Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan.
Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗
Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.
Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.
Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.
Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Bertamu
“Sial! Kenapa airmata gadis ingusan itu mengganggu konsentrasiku. Apa dia terluka? Aku bahkan tidak sempat menanyakannya. Bodoh.” Alan bergegas menuju kamarnya.
Setelah tiga kali mengetuk dan tidak ada jawaban dari dalam, Alan membuka pintu dan melangkah mendekati ranjang. Naya sedang meringkuk ke samping seperti menahan sesuatu, dahinya basah oleh keringat. Apa dia kesakitan?
Alan maju lebih dekat dan duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyentuh dahi Naya, panas, dia demam. Alan berjalan ke sisi ranjang yang lain dan membetulkan posisi tidur Naya agar lebih nyaman. Naya mengerang, menggigit bibir bawahnya hingga pucat.
Alan mengambil handuk kecil dari lemari pakaiannya dan membasahinya menggunakan air wastafel. Ditempelkannya handuk basah itu di dahi Naya.
“Tidak, jangan pergi pak. Naya takut.” Erangnya lagi.
“Sstt…tenanglah, aku tidak akan pergi.” Alan menepuk punggung tangan Naya di atas perutnya.
Napasnya mulai teratur, Naya kembali tidur. Alan mengganti handuknya dengan yang baru, lalu keluar meninggalkan kamarnya yang terasa lebih hangat dari biasanya.
****
“Apa yang terjadi dengan pagar rumah kita?” Laras panik melihat pagarnya hampir roboh dan keadaan rumah yang berantakan ketika pulang dari panti.
“Ada pria gila yang menabraknya, menghajarku lalu menyeret Naya. Sepertinya Naya itu simpanan om-om dan dia cemburu ketika melihat Naya sedang duduk berbincang denganku kemarin sore.”
“Lalu ada apa dengan wajahmu?”
“Sudah aku bilang tadi, pria itu menghajarku tanpa ampun. Awas saja kalau sampai ketemu suatu hari. Aku akan balas semua yang terjadi hari ini.” Putra menghentakkan gelas di tangannya ke meja dengan keras, kemudian masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya.
“Siapa yang membawa Naya ya?” Laras duduk dan meraih gelas.
Dering ponsel terdengar nyaring dari dalam tas kerjanya. Pak Indra, nama yang tertulis di layar. “Ya pak, Laras di sini. Oh ya, baik. Kebetulan Putra sudah keluar dari panti rehab. Baik pak, terima kasih.”
“Pak Indra ingin memberi Putra sebuah pekerjaan? Wah, beruntungnya kamu, Nak. Ibu kira sudah tidak ada orang yang akan sudi membantumu.” Laras berbinar senang seraya mendekap ponselnya ke dada.
“Putra, besok kamu ikut ibu ya. Pemilik yayasan tempat ibu bekerja ingin bertemu denganmu dan memberimu pekerjaan.” Teriak Laras.
“Beres.” Sahut Putra membalas teriakan ibunya dari dalam kamar.
Keesokan harinya, Laras dan Putra naik taksi yang sudah mereka pesan menuju kediaman Indra Hartawan. Karena ini hari Minggu, seluruh keluarga Hartawan sedang berada di rumah, tak terkecuali Alan dan Dante.
“Wah, megah sekali rumah ini. Rupanya pria tua pemilik yayasan itu, luar biasa kaya.” Seloroh Putra ketika turun dari taksi.
“Hush! Jaga bicaramu. Jangan sampai kita membuat pak Indra tersinggung. Kamu mengerti?”
“Ya, ya, ya. Sudah tiga kali ini aku dengar kamu katakan itu.” putra memang tidak pernah sopan pada ibunya sejak Roy meninggal. Dia menyalahkan Laras atas kematian Roy karena bersikeras menyuruh Roy berhenti dan membiarkannya sakau tanpa memberinya uang untuk membeli candu.
“Ibu mohon, jaga bicaramu. Beliau ingin memebrimu pekerjaan. Ingat itu.”
“Mau bicara sampai kapan ini?” protesnya dengan nada kesal.
Laras melangkah menaiki tangga menuju pintu utama, sebelum jarinya menekan bel, seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya.
“Bu Laras?”
“Iya, saya Laras. Apa bapak ada?”
“Silahkan masuk. Bapak sudah menunggu.” Wanita itu melebarkan pintu dan berdiri menyamping, mempersilahkan kedua tamunya masuk. “Mari ikut saya.” Bi Minah berjalan di depan mereka menunjukkan arah.
Putra mengedarkan mata ke sekeliling ruangan. Decak kagum lolos dari bibirnya diiringi senyuman aneh. Ketika melewati bufet, matanya menangkap beberapa barang yang terpajang di situ. Kakinya berhenti sejenak mengamati dengan penuh minat.
“Putra, apa yang kamu lakukan? Ayo.” Laras menegur Putra yang tertinggal di belakang.
“Pria ini sangat kaya rupanya.” gumamnya lirih sambil terus menyungging senyuman aneh.
Mereka sampai di sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang kerja Indra. Haris sudah berdiri di depan pintu dan menyambut mereka. “Selamat pagi, Bu Laras.”
“Selamat Pagi, Pak Haris.” Haris membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk, dia sendiri menutup pintu dari luar dan bergegas ke kamar Alan.
“Naya,” Haris mengetuk pintu dan memanggil Naya.
Gadis itu keluar dan tersenyum melihat Haris. “Ada apa mas Haris?”
“Bapak ingin kamu ke ruangannya. Apa kamu sudah baikan? Alan bilang semalam kamu demam.”
“Ehm, ya. Sudah baikan.” Rupanya dia yang mengompresku semalam. Naya mengekori Haris seperti anak ayam mengikuti induknya. Hatinya merasa ringan pagi ini setelah menangis semalaman.
Ketika Laras masuk ke dalam, Indra sedang berbincang dengan Dante dan Alan. Mereka bertiga menghentikan obrolannya saat melihat tamu yang mereka tunggu sudah datang.
“Laras, silahkan duduk. Dan ini?” Indra menggantung ucapannya.
“Ini Bayu Saputra, anak saya.” Laras dan Putra duduk bersebelahan. Putra menatap Alan dengan dahi berkerut, seperti pernah melihatnya.
“Apa ada kotoran di muka saya? Sampai kamu begitu intens melihatnya.”
Putra berdehem. “Tidak, saya seperti pernah bertemu anda.”
“Laras, sebelum saya menawarkan pekerjaan pada Putra, saya ingin bertanya tentang Naya. Sudah hampir dua hari ini saya tidak bisa menghubunginya. Bahkan ponsel yang pernah saya berikan padanya juga tidak aktif. Apa yang terjadi?” Indra menatap Laras dalam-dalam.
“Maafkan saya pak, Naya sejak kemarin sore meninggalkan rumah saat saya masih berada di panti.” Ucap Laras.
“Meninggalkan rumah? Minggat maksudmu?” kini tatapan Indra beralih pada Putra yang mimiknya berubah masam. “Sepertinya kamu tahu tentang sesuatu, Anak Muda.”
“Kanaya pergi bersama pria yang menjadi kekasihnya. Mereka kabur bersma setelah membuat wajah saya menjadi seperti ini.” Putra memiringkan kepalanya agar sisi wajahnya yang lebam bisa terlihat jelas oleh Indra.
“Kekasih? Kenapa saya tidak tahu kalau dia punya kekasih?”
“Pa, tidakkah ini membuang waktu?” Dante yang sejak tadi mengepalkan tangan menyela ayahnya yang terlalu berbelit-belit.
“Dante.” Alan menepuk pahanya sebagai bentuk peringatan. Sebenarnya dia sendiri tidak sabar ingin meremukkan mulut pria di hadapannya itu, namun dia perlu merekam semuanya sebagai bukti untuk pihak kepolisian.
“Sore itu, saya sedang berbincang dengan Naya, bersenda gurau tepatnya. Tiba-tiba, sebuah mobil menyalakan lampu peringatan dan menekan klakson berulang kali. Sepertinya pengendaranya sedang marah dan menabrakkan mobilnya ke pagar rumah kami. Kemudian seorang pria keluar dari mobil dan menghajar saya hingga begini dan menyeret Naya dengan paksa. Dilihat dari sikapnya, pria itu pasti seorang psikopat pencemburu. Cih!”
Alis tebal milik Alan naik sebelah disertai kedutan di sudut bibirnya. “Psikopat katamu?” kini giliran Alan yang mengepalkan kedua tangannya.
Dante terkikik mendengar sebutan pemuda itu pada kakaknya. “Tenang, Kak. Ini tidak akan lama lagi.”
“Diam kau.” Desisnya marah.
Haris membuka pintu ruangan itu dengan Naya berjalan di belakangnya. Ketika kepala gadis itu mendongak dan tatapannya bersiborok dengan Putra, spontan gadis itu berlindung di belakang punggung Haris dan mencengkeram kemeja di pinggang Haris dengan erat.
“Nah, itu dia.” Putra bersorak kegirangan. Dia teramat yakin, Naya tidak akan berani menceritakan kejadian yang sebenarnya. Seperti yang terjadi pada beberapa gadis yang selama ini dia cabuli.
“Naya, sini.” Indra menyuruh Naya mendekat.
“Mas Haris,” Naya mencengkeram kemeja Haris lebih erat. Buku jarinya memutih dan gemetar di pinggang Haris.
Alan dengan gemas berdiri, bergerak mendekati Naya dan mencengkeram pergelangan tangannya, menariknya berdiri di dekat ayahnya. Dia sendiri tetap berdiri di samping gadis itu. Naya menggigit bibir bawahnya dengan keras. Melihat itu, Alan berbisik pelan di dekat telinganya.
“Jangan lakukan itu. Kau akan melukai bibirmu, lagipula tindakanmu itu akan menyulut gairahnya lagi.” Kalimat peringatan Alan, terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Naya. "Atau kau sengaja melakukannya untuk membuat semua pria di sini tersulut olehmu?"
****
Sudah klik jempolnya? Klik hati sudah? Kalau komen, sudah juga?
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
semangat nanyaaa 😘😘
aku padamuuuuu💖💖😀
untung ada Alan ..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
aku mah udah ngacirrr 😂
tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..