Kaira Luna adalah seorang wanita yang hampir memasuki usia seperempat abad itu pun selalu disuruh menikah oleh ibu tirinya karena dia ingin memanfaatkan Kaira agar memiliki kehidupan yang mewah.
Tak disangka dia bertemu dengan seorang pria dengan cara yang tidak mengenakkan bahkan membuatnya kesal. Namun, siapa sangka dia akan terlibat dengan pria itu seumur hidupnya?
Dia adalah Eren William, Seorang tuan muda sekaligus CEO dari perusahaan William yang terkenal dingin dan kejam, serta memiliki kekuasaan tiada tara bahkan tak seorang pun bisa melawannya. Namun, siapa sangka dia adalah pria playboy kelas kakap?
Akankah pernikahan Kaira dan Eren bertahan hingga akhir hayat mereka? Atau pernikahan kontrak ini berakhir ditengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajeng Rizqita Bukowski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadar
Pada pagi hari seperti biasa Eren meraba kasurnya. Dia membelalakkan matanya seketika dan terbangun dari tidurnya saat dia tidak menemukan sosok wanita yang selama ini menemaninya dalam lelapnya.
"Lho, kemana Ara? Apa mungkin dia sudah bangun?" Eren sesegera mungkin turun ke bawah dan keliling rumahnya yang begitu besar dan mencari sosok istrinya itu. Dia tidak mengingat kejadian semalam dan perbuatan yang telah dia lakukan pada istrinya.
"Bi,lihat Ara dimana ga?" Tanya Eren kepada bibi yang sedang sibuk membuatkan sarapan untuk tuan muda dan nyonya mudanya.
"Tidak. Sedari pagi tadi, non Ara tidak terlihat"
Duhh punya istri satu kok ngilang mulu.
"Bi, tolong panggilkan satpam, sopir dan semua orang untuk berkumpul."
"Baik tuan."
Setelah semuanya berkumpul...
"Apakah kalian melihat Ara-ku?"
"Kami tidak melihat non Kaira keluar dari rumah sini. Bukankah seharusnya non Kaira masih berada dirumah? Tadi malam, tuan pulang bersamanya" Ucap Anna yang semalam mengantarkan mereka
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Tuan marah besar dengan non dan mengomel sepanjang jalan dan sepanjang jalan pula nyonya merintih kesakitan"
Setelah mendengar jawaban dari Anna, Eren pun mengingat semalam apa yang terjadi pada mereka. Teringat dalam memorinya bila dia bertemu dengan Clara, wanita yang sudah lama dia nantikan kehadirannya. Kaira menyinggung wanita itu, namun yang dia katakan adalah fakta. Eren mengingat dengan jelas bila dia telah kasar dan mempermalukan Kaira didepan umum, menyeretnya keluar dengan kasarnya. Seluruh orang didalam pesta itu dapat menjadi saksi kekejamannya malam itu. Dia benar-benar malu akan dirinya, dia malu saat dibenaknya menayangkan adegan yang dia lakukan semalam. Tapi, itu bukan masalah utamanya...
Oh tidak, aku semalam benar-benar emosi dan menguncinya dalam kamar mandi.
Eren berlarian dari bawah ke kamarnya dan mengambil kunci kamar mandi yang berada dia simpan di kamarnya
Duhh mana sih kuncinya? Dia benar-benar panik saat ini
Nahh ketemu.
Setelah menemukannya, dia berlari lagi menuju kamar mandi. Anna, bibi dan yang lainnya mengikuti pria itu dan menemukan Kaira telah terduduk lemah dibelakang pintu.
"Tuan ku mohon maafkan aku. Aku salah. Ku mohon bukakan pintunya. Aku takut sendirian disini, disini dingin. Aku tidak akan mengulanginya, aku tidak akan menyinggung wanita itu lagi dan membiarkanmu bersamanya. Aku rela asalkan kamu bahagia" Kaira melantur dalam tidurnya. Eren yang mendengarnya meneteskan air mata
Apa yang telah kulakukan dengan wanita kecil ini? Aku sudah keterlaluan terhadapnya.
"Ara, maafkan aku. Aku tidak akan menghukummu lagi" Bisik Eren ditelinga Kaira. Kaira hanya tersenyum, dia benar-benar tidak kuat untuk membuka matanya.
Eren memeluknya dan berniat untuk menggendongnya. Tanpa sengaja dia menyentuh kulit wanita itu
Ahh panas sekali.
"Anna, segera siapkan mobil. Nyonya demam tinggi" Tubuh kaira bergetar, dia menggigil hebat.
"Baik tuan" Anna segera berlari dan menyiapkan mobil untuk mereka. Eren menggendong istrinya pergi dan terus saja memeluknya. Dia mengutuk dirinya sepanjang jalan.
.............
Sesampainya dirumah sakit...
"Dok, tolong"
Eren meletakkan kaira diatas ranjang rumah sakit dan dokter pun menaruhnya di ruang IGD, memeriksa keadaan Kaira. Suhu tubuhnya bahkan mencapai 40°C. Itu benar-benar berbahaya bagi dirinya dan janinnya.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Kaira keluar dari ruangannya.
"Bagaimana kondisi istri saya pak?"
"Pak, bagaimana bisa nyonya ini demam begitu tingginya?"
"Sa-saya tidak tahu pak. Saat saya menemukannya dikamar mandi kali ini, dia sudah pingsan didalam sana" Eren berbohong kepada dokter tersebut.
"Lain kali, tolong jaga ibu dan anak ini. Jika terjadi hal yang sama, itu akan membahayakan bagi kesehatan ibu dan janinnya. Permisi" Dokter tersebut sepertinya sedikit tidak percaya dengan perkataan Eren. Bagaimana mungkin seorang suami begitu ceroboh hingga istrinya memiliki demam yang bisa dikatakan tinggi itu. Eren tak peduli dengan ekspresi dokter tersebut dan langsung menyelonong masuk kedalam.
"Ara..." Eren melihat istrinya yang masih tak sadarkan diri. Dia merasa sangat bersalah kepada wanita itu. Dia benar-benar telah menyakitinya lagi dan lagi. Dia tak sanggup melihat Ara-nya yang awalnya sangat ceria sekarang terbaring lemas tak berdaya. Luka didahinya bahkan belum mengering sepenuhnya dan dia telah menggoreskan luka baru di hatinya.
Manusia macam apa aku ini? Bahkan melindungi seorang wanita saja aku tak sanggup? Aku yang selalu menyebabkan luka pada dirinya. Dia telah tersiksa akibat keluarganya yang bahkan tak pernah menganggapnya sejak kecil dan sekarang, aku seharusnya membahagiakannya malah terus menyakitinya.
Eren menangis dengan memegang erat tangan Kaira. Kaira pun meneteskan air mata. Dia ingin sekali membuka matanya dan mengatakan "Jangan menangis. Aku tak sanggup melihatnya" Namun, apalah daya dia tidak memiliki kekuatan untuk itu saat ini.
..............
Keesokan harinya...
Kaira menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar, tapi Eren tidak menyadarinya. Kaira menatap kearahnya. Dia benar-benar ingin mendorong suaminya itu pergi dari hadapannya. Namun, dia tak tega melakukannya. Dia menangis mengingat kejadian waktu itu. Suara tangisnya membangunkan Eren
"Ara, kamu telah sadar? Syukurlah" Ucap Eren dengan spontan memeluknya
"Lepaskan saya, tuan. Untuk apa tuan disini? Untuk apa tuan masih peduli dengan saya? Bukankah tuan kemarin mengatakan bila saya hanya pengganti dari wanita itu?"
"Tidak, aku salah. Aku hanya emosi saat itu. Kumohon maafkan aku"
"Memaafkan anda? Luka saya bahkan belum sembuh dan anda telah mnambahkannya? tidak tuan. Untuk saat ini saya tidak akan memaafkan anda. Saya mohon anda pergilah dari sini"
"Tapi..."
"PERGI!!!" Bentak Kaira. Kaira menangis setelah mengusir suaminya. Dia benar-benar sakit untuk saat ini dan tidak menginginkan untuk melihat wajahnya dalam waktu dekat.
Aku harus pergi dari sini. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi
Kaira melepas infusnya dan meninggalkan tempat tidurnya. Dia berencana untuk pergi ke kos milik Rayhan yang baru. Eren tidak akan semudah itu menemukannya karena daerahnya yang lumayan terpencil.
.............
Ditengah-tengah rapat, Eren mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak dia kenal.
"Permisi tuan muda" Ucap seorang staf rumah sakit yang meneleponnya secara mendadak
"Ya, ini siapa dan ada apa?"
"Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bila istri tuan telah kabur dari kamarnya"
"APA?!!"
"Baik, rapat hari ini sampai disini terlebih dahulu. Ada urusan mendadak yang harus saya lakukan. Permisi" Ucap Eren. Dia langsung membubarkan seluruh staf dan direksi beserta wakilnya. Tanpa menunggu mereka keluar ruangan, Eren pergi dari sana tanpa pamit. Dia menuju rumah sakit dengan segera.
Sesampainya dirumah sakit...
"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya Eren setengah marah
"Kami tidak mengerti tuan. Saat suster ingin mengganti infusnya, nyonya sudah tidak berada di rumah sakit"
"Terimakasih atas informasinya"
Ara, kamu kemana lagi sih? Apa kamu benar-benar akan meninggalkanku saat ini juga?
DONE YA