Kianara Shernon Abraham
Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.
Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.
Update 2-3 kali dalam seminggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Sore mulai merambat ketika kereta keluarga Everhart memasuki halaman luas kediaman Anwealda. Cahaya matahari yang condong ke barat membuat dedaunan berwarna keemasan, sementara angin membawa aroma bunga melati yang ditanam di sepanjang jalan setapak menuju bangunan utama.
Kepala pelayan yang telah menerima kabar kedatangan mereka sejak siang segera menyambut di depan tangga.
"Selamat datang, Marquis Everhart, Marchioness Everhart."
Lucien menganggukkan kepala singkat.
"Kami datang menemui Yang Mulia Grand Duchess."
"Beliau sedang berada di taman belakang bersama Tuan Muda."
"Silakan mengikuti saya."
Mereka berjalan melewati lorong panjang yang diterangi cahaya matahari sore. Dari kejauhan mulai terdengar suara tawa anak-anak.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat Serena menghentikan langkahnya sejenak.
"Ternyata..."
gumamnya lirih.
"Mereka sudah bisa tertawa lagi."
Nada suaranya dipenuhi rasa syukur.
Sesampainya di taman belakang, pemandangan yang menyambut mereka jauh berbeda dari beberapa hari sebelumnya.
Anak-anak yang semula dipenuhi ketakutan kini duduk berkelompok di atas hamparan rumput. Sebagian sedang menggambar menggunakan kapur warna-warni di atas batu pipih, sebagian lagi bermain menyusun balok kayu bersama Arcellio. Tawa kecil sesekali pecah ketika menara balok yang mereka susun roboh karena ulah Arcellio yang tanpa sengaja menyenggolnya.
"Itu salahmu!"
Sean menunjuk Arcellio sambil tertawa.
"Aku tidak sengaja."
"Semua orang bilang begitu kalau ketahuan."
"Aku benar-benar tidak sengaja."
"Kau bohong."
"Aku tidak pandai bohong."
"Itu juga terdengar seperti bohong."
Anak-anak lain langsung tertawa.
Bahkan Arcellio yang biasanya menjaga wibawa di depan orang lain ikut tertawa kecil sambil menggaruk pipinya.
Kianara yang duduk di bawah pohon hanya menggeleng pelan melihat tingkah mereka.
Rasanya baru kemarin semua anak itu menangis ketakutan di ruang bawah tanah.
Sekarang...
perlahan mereka mulai kembali menjadi anak-anak.
Begitulah seharusnya.
Tidak dibebani rasa takut.
Tidak dibayang-bayangi ancaman.
Cukup bermain, tertawa, dan sesekali bertengkar karena hal-hal sepele.
"Itu Sean?"
Suara Serena membuyarkan lamunan Kianara.
Kianara mengangguk.
"Yang berbaju cokelat."
Serena memperhatikan anak itu cukup lama.
Tubuhnya memang jauh lebih kurus dibanding anak-anak seusianya. Pakaian baru yang diberikan pelayan masih terlihat sedikit kebesaran di tubuh kecilnya. Rambutnya sudah dipotong rapi, luka-luka di wajahnya mulai mengering, tetapi bekas kekurangan gizi masih terlihat jelas dari pipinya yang tirus.
Namun ada satu hal yang membuat Serena tidak bisa mengalihkan pandangan.
Sean beberapa kali tanpa sadar selalu memastikan teman-temannya lebih dulu mendapatkan makanan kecil yang dibagikan pelayan sebelum akhirnya mengambil miliknya sendiri.
Gerakan itu sangat alami.
Seolah telah menjadi kebiasaan.
"Dia..."
Serena menahan napas.
"...terbiasa mengalah."
Lucien ikut memperhatikan.
"Anak seperti itu biasanya belajar terlalu cepat bahwa dirinya tidak penting."
Kalimat sederhana itu membuat dada Kianara terasa sesak.
Karena ia tahu.
Mereka benar.
Tidak lama kemudian Arcellio melihat kedatangan mereka.
"Ibu!"
Anak kecil itu segera berlari menghampiri Kianara.
Namun langkahnya mendadak berhenti ketika melihat Lucien, Serena, dan Roseline.
"Bibi Serena!"
Roseline melambaikan kedua tangannya dengan semangat.
"Kak Arcellio!"
Arcellio tersenyum lalu membalas lambaian itu.
"Roseline."
Anak perempuan itu langsung berlari menghampirinya.
"Aku membawa kue."
"Banyak?"
"Banyak sekali."
"Mau."
Semua orang langsung tertawa mendengar jawaban Arcellio yang terlalu jujur.
Suasana menjadi jauh lebih santai.
Sean yang semula masih bermain kini memperhatikan dari kejauhan. Tatapannya bergantian antara Arcellio dan keluarga Everhart.
Ia tidak berani mendekat.
Seolah takut mengganggu.
Kianara menangkap hal itu.
Ia menoleh kepada Sean sambil tersenyum tipis.
"Sean."
Anak itu langsung berdiri.
"Iya, Yang Mulia."
"Kemarilah."
Sean melangkah pelan.
Semakin dekat.
Semakin gugup.
Ia berhenti beberapa langkah di depan Lucien dan Serena, lalu buru-buru menundukkan kepala.
"S-Salam hormat..."
Serena tidak langsung berbicara.
Ia justru berlutut hingga tinggi mereka sejajar.
"Namamu Sean?"
"Iya."
"Usiamu berapa?"
"Empat tahun..."
Suara Sean sangat pelan.
Nyaris berbisik.
"Kau suka membaca?"
Sean menggeleng malu.
"Aku... belum bisa."
"Kalau menggambar?"
"Aku suka..."
"Main pedang?"
Sean kembali menggeleng.
"Aku belum pernah."
Serena tidak bertanya lagi.
Ia hanya tersenyum hangat.
"Kalau begitu nanti kita belajar bersama."
Sean mengangkat wajahnya perlahan.
"Belajar?"
"Iya."
"Menggambar."
"Membaca."
"Menanam bunga."
"Membuat kue."
Roseline langsung menyela dengan wajah ceria.
"Aku juga akan mengajarimu main petak umpet!"
Sean berkedip beberapa kali.
Seumur hidupnya...
Belum pernah ada orang yang berbicara tentang masa depannya.
Orang-orang selama ini hanya menyuruhnya bekerja.
Membentaknya.
Atau mengabaikannya.
Tidak pernah ada yang berkata...
"Nanti kita belajar bersama."
Matanya mulai memanas.
Namun kali ini ia tidak menangis.
Ia hanya menoleh kepada Kianara.
Tatapan kecil itu seolah bertanya...
"Apa aku benar-benar boleh?"
Kianara membalasnya dengan senyum lembut.
"Sean."
"Iya?"
"Kau tidak perlu menjawab sekarang."
"Kenalilah mereka dulu."
"Kalau suatu hari nanti kau merasa nyaman..."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih hangat.
"...barulah pilih tempat yang ingin kau sebut sebagai rumah."
Sean menggigit bibirnya pelan.
Lalu mengangguk.
Untuk pertama kalinya...
kata rumah tidak lagi terdengar begitu jauh baginya.
...****************...
Matahari mulai condong ke arah barat ketika pertemuan kecil di taman berakhir. Para pelayan kembali mengajak anak-anak masuk ke dalam kediaman untuk mencuci tangan dan bersiap menikmati kudapan sore. Tawa yang sejak tadi memenuhi halaman perlahan menjauh, berganti dengan suara langkah kaki kecil yang saling bersahutan di sepanjang koridor.
Sean menjadi orang terakhir yang meninggalkan taman.
Beberapa kali ia menoleh ke belakang.
Tatapannya berhenti pada keluarga Everhart yang masih berdiri di dekat gazebo.
Roseline melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Sean! Besok kita main lagi!"
Anak laki-laki itu tampak gugup. Bahunya sedikit terangkat, seolah belum terbiasa menjadi tujuan sapaan yang penuh semangat seperti itu. Namun beberapa detik kemudian, ia mengangkat tangannya perlahan dan membalas lambaian tersebut.
"Sampai... besok."
Meski suaranya hampir tidak terdengar, senyum kecil di wajah Serena tidak dapat disembunyikan.
"Lucien."
Marchioness itu berbisik pelan.
"Menurutmu... bagaimana?"
Lucien masih memperhatikan punggung kecil Sean yang berjalan mengikuti seorang pelayan.
"Aku belum bisa mengatakan apa pun."
Ia tersenyum tipis.
"Tapi..."
"Anak itu sopan."
"Tidak manja."
"Dan matanya..."
Lucien berhenti sejenak.
"...mata seorang anak yang terlalu cepat dipaksa tumbuh dewasa."
Serena menundukkan pandangannya.
"Aku ingin memeluknya."
"Namun aku takut membuatnya semakin tidak nyaman."
"Itu wajar."
Lucien menggenggam tangan istrinya pelan.
"Selama ini tidak ada yang mengajarinya bahwa pelukan juga bisa berarti rasa aman."
Kalimat sederhana itu membuat Serena kembali memandang ke arah pintu aula tempat Sean menghilang.
Di dalam hatinya, perlahan tumbuh sebuah harapan yang bahkan belum berani ia ucapkan.
Sementara itu, di lantai dua kediaman Anwealda, seseorang berdiri diam di balik jendela besar ruang kerjanya.
Agerald.
Sejak tadi ia tidak berniat mengganggu pertemuan Kianara dengan keluarga Everhart.
Namun tanpa sadar, pandangannya beberapa kali tertuju ke taman.
Ia melihat bagaimana Kianara berbicara dengan Sean.
Bagaimana perempuan itu tidak pernah sekalipun memperlihatkan belas kasihan yang berlebihan. Tidak memperlakukannya seperti anak yang rapuh, tetapi juga tidak bersikap terlalu dingin. Semua dilakukan dengan kadar yang pas, cukup untuk membuat seorang anak merasa dihargai tanpa merasa dikasihani.
Pandangannya kemudian beralih kepada Arcellio.
Anak laki-laki itu tampak sibuk menggandeng tangan Sean menuju aula sambil bercerita tentang sesuatu yang membuat keduanya sesekali tertawa.
Pemandangan itu terasa... asing.
Bukan karena ia belum pernah melihat anak-anak bermain bersama.
Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak sekian lama, halaman kediaman Anwealda dipenuhi suara tawa.
Dulu...
Rumah ini selalu terlalu sunyi.
Semua orang berjalan dengan hati-hati.
Pelayan berbicara seperlunya.
Arcellio lebih sering bermain sendirian.
Sementara dirinya menghabiskan sebagian besar waktu di ruang kerja atau medan perang.
Kini semuanya perlahan berubah.
Agerald menghela napas pelan tanpa menyadarinya.
Ketukan kecil terdengar dari balik pintu.
"Masuk."
Kapten Rivalt melangkah masuk sambil membawa beberapa gulungan laporan.
"Yang Mulia, penyelidikan mengenai jalur perdagangan manusia telah berkembang."
Agerald menerima laporan itu tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
"Apa hasilnya?"
"Kami menemukan beberapa gudang kosong lain."
"Tidak ada orang?"
"Sudah dibersihkan."
Agerald mengangguk pelan.
"Sama seperti sebelumnya."
"Ya."
Rivalt membuka gulungan lain.
"Namun kali ini kami menemukan sesuatu yang berbeda."
Ia menyerahkan secarik kain kecil yang dibungkus rapi.
Di atas kain itu terdapat sulaman berbentuk lingkaran yang dikelilingi rantai.
Sama persis.
Simbol yang mereka lihat di ruang bawah tanah.
Tatapan Agerald langsung mengeras.
"Ditemukan di mana?"
"Di dalam dinding gudang yang terbakar."
"Bukan di tempat terbuka."
"Seolah sengaja disembunyikan."
Agerald mengambil kain itu.
Begitu jemarinya menyentuh permukaan sulaman tersebut...
rasa nyeri kembali menusuk kepalanya.
Namun kali ini berbeda.
Bukan hujan.
Bukan reruntuhan.
Melainkan sebuah ruangan luas yang dipenuhi cahaya matahari.
Seorang perempuan sedang tertawa pelan.
Rambut panjangnya bergerak tertiup angin.
Di sampingnya, seorang anak kecil berlari sambil membawa bunga liar di kedua tangannya.
"Ayah!"
Suara kecil itu terdengar begitu jelas.
"Lihat! Ibu membuat mahkota bunga!"
Perempuan itu menoleh sambil tersenyum.
"Sini."
"Aku juga akan membuatkan satu untuk Ayah."
Agerald membeku.
Ia berusaha melihat wajah perempuan itu.
Namun tepat ketika sosok tersebut mulai berbalik...
kilasan itu pecah seperti kaca yang dihantam batu.
Pandangannya kembali ke ruang kerja.
Napasnya memburu.
Tangannya masih menggenggam erat kain bersulam itu.
"Yang Mulia?"
Rivalt langsung maju selangkah.
"Apakah Anda baik-baik saja?"
Agerald mengangkat tangan, memberi isyarat agar bawahannya tidak mendekat.
"Aku tidak apa-apa."
Namun jawaban itu bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.
Ia menundukkan kepala.
Mahkota bunga...
Mengapa bayangan seperti itu muncul?
Mengapa terasa begitu nyata?
Dan yang lebih aneh lagi...
Mengapa dadanya terasa sesak seolah benar-benar pernah mengalaminya?
Di luar ruang kerja, langkah kaki kecil terdengar berlari melewati koridor.
Disusul suara tawa Arcellio yang memanggil Sean untuk melihat ikan di kolam belakang.
Suara itu samar.
Namun cukup membuat Agerald menoleh ke arah jendela sekali lagi.
Tanpa ia sadari, sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Begitu tipis hingga bahkan dirinya sendiri tidak menyadarinya. Namun jauh di dasar jiwanya, sesuatu yang telah tertidur sangat lama, perlahan mulai membuka mata.