NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Pernikahan

Cahaya matahari akhir musim panas masuk lembut melalui jendela-jendela tinggi ruang baca, memantul samar pada rak-rak buku gelap yang memenuhi dinding.

Lilly duduk di dekat jendela dengan sebuah buku terbuka di tangannya. Matanya bergerak tenang menelusuri paragraf demi paragraf, sementara suara lembut gesekan kertas sesekali terdengar saat jemarinya membalik halaman.

Gaun rumah berwarna mint yang dikenakannya tampak jauh lebih sederhana dibanding pakaian formal bangsawan yang belakangan hampir selalu melekat pada dirinya.

Suara ketukan pelan terdengar dari pintu.

“Lady Lillyane.”

Ruth masuk beberapa detik kemudian sambil membawa sebuah amplop hitam dengan garis keemasan di pinggirnya.

“Ini baru saja tiba dari istana,” ucap gadis itu sambil menyerahkan amplop tersebut.

Tatapan hazel Lilly langsung jatuh pada lambang kerajaan di permukaannya.

Entah mengapa, perasaan tidak nyaman segera muncul samar di dadanya.

Ia membuka amplop itu perlahan.

Beberapa lembar dokumen resmi berada di dalamnya.

Daftar Persetujuan Tamu Pernikahan Kerajaan.

Setidaknya itu yang tertulis di halaman pertama.

Lilly memeriksa kembali dengan cepat, menelusuri setiap lembar sebelum perlahan berhenti pada satu bagian tertentu.

Keheningan memenuhi ruang baca.

Hanya suara halus kertas yang kembali dibalik oleh Lilly.

Ruth yang memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi majikannya akhirnya bertanya hati-hati,

“Lady?”

Lilly tetap menatap daftar itu beberapa detik lebih lama sebelum mengembuskan napas pelan.

“Saya rasa… sesuatu benar-benar berada di luar kendali sekarang.”

Tak lama kemudian—

pintu ruang kerja Noah terbuka tanpa banyak formalitas.

Noah yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat pandangan ketika Lilly masuk dengan langkah cepat.

“Apa?”

“Kerajaan baru saja mengirim persetujuan undangan.”

Nada suara Lilly terdengar jauh lebih datar dibanding biasanya.

Noah menutup dokumen di tangannya.

“Lalu?”

Lilly menatapnya sesaat sebelum menyerahkan lembar persetujuan itu dengan gerakan yang nyaris seperti melempar.

“Hanya ayah saya yang diperbolehkan hadir.”

Netra gelap Noah bergerak perlahan membaca daftar singkat tersebut.

Dan semakin lama, ekspresinya justru terlihat semakin dingin.

Lilly tetap berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

“Kalau hanya ayah saya…”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,

“…dan mereka benar-benar ingin pernikahan ini terlihat terlalu private…”

Sorot matanya menajam ke arah Noah.

“Bagaimana kalau pernikahannya dilaksanakan di gereja tua pinggir kota saja?”

“Kenapa begitu?”

Suara Noah terdengar rendah.

Perhatiannya tertuju pada Lilly yang kini berdiri di dekat jendela besar ruang kerja.

Cahaya pagi jatuh lembut di sisi wajah gadis itu, namun ekspresinya tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya.

Lilly mengembuskan napas kecil sebelum akhirnya menoleh.

“Karena dalam lingkungan saya…”

Mata hazelnya sekilas jatuh pada lembar persetujuan di tangan Noah.

“…yang diperbolehkan hadir hanya ayah saya.”

Keheningan kembali jatuh di antara mereka.

Dan Noah memahami maksud sebenarnya dari daftar itu.

Ini bukan sekadar pembatasan tamu.

Melainkan garis halus yang sedang ditarik kerajaan.

Tentang siapa yang dianggap layak berdiri dalam pernikahan Pewaris Takhta.

Pandangannya kembali jatuh pada dokumen tersebut.

Daftar nama yang dicoret.

Persetujuan yang dipersempit.

Dan satu nama yang dibiarkan tetap ada.

Billy Jones.

Lilly tersenyum kecil.

Begitu samar hingga nyaris menghilang.

“Hasilnya justru terlihat lucu.”

Nada suaranya tetap ringan.

“Kalau hanya ayah saya yang diperbolehkan hadir…”

Tatapannya kembali bergerak ke arah jendela.

“…bukankah lebih cocok jika pernikahannya dilaksanakan di gereja tua pinggir kota dibanding Gereja Katedral dekat istana?”

Ruangan kembali sunyi.

Noah tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia meletakkan kembali dokumen itu ke atas meja.

“Itu keputusan Permaisuri.”

Nada suaranya tetap datar seperti biasa.

Namun cukup untuk membuat Lilly memahami satu hal—

bahkan Noah pun tidak sepenuhnya dapat mengendalikan ini.

“Kita akan membicarakannya lagi setelah fitting besok.”

Lilly terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Baik, Yang Mulia.”

Dan meski percakapan itu berakhir begitu saja—

suasana ruang kerja tetap terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.

Pintu ruang kerja tertutup perlahan setelah Lilly pergi.

Kesunyian kembali memenuhi ruangan.

Noah tetap duduk di balik meja kerjanya, jemarinya terlipat sambil menopang dagu.

Tatapannya jatuh pada lembar persetujuan undangan yang masih terbuka di atas meja.

Nama-nama yang dicoret.

Daftar yang dipangkas.

Dan satu nama yang tersisa seolah menjadi pusat dari seluruh penghinaan halus itu.

Billy Jones.

Noah mengambil kembali lembar tersebut perlahan.

Matanya bergerak membaca bagian persetujuan akhir di bawah halaman.

“Pihak mana yang memberikan persetujuan terakhir?”

Morgan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya segera menjawab,

“Sekretariat Istana, Yang Mulia.”

Keheningan terasa semakin menekan.

Karena Noah tidak langsung berbicara.

Ia tidak marah.

Tidak membanting apa pun.

Namun justru itu yang membuat suasana terasa jauh lebih buruk.

Morgan bahkan tahu lebih baik untuk tidak ikut campur sekarang.

Beberapa detik kemudian, Noah tertawa pendek.

Samar.

Namun jelas bukan tawa hangat.

“Menarik.”

 

Tak lama kemudian, mobil Putra Mahkota memasuki halaman utama istana.

Dan seperti biasa—

kehadiran Noah langsung mengubah suasana.

Para pelayan yang sebelumnya bergerak santai mulai menundukkan kepala lebih cepat. Percakapan kecil berhenti seketika.

Beberapa sekretaris kerajaan bahkan tampak menegang begitu melihat Noah berjalan melewati koridor utama tanpa banyak bicara.

Seluruh istana seolah telah memahami satu hal—

ketika Putra Mahkota datang dengan ekspresi setajam itu, biasanya sesuatu akan terjadi.

Langkah Noah akhirnya berhenti di depan ruang Sekretariat Istana.

Pintu besar ruangan itu segera dibukakan pelayan.

Dan suasana di dalam langsung membeku.

Beberapa pejabat sekretariat berdiri hampir bersamaan begitu melihat Noah masuk.

Tatapan pria itu bergerak perlahan menyusuri ruangan sebelum akhirnya jatuh pada tumpukan dokumen persetujuan di meja utama.

Tenang.

Namun cukup untuk membuat udara ruangan terasa berat.

Noah berjalan masuk perlahan sebelum berkata datar tanpa basa-basi,

“Bagaimana kalau pernikahan diadakan di gereja kecil pinggir kota saja?”

Ucapan yang sama seperti yang Lilly lontarkan pagi tadi.

Seluruh ruangan terdiam sesaat.

Beberapa sekretaris bahkan saling bertukar pandang karena tidak langsung memahami maksud kalimat tersebut.

Noah melanjutkan dengan nada tetap tenang.

“Agar semakin terasa private-nya.”

Tak seorang pun berani menjawab.

Karena semua orang di ruangan itu langsung memahami satu hal—

Putra Mahkota baru saja mengejek keputusan Sekretariat Istana secara langsung.

Dan yang lebih buruk—

ia melakukannya dengan wajah setenang itu.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya salah satu pejabat senior memberanikan diri membuka suara.

“Apa maksud Anda, Yang Mulia?”

Tatapan Noah perlahan berpindah ke arahnya.

Sulit ditebak.

“Maksud saya cukup jelas.”

Ia mengambil lembar persetujuan undangan dari meja terdekat sebelum mengangkatnya sedikit.

“Hanya satu orang dari pihak calon Putri Mahkota yang diperbolehkan hadir.”

Perhatiannya turun sekilas pada nama Billy Jones sebelum kembali terangkat.

“Jika memang tujuannya membuat pernikahan ini terlihat se-private mungkin…”

Nada suaranya tetap terkendali.

Namun setiap katanya terdengar jauh lebih tajam.

“…maka gereja kecil di pinggir kota tampaknya jauh lebih cocok dibanding Gereja Katedral di pusat kota.”

Tak seorang pun menjawab.

Karena seluruh ruangan mulai memahami—

ini bukan diskusi.

Putra Mahkota sedang menunjukkan bahwa ia melihat penghinaan itu dengan sangat jelas.

Beberapa pejabat Sekretariat Istana mulai berharap Permaisuri sendiri yang menangani situasi ini.

Dan seolah menjawab harapan mereka—

pintu ruangan kembali terbuka.

Seketika suasana berubah.

Permaisuri memasuki ruangan dengan tenang, diiringi dua dayang kerajaan di belakangnya.

Gaun putih keperakan yang dikenakannya jatuh sempurna menyapu lantai marmer.

Tatapannya lurus ke depan.

Tenang.

Namun cukup untuk membuat udara ruangan terasa semakin dingin.

Para pejabat sekretariat langsung menundukkan kepala lebih dalam.

Tak seorang pun berani berbicara.

Karena ketika Permaisuri sendiri datang ke Sekretariat Istana—

berarti situasinya sudah tidak lagi kecil.

Langkah wanita itu akhirnya berhenti tidak jauh dari Noah.

Perhatiannya bergerak sekilas pada lembar persetujuan undangan di tangan putranya sebelum kembali terangkat.

“Ada apa, Noah?”

Noah menatap ibunya beberapa detik tanpa bergerak.

Tatapannya terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

Dan justru itulah yang membuat suasana ruangan semakin menekan.

“Aku hanya bertanya…”

Tatapannya turun sekilas pada lembar persetujuan di tangannya.

“…apakah pernikahanku nanti akan dibuat terlalu private?”

Permaisuri menatap putranya tanpa banyak perubahan ekspresi.

“Semua sudah diatur oleh Biro Rumah Tangga Kerajaan.”

Nada suaranya tenang.

Seolah seluruh keputusan itu hanyalah bagian kecil dari prosedur biasa istana.

Noah terdiam sesaat.

“Kalau begitu…”

Ia kembali mengangkat pandangannya.

“…minta mereka mengadakannya di gereja kecil pinggir kota.”

Ketegangan di dalam ruangan berubah semakin nyata.

Beberapa pejabat sekretariat bahkan tampak kesulitan bernapas.

Namun Noah tetap melanjutkan dengan nada yang tak berubah.

“Karena itu jauh lebih cocok.”

Permaisuri tersenyum tipis.

Dan entah bagaimana, senyum itu justru membuat suasana terasa semakin dingin.

“Ada masalah apa?”

Noah membalas tatapan ibunya tanpa banyak perubahan ekspresi.

Hanya sudut bibirnya yang terangkat samar.

“Karena ini pernikahan kami.”

Permaisuri memperhatikan putranya beberapa saat.

“Namun publik menantikannya.”

Lalu Noah tersenyum tipis.

Sangat samar.

“Maka jangan kecewakan publik dengan…”

Ia menggantung kalimatnya beberapa detik.

Sorot matanya bergerak perlahan mengelilingi ruangan sebelum kembali jatuh pada Permaisuri.

“…merusak citra bahwa kerajaan mengatur keluarga calon Putri Mahkota dan sengaja memutus tali kekeluargaan.”

Keheningan langsung memenuhi ruangan.

Dan kali ini—

tak seorang pun di Sekretariat Istana berani mengangkat kepala.

****

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!