NovelToon NovelToon
Selir Rahasia CEO Casanova

Selir Rahasia CEO Casanova

Status: tamat
Genre:Badboy / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:316.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irma Rahmawati

"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.

"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.

Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.

Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lemari Berdarah

**Slow up ya, karena author lagi menyiapkan naskah untuk di platform hitam. Tapi diusahakan tetap update setiap hari...

**Teruntuk yang memasukan novel ini ke favorit, ayo baca ya jangan cuma memasukan ke favorit saja. Teruntuk yang baca, jangan lupa like dan komentarnya. boleh juga memberi dukungan berupa vote atau bunga.

Selamat membaca**..

🌸🌸🌸

Setiap ruang tak lepas dari penyelidikan Adrian. Ia memeriksa satu-persatu ruangan dalam rumahnya, lemari-lemari ia buka.

Hanya tinggal satu lemari yang kini menjadi pusat perhatiannya, lemari dalam gudang yang tampak usang dan berdebu. Adrian mendekati lemari itu dengan sejuta rasa penasaran dalam hatinya.

Lemari itu tampak memiliki noda merah, membuat naluri hati Adrian merasakan ada hal besar di dalam sana. Adrian meraih pintu lemari, mencoba membukanya. Akan tetapi ia tak bisa terbuka, karena terkunci.

"Bukannya lemari ini tidak pernah dikunci? Apa ibu menguncinya?" Adrian bermonolog sendiri. Tentu saja sambil merasakan khawatir yang sangat besar.

Adrian mencari kunci lemari itu, ia menemukannya di dalam meja yang memiliki laci.

Jiwanya terus meronta-ronta dan naluri hatinya menyuruh Adrian segera membuka lemari itu. Adrian merasa ragu, akan tetapi tetap membukanya sesuai dengan perintah hatinya.

Bruk...

Sebuah karung putih berlumuran darah terjatuh. Karung itu terikat, seperti memiliki barang yang sangat berat di dalamnya. Adrian tentu saja terkejut dan segera membenarkan posisi karung itu.

Tiba-tiba saja ia merasa mual ketika bau darah menguar.

"Astaga, apa ini?" Akan tetapi ia merasa semakin penasaran terutama setelah bau darah yang semakin kuat.

Adrian mengulurkan tangannya, perlahan membuka ikatan karung itu, karung itu terbuka, menampilkan rambut lalu perlahan Adrian menurunkannya ke bawah.

"Ibu!" pekiknya sambil segera mengangkat tubuh kaku itu dan membawanya ke dalam mobil.

"Bagaimana bisa ini terjadi? Siapa yang melakukannya?!" ia mulai emosi.

Adrian teringat pada seseorang, ia langsung memukul setir mobilnya.

Adrian telah sampai di rumah sakit, ia langsung membawa ibunya yang sudah tak sadarkan diri itu ke ruangan gawat darurat. Namun setelah dokter memeriksa, justru dokter itu menutupi tubuh ibu Adrian dengan selimut dan menggelengkan kepalanya.

"Apa maksudmu dokter?!" Adrian merasa begitu terpukul.

"Pembuluh darahnya pecah, dia tidak tertolong karena anda telat membawanya ke rumah sakit! Lihat ini, bahkan benturannya sangat keras!" ucap dokter tentunya langsung membuat Adrian terpukul.

Dokter berlalu meninggalkan Adrian. Sedangkan Adrian masih terpaku di tempatnya.

"Tasya! Aku akan membuat perhitangan besar denganmu!" Ia bangkit, kemudian membuka selimut yang menutupi ibunya.

"Maafkan aku, Bu! Aku tidak pernah mendengarkanmu. Aku akan membuat pembalasan atas apa yang kau alami ini." Adrian menutup kembali ibunya. Ia mengeluarkan ponselnya, menelepon Tasya.

Telepon tersambung, bukannya mendengar suara Tasya, justru kini ia mendengar suara merdu dua orang.

"Tasya!" Adrian berteriak dalam telepon itu, namun tak ada yang menyahut.

Adrian mematikan telepon. Kini dirinya diselimuti amarah yang besar, yang tak mampu untuk di redam lagi. Amarah itu terlalu kuat. Adrian mengetikan jarinya, mengirim pesan pada Damian.

Bawa Mira ke pemakaman besok!

Isi pesan yang singkat, namun langsung dituruti meski dengan tanda tanya besar pada si penerima pesan.

...****************...

"Pemakaman?" Damian mengerutkan dahinya. "Memang siapa yang meninggal?"

"Ada apa, Damian?" Mira yang berada di samping Adrian ikut penasaran.

"Pak Adrian menyuruhku mengantarmu ke rumah utama besok, jadi bangunlah sepagi mungkin dan pakailah pakaian terbaikmu untuk menghadiri pemakaman." jelas Damian yang tentu masih memberikan kebingungan pada Mira.

Tentu saja Mira juga terkejut kenapa tiba-tiba Adrian ingin dia datang ke rumah utama.

"Apa dia sudah lupa kalau tidak ada yang tahu tentang aku?" Mira bergumam pelan. Ia beranjak, bermaksud mengambil ponselnya.

"Kamu mau kemana, Mir?" Damian menahan. Mira duduk kembali, ia masih bingung dengan Adrian.

Ah, mungkin istrinya sedang pergi bersama ibunya.

Mira terlalu berpikir jauh, ia menganggap bahwa Adrian perlu dirinya di rumah utama karena ibu dan istri pertama Adrian sedang pergi.

...****************...

Pagi telah tiba, Mira sudah siap dengan pakaian berwarna hitamnya. Damian telah memanggilnya dan menunggunya.

Setelah semua persiapan selesai, kini keduanya langsung melakukan perjalanan menuju rumah utama yang ditempati Adrian.

Hanya butuh waktu 30 menit, Mira dan Damian sudah sampai di rumah utama Adrian.

Nampak suasana penuh duka disana, dengan sebuah peti diletakan di tengah ruang tamu dan dikelilingi banyak orang. Adrian tidak terlihat disana.

Damian membuka ponselnya, ia ternyata mendapat pesan dari Adrian.

"Ayo, Mira! Lewat sini." Damian menuntunnya melalui pintu belakang dan membawanya naik menuju kamar Adrian.

Ternyata Adrian berada di kamarnya dengan pandangan mata yang melamun dan matanya sembab.

"Pak Adrian, Mira sudah datang." Damian berkata pelan.

Adrian melirik perlahan pada Mira. Kemudian memberi isyarat untuk pergi pada Damian. Ia pergi meninggalkan Mira dan Adrian berdua saja, membuat Mira gugup.

"Ayo kita ke pemakaman sekarang." Damian berdiri, menuntun tangan Mira menuruni tangga.

Mira hanya menurut tanpa bertanya barang satu pertanyaanpun. Ia mengerti suasana hati Adrian yang tampak sedih dan kehilangan.

Apakah yang meninggal itu orang yang sangat ia sayangi? Pertanyaan itu terlintas dalam benak Mira. Ia terus menduga-duga.

Sepanjang upacara pemakaman Mira terus menjadi sandaran disaat Damian mengalami kesedihan. Ia bahkan bingung, dimana istrinya?

Bukankah seharusnya ia turut hadir dan menemani saat Adrian berada dalam duka seperti ini. Apa sebegitu sibuknya sang istri pertama? Hingga ia bahkan tak mau menenangkan Adrian saar ini.

Mira menepis pikiran buruknya.

Atau... Ini adalah istrinya?

Ia menatap peti yang dibuka sebelum di masukan ke dalam tanah, tampak wanita yang berkisar sekitar usia 50 tahun. Mira tidak mengenalinya, namun saat Adrian mendekat Mira mulai tahu itu siapa.

"Selamat jalan, Bu!"

...****************...

Pemakaman selesai, Mira dan Adrian sudah berada di dalam rumah. Lebih tepatnya dalam satu kamar.

"Tuan, apa aku tidak masalah berada dalam satu kamar denganmu?"_ Mira melirikan matanya kesana-kemari. Rasa takut jelas, ia takut sewaktu-waktu terpergok bersama Adrian oleh Tasya.

"Ya," hanya itu jawaban dari Adrian, sangat tidak memuaskan Mira.

"Apa istri anda tidak akan marah?" Mira membekap mulutnya sendiri, ia terlalu banyak bertanya.

"Kau istriku," ucap Adrian singkat.

Mira memutar bola matanya malas.

"Bahkan di saat sedih dia masih saja menyebalkan dan dingin." Gerutu Mira pelan.

"Jangan mengumpat pelan, kau boleh mengumpat dengan lantang." Ucap Adrian dengan pandangan mata yang sudah menatap Mira yang berdiri di sampingnya.

"Duduk!" perintah Adrian menunjuk kursi di depannya.

Mira menurutinya dan duduk disana dengan rasa canggung.

"Kau istriku mulai sekarang, satu-satunya." Mira terbelalak, ia sungguh sangat tidak mengerti.

"Maksud anda?" Nada bicaranya kembali formal.

Seakan mengerti, Adrian memutar pikirannya dan ingatannya untuk memulai penjelasan pada Mira.

"Dia pengkhianat!" ucapnya tiba-tiba.

Air mata mengalir dari mata Adrian.

Rasa iba mulai mengisi hati Mira. Pria casanova dan kasar di hadapannya menjelma menjadi pria yang menyedihkan secara tiba-tiba. Apa yang telah terjadi? Kenapa kematian ibunya sangat tiba-tiba?

Oh Mira, apakah sekarang ia harus lancang dan banyak bertanya pada Adrian mengenai apa yang ada di hatinya saat ini?

"Kita pergi ke Portugal besok!"

Lagi-lagi sangat mengejutkan, ajakan ke portugal.

"Bulan madu?" Mira menepuk keningnya, bisa-bisanya ia berharap bulan madu dari laki-laki yang tidak ia harap menjadi suaminya tersebut.

"Kau berharap begitu? Baik, anggaplah begitu!"

"Apa?!"

**Bersambung...

Aku usahakan up lagi ya, waktu gak bis. ditentukan karena jadwal dunia nyata padat**.

1
Florensia Mei
bertele tele masak suami tak peka
Mawar berduri
bkn nasib..tp kamu aja yg jd wanita lemah. mau diperdaya. pdhal kamu bkn wanita miskin tp kok bodoh.
Sinta Cinta
kau sangat cantik
Sinta Cinta
pasti nanti hamil
Sinta Cinta
sedihnyaa 😭
Sinta Cinta
hummm mulai tertarik
Sinta Cinta
nyimak lah
Sinta Cinta
😁
Alfia
Tasya tidur dengan Mike, dibilang selingkuh
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻‍♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
kagome
liat apa an si????
mira.....liat apa an?????
Alfia
ibu tirinya Susan atau Andia🤔
Apriyanti
lanjut thor
Nanik Puspita
makasih Thor ending nya mereka bersatu dan bahagia 🙏🙏🙏🙏
Apriyanti
lanjut thor
cunai 24
Terima kasih, akhirnya mereka bersatu 💞💞💖💖
Dasni Windri
Mksh akhir nya hepy ending
Irma: Makasih kembali kak, sudah sabar nunggu aku up... 💟💟
total 1 replies
Apriyanti
lanjut thor
Nanik Puspita
dah mau tamat thorr 😭😭😭😭
Dasni Windri
Ko udh mau tamat aja nih
crist
waduh mau tamat aja ni thor
Irma: hehe, iya, tapi aku usahakan ada karya baru nanti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!