LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Pulau Hitam
Hujan bukan sekadar air. Di ketinggian seribu kaki di atas Samudra Hindia, butiran hujan menghantam kaca kokpit helikopter MH-6 Little Bird itu seperti kerikil kecil yang dilempar dengan ganas. Petir menyambar-nyambar, menerangi awan hitam pekat yang berputar tak wajar di depan mereka.
"Ini nggak normal," gerutu Aldo Sky dari kursi pilot, tangannya mencengkeram stik kemudi erat-erat. Helikopter kecil itu terguncang hebat, naik-turun seperti perahu karet di ombak raksasa. "Badai alami nggak punya pola putar seketat ini. Ini memang jebakan elektronik."
Di kursi kopilot, Allbiru Sky Kalangga menatap layar navigasi yang penuh dengan statis. Wajahnya tenang, kontras dengan kekacauan di luar. Tenang seperti saat dia menangani pasien kritis di ruang IGD rumah sakit.
"Sistem GPS kita dikacaukan," lapor Allbiru, suaranya stabil meski helikopter terhempas angin kencang. "Sinyal satelit hilang total. Mereka menggunakan jammer frekuensi tinggi. Kalau kita terus terbang buta, kita akan menabrak tebing pulau itu."
Di barisan belakang, Sabiru Naverlla Azzura tidak menjawab. Matanya terpaku pada layar laptop yang berkedip-kedip. Jemarinya menari cepat, mencoba menstabilkan koneksi data yang kacau balau. Tapi kali ini, ada yang berbeda.
Setiap kali dia mencoba menembus firewall jammer tersebut, sakit tajam menusuk tengkuknya—tepat di tulang belakang atas. Sakit yang familiar, yang semakin sering muncul sejak ia mulai menggunakan kemampuannya secara intensif.
"Aku... aku merasakan polanya," bisik Sabiru, keringat dingin bercampur dengan udara dingin kokpit. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena beban data yang masuk langsung ke sarafnya. "Bukan cuma kode. Aku bisa 'merasakan' sumber gangguannya. Ada pulsasi... seperti detak jantung mesin raksasa di bawah sana."
Aldo menoleh sekilas, wajahnya serius. "Ru, apakah kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat."
"Aku oke, Yah," jawab Sabiru singkat, meski napasnya mulai cepat. "Sistem GPS mereka mengacaukan koordinat visual. Tapi... aku bisa melihat lewat 'mata' lain. Sensor termal dasar helikopter ini... rasanya seperti ekstensi tubuhku."
Sabiru menutup mata sebentar, menarik napas dalam. Dia mengabaikan layar digital yang kacau. Dia mengandalkan sensasi aneh di kepalanya—sebuah insting bawaan yang memberitahunya di mana letak "lubang" dalam badai elektronik itu.
"Mata badai," gumam Sabiru tiba-tiba. "Ada celah tenang di tengah pusaran gangguan sinyal. Koordinatnya... di sebelah kiri 15 derajat, turun 200 kaki. Sekarang!"
"Mata badai?" tanya Allbiru, matanya tajam memantau altimeter. "Itu risiko besar, Ru. Jika kau salah hitung, turbulensi akan membalikkan rotor kita."
"Percaya padaku, Kak," sahut Sabiru tegas, membuka matanya. Kilauan biru elektrik samar terlihat di iris matanya untuk sesaat. "Aku tahu jalannya. Sistem ini... dia memanggilku masuk."
Aldo memandang Allbiru. Allbiru mengangguk sekali, tegas. Dia percaya pada insting adiknya. Dan lebih dari itu, dia percaya pada warisan darah Arisendra yang mengalir di tubuh Sabiru.
"Pegangan kuat!" teriak Aldo.
Helikopter MH-6 itu menukik tajam, menembus dinding awan hitam yang bergelombang seperti lautan tinta. Guncangan menjadi luar biasa keras. Baut-baut di dinding kokpit terdengar berderit protes. Lampu indikator merah menyala satu peratu.
KREK!
Suara retakan kecil terdengar dari panel instrumen. Asap tipis mulai keluar dari konsol laptop Sabiru.
"Laptopku panas banget!" keluh Sabiru, tapi jarinya tidak berhenti mengetik perintah override. "Seratus meter lagi! Kita hampir sampai!"
Di luar jendela, kegelapan total tiba-tiba berubah menjadi keheningan yang mencekam. Awan hitam terbuka lebar, membentuk lingkaran sempurna. Di bawah sana, terlihat siluet sebuah pulau vulkanik yang gelap, dikelilingi ombak ganas Samudra Hindia. Tidak ada lampu kota. Hanya beberapa titik cahaya redup di puncak bukit—fasilitas Genesis Core.
"Kita masuk," bisik Aldo, mengurangi kecepatan mesin secara drastis agar tidak terdeteksi suara. Tangannya yang biasanya memegang setir mobil taktis, kini dengan presisi tinggi mengendalikan tuas helikopter tua peninggalan Arisendra ini.
Helikopter meluncur turun, roda pendaratan menyentuh tanah berbatu di sebuah landasan pacu darurat yang tersembunyi di lembah pulau. Debu dan kerikil beterbangan saat pesawat akhirnya berhenti dengan kasar.
Mesin dimatikan. Keheningan kembali datang, lebih berat dari sebelumnya. Hanya suara napas mereka bertiga yang terdengar di kokpit.
"Selamat datang di neraka," gumam Aldo sambil melepas sabuk pengaman. Dia memeriksa pistol tidurnya, memastikan peluru sudah siap. Tatapannya sekilas bertemu dengan Allbiru. Ada pesan diam-diam di sana: Jaga rahasianya. Jangan biarkan Sabiru curiga dulu. Biarkan dia berpikir ini hanya soal menyelamatkan data.
Sabiru menutup laptopnya, tangan masih gemetar sedikit karena adrenalin dan sisa sakit di tengkuknya. "Sinyal di sini sangat kuat. Mereka tahu kita sudah mendarat. Atau... mereka membiarkan kita masuk."
Allbiru membuka pintu kokpit, udara lembab dan berbau belerang langsung menyerbu masuk. Dia mengecek jam tangannya—refleks seorang dokter yang selalu sadar waktu. "Mereka sombong. Mereka pikir kita nggak akan pernah bisa lolos dari badai itu. Itu kesalahan fatal mereka."
Sebelum turun, Allbiru menoleh ke arah Sabiru. Wajahnya serius, namun matanya lembut memandang adiknya—teman masa kecil yang dia anggap sebagai tanggung jawab terbesarnya, dan sekaligus kunci dari semua misteri ini.
"Biru," kata Allbiru pelan. "Kirim pesan singkat ke Mama Malia dan Bibi Rania. Kode 'Burung Hantu Terbang'. Biar mereka tahu kita selamat mendarat. Dan suruh mereka jaga rumah baik-baik. Jangan buka pintu untuk siapa pun."
Sabiru mengangguk, rasa bersalah menyergap dadanya. Meninggalkan ibunya dan bibinya sendirian di Jakarta rasanya berat. Dia tidak tahu bahwa ada seorang ayah lain—Arisendra—yang mungkin masih hidup, dan sedang menunggu di balik bayang-bayang pulau ini.
"Pesan terkirim," lapor Sabiru pelan. "Mama pasti udah deg-degan parah nungguin kabar. Aku janji, Kak, kita bakal pulang bareng-bareng. Aku masih punya tugas akhir kampus yang belum kelar, nggak mungkin aku mati di sini."
Allbiru tersenyum tipis, meski hatinya sesak. "Pasti. Kita pulang. Sekarang, fokus."
Aldo menepuk bahu Sabiru ringan. "Ayo, Nak. Buat Ayah bangga. Dan... buat semua orang yang mencintai kita tetap aman."
Kalimat Aldo terasa aneh bagi Sabiru. "Buat Ayah bangga?" Bukankah ayahnya sudah meninggal? Kenapa Aldo sering berbicara seolah Arisendra masih mengawasi? Tapi Sabiru mengabaikannya. Adrenalin misi lebih dominan.
Mereka bertiga turun dari helikopter. Tanah di bawah kaki mereka terasa aneh—bergetar halus, seolah ada mesin raksasa yang bekerja jauh di dalam perut bumi. Getaran itu terasa familiar di tulang belakang Sabiru, seperti resonansi frekuensi rendah yang dia rasakan saat meretas.
"Koordinat video Direktur menunjuk ke fasilitas di puncak utara," kata Sabiru, mengecek peta offline di jam tangannya. "Jarak dua kilometer. Medan curam."
Aldo tersenyum miring, meski matanya waspada. "Tanjakan ringan buat pemanasan. Ayo, jangan buang waktu. 'Sumber Asli' itu menunggu."
Saat mereka mulai bergerak menyusuri jalan setapak berbatu menuju kegelapan hutan tropis yang lebat, Sabiru merasa ada yang mengawasi. Bukan dari arah fasilitas, tapi dari bayang-bayang pohon di sekitar mereka.
Dia menoleh sekilas. Tidak ada siapa-siapa. Tapi bulu kuduknya berdiri. Instingnya sebagai hacker yang sering merasakan "ada yang salah" dalam kode program, kini muncul dalam bentuk fisik. Dan kali ini, insting itu disertai bisikan samar di kepalanya.
"Selamat datang pulang, Putri."
Sabiru tersentak. "Ada yang salah," bisik Sabiru pelan, cukup hanya untuk didengar Allbiru. "Aku... aku mendengar suara."
Allbiru menatap Sabiru dengan tatapan tajam namun penuh kasih sayang. Dia melihat potensi besar dalam diri adiknya itu. Potensi yang berasal dari darah Arisendra. Allbiru tahu, suatu hari nanti, Sabiru harus tahu kebenarannya. Bahwa dia bukan sekadar mahasiswa IT. Dia adalah kunci hidup Project Rambutan.
"Tetap fokus," bisik Allbiru balik, suaranya rendah dan otoritatif, seperti saat dia memberi instruksi di ruang operasi. "Jangan biarkan pikiranmu berkeliaran. Kita punya tujuan tunggal: Masuk, ambil data/orang, keluar. Jangan pedulikan hal lain."
Sabiru mengangguk, tapi pertanyaan di kepalanya semakin menggema. "Selamat datang pulang." Apa maksud kalimat itu? Apakah itu sekadar ilusi akibat stres? Atau ada makna harfiah yang luput dari pemahamannya?
Hutan di depan mereka tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan. Dan di ujung kegelapan itu, cahaya merah samar dari fasilitas Genesis Core berkedip, seolah mengejek keberanian mereka.
Misi penyelamatan telah dimulai. Bagi Sabiru, ini hanyalah misi menyelamatkan seorang ilmuwan penting. Dia belum tahu bahwa langkah kakinya membawanya semakin dekat pada kebenaran yang akan mengubah seluruh hidupnya: Bahwa dia tidak sedang menyerang markas musuh. Dia sedang kembali ke rumah ayahnya.