Siapa yang mengira.
Pertemuanku dengan seorang pria di sebuah vila, mengubah kisah cintaku.
Dalam sekejap statusku berubah, menjadi pacarnya pak bos. Oh Tuhan... aku hanya meminta bantuannya kenapa menjadi seperti ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Revan
Menelusuri jalan menuju rumah sakit, memandang kesibukan kendaraan yang tak kunjung usai pagi ini. Orang-orang tampak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ku menatap itu semua dari balik kaca taxi yang ku tumpangi.
Langitpun tak luput dari pandanganku. Awan dan matahari selalu bersama. Menyempurnakan indahnya langit pagi ini.
"Sudah sampi bu." Ucap supir taxi mengagetkanku.
Hemmm.. Aku telah melamun sepanjang jalan. Ku merapikan barang bawaanku. Sebuah parsel berisi buah untuk bu Sarah. Aku sempatkan membelinya saat perjalanan menuju rumah sakit ini. Beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu ku serahkan ke pak supir yang mengantarku dan kupun turun segera.
"Terima kasih ya pak." Ucapku pada supir taxi yang ada di depanku.
Aku melangkah perlahan masuk ke dalam. Memperhatikan sekitarku. Banyak orang-orang yang berlalu lalang. Ekspresi wajah mereka beragam. Tampak cemas, tampak lelah, sedih bahkan ada yang tersenyum.
Saat ini Bu Sarah tampak tersenyum menatap kehadiranku. Ku menghampirinya dan memegang lembut jemarinya.
"Ibu gimana? sudah enakkan?" Tanyaku.
"Iya sudah enakkan, makasih ya nak." Ucapnya.
Ku senang mendengarnya, syukurlah bu Sarah sudah merasa lebih baik sekarang. Terlihat jelas di wajahnya tidak seperti kemarin saat ku mengunjunginya.
"Ibu sendirian? Mas Rafkanya kemana bu?" Tanyaku kembali.
"Tadi ada temannya datang, lagi mengantar ke depan."
Kedatanganku kali ini memang tidak memberitahukan mas Rafka. Berharap tidak bertemu dengannya. Aku dan bu Sarahpun melanjutkan obrolan kami. Hanya sebatas obrolan ringan yang mungkin bisa sedikit menghibur kejenuhan yang dirasakan ibu Sarah saat ini.
Tak lama ku di sana, mungkin setengah jam. Akupun hendak berpamitan.
Klek..
Pintu terbuka.. Ku melihat sosok Rafka yang datang memasuki ruang ini. Untungnya pria itu telah kembali disaat yang tepat. Rasanya tak tega juga meninggalkan bu Sarah seorang diri.
"Ayna pamit ya bu, Mas Rafka juga sudah datang, sudah ada yang menemani ibu lagi."
"Hati - hati ya nak." Pintanya.
Ku mengangguk dan tersenyum untuknya. Perlahan ku melangkah meninggalkannya.
"Aku pamit mas." Bisikku saat melintas tepat di hadapannya.
Mas Rafka mengikutiku dari belakang dan ikut keluar dari ruangan bu Sarah.
"Aku antar ya Ay." Pintanya sambil menarik tanganku.
"Enggak perlu mas, aku bisa sendiri. Jaga saja ibu baik - baik"
Ku melepaskan genggaman tangannya itu. Melangkah pergi meninggalkannya. Tak sedetikpun ku membalikan tubuhku untuknya. Berjalan terus menuju lantai dasar rumah sakit ini.
Sampai akhirnya langkahku pun berhenti. Setelah ku menyadari ada sesorang yang memanggil namaku. Aku merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya, tapi aku tak ingat suara itu milik siapa.
Mataku terus mencari datangnya suara itu dan lambaian tangan menyadarkan aku akan keberadaan pemilik suara itu.
"Bu Darma." Bisikku.
Ku melangkah kembali, tapi langkahku kini menuju ke arah bu Darma. Ku menghampirinya dan menyapanya.
Melihat bu Darma, aku jadi teringat akan janjiku untuk berkunjung ke rumahnya tempo hari.
"Ibu, sedang apa disini?"
"Habis kontrol saja, kamu kenapa di sini juga? sakit?" Tanyanya.
"Ayna baik ibu, tadi habis jenguk." Jawabku lembut.
"Ibu sendirian?"
"Tidak, bareng anak ibu ke sini, sekarang sedang ambil obat di sana." Tunjukknya.
"Nah itu anak ibu." Lanjutnya kemudian.
Ku membalikan tubuhku mengikuti arah telunjuk yang diacungkan oleh bu Darma. Ku menatap pria yang ditunjuk olehnya.
Pria itu melangkah menghampiri kami, makin mendekat dan ku mengenali sosoknya. Oh tidak.. Kenapa pria itu?, Kenapa harus dia?, Kenapa harus bertemu kembali?
Aku tak percaya, bawah pria yang ku temui semalam di bandara adalah anaknya Bu Darma.
"Owh.. kita ketemu lagi." Ucapnya saat sosoknya sudah berada tepat di hadapan kami.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya bu Darma.
"Oh.. enggak bu, pernah bertemu saja sebelumnya." Sanggahku cepat.
"Ini Ayna dan ini anak ibu Revan." Tunjuk bu Darma mengenalkan kami.
"Jadi nama kamu Ayna." Ucap Revan.
Ku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Pertemuan ke tiga ku dengannya dan namaku berhasil terungkap.
"Ayna ini yang pernah ibu ceritakan ke kamu waktu itu." Penjelasan bu Darma pada Revan, dan Revan menggangguk sambil menatapku.
"Bagaimana, maniskan.. ibu enggak bohong?" Lanjutnya.
Oh tidak.. Aku sudah menjadi bahan obrolan mereka sejak dulu. Bagaimana ku harus memposisikan diriku sekarang.
"Ya menarik.." Ucap Revan yang sungguh mengagetkanku.
Ku menatapnya, mengerutkan keningku dan mencoba mencerna maksud dari kata menarik yang barusan diucapkannya.
"Hahahaha.. jangan kamu ganggu Ayna, Dia sudah bertunangan." Ucap bu Darma yang mungkin menyadari ekspresiku.
"Tenang bu, aku tahu apa yang mesti aku lakukan dan tidak boleh dilakukan." Ucap Revan.
"Nak Ayna masih ada yang mau diurus di sini?" Tanya bu Darma kemudian.
"Oh.. Enggak bu, ini juga sudah mau pulang."
"Ehm.. kalau gitu main ke rumah ibu saja yuk. Kapan lagi ada waktukan? Mumpung kita bertemu di sini." Ajaknya.
"Tapi bu.."
"Enggak baik nolak ajakan orang tua." Sambar Revan memotong ucapanku.
"Yuk.." Pinta bu Darma kembali.
Aku menggangguk akhirnya, menuruti permintaanya. Melangkah bersama menuju lobby depan rumah sakit ini. Revan pergi terlebih dahulu menggambil mobil dan kemudian menjemput kami.
Bu Darma duduk di kursi depan bersama Revan. Aku memilih di belakang.
"Kalian sebelumnya ketemu dimana?" Tanya bu Darma mulai menyelidiki.
"Di Bandara bu" Jawabku.
"Bandara.. " Ulang bu Darma
"Kamu habis dari luar kota?"
"Oh enggak bu, habis antar mas Adit ke bandara."
"Siapa Adit?" Tanya Revan yang juga penasaran akan kisahku.
"Tunangannya." Jawab bu Darma.
Sepanjang jalan ini, aku seperti sedang diwawancara. Bu Darma sangat tertarik dengan cerita kehidupanku. Kuliahku, rumahku, keluargaku, dunia kerjaku menjadi bahan obrolan kami. Hemmm.. keputusan yang salah aku berada di sini. Tapi ini sudah terlambat jika harus berpamitan dengan mereka. Kami sudah tiba di rumah bu Darma. Luas dan mewah.. Ku hanya bisa menatap kagum.
"Ibu ke kamar bentar ya, kamu sama Revan di sini dulu." Pinta Bu Darma.
Dalam sekejap, bu Darma benar-benar meninggalkan kami berdua sekarang. Aku hanya diam melihat kesembarang arah. Revanpun juga diam namun menatapku.
Dia bangkit dari duduknya dan menghampiriku kemudian, duduk tepat di sampingku.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Kenapa apanya?" Tanyaku bingung menatapnya.
"Jadi sampai kapan tunanganmu di luar kota?"
"Kenapa aku harus memberitahukannya ke kamu?"
Wajahnya mendekati wajahku, bibirnya mendekati telingaku, dia berbisik membuat jantungku berdetak kencang melihat tingkahnya.
"Karena aku ingin ketemu kamu lagi nanti."
Ku mengalihkan pandanganku segera, setelah mendengar apa yang barusan diucapkan Revan untukku. Kenapa Revan sangat berterus terang sekali mengatakannya. Dia sedang menggodakukah saat ini.
Ku bangkit dari dudukku, hendak menghindarinya. Setidaknya tidak terlalu dekat seperti ini. Namun belum sampai ku melangkahkan kakiku. Revan sudah berhasil meraih tanganku untuk menghentikannya.
Dia bangkit dari duduknya juga. Tangannya menarik tanganku, menarikku untuk mengikuti langkahnya.
"Hei.. Kita mau kemana?" Tanyaku panik.
Dia terus menarik tanganku, dan menghiraukan ucapanku. Oh.. tidak Aku benar - benar panik dibuatnya.
.
.
.
.
Lanjut episode berikutnya ya dears😘.. semoga menikmati ceritanya.
dilike ya 😘dan dijadikan favorite
jangan lupa bintang dan vote yang banyak
komentar dan masukan yang baik ditunggu😇
terima kasih..
tetap setia menunggu upnya ya😊😊
lah ngapain teriak2,gak capek teriak2 mulu
dah lah lebih baik putus aja dan jadian ma Adit...
ish ish baru awal msih nyimak perlakuan Rafka ke Ayna.. mungkin cuek krn sibuk..