Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Ruang sempit dan pengap, yang tak punya pentalasi udara itu ,menyebarkan bau amis darah yang menyengat hidung, membuat mual siapa saja yang mencium baunya. tapi tidak dengan beberapa orang bertubuh kekar yang berada di sana, dia terlihat santai seakan tak mencium bau darah sama sekali.
Tubuh gempal yang tergeletak tak berdaya bersimbah darah itu, mulai tampak bergerak perlahan. sementara di sudut ruangan pria kekar menatap tubuh itu dengan geram.
"Tuan tolong aku" suara lirihnya terdengar menyayat hati.
"Aku sudah sering menolong mu, apa kau lupa?" ujarnya bernada dingin.
" Aku ingin bertemu tuan Rico" ujarnya lirih.
"Nanti setelah mati arwahmu boleh ketemu tuan Rico" ujarnya sinis.
"Aku mohon pertemukan aku padanya," suaranya semakin sayub nyaris tak terdengar, kemudian senyab, bahkan tubuh itu tak lagi bergerak.
Lelaki bertubuh kekar itu menyentuh tubuh yang sudah tak bergerak bersimbah darah dengan ujung sepatu hitamnya, guna memastikan masih hidup atau sudah mati, ternyata masih hidup ada gerakan halus dibtubuhnya, menandakan dia masih bernyawa.
Lelaki itu meraih senpi yang ada di selipan tas pinggangnya, menodongkan ke arah tubuh lemas itu, menarik pelatuknya perlahan, belum sempat senjata itu memuntahkan pelurunya, pintu di sebelahnya terbuka lebar.
"Hentikan" bentak suara berat di depan pintu.
"Tuan Rico" sentaknya kaget.
"Apa yang kau lakukan" ujar Rico berang.
"Aku melakukan sesuai perintah tuan" ujarnya tegas.
"Perintah siapa yang kau maksud, aku bilang jangan ada pertumpahan darah, kau malah mau menghabisinya, kau mau membangkang!" hardik Rico dengan emosi.
"Bukankah itu prosedur dari tuan penghianat harus mati" pria ini merasa tindakannya sudah sesuai prosedur kerja mereka.
Rico menghela nafas dalam, dia benar, itu peraturan yang dia buat sendiri, agar bisnis hitamnya tetap aman dari penghianat seperti lelaki sekarat ini, dalam prakteknya cara itu terbilang berhasil, tetapi setan tetaplah setan, tidakkan bisa bertingkah malaikat, ada saja hal yang menggiurkan yang mampu membeli kesetiaan mereka yang memang tak ada.
"Bawa keluar, beri pengobatan, kalau sudah sadar beri tahu aku" ujar Rico berlalu dari ruang sempit dengan aroma darah yang mengering.
Tubuh babak belur itu menengadah menatap Rico , dia yang duduk di kursi dengan keadaan terikat, terlihat sedikit lebih baik dari keadaannya tadi, sebagian luka menganga sudah terkatup oleh jahitan, kini tubuhnya sudah tidak lagi berada di ruang pengap, ruang yang tampak lebih luas dengan barang-barang usang memenuhi ruangan, tempat yang lebih mirip gudang ini terbilang masih lebih lumayan dari ruang pengap tadi.
"Tuan tolong aku, sekali ini saja" ujarnya lirih, seraya menatap Rico dengan pandangan penuh harap.
"Kalau aku menolongmu apa imbalan yang kau berikan" Suara Rico terdengar begitu datar.
"Informasi yang tuan butuhkan, aku juga akan bantu selesaikan urusan tuan" ujarnya.
Rico tersenyum sinis, menatapnya tak berkedip, penghianat ini ingin bertransaksi dengannya rupanya.
"Informasimu itu sudah di tanganku begitu juga nyawamu, kau masih saja bermimpi" ujar Rico sinis.
"Aku punya alasan mengapa aku melakukannya tuan, sekarang aku diam dan bicara, posisiku tetap sama, aku dalam bahaya, yang harus tuan ketahui aku melakukan ini demi seseorang yang aku cintai" ujarnya memberanikan diri sedikit membuka tabir gelap penyebab penghianatannya terhadap Rico.
"Siapa yang ingin kau lindungi, dan dari siapa"ujar Rico dengan menatap tajam kearahnya.
"Nona Dita, menyekap istriku, dia memaksa agar aku menghianati tuan"
"Carilah alasan lain, kau ingin menipuku" dengus Rico kesal.
"Itu memang alasan sebenarnya tuan" ujarnya berusaha meyakinkan.
"Kau sengaja mengambil kesempatan di antara permusuhan aku dan Dita rupanya" ujar Rico curiga.
"Itu tidak benar tuan, istriku benar-benar dalam bahaya" dia mulai terlihat panik, Rico yang di harap bisa membantunya malah tak percaya padanya.
"Biarkan aku hidup, aku sudah berjaji pada istriku menemaninya melahirkan anak ketiga kami tuan" ujarnya lirih, pria yang terkenal kasar , kali ini terlihat begitu lemah.
"Aku memang tak berniat membunuh mu" ujar Rico, kalimatnya tentang istri mengusik hatinya.
"Berapa bulan istrimu hamil" tanya Rico pelan, membuat pria itu yang tadi tertunduk kembali menengadah menatapnya.
"Tujuh bulan tuan" ucapnya lirih.
"Anak ketiga" ujar Rico masih seputar pribadinya, dia menganguk.
"Istriku selama hamil anak kami yang ketiga tidak begitu sehat" ujarnya lirih.
"Aku akan pertimbangkan permintaanmu" ujar Rico memberi angin segar untuk pria itu.
"Terimakasih tuan" ujarnya dengan perasaan lega, dia tau Rico bukanlah orang yang suka ingkar janji.
"kalau aku menyelamatkan Istrimu, apa kau bersedia berkorban untuk ku" ujar Rico.
"Apapun tuan, selain keluargaku, aku tak mampu mengorbankan keluargaku tuan" ujarnya seperti memberi penegasan.
"Keluargamu aku jamin aman di tanganku, tapi aku tak jamin nyawamu, tugasmu berat kali ini" ujar Rico.
"Aku tau tuan, aku harus berurusan dengan nona Dita bukan" ujarnya.
"Kau salah, Dita sekarang tanggung jawabnya Allan, bisnis itu bukan urusanku lagi" ujar Rico.
"Lalu bantuan apa yang tuan ingin dariku" ujarnya tak sabar ingin tau.
"Kau tau di bisnisku, berhianat berarti mati" tanya Rico dengan wajah serius. dia mengangguk, semua orang Rico jelaslah tau itu, berani berhianat siap-siap hilang di telan bumi tak berbekas.
"Aku tidak tau persisnya, salah satu yang mendapat hukuman itu sekarang masih hidup" ujar Rico menatap keluar ruangan.
"Dan berniat membalas pada tuan atas kematiannya yang tak terjadi, begitukah tuan"
"Mungkin salah satunya itu, tapi ada yang lebih membuatnya bernafsu membalas dendam, seseorang dengan sengaja menghabisi keluarganya, tanpa sepengetahuanku" ujar Rico ada guratan kemarahan terlihat jelas di wajahnya.
"Pantas saja" gumam pria itu.
"Cari dia serahkan padaku hidup-hidup, aku tidak mau ada nyawa yang melayang lagi" Rico memberi penegasan.
"Tuan pastikan dulu keluargaku selamat, baru perintah tuan aku jalankan" ujarnya juga memberi penegasan atas keselamatan keluarganya.
"Kau yakin memang Dita yang menahan keluargamu, bukan orang lain" tanya Rico.
"Tentu saja tuan" ujarnya terdengar sangat yakin.
Rico merogoh saku celananya, mengambil ponsel berukuran kecil berwarna hitam.
"Telponlah istrimu, kau tentu tidak lupa nomor telponnya bukan" ujar Riko. seraya memberi perintah pada orangnya membuka tali yang mengikat tubuh pria itu. kemudian menyerahkan ponsel padanya.
Pria itu begitu berbinar mendengarnya dengan tangan bergetar dia menekan angka yang di yakini nomor istrinya
"Halo" terdengar suara merdu di sebrang telpon.
"Sayang.." ujarnya dengan suara bergetar menahan haru.
"Iya, ini mas ya" sahut wanita di sebrang.
"Iya sayang, mana anak mu" ujarnya dengan suara yang masih penuh luapan rasa haru.
"Papa" jerit melengking suara bocah yang masig terdengar cadel.
"Sayang papa, kau baik-baik saja kan sayang" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"He,ehh" teriak bocah itu, membuat senyum mengembang di bibir yang penuh luka.
"Sayang kasih telponnya ke bunda, papa mau ngomong ma bunda bentar ya" pintanya dengan suara lembut.
"He,eehh" sahutnya lagi.
"Mas" sapa suara yang begitu dia rindu.
"Kau baik-baik saja kan sayang" ujarnya penasaran.
"Baik mas, dua minggu lalu, ada yang ngeluarin kami dari tempat pengap itu mas, mereka ngakunya suruhan kamu"
"Terus sekarang sayang tau gak lagi dimana"
"Gak mas, kami di larang keluar, tapi tempat ini sangat mewah, banyak pelayan, juga banyak penjaganya mas" ujar wanita itu dengan polosnya.
"Ohh begitu ya, kandungan mu gimana sayang"
"Baik mas, bukannya dua hari lalu mas kirim Dokter buat periksa kandunganku ya mas"
"Ohh, sukurlah sayang, sayang udah dulu ya" ujarnya saat melihat tanda yang di berikan Rico padanya untuk segera mengakhiri obrolanya.
"Ooh iya mas, mas kapan pulang, kami dah rindu" ujar wanita itu terdengar sendu.
"Sabar ya sayang, secepatnya mas usahakan pulang" ujarnya berusaha membuat istrinya tenang.
"Baik mas, kami tunggu" ucapnya lirih.
"Udah ya sanyang"
"Iya mas"
Pria itu mengakhiri panggilannya, menyarahkan telpon pada Rico.
"Terimakasih tuan, saya tidak akan melupakan kebaikan tuan ini, seumur hidup saya" ujarnya dengan suara bergetar, haru dan juga bahagia, sudah hampir dua bulan istrinya berada di tangan Dita, tanpa bisa berkirim kabar apa lagi bicara sepertitadi.
"Semua itu tidak geratis, kau tau itu bukan" ujar Rico dengan suara datar.
"Saya tau tuan" ujarnya.
"Kau ikutlah dengan orangku, sembuhkan lukamu, baru nanti kau jalankan misimu, aku tidak mempekerjakan orang sakit" ujar Rico, memberi kode pada orangnya.
"Baik tuan" dengan di papah oleh dua orang dia pergi meninggalkan Rico yang masih terdiam di tempatnya dengan sejuta pemikiran.
.
.
.
Happy reading lah pokoknya.
.
Salam hangat dari emak dengan susah payah akhirnya bisa up juga😓🥰
Untuk dukungannya jangan lupa like, komen dan juga Vote, ya 🙏🙏🥰
apa kurang gelap ya malam hari 🤣🤣🤣