ada mesin penghangat buatan Jepang yang terpasang dan menyala di sudut ruangan.
"Kamu tak usah menunggu saua. Lain kali makan dan minumlah lebih dulu, lakukan kegiatan sehari-harimu tanpa perlu memikirkan saya. Atau mungkin tugas kuliahmu sedang banyak?"
Demi Tuhan, suara Angkasa saat itu. Lembut, misterius, dan berat. Angkasa bicara dengan gaya formal yang membuat Aina kagum. Ditambah lagi karena malam ini Angkasa masih mengenakan mantel mandi yang seksi mewarnai pembawaan Angkasa sehingga membuatnya lebih menggoda lagi.
"Apa kamu mendengarkan saya bicara?"
"Oh, ya Kak. Aina dengar."
Sangat jelas malah. Suara Angkasa itu jelas merupakan senjata yang di desain khusus untuk melumpuhkan gengsi wanita. Dan oh, Aina masih sulit untuk bersikap baik-baik saja.
Aina memaksa diri menatap mata Angkasa, dan berusaha untuk tidak gugup dan takut dalam kedalaman mata gelap yang memancarkan ketidaksabaran dan kecurigaan itu, karena di sana juga ada kesakitan. Kesakitan yang digoreskan olehnya.
Dahi Angkasa mengerut ketika memandang Aina, ketika ia berbicara lagi, suaranya bergemuruh bagaikan singa yang lapar. "Apa kamu menyembunyikan sesuatu? Ada yang mengganggu pikiranmu?"
Aina langsung mundur dengan terkejut saat Angkasa mendekat. "Ma-maksud kakak?"
"Kamu bertingkah aneh sekali malam ini, bahkan menatapku saja rasanya kamu sangat enggan. Apa karena sampai sekarang aku masih belum memberikan keinginanmu soal Samudera?"
"Tidak! bukan. Tidak sama sekali." Aina menarik napas dan berusaha menenangkan diri, meskipun ia tahu itu sia-sia saja.
Angkasa menggeleng dan berkata, "Saya dapat membaca wajahmu dengan mudah. Matamu bersinar sesuai dengan apa yang kamu pikirkan, dan setiap ekspresi wajahmu mengungkapkan setiap pikiran itu."
"Ti-tidak. Kak Asa salah paham." Jawab Aina, namun mengalihkan tatapannya untuk berjaga-jaga.
Tak disangka Angkasa malah tersenyum manis. Melihat wajah Aina yang putih kapas dan selembut jeli itu memerah, sangat kekanakan. Namun, Asa sangat menyukai itu.
"Apa yang kamu pikirkan sekarang?" tanya Angkasa dengan lebih santai kali ini.
"Kak Asa," kata Aina. Mencoba untuk mengungkapkan pikirannya saat ini, meskipun sangat sulit dan tak tahu harus memulainya dari apa dan bagaimana. "Bagaimana Aina mengatakannya---" Sambil menghela napas, Aina menggosok lengannya dengan telapak tangan. Sensasi dingin dari angin malam yang masuk dari tadi terasa sangat kuat membelai kulitnya.
Di samping Aina, mesin penghangat menyala memberi kehangatan untuk Aina. Tapi, tidak mampu menghilangkan rasa dingin di dalam dirinya.
"Kamu kedinginan."
"Iya."
Angkasa mengernyit dan berjalan ke arah lemari, ketika kembali lagi, dia membawa jaket hitam tebal yang diulurkannya pada Aina tanpa komentar.
"Terima kasih, kak." Aina mengenakan jaket tersebut melalui kepala, dan menghirup aroma suaminya dari situ.
"Kemari---" Kata Angkasa cepat meraih telapak tangan Aina, menggenggamnya kuat dan meniup tiap sela jemari itu dengan hawa hangat dari mulutnya.
Tanpa diduga jantung Aina berpacu cepat selagi merasakan kehangatan Angkasa, kehangatan yang kembali terasa kerasan, tak asing dan sangat akrab. Belum lagi hawa panas dari mulut Angkasa langsung, genggaman tangannya yang besar. Aina ingat ini tak asing, sungguh sangat familier.
"Kak Asa---"
"Ehm?" Angkasa mendongak dan menatap Aina penasaran.
"Apakah sebelumnya kita pernah bertemu, Kak?"