NovelToon NovelToon
Kirei

Kirei

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Transmigrasi / Balas dendam pengganti
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Mawar Putih dan Sinyal yang Mengintai

Pukul sepuluh pagi berikutnya, kesunyian mekanis di lantai empat puluh lima Vancort Tower kembali terusik oleh detak digital yang tidak wajar. Kirei stands mematung di balik meja marmer Carrara miliknya, menatap layar komputer utama dengan sepasang mata jernih yang menyipit tajam. Blazer kerja berwarna abu-abu gelap dengan potongan tajam yang dikenakannya pagi ini membungkus sempurna tubuh rampingnya, memancarkan kembali aura CEO Zhaklyn Mobile yang kaku, tegas, dan tidak tersentuh oleh emosi luar.

Pip.

"Nona Kirei," suara Maya dari interkom terdengar sangat berhati-hati, menahan napas sejenak sebelum melanjutkan. "Tim analisis finansial kita baru saja mendeteksi adanya pergerakan aliran dana asing sebesar beberapa juta Euro yang masuk secara anonim dari bank sentral Paris. Dana itu sengaja dipecah ke beberapa rekening lokal melalui jalur bayangan, dan muara akhirnya terdeteksi masuk ke firma hukum yang membela suami Nyonya Mirna."

Kirei meletakkan pulpen Montblanc miliknya dengan ketukan halus yang sengaja dibuat lambat, membiarkan bunyi benturan logam dan marmer itu menggema di ruangan yang sunyi. Topeng Ratu Es Jakarta kembali terpasang sempurna tanpa celah, menyembunyikan getaran amarah yang mendadak membakar dadanya.

"Paris? Jadi Bianca sudah mulai menggerakkan sisa-sisa pasokan uangnya untuk mencampuri urusan hukum domestik kita," desis Kirei, suaranya mengalun sangat datar namun terdengar dingin.

"Betul, Nona. Tidak hanya itu," tambah Maya, nadanya menyiratkan kecemasan yang luar biasa nyata. "Enkripsi peladen luar kita mendeteksi adanya upaya akses berulang yang sangat agresif terhadap dokumen riwayat rekam medis lama di wilayah stasiun Jakarta Timur. Seseorang sedang mencoba membongkar paksa arsip masa lalu."

Kirei mengepalkan tangan kuat-kuat di atas meja hingga kuku-kukunya memutih dan persendiannya memucat. Siasat busuk dari aliansi Bianca dan Mirna kini terpampang jelas di depan matanya. Rasa sakit dari luka lama yang belum sembuh seutuhnya kembali berdenyut ngilu, membuat dadanya terasa sesak. Bianca sengaja menggunakan sisa dendam Mirna untuk menggali aib darah dagingnya sendiri, mencoba merobek harga dirinya tepat di saat Zhaklyn Mobile sedang bersiap menghadapi pameran teknologi nasional. Di saat dia bertaruh fokus demi masa depan adiknya, musuh-musuhnya justru sibuk melempar lumpur dari balik punggungnya menggunakan rahasia ibunya.

Brak!

Pintu jati ganda ruang kerjanya yang besar mendadak terbuka lebar tanpa ketukan. Langkah kaki yang tegap, kokoh, dan berat menghantam lantai marmer dengan ritme yang sangat dikenalinya, seketika memotong seluruh kabut kecemasan dan kepanikan yang sempat berputar di kepala Kirei.

Vaxerion Mahendra melangkah masuk.

Raja industri otomotif itu tampil luar biasa tampan pagi ini dengan setelan jas tiga potong (three-piece suit) formal hitam keluaran Mahendra Motors, membalut sempurna postur tegapnya yang atletis setinggi seratus delapan puluh lima senti. Rahang tegasnya yang kokoh terkatup rapat, memancarkan wibawa pria matang yang terasia mengontrol penuh keadaan tanpa celah negosiasi. Namun, yang membuat mata jernih Kirei tertegun di tempat stands adalah benda yang berada di dalam dekapan tangan besar Vaxerion—sebuah buket besar nan megah berisi puluhan tangkai bunga mawar putih segar yang mahkotanya masih berembun halus.

Vaxerion membawa aroma maskulin yang begitu tenang, campuran pekat antara parfum kayu cendana yang mahal dan wangi bersih sisa udara pagi Jakarta. Dia berjalan mendekati meja Kirei, mengabaikan seluruh jarak profesional di antara mereka sampai tubuh tegapnya berdiri sangat dekat di depan Kirei, memayungi tubuh ramping wanita itu dengan bayangannya. Tatapan matanya yang jernih, tajam, dan dalam langsung mengunci pandangan Kirei dengan binar perhatian yang begitu hangat—sejenis tatapan mata yang sanggup membuat pertahanan wanita mana pun meleleh dalam hitungan detik.

"Aku tahu kamu sedang melacak aliran dana dari Paris, Kirei," suara berat Vaxerion mengalun rendah, baritonnya bergema sangat romantis di dalam ruangan yang luas. Dia meletakkan buket mawar putih itu dengan kelembutan yang nyata di atas meja marmer, tepat di sebelah tumpukan dokumen kerja Kirei yang membosankan.

Pria itu tidak menunggu izin. Dia mengulurkan tangan kanannya yang besar, menyelusupkan jemari kokohnya di antara jemari Kirei yang sejak tadi menegang menahan amarah di atas meja, lalu menggenggamnya dengan sangat erat, kokoh, dan hangat. Sentuhan kulit yang protektif itu seketika menyalurkan gelombang ketenangan yang meluluhkan seluruh rasa sesak di dada Kirei.

"Mawar putih ini kesukaan Oma, dan aku tahu kamu juga menyukainya karena aromanya menenangkan," bisik Vaxerion lembut, wajah tampannya mencondongkan jarak sedikit lebih dekat hingga Kirei bisa mencium aroma mint dari napasnya. "Aku sudah memerintahkan tim intelijen finansial dan konsorsium hukum tersembunyi milik keluarga Mahendra untuk memutus total seluruh akses jalur perbankan luar negeri milik Bianca sore ini juga. Aku pastikan dia tidak akan bisa mencairkan satu Euro pun di kota ini untuk membantu membebaskan suami Mirna. Manuver murahan mereka sudah selesai sebelum mereka sempat memulainya."

Pipi Kirei mendadak terasa panas terbakar hebat oleh perhatian kecil yang dibungkus dengan cara yang sangat tenang, matang, dan penuh perlindungan dari pria di depannya. Rasa cemas, takut, dan amarah karena masalah dokumen medis almarhum ibunya tadi mendadak menguap tanpa sisa dari kepalanya, dihancurkan oleh karisma Vaxerion yang meruntuhkan segalanya. Rasa haru yang teramat sangat menyergap tenggorokannya hingga matanya yang bening berkaca-kaca kembali.

"Vaxerion... terima kasih karena selalu tahu apa yang kubutuhkan," bisik Kirei jujur, suaranya agak parau karena menahan getaran emosi. Gengsi esnya mencair seutuhnya pagi ini. Dia tidak menarik tangannya, membiarkan jemarinya tetap tenggelam di dalam genggaman hangat Vaxerion, bersandar penuh pada kekuatan pria yang telah berjanji untuk selalu berdiri paling depan menjadi tameng hidupnya.

Vaxerion tersenyum sangat menawan—sebuah senyuman tipis yang dapat melunakkan ketegasan rahangnya yang kokoh, memancarkan binar cinta yang begitu dalam dan besar dari balik matanya.

"Sekoridormu sudah aman karena aku di sini, Kirei," bisik Vaxerion romantis, jemari kirinya bergerak naik untuk mengusap pelan air mata haru yang hampir menetes di sudut mata Kirei. "Sekarang, rapikan berkasmu. Aku sudah menyiapkan kencan makan siang privat yang tenang di dalam kabin mobil SUV listrikku yang kedap suara. Kamu butuh makan makanan yang sehat, bukan cuma memelototi barisan kode komputer ini sepanjang hari, Calon Istriku."

Mendengar rayuan romantis yang diucapkan, dengan wajah tenang tanpa dosa dari pria setampan Vaxerion, Kirei akhirnya tidak bisa menahan senyum tulusnya yang sangat cantik, mengunci takdir kemenangan emosi mereka di atas lantai empat puluh lima.

1
Wawan
Salam kenal Kirey 💪✍️
T28J
keren kakak👍
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Tisa
Penulis menulis dengan sangat keren, alur ceritanya menarik. Tetap semangat!!!
Ika Yani
lanjut kak
Naura
Saya sebagai pembaca terlalu terbawa suasana Kirei dan Vaxerion.
udin sini
Lanjut kaka
Reni
Sangat bagus dan keren
Nayla
Cemburu itu mengerikan..😃 Lanjut thor
Rara Lani
Menarik!!
Tisa
Next! Semangat!! sukses ya!
Iki Riat
Pria yang sedang jatuh cinta pada satu wanita.
Ika Yani
Menarik
udin sini
Keren. Di tunggu kelanjutannya...
Cantika
😍 lanjut thor.. Semangat
Salma.Z: Iya. Terimakasih👍
total 1 replies
Cantika
Ayo UP segera
Sari
Nunggu bab 3 🤭
Salma.Z: di tunggu besok kak
total 1 replies
Hana Unil
next
Andy Rajasa
Bagus..lanjutkan!
Salma.Z: Ya.. siap
total 1 replies
Siti
Lanjut..
Salma.Z: Siap...
total 1 replies
Siti
Keren, ceritanya menarik. Semoga karyanya di baca semua orang..semangat!!!
Salma.Z: Aamiin. Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!