Setelah perceraian kedua orang tuanya, Dion diharuskan tinggal bersama sang ayah. Kehidupan Dion pun berubah drastis manakala sang ayah menikah lagi. Dion yang kala itu hanya seorang anak kecil, selalu merindukan sosok ibu kandungnya namun tidak bisa melakukan apa-apa.
Setelah bertahun-tahun kehilangan kontak dengan sang ibu, Dion yang beranjak dewasa mulai mencari tahu tentang keberadaan ibunya. Dengan sedikit petunjuk yang didapat Dion akhirnya pergi mencari keberadaan sosok wanita yang selama ini dirindukannya. Berhasilkah Dion bertemu kembali dengan sosok sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Rumah Stella
Setelah mencari alamat yang dituju. Akhirnya Benny dan Dion tiba di rumah Stella. Awalnya keduanya sempat ragu untuk berhenti di depan rumah tersebut. Namun setelah mengecek dan memastikan alamat yang diberikan Stella berkali-kali yang memang benar tertuju pada rumah mewah itu. Barulah keduanya turun.
Dion: "Benar ini rumahnya Stella?"
Benny: "Benar. Ini alamat yang dia kasih. Nomor 23B ya rumah ini!"
Dion melihat penampakan rumah mewah yang berdiri kokoh dari balik pagar. Entah mengapa membuatnya merasa minder.
Benny: "Bentar, aku telpon Stella."
Benny mengeluarkan ponsel dan langsung menghubungi Stella.
Benny: "Halo, Stel... Aku udah di depan rumah ini. Nomor 23B kan rumahmu? ... Oke."
Benny menyimpan kembali ponselnya.
Benny: "Benar ini rumahnya."
Tak lama kemudian Stella keluar dari balik pagar.
Stella: "Hai, sini!"
Stella membuka pintu pagar lebih lebar agar Benny bisa mendorong masuk motornya. Dion benar-benar dibuat tercengang begitu memasuki halaman rumah Stella.
Benny: "Wah... Aku baru tahu ternyata kamu orang kaya."
Stella: "Yang kaya papaku. Aku cuma numpang. Hahaha..."
Benny: "Nanti juga kan kebagian warisan."
Stella: "Masuk yuk! Dion juga jangan bengong aja."
Dion: "Grogi, Stel. Rumahmu besar sekali."
Stella: "Bukan rumahku. Rumah papaku. Aku gak punya rumah."
Benny: "Stel, pandai merendah deh!"
Stella: "Kenyataan, Ben."
Benny: "Ngomong-ngomong Tamara datang ke sini gak?"
Stella: "Datang dong!"
Benny: "Asik!"
Stella menuntut kedua temannya menuju ke halaman belakang rumah dengan melewati lorong samping. Halaman belakang rumah Stella cukup luas. Terdapat sebuah gazebo lengkap dengan meja dan kursi. Di teras rumah juga masih ada sofa untuk bersantai. Saat ketiga remaja itu tiba Tamara sedang berdiri di depan panggangan.
Benny: "Asik! Tinggal makan."
Dion: "Hai, Tamara."
Tamara: "Hai juga Dion."
Tamara: "Enak aja tinggal makan. Masak aja belum. Ini aja lagi tunggu bara apinya nyala."
Benny: "Yah... kira tinggal makan doang."
Tamara: "Mau enak aja kamu, Ben."
Stella: "Coba lihat! Sudah nyala kan? Sudah bisa dipakai buat panggang?"
Tamara: "Bentar lagi, Stel."
Stella: "Aku serahin ke kamu deh. Aku ke dalam ambil minum sama bahan-bahan dulu ya!"
Tamara: "Oke."
Stella: "Dion, kamu ikut aku ke dalam bantu aku bawa ya!"
Dion: "Oh, baiklah."
Stella berjalan menuju ke teras diikuti Dion. Keduanya masuk ke dalam rumah. Dion sampai terkagum-kagum tak bisa berkata-kata melihat interior dalam rumah Stella. Maklum Dion belum pernah melihat secara langsung penampakan isi di dalam rumah mewah itu seperti apa. Yang membuat Dion heran lagi, meskipun rumah Stella begitu besar namun ia tak melihat ada satupun orang di dalam rumah itu. Stella mengeluarkan bahan-bahan yang telah disiapkan yang akan digunakan untuk barbeque dari dalam kulkas. Ada empat buah nampan berukuran sedang. Ada daging, sosis, bakso, dan beberapa jenis sayuran.
Stella: "Dion, tolong bawakan semuanya keluar ya! Aku siapkan minumannya dulu."
Dion: "Iya."
Dion mengambil dua nampan sekaligus dan membawanya ke tempat Tamara. Ia kembali ke dapur bersama Benny untuk mengambil dua nampan yang tersisa. Kemudian Dion kembali ke dapur sendiri.
Dion: "Masih ada yang mau dibawa lagi, Stel?"
Stella: "Ada. Tunggu ya!"
Dion menurut menunggu dengan diam sementara Stella sibuk memotong buah lemon. Dion melihat sekeliling dapur.
Dion: "Rumahmu kok sepi sekali?"
Stella: "Kebetulan orang tuaku sedang ke luar kota."
Dion: "Terus kamu ditinggal sendiri di rumah sebesar ini?"
Stella: "Enggak dong. Ada bibi yang biasa mengurus pekerjaan rumah. Juga masih ada kakakku."
Dion: "Kamu punya kakak?"
Stella: "Iya. Kakak perempuan."
Dion: "Oh. Lalu mereka di mana? Bibi sama kakakmu?"
Stella: "Kakakku lagi keluar jalan sama temannya. Bibi masih sibuk beres-beres di atas. Jadi aku suruh dia lakukan pekerjaannya saja biar di sini aku yang urus."
Stella: "Oh Dion, tolong ambilkan stoples minuman yang ada di meja itu." (Menunjuk)
Dion: "Oke."
Stella: "Makasih ya!"
Dion: "Ini." (Meletakkan di depan Stella)
Stella: "Maaf, jadi harus merepotkan kamu."
Dion: "Tidak apa-apa. Aku senang membantu."
Stella tersenyum. Dan kembali memotong buah lemon. Namun karena kurang hati-hati jarinya malah tergores pisau.
Stella: "Aduh..."
Dion: "Kenapa?"
Stella: "Gak apa-apa cuma tergores pisau."
Stella segera berlari ke wastafel, membuka kran air dan membiarkan air mengalir membersihkan luka gores pada jarinya. Dion menarik beberapa lembar tisu yang ada diatas meja kemudian mendekati Stella. Ia meraih tangan Stella yang basah lalu mengeringkan jari yang terluka itu dengan tisu.
Dion: "Apa lukanya dalam?"
Dion memegang tangan Stella dan melihat luka di jarinya. Hal itu membuat Stella jadi salah tingkah.
Stella: "Hanya luka kecil. Tunggu aku punya plester luka. Aku akan mengambilnya."
Stella langsung pergi dan tak lama kemudian kembali dengan kotak P3K. Stella membuka kotak untuk mencari plester. Dion langsung mengambil alih.
Dion: "Biar aku cari."
Setelah menemukan plester luka Dion langsung menempelkannya ke jari Stella yang terluka. Stella diam memperhatikan wajah Dion yang begitu serius melakukannya.
Dion: "Lain kali kamu harus lebih berhati-hati."
Stella: "Terima kasih."
Dion: "Sisanya biar aku saja yang potong. Kamu duduk dan melihat saja seperti yang dilakukan nona muda pada umumnya."
Stella tertawa.
Stella: "Aku ini nona muda yang serba bisa. Lagipula memangnya kamu bisa melakukannya lebih baik dariku?"
Dion: "Aku ini laki-laki yang serba bisa. Kamu lihat saja apa aku melakukannya dengan baik?"
Dion mulai memotong sisa buah lemon. Ia melakukannya dengan cekatan seperti sudah sangat terampil. Memang pekerjaan seperti ini sudah biasa baginya. Bahkan ia melakukannya dengan lebih baik daripada Stella.
Dion: "Nah, sudah selesai. Apa masih ada yang perlu dipotong lagi?"
Stella: "Tidak ada. Terima kasih. Kamu memotong jauh lebih baik dariku. Aku salut."
Dion hanya tersenyum. Kali ini ia berpikir dipaksa melakukan pekerjaan rumah dari kecil ternyata berguna juga.
Stella: "Aku siapkan minuman dulu. Kamu tolong bawakan gelas-gelas ini ke luar."
Dion: "Baik."
Dion membawa gelas-gelas pergi. Stella mulai membuat minuman. Di tengah kesibukan, ia terdiam sejenak. Melihat plester luka yang melingkar di jarinya. Ia mengingat wajah Dion saat menempelkan plester luka itu. Ia tersenyum manis sendiri.
Dion: "Lagi mikir apa hayo? Senyum-senyum sendiri."
Stella cepat-cepat kembali melakukan pekerjaannya. Merasa malu kepergok sedang senyum-senyum sendiri.
Stella: "Eh, mana ada. Kamu salah lihat kali."
Dion: "Iya deh aku salah lihat."
Dion tidak mau berdebat lebih panjang karena melihat Stella yang tersenyum manis sendiri saja sudah membuatnya senang. Apalagi sikap Stella yang salah tingkah terlihat begitu jelas. Seolah memberitahu Dion akan sebuah hal. Stella pun tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menunduk menyembunyikan senyumnya.
^^^bersambung....^^^
Mirna tipe ibu yg ga bener.. dia suka Rita krn bs dimanfaatin ternyata.. toh tetep aja dibuang suaminya dia oke" saja
bu Mirna sdh tua ga bs jd teladan buat yg muda