PLAGIAT DILARANG MEREKAT!😈😈
INI REAL CERITA SAYA YAH💜
Hidup sendiri didunia ini rasanya begitu sesak, hampa dan hambar bagaikan sayur tanpa bumbu pelengkap.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak dicintai bukanlah hal yang salah, namun menyakitkan.
Setiap hari, jam, menit bahkan detik dia tidak menganggap kehadiranmu. Dia lebih memilih bersenang-senang bersama teman-teman dan terpuruk dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.
Sakit?
yah sangat. melebihi luka jahitan. sakit berdarah memang sakit, namun lebih sakit jika sakit tanpa darah.
Rasanya seperti menjadi iron man?
no! bukan seperti menjadi iron man, but rasanya seperti ada ratusan belati tajam menusuk-nusuk hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
SELAMAT MEMBACA!
***
Mbok Tini berjalan terburu-buru untuk membukakan pintu.
Tok-tok-tok!
Suara ketukan pintu kembali terdengar.
"Iya sebentar!" teriak Mbok Tini.
Ceklek!
Mbok Tini membuka pintu dan terlihatlah Delima yang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Tubuh yang basah kuyup, mata yang memerah dan make up yang mulai luntur. Mbok Tini memperhatikan Delima dari bawa sampai atas.
"Apa yang terjadi nyonya?" tanya Mbok Tini namun Delima tidak menjawabnya.
Ia masuk begitu saja menyeret tubuhnya yang lemah menuju kamarnya. Delima lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Mbok Tini tercengang ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada majikannya, tidak seperti biasanya Delima bersikap seperti itu.
"Ya Tuhan ada apa lagi ini?" gumam Mbok Tini memandang senduh kamar majikannya.
Di dalam kamar, Delima langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah air shower lalu ia pun menangis sesegukan.
"Hiks... hiks.... bodoh!!" Delima memukul-mukul kepalanya sendiri.
Detik berikutnya pandangan Delima terlihat begitu kosong. Ia menatap ke sembarang arah, namun pikirannya masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"Arghhh..." Delima berteriak histeris saat sakit kepalanya kembali menyerang.
Ia terlalu berpikir keras dan otaknya menolak semua itu sehingga menyebabkan sakit kepala yang begitu sakit kembali menyerangnya.
"Sa-sakit," keluh Delima tambah terisak.
"Aku mau mati saja!! Kenapa hidupku selalu tidak adil seperti ini?!" histeris Delima dan kembali memukul-mukul kepalanya.
Ia sudah tidak peduli akan sakit kepala yang kini ia rasakan. Hatinya hancur, perasaanya kalut dan pikirannya berkecamuk. Semakin ia mencoba berpikir positif semakin pula kenyataan menyadarkannya jika semuanya bullshit! Omong kosong!
Sekali membenci akan selamanya membenci dan bagaimana mungkin seorang Erwin bisa berubah dalam waktu semalam? Bisa mencintai dan memperlakukan Delima begitu manis, jika tidak ada maksud dari itu.
Ya, Delima sadar sekarang. Erwin hanya mempermainkannya. Erwin tidak akan dan tidak akan pernah bisa menerima dirinya yang punya begitu banyak kekurangan.
"Aku lebih suka kau membenciku dari pada membohongi perasaanku seperti ini mas. Terlalu banyak harapan yang kau torehkan dan nyatanya semua hanyalah omong kosong!" lirih Delima menangis sejadi-jadinya.
***
Jam dua dini hari barulah Erwin kembali ke rumah. Tadi dia pergi ke club untuk menjernihkan pikirannya. Bertemu setelah sekian lama berusaha melupakannya membuat pikiran dan hati Erwin diporak-porandakan.
Erwin memang masih mencintai wanita itu, namun dia juga membenci Arumi yang tega mengkhianatinya dan menikah dengan musuhnya sendiri.
Ceklek!
Erwin membuka pintu kamarnya dan di ranjang ia melihat Delima sudah terlelep dengan di balut selimut. Erwin nampak acuh tak acuh, ia bahkan tidak peduli bagaimana perasaan Delima saat ia tinggalkan tadi.
Delima membuka matanya saat merasakan ada pergerakan pada ranjang. Tanpa menoleh pun Delima sudah tahu jika suaminya baru saja kembali.
"Kau belum tidur?" tanya Erwin namun Delima tidak menjawabnya ia lebih memilih untuk menulikan pertanyaan suaminya.
"Del! Apa kau tidak mendengarku?" tanya Erwin lagi.
Delima lalu mendudukkan tubuhnya begitu pula dengan Erwin.
"Sudahlah mas, aku capek! Aku mau tidur, istirahat!" ketus Delima lalu turun dari ranjang.
"Kamu mau ke mana?" tanya Erwin mengernyit.
"Aku mau tidur di kamar tamu saja," jawab Delima tanpa menoleh dan berlalu keluar dari kamar.
Erwin mengernyit bingung, "Ada apa dengannya?" batin Erwin bertanya-tanya.
Namun, bukan Erwin namanya jika mengambil pusing masalahnya dengan Delima. Dia malah memilih untuk tidur dari pada mencari tahu ada apa dengan istrinya itu.
"Sudahlah besok juga dia kembali lagi," ucapnya sebelum terlelap.
***
Jangan lupa like, komen dan votenya yah💕
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘