Xarena yang seorang anggota tingkat 1 di sebuah kelompok mafia harus terbunuh karna ledakan sebuah bom saat melakukan misi,namun bukannya meninggal,Xarena justru bertransmigrasi ke tubuh gadis yang memiliki nama dan wajah yang sangat mirip dengannya
" siapa sebenarnya gadis yang tubuhnya kini aku tempati..."
" kemana dia.... "
" dan kenapa wajah dan nama kita hampir sama..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risma Reyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
" kak Sera.." ucap Xarena seraya berusaha kembali berdiri.
" iya...kenapa,terkejut,takut...tadi aja sok keras " jawab Serafin sambil menatap lekat ke arah Xarena.
" ini maksudnya apa yah.." tanya Xarena yang masih belum bisa mencerna apa yang membuat Serafin tiba-tiba menyerangnya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Xarena,Serafin yang sudah dikuasai emosi malah berjalan dengan cepat ke arah Xarena mencengkeram rambut belakang kepalanya lalu menarik nya dengan kuat hingga kepala Xarena mendongak ke atas.
" masih tanya kenapa...dengar baik-baik ya Rena,Daniel itu punya aku,jadi aku saranin kamu gak usah bermimpi buat bisa dekat sama dia...ngerti " ucap Serafin mencoba mengintimidasi gadis yang baru di temuinya itu.
Serafin mengira Xarena yang masih berusia muda pasti akan ketakutan setelah di ancam olehnya,namun reaksi yang di berikan oleh Xarena justru jauh di luar dugaan,bukannya takut gadis 18 tahun itu malah tertawa lepas seolah ingin menunjukan betapa menyedihkannya Serafin di matanya saat ini.
" berani banget yah kamu.." geram Serafin.
Seketika Wanita itu mengangkat tangannya hendak menampar pipi mulus Xarena,namun kali ini Xarena tidak tinggal diam,dia menangkap tangan Serafin lalu mencengkeram erat pergelangan tangan wanita itu hingga membuatnya meringis kesakitan.
" lepasin tangan aku,dasar kamu cewek kasar " hardiknya pada Xarena.
" kalau aku cewek kasar,terus kamu sendiri cewek apa..cewek bar bar,iya...gak ada ya cewek lemah lembut yang dateng terus tiba-tiba nyekik leher orang " omel Xarena lalu menghempas kasar tangan Serafin hingga wanita itu jatuh karna hilang keseimbangan.
Bukannya berhenti sampai disitu,Serafin yang sudah di butakan oleh rasa cemburu dan obsesinya pada Daniel tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi sebuah cairan bening,sekilas terlihat seperti air biasa namun Xarena sangat tahu cairan apa itu sebenarnya.
" lihatlah,apakah setelah ini kamu masih punya nyali buat deketin Daniel "
" wah...udah gak ketolong ni orang " gumam Xarena.
Tepat saat itu,Serafin berlari ke arahnya mencoba menyiram wajah Xarena dengan cairan asam sulfat yang sudah ia persiapkan,untungnya Xarena berhasil menghindar tepat waktu hingga wajah cantiknya itu bisa selamat walaupun pergelangan tangannya sedikit melepuh karna terkena sedikit cipratan.
Karna keadaan semakin tidak kondusif,Xarena memutuskan untuk melakukan sesuatu agar ia bisa segera menyelesaikan perkelahian yang tidak bermanfaat ini,melihat Serafin lengah segera ia melesatkan sebuah pukulan tepat di tengkuk wanita tersebut dan berhasil membuat Serafin pingsan seketika.
" kalau gini kan enak,jadi diem dia " gumam Xarena sambil memandangi Serafin yang sudah ambruk di lantai.
" tunggu,itu tato apa tanda lahir yah..kok gue ngerasa familiar sama bentuknya" ucap Xarena saat menyadari ada sebuah tato yang sangat ia kenal di tengkuk Serafin.
Xarena pun segera mengambil handphone miliknya untuk menghubungi Daniel setelah beberapa kali memastikan soal tato tersebut.
" halo...bisa kekamarku sekarang gak...ini penting " ucap Xarena segera setelah Daniel menjawab panggilan telfon darinya.
" okey...aku akan segera kesana" jawab Daniel.
Setelah 5 menit ia menunggu,akhirnya terdengar suara ketukan di pintu dan tentu saja Xarena segera membukanya karna tahu jika itu Daniel.
" bagaimana bisa ada Sera disini " tanya Daniel keheranan saat melihat Serafin yang terbaring pingsan di lantai kamar Xarena.
" tadi dia kesini katanya mau ngasih aku pelajaran,yaudah karna aku di kasih pelajaran yah aku pelajarin"
" trus ini apa...jangan bilang dia mau nyiram wajahmu pakek air keras ini " ucap Daniel saat melihat banyak sisa cairan asam sulfat di lantai kamar tersebut,apalagi pergelangan tangan Xarena juga melepuh karna sempat terkena cipratannya.
" menurutmu..." ucap Xarena datar karna tak menyangka dalam sehari ini ia sudah mendapat 2 luka lengkap di tangan kanan dan kirinya.
" yasudah kamu duduk dulu,biar aku suruh orang buat beresin ini sekaligus pindahin Serafin ke kamarnya"
" sebelum mereka kesini,coba lihat tengkuk kak Sera dulu "
Daniel mengernyitkan dahinya mencoba menerka-nerka maksud dari permintaan Xarena yang menurutnya tidak masuk akal itu,namun karna ia merasa bersalah akhirnya mau tak mau Daniel pun menuruti permintaan gadis tersebut.
" bukankah ini tato kupu-kupu yang sama seperti milik 3 pria misterius yang ada di rumah sakit tadi.."
" ya...menurutku juga begitu,ada yang tidak beres dengan wanita ini " ucap Xarena yang sudah bisa menyimpulkan kalau Serafin pasti ada hubungannya dengan apa yang menimpa sahabatnya Pamella.
" itu berarti Serafin benar-benar terlibat dengan peristiwa ledakan yang menewaskan mendiang tunanganku "
Xarena spontan menatap lekat Daniel seolah mencari validasi atas apa yang baru saja di ucapkan pria itu,tangannya mengepal erat,nafasnya memburu menandakan amarah telah menguasai diri Xarena
jadi lo yang udah buat gue jadi kayak gini,bahkan bukan cuma gue aja,sahabat gue juga lo incar,lo sekap,lo aniaya sampai hampir kehilangan nyawanya.
Tanpa Xarena sadari tubuhnya seperti bergerak sendiri menghampiri Serafin yang masih terbaring di lantai,lalu dengan spontan ia menendang tubuh wanita itu hingga yang tadinya telungkup menjadi terlentang.
" hei...tenanglah,aku juga sangat marah dengan wanita ini,aku juga sangat ingin membunuhnya d,tapi ini nggak sesederhana yang kita kira ".ucap Daniel mencoba mencegah Xarena agar ia tak berbuat lebih jauh lagi.
Daniel bisa merasakan seakan ada lonjatan kekuatan di dalam tubuh Xarena,hingga ia harus mendekap extra kuat tubuh gadis tersebut agar lebih tenang dan tidak di kuasai amarah.
Sampai akhirnya para anggota yang bertugas jaga malam sampai disana dan tubuh Serafin pun segera di pindahkan ke kamarnya,Xarena yang masih berada dalam dekapan Daniel pun tak kuat menahan air matanya karna rasa marah yang masih membara di dalam hatinya belum tersalurkan sepenuhnya.
Hampir 15 menit lamanya Daniel setia memeluk dan mengusap halus punggung Xarena mencoba menenangkan gadis cantik tersebut dari tangisnya.
Malam ini,Xarena benar-benar melupakan identitasnya sebagai Queen Xarena Bagaskara,begitu pun juga dengan Daniel yang mulai terbawa suasana hingga ia juga tak kuasa menahan tangisnya dan berkali-kali meminta maaf pada Xarena karna merasa gagal melindungi gadis yang di cintainya itu.
" lebih baik sekarang ikut aku ke ruang kerjaku untuk menemui Daniella,kita akan bahas soal ini disana okey " ucap Daniel seraya menangkup wajah mungil Xarena dan mengusap lembut sisa-sisa air matanya.
Xarena hanya mengangguk pelan sebagai tanda kalau ia setuju dengan tawaran Daniel,lalu keduanya berjalan sambil bergandengan tangan menuju ruang kerja Daniel menemui Daniella yang sudah menunggu disana.
" kau bilang ingin membahas soal kak Sera berdua denganku,kenapa kau malah mengajak dia kesini..?" tanya Daniella yang keheranan karna sang kakak tiba-tiba saja datang dengan membawa Xarena.
" di akan ikut ke dalam penyelidikan kita,dia sudah terlibat cukup jauh Daniella " jawab Daniel.
" maaf,tapi aku janji tidak akan menjadi beban kalian berdua selama masa penyelidikan ini " kini giliran Xarena yang bersuara.
Akhirnya mau tak mau Daniella pun menyetujui usul Daniel untuk melibatkan Xarena dalam penyelidikan mereka,meskipun dalam hati Daniella masih diliputi keraguan akan gadis yang baru di kenal kakaknya itu.
" okey...aku setuju,tapi ingat ini bukanlah sekedar permainan detektif-detektifan ini adalah pertarungan sungguhan antara kita dan pelaku, apa kau sudah mempertimbangkan resikonya " ucap Daniella mencoba sekali lagi memperingati Xarena .
" tentu saja,aku hanya ingin jadi wanita kuat sepertimu "
Wajah Daniella memerah seketika mendengar pujian dari Xarena untuknya,ini kedua kalinya ia merasa di akui selain dengan Leon,dan tentu saja itu tidak luput dari perhatian Daniel,pria itu diam-diam merasa kagum dengan cara Xarena meluluhkan hati saudara kembarnya itu.
" dasar kuntikanak gen z " gumam Daniel seraya tersenyum manis ke arah Xarena.