Bagaimana perasaanmu saat pulang dari perantauan karena dikabari kalau Papa meninggal, dan saat sampai mendapati kalau Sang Papa memiliki istri muda tanpa sepengetahuanmu?
Yang lebih mencengangkan, Si Istri Muda, adalah wanita dari masa lalumu. Saat itu, di sebuah club, dalam keadaan frustasi, dan dalam kondisi 'panas'.
Apakah kondisi keluarga seperti ini sehat? Saat akan tinggal serumah dengan si Ibu Tiri yang usianya 5 tahun lebih muda, seksi, dan dirimu tahu bagaimana wujudnya di balik pakaiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
"Jadi… Kita ke sekolah naik ini?" Romeo melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menatap motor matic di depannya.
"Ya biar nggak kena macet," desis Bu Guru Erica sambil naik ke motornya, "Ayo,"
Tapi Romeo mengernyit saat melihat Bu Guru Erica bahkan kakinya nggak napak tanah alias jinjit. Motor yang ia pakai terlalu besar untuknya. "Punya siapa sih motornya?"
"Kakak saya, hehe,"
"Kalo lampu merah, kakinya napak trotoar?"
"Eh… Turun dari jok. Hehe,"
Romeo menghela napas, "Kenapa nggak naik transjakarta aja seperti biasanya?"
"Loh, saya kan memang sengaja mau jemput kamu karena saya pikir mungkin Ruby atau Pak Randy kecapekan,"
"Hem,"
"Hem?"
"Aku bisa ke sekolah sendiri sih, kan zaman sekarang tinggal mesen ojek online," ujar Romeo.
Bu Guru Erica tampak tertegun sambil menatap Romeo.
Lalu alisnya terangkat.
Dan ia pun meringis, pipinya menjadi kemerah-merahan.
"Eh, iya juga ya," katanya malu-malu.
Romeo Menyeringai, "Dari sekian banyak anak murid, kenapa aku yang dijemput? Kan banyak yang pergi sekolah sendiri,"
Lagi-lagi Bu Guru Erica terdiam, "Iya ya?" gumamnya baru menyadari.
"Aku aja yang nyetir," kata Romeo kemudian.
"Eh? Kamu bisa naik motor?!"
"Nyetir mobil juga bisa,"
"Serius Romeo?!"
"Kenapa sekaget itu sih?"
"Tapi kamu kan belum punya SIM!"
"Aku lebih nggak yakin dengan cara Bu Guru menyetir," Romeo mengenakan helmnya, lalu dengan kedua tangannya ia angkat tubuh mungil Bu Guru Erica agar duduk agak mundur ke kursi penumpang.
"Kamu nih…"
"Kita lewat jalan tikus aja ya biar nggak diperhatiin pakpol, hehe,"
Dan motor itu malah terasa lebih pas dengan tubuh Romeo yang memang tinggi menjulang.
"Pegangan Bu,"
"Ini pegangan jok belakang,"
"Maksud aku, di sini pegangannya," Romeo menyambar tangan Bu Guru Erica dan meletakkannya melingkari pinggangnya. "Kalau saya ngerem mendadak, itu tandanya saya sengaja biar nempel, hehe," desis Romeo.
"Kamu nih!" tapi omelan Bu Guru Erica tidak dapat diteruskan karena Romeo sudah keburu menjalankan motor itu.
**
Ruby dan Randy sudah bangun.
Sambil mengernyit mereka berdua berbaring menatap plafon.
"Apa yang sudah terjadi?" desis mereka berdua hampir berbarengan.
Lalu mereka terdiam lagi.
Dan menghela napas.
Nasi sudah jadi nasi aking, mau kembali ke masa lalu sudah tidak bisa.
"Apa jadwal hari ini?" gumam Randy
"Ketemu Bu Susan dan Pak David, secara rahasia. Setelah itu meeting pemegang saham untuk peluncuran saham baru hasil kerjasama dengan Amethys Tech,"
"Mereka pasti heboh,"
"Aku sudah hitung, prediksi saham itu akan jadi Lapis Satu,"
"Jangan ngadi-ngadi kamu,"
"Amethys setelah bersatu dengan Yudha Mas seakan tak terkalahkan, dan kini mereka bersatu dengan C-Corp,"
"Ya tapi tidak secepat itu,"
"Nak," Ruby miring ke samping sambil menatap Randy.
"Jangan panggil aku 'Nak'. Kita baru saja ber-"
"Ssst! Pokoknya yakin saja dengan perusahaanmu ini. Kemungkinan nanti Bu Susan juga akan memanggil Arthasewu Connor,"
"Wow!!" Randy bangkit, "Bagaimana kamu tahu semua itu?!"
"Bu Susan yang bilang,"
"Sebenarnya apa sih yang kalian perbincangkan sampai akrab luar biasa seperti ini?!"
"Rahasia membuat wanita menjadi 'wanita', jadi kamu diam saja dulu. Hehe,"
"Tahu nggak saat begini, kamu itu…"
"Menyebalkan? Iya aku tahu,"
"Bukan. Seksi,"
"Heh… Dasar otak kotor,"
**
Ckiittt!
DUG!
Bu Guru Erica benar-benar membentur punggung Romeo dengan kencang.
"Romeooo," keluhnya saat akhirnya ia beringsut mundur untuk menjauhkan diri dari tubuh Romeo. Walau pun cowok di depannya ini serba bisa, tampan pula, tapi seragamnya masih seragam SD.
"Hehe," seringai pemikat Romeo muncul, "Sudah sampai,"
"Ya ngeremnya nggak usah lebay!" Bu Guru memukul pelan bahu Romeo. "Tapi ini masih di depan portal,"
"Iya… Ku jalan kaki aja dari sini. Memangnya Bu Guru mau digosipin kalo kita berdua naik motor sampai depan gerbang?"
"Memang kita ada hubungan apa sampai digosipin?"
"Bu, cara mereka semua memandang aku, bukan selayaknya pelajar SD. Apalagi wali murid. Ya tapi kalau Bu Guru mau ya kita lanjut saja jalan…"
"Eeeh, nggak usah deh. Sampai sini saja," desis Bu Guru kuatir. Ia mengakui kalau Romeo benar. Segala sesuatu yang berkaitan dengan anak ini : Berbahaya.
Berbahaya dalam segi seksualitas.
"Aku minta hadiah ultah lagi, boleh?" kata Romeo sambil menyerahkan helmnya.
"Apa?"
"Cium,"
"Silahkan bermimpi Romeo. Tunggu 10 tahun lagi,"
"Aku tawar jadi 5 tahun boleh nggak?"
"Nggak janji, Bu Guru duluan," Bu Guru Erica mencubit pipi Romeo dan pergi dengan motornya yang berbanding mencolok dengan ukuran tubuhnya.
Romeo hanya mencebik kesal sambil melanjutkan jalan kaki.
"Romeoooo," sebuah suara memanggilnya.
Anak itu menoleh ke belakang sambil mengernyit.
Tante Amora dengan mercy-nya.
Sendirian.
"Ya Tante? Annisa nggak sama Tante?"
Tante Amora berdehem, "Annisa kan punya driver sendiri,"
"Terus Tante pagi-pagi kok di sini?"
"Habis joging, hehe."
Romeo mengamati gaya berpakaian Tante Amora yang glamor, mustahil joging dengan rok seketat itu kecuali bencong lagi dikejar sarpol PP.
"Romeo mau naik?"
"Naik? Tinggal sedikit lagi sampai sekolah, tante,"
"Kita sarapan dulu yuk?" Tante Amora menatap Romeo lekat-lekat.
Romeo seketika merinding, "Em… Udah sarapan tadi di rum-"
"Masuk, Romeo. Tante mau bicara," tiba-tiba nada suara Tante Amora berubah.
Romeo tertegun.
Apa yang terjadi?! Haruskah aku masuk? Pikir Romeo ragu. Lebih ke takut, sih.
"Romeo, sebentar saja," desak Tante Amora.
Walau pun ragu, tapi Romeo akhirnya masuk mobil Tante Amora. Lagipula kalau keadaan mulai berbahaya, postur Romeo lebih besar dari si Tante, jadi mungkin saja masih bisa melawan dan melarikan diri.
Tante Amora menjalankan mobilnya ke daerah pertokoan dan ruko.
Sepagi ini semua toko masih ditutup, tapi banyak pedagang kecil seperti berjualan bubur dan soto untuk sarapan. Keadaan lumayan ramai dengan antrian orang-orang yang akan sarapan sebelum memulai hari.
Tapi, Tante Amora hanya memarkir mobilnya di pinggir jalan, dan terdiam sesaat.
Romeo berusaha tetap tenang.
"Tadi..." kata-kata pembuka Tante Amora, "Kamu boncengan sama Erica?"
Romeo diam saja.
"Kamu pasti bertanya kenapa saya tahu, kan?" ujar Tante Amora lagi.
Romeo masih diam, tapi dia menatap Tante Amora dengan berusaha santai. Karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan menurutnya.
"Saya memang terbiasa menunggu kamu di sana, kamu suka lewat jalan itu kalau naik ojek online atau diantar Ruby," kata Tante Amora lagi.
"Kenapa?" akhirnya Romeo bertanya.
"Saya suka saja melihat kamu berjalan ke arah sekolah," Tante Amora tersenyum.
"Suka melihat saya berjalan," Romeo mengulangi kalimat Tante Amora.
"Ya," kata Tante Amora, "Cara jalan kamu bagus, seperti model,"
"Hem," dengus Romeo. Dia merasa Tante Amora mulai aneh.
"Tapi hari ini kamu diantar Erica," lanjut Tante Amora.
"Iya, karena Kak Ruby dan Om Randy tidak bisa mengantar saya, mereka agak sibuk,"
"Kenapa harus dia yang mengantar kamu?"
Pertanyaan yang membingungkan.
"Kenapa tidak? Dia wali kelas saya," desis Romeo.
"Kamu kan bisa telpon saya minta jemput," kata Tante Amora.
"Buat apa? Saya tidak ingin mengganggu hidup orang lain,"
"Saya tidak merasa terganggu kalau kamu yang minta,"
"Maksud Tante apa ya?"
Tante Amora memandang Romeo dengan sendu, tapi juga bercampur kesal dan ada sedikit aura penuh dendam di tatapannya.
"Saya tidak suka kamu dekat dengan wanita lain," gumam Tante Amora.
Romeo mengangkat alisnya.
Bulu kuduknya langsung berdiri.
Sial, ini sudah melampaui batas. Pikirnya. Ya salahnya juga sih berlagak jadi Cassanova. Semua juga tahu kalau Tante Amora sering ribut dengan suaminya dan sekarang mereka sedang menjalani proses perceraian.
"Sebentar lagi bel masuk, Tante. Permisi," Romeo mundur teratur dan keluar dari mobil. Ia masuk ke gang sempit di sampingnya, memutuskan untuk jalan memutar menuju sekolahnya agar mobil Tante Amora tak bisa mengejarnya.
**
ckckck emang berat godaan ikan peda bermerk Romeo