Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 25 Apa anda keluarga pasien?
Cecil melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit.
Ia mendengar kabar dari seseorang yang selama ini bekerja sama dengannya, bila Satria telah sadar dari kritisnya.
Tapi, orang yang bekerja sama dengannya itu tidak bisa mendapatkan informasi mengenai kondisi Satria yang sebenarnya.
Agar bisa tahu kondisi Satria seperti apa saat ini, Cecil datang langsung untuk memastikan kondisi pria itu.
Tidak perlu menanyakan dimana ruangan Satria dirawat pada resepsionis, Cecil sudah bisa tahu karena orang yang bekerja sama dengannya yang memberi tahu.
Ceklek.
Setibanya didepan pintu ruang rawat Satria, Cecil langsung membuka pintu tanpa merasa takut bila ia salah kamar.
"Honey," panggil Cecil kemudian mendekati Satria yang masih terbaring lemah dirumah sakit.
Satria yang sedang disuapi oleh perawat itu segera menoleh kesumber suara.
"Ce-cil," panggil Satria.
Cecil yang dipanggil oleh Satria itu mengerutkan keningnya. Dalam benaknya, kenapa pria dihadapannya itu memanggil namanyanya dengan terbata.
Tapi Ia enggan untuk menanyakannya, sehingga ia memilih menanyai hal yang lainnya.
"Kamu lagi makan apa, Honey?" tanya Cecil sembari mendekat pada Satria yang terbaring dibrangker.
Tapi, pertanyaan Cecil itu tidak mendapat jawaban dari Satria.
Karena tidak mendapat jawaban, Cecil yang berada di sebelah branker pria itu segera berjinjit untuk melihat mangkok yang sedang dipegang oleh perawat.
Dilihat oleh Cecil mangkuk yang dipegang perawat itu berisi bubur ayam, dengan separuh mangkoknya sudah kosong karena disuapkan pada Satria.
"Oh, kamu makan bubur, Honey." ucap Cecil.
"Apa anda keluarga pasien?" tanya perawat yang menyuapi Satria itu.
"Iya aku istrinya," ucap Cecil dengan percaya diri.
"Kalau begitu, sebaiknya anda yang menyuapi pasien, Bu." ucap perawat tersebut.
Hahh? Dirinya disuruh menyuapi orang sakit? No! Itu tidak mungkin.
"Aku tidak mau," ucap Cecil.
Perawat disana yang mendengar penolakan dari Cecil tentu saja terheran dibuatnya.
Ia tak menyangka bila Cecil akan menolak menyuapi Satri yang berstatus suaminya sendiri, seolah wanita itu enggan untuk mengurus suaminya.
"Sedikit banyaknya, perhatian dari keluarga bisa menunjang kesembuhan pasien, Bu." ucap perawat.
Setelah mengatakan demikian, perawat itu memberikan mangkuk berisi bubur yang masih tersisa setengah kepada Cecil.
Dengan berat hati akhirnya Cecil menerima mangkuk tersebut dan membiarkan perawat itu keluar dari ruang rawat Satria.
Cecil menyendokan bubur kemulut Satria dengan banyak sehingga membuat pria yang sedang terbaring lemah itu kesulitan menelannya.
"Kapan sih kamu sembuh, Honey? Aku sudah ingin shoping," ucap Cecil.
Satria tak menanggapi ucapan Cecil, ia masih kesulitan untuk menelan bubur tersebut.
"Uang ku habis Honey," ucap Cecil lagi sembari menyuapi Satria banyak-banyak.
Satria masih tak bersuara, membuat Cecil geram dibuatnya.
"Kenapa sih dari tadi kamu diam aja?" tanya Cecil.
Wanita itu meletakan mangkuk bubur itu diatas nakas. Padahal bubur tersebut masih banyak, tapi Cecil sudah malas menyuapi suaminya itu.
"A-ku lum-puh Ce-cil," ucap Satria terbata.
Mata Cecil terbelalak mendengar ucapan Satria. Lumpuh? Pria dihadapannya ini lumpuh? Lalu bagaimana dengan balas dendamnya?
"Tidak, kamu tidak boleh lumpuh, Honey. Kalau kamu lumpuh bagaimana dengan balas dendammu?" tanya Cecil.
"Aku tidak mau melanjutkan balas dendam itu lagi Cecil. Aku menyesal sudah menjadikan Elena sebagai alat balas dendamku," ucap Satria namun hanya mampu ia ucapkan didalam hati.
Pria itu tidak bisa mengeluarkan kalimat tersebut. Jadi yang Cecil tahu Satria hanya terdiam tidak mengeluarkan suara apapun.
Cecil tidak menyukai kabar itu, pasalnya bila Satria lumpuh maka pria itu tidak bisa lagi membalaskan dendam. Hal itu akan merugikan Cecil karena pastinya ia tetap selamanya menjadi istri siri.
"Ayo bicara Honey, jangan diam saja." ucap Cecil sembari menggoyangkan bahu Satria.
Tapi Satria yang terbaring lemah itu justru merasakan perutnya yang mulas ingin buang air besar.
Masih dengan menggoyangkan bahu Satria, tiba-tiba saja Cecil mencium bau tidak sedap, membuatnya menghentikan tangannya untuk menggoyang bahu Satria.
Wanita itu memencet hidungnya karena bau tidak sedap itu masuk begitu saja ke indra penciumannya.
"Bau apa ini?" tanya Cecil.
Satria menatap pada wanita yang berdiri didekat brangkernya. Bau tidak sedap itu berasal dari dirinya yang buang air besar di tempat.
"A-ku B-A-B," ucap Satria masih terbata.
"What! Kamu BAB? di sini? yang benar saja kamu honey?" tanya Cecil tak percaya.
"To-lo-ng ber-sih-kan," pinta Satria
"What! Aku disuruh bersihkan BAB kamu? No! Aku tidak mau," ucap Cecil kemudian melangkahkan kaki menuju pintu ruang rawat Satri untuk memanggil perawat.
"Ada apa Bu?" tanya perawat yang dipanggil oleh Cecil.
Kebetulan juga perawat itu adalah perawat yang selama ini merawat Satria dirumah sakit.
"Pasien di dalam BAB di brangker. Kamu bersihkan dulu," titah Cecil pada perawat tersebut.
Perawat tersebut mengernyitkan keningnya. Yang ia tahu wanita dihadapannya itu mengaku sebagai istri pasiennya.
Lalu kenapa saat pasien itu BAB, wanita dihadapannya justru tidak mau membantu membersihkannya.
Sebelumnya, perawat itu tidak pernah mendapatkan pasien yang memiliki keluarga seperti wanita dihadapannya ini.
"Heh kok malah bengong, cepat bersihkan sana, itu jorok sekali," ucap Cecil bergidik jijik.
"Iya Bu," ucap perawat tersebut kemudian masuk ke dalam ruang rawat Satria.
Cecil yang masih berdiri diambang pintu, tidak tahan melihat joroknya Satria sekarang ini.
Wanita itu segera pergi meninggalkan ruang rawat tersebut.
Sepanjang jalan menyusuri koridor rumah sakit, Cecil terus saja menggerutu karena tak habis pikir pada dirinya yang memiliki suami lumpuh tidak bisa apa-apa, bahkan untuk membersihkan kotorannya sendiri saja tidak bisa.
"Kalau bukan karena ingin mengambil alih perusahaan, aku tidak sudi menjadi istri pria lumpuh sepertinya." gerutu Cecil sembari berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Sedangkan Satria yang ditinggal oleh Cecil, hanya mampu menatap nanar pada pintu yang tertutup.
Satria yakin, bila itu tadi Elena, wanita itu pasti akan membersihkannya, tidak seperti Cecil yang justru meninggalkannya.
"Kenapa buburnya tidak dihabiskan, Pak?" tanya perawat tersebut.
Satria tersenyum masam mendengar pertanyaan dari perawatnya. Bagaimana dia bisa menghabiskan bubur tersebut, bila Cecil saja tidak menyuapinya.
Cecil hanya menyuapi dua suap, itu juga tidak ikhlas.
"Setelah anda saya bersihkan, nanti habiskan buburnya ya." ucap perawat tersebut.
"I-iya," ucap Satria.
Perawat tersebut kemudian membersihkan kotoran Satria dengan telaten.
Bukan hanya sekali dua kali perawat itu mengerjakan hal yang seperti ini, melainkan sudah sangat sering sehingga wanita tersebut sudah terbiasa melakukannya.
Di sela-sela kegiatannya membersihkan Satria, perawat itu mengajak Satria berbicara.
"Yang tadi itu benar istri anda?" tanya perawat tersebut.
Satria menjawab dengan mengedipkan matanya, yang artinya memang benar Cecil adalah istrinya.