Kisah Vino Alvaro dan Aina Olivia yang hidup di rumah kontrakan mereka.
Kesederhanaan membuat mereka rukun dan damai, namun ternyata ada banyak badai dan cobaan di hidup pernikahan mereka, mampukah mereka melewati semua badai itu?
Mampukan Vino mewujudkan impiannya dan berdiri menantang badai itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Spesial
Hari ini hari Sabtu, Vino dan Aina libur masuk kerja, hari ini mereka berdua bangun agak siang, dengan rasa malas Aina beranjak dari tempatnya, Vino nampak masih tidur dengan selimut yang membalut tubuhnya yang polos, Aina tersenyum melihatnya, kemudian dia perlahan mendekati suaminya.
Cup...
Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Vino. Vino mengerjapkan matanya.
"Bangun sayang...apa kau tidak lapar? Sekarang sudah jam 8 pagi..." Ucap Aina.
Bukannya bangun Vino malah menarik tangan Aina ke pelukannya. Mau tidak mau Aina terjatuh dalam pelukan Vino.
"Hari ini libur...kenapa harus terburu-buru? Aku masih mau lebih lama bersamamu..." Kata Vino sambil tetap memejamkan matanya.
"Iih...apa kau tidak puas-puas dari semalam membuat ku tidak tenang tidur? Selalu menggangguku...!" Aina menarik tubuhnya dari pelukan Vino.
"Aku menginginkannya lagi..." Gumam Vino.
"No...aku mau masak!" Cetus Aina yang langsung turun dari tempat tidur.
Tok....tok....tok...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di kontrakan mereka. Aina cepat membasuh wajahnya dan dan segera berjalan menuju ke ruangan depan, Aina masih mengenakan dasternya.
"Siapa ya...?" Tanya Aina sambil membuka pintu kontrakannya.
Seorang wanita cantik dan elegan sudah berdiri di depan Aina, matanya menatap dalam kearah Aina dari atas sampai kebawah, pandangannya menyapu seluruh isi ruangan yang ada di situ.
"Vino ada?" Tanya Wanita itu.
"Anda siapa mencari suami saya? Dia masih tidur..." Jawab Aina.
"Saya Siska, atasan suami kamu...." Ternyata Bu Siska yang datang ke kontrakan mereka.
"Eh...atasan? Oh...maaf Bu...ayo masuk...ayo duduk..." Kata Aina gugup sambil membereskan ruangan itu cepat, dan menggeser satu kursi untuk Bu Siska duduk. Kemudian Bu Siska masuk dan duduk di kursi yang disediakan Aina.
"Bu Siska mau minum apa? Aku buatkan teh hangat ya...?" Tawar Aina. Bu Siska menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, aku mau bertemu dengan Vino..." Sahut Bu Siska.
"Sebentar ya Bu...aku panggilkan dulu...dia belum berpakaian...maklum semalam dia terlalu bersemangat...mungkin karena hari ini libur..." Ujar Aina polos sambil beranjak masuk ke kamarnya. Wajah Bu Siska mendadak berubah pias.
Tak lama Vino dan Aina muncul, mata Vino merah menandakan dia masih mengantuk.
"Eh...Bu Siska...ada apa ya bu..? Kok tau kontrakan saya?" Tanya Vino heran.
"Itu tidak penting! Aku mau menyerahkan ini..." Jawab Bu Siska sambil menyodorkan selembar brosur.
"Apa ini Bu?" Tanya Vino.
"Itu perumahan yang baru di bangun di dekat kantor, aku lihat kontrakan ini tidak layak untuk seorang staf manager sepertimu...perusahaan yang akan membayar DP nya, nanti cicilannya akan di potong dari gaji mu..." Jelas Bu Siska.
"Ya ampun Vin...banyak sekali fasilitas dari perusahaan...beruntungnya kamu Vin!" Seru Aina bersemangat. Matanya nampak berbinar.
Wajah Vino tampak datar, tidak menggambarkan kegembiraan, dia teringat akan perkataan Dedi tempo hari, hati-hati pada setiap pemberian Bu Siska.
"Maaf Bu...kami tidak layak menerima ini semua..." Ujar Vino.
"Hei...bodoh amat sih Vin...bukannya bersyukur kok malah gitu ngomongnya...awas lho...nggak aku servis!" Ancam Aina.
"Benar kata istrimu...jangan pernah kau tolak fasilitas dari perusahaan..." Cetus Bu Siska.
"Sudahlah Vin...terima saja tawaran dari perusahaan...kenapa sih pake gengsi segala?" Tambah Aina membuat Vino makin terpojok.
"Ya sudah...nanti aku pikirkan lagi..." Kata Vino.
"Jangan lama-lama mikirnya sayang...ini demi kita ...demi masa depan kita..." Ujar Aina sambil mengecup lembut bibr Vino. Vino tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia ingin menegaskan Bu Siska bahwa dirinya hanyalah milik istrinya, lalu Vino membalas kecupan Aina lebih dalam lagi, sesaat mereka terhanyut dalam adegan yang cukup panas itu.
Bu Siska yang melihat itu menggigit bibirnya, kemudian perlahan dia memalingkan wajahnya.
"Sudah cukup!" Seru Bu Siska. Vino dan Aina menghentikan aktifitasnya.
"Aku mau pulang... coba pikirkan lagi tawaranku...dan ini...kartu berobat di rumah sakit...pakailah jika kalian memerlukannya, termasuk memeriksakan kehamilan..." Kata Bu Siska sambil berdiri dan menyodorkan sebuah kartu kepada Vino, dengan ragu-ragu Vino menerimanya.
"Trimakasih Bu..." Ujarnya lirih.
Bu Siska melangkah keluar dari dalam kontrakan, tiba-tiba Aina mengejarnya.
"Bu.. trimakasih ya atas perhatiannya terhadap suami saya...mohon maaf jika dia terlalu lambat mengambil keputusan...pokoknya apa saja kebijakan perusahaan saya akan menyetujuinya..." Ujar Aina.
"Termasuk lembur dan tugas ke luar kota?" Tanya Bu Siska sambil menoleh kearah Aina.
"Iya Bu...termasuk lembur dan tugas keluar kota...saya tidak akan keberatan..." Jawab Aina.
"Bagus.. dorong suamimu untuk lebih loyal dalam bekerja di perusahaan..." Kata Bu Siska sambil berjalan meninggalkan Aina menuju mobilnya terparkir yang agak jauh di ujung gang kontrakan.
Sementara Vino yang masih duduk di ruang depan kontrakannya nampak gelisah menyandarkan kepalanya di tembok. Tak lama kemudian Aina sudah masuk dan duduk di samping Vino.
"Vin...boss Kamu tuh baik...kamu jangan terlalu jutek gitu...tar di pecat baru tau rasa!" Cetus Aina. Vino hanya mendesah panjang.
"Sebenarnya...aku lebih suka usaha sendiri dari pada kerja sama orang Ai..." Lirih Vino. Aina membulatkan matanya.
"Apa? Dengan kejadian yang lalu apa kau masih belum kapok? Katanya jadi boss untuk diri sendiri...tapi belum sampe maju udah bangkrut duluan...bukannya untung kita malah buntung...belum lagi harus membayar ganti rugi yang bukan sepenuhnya kesalahan kita...mikir dong Vin..." Ungkap Aina.
"Tapi paling tidak kita akan lebih sering bersama..." Jawab Vino.
"Bersama? Bahkan tadi ku tegaskan pada Bu Siska aku mengijinkanmu untuk kerja lembur dan tugas keluar kota..." Kata Aina.
"Apa kau rela aku jarang pulang hanya demi uang? Apa cintamu hanya sebatas rupiah saja Aina?" Sengit Vino, matanya mulai merah menahan emosi. Aina kaget dan langsung terdiam.
"Ma.. maafkan aku Vin...bukan begitu maksudku...aku hanya ingin...perekonomian keluarga kita jadi lebih baik...apa salahnya kau bekerja dulu dengan sebaik mungkin sambil mengumpulkan modal? Setelah itu kita mulai lagi membuka usaha...aku sayang kamu Vin...aku juga ingin kau maju...memiliki apa yang selama ini belum pernah kau miliki..." Ucap Aina. Air matanya mulai menetes perlahan.
Vino merengkuh tubuh istrinya itu, di kecup nya keningnya dengan lembut.
"Maafkan aku Aina...maafkan aku...sebagai suami aku begitu terbatas...tak bisa lebih membahagiakanmu...maafkan aku...kalau kamu mau aku terus bekerja, aku akan terus bekerja...tapi jangan suruh aku lembur...apalagi tugas keluar kota...itu godaan buatku..." Kata Vino.
"Godaan? Apa maksudmu?" Tanya Aina tak mengerti.
"Sayang...kau kan tau...wajah suamimu ini tampan...kalau ada wanita yang menggodaku bagaimana jika aku sering jauh darimu? Di kontrakan saja aku sering di usili anak ABG ...apalagi di kantor..."
Aina terhenyak, di pandangnya wajah suaminya itu yang memang tampan, lalu dia memegang wajah Vino dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Iya Vin...kau memang tampan...aku tak akan mengijinkanmu untuk lembur...apalagi ke luar kota...aku tidak rela suamiku di goda orang!" Ungkap Aina sambil memeluk erat tubuh Vino.
**********
cus kesini....
Ttp semangat, Thor!!!!!!
trima kasih thor cerita bagus👍👍
good