Rugi Sabuntel, anak lelaki gendut dan cengeng. Dia selalu diejek dan ditindas oleh anak-anak lain, sampai-sampai nyaris tewas. Hingga muncullah orang sakti bernama Ki Robek yang menolong Rugi.
Rugi yang diangkat murid oleh Ki Robek tumbuh menjadi pendekar sakti yang tetap gendut. Meski seorang pendekar, dia tetap rendah hati dan memilih jalan jujur dengan menjadi kuli di gudang jagung milik Demang Segara Gara.
Namun, tawaran menjadi seorang perampok budiman demi menolong rakyat miskin yang tertindas oleh penguasa, membuat Rugi mengubah jalan hidupnya. Dia pun akhirnya menjadi seorang perampok budiman yang merampok rumah-rumah pejabat dan orang kaya zalim. Hasil rampokannya dia bagi-bagikan kepada rakyat yang telah hidup sengsara karena dizalimi penguasa dan pengusaha.
Lalu akan berakhir seperti apa Rugi Sabuntel ketika dia menjadi buronan nomor satu para penguasa yang punya kekuatan pasukan? Dan siapakah wanita yang akan hinggap di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PB 25: Rugi VS Ki Kumis
*Perampok Budiman (PB)*
Putaran kedua Duel Pendekar Butogilo dimulai. Untuk kedua kalinya para pendekar itu menunjukkan kehebatannya untuk mengalahkan lawan. Ada yang mengalahkan lawannya dengan kesantaian dan ketenangan, ada pula yang dengan ekpresi berlebihan, dan ada pula yang menang dengan penuh perjuangan.
Penuh perjuangan di sini seperti ketika dia dipastikan akan kalah, justru bisa membalikkan keadaan dan menjadi menang. Atau, dia menang dengan berkorban darah, gigi, hingga air mata.
Ada sebanyak delapan pendekar yang menang dan delapan yang gugur, baik itu gugur hanya sekedar kalah, atau gugur sampai mati sungguhan. Membunuh dalam pertandingan ini bukanlah suatu tindakan yang dianggap kriminal.
“Pendekar Gendut Budiman melawan Ki Kumiiis!” teriak Takar Talas memanggil peserta tarung berikutnya.
“Gendut! Gendut! Gendut!” teriak para penonton pendukung Rugi Sabuntel yang semakin banyak.
Penampilan Rugi Sabuntel yang keren di putaran pertama, menarik hati banyak penonton. Namun, sayangnya, yang tertarik lebih banyak kau batangan, sejenis dan satu spesies dengan Rugi.
Buruknya para penggemar, mereka lebih suka mengelu-elukan jagonya dengan sebutan yang negatif. Seperti ketika mengelu-elukan gelar Rugi Sabuntel, mereka lebih memilih dan suka meneriakkan nama “Gendut” dibandingkan “Pendekar” atau “Budiman” yang lebih bagus.
Namun, Rugi Sabuntel sendiri tidak mempermasalahkannya, lalu kenapa dipermasalahkan? Jangan dijawab!
“Kumis! Kumis! Kumis!” teriak para pendukung Ki Kumis.
Ki Kumis adalah pendekar berusia separuh baya bertubuh kekar tapi agak pendek. Dia memelihara kumis melintang berujung runcing memanjang, seperti kumis ikan pesut yang di-freezer-kan. Senjata andalannya adalah cambuk.
Ctas! Ctas!
“Yeee!” sorak para pendukung Ki Kumis saat dua lecutan cambuk terdengar nyaring.
Sambil melompat ke atas panggung berpapan, dia mengelebatkan cambuknya di udara.
Jleg! Ctas!
“Yeee!” sorak penonton lagi saat Ki Kumis mendarat di arena sambil kembali memperdengarkan satu lecutan.
“Rugi Sabuntel siap?” tanya juru panggung Takar Talas sambil menunjuk Rugi Sabuntel yang tidak berbekal senjata.
“Siap!” jawab Rugi.
“Ki Kumis siap?” tanya Takar Talas sambil menunjuk Ki Kumis.
“Siap!” jawab Ki Kumis.
“Mulai!” teriak Takar Talas sambil melesat mundur meninggalkan arena.
“Hiaaat!” pekik Ki Kumis garang sambil maju miring, tidak langsung ke arah Rugi Sabuntel, tetapi berniat mengitarinya, sambil tangan kanannya melesatkan utas cambuknya.
Ctas!
“Yeee!” sorak pendukung Ki Kumis saat cambuk jagonya itu mendera bahu kiri Rugi Sabuntel hinggga merobek kain baju pada bagian itu.
Namun, Rugi Sabuntel bergeming, bahkan dia memberi senyum yang samar kepada Ki Kumis, membuat tukang kumis itu agak gusar. Senyum samar Rugi seperti ledekan baginya.
“Ayo, Pendekar Gendut! Lawan! Rontokkan kumis Ki Kumis!” teriak seorang pendukung Rugi Sabuntel yang geregetan melihat jagonya diam saja dicambuk, bahkan Rugi tidak berbalik saat Ki Kumis memutarinya ke sisi belakang. Padahal Rugi bukan kerbau pembajak laut.
“Ayo, Gendut! Ayo, Gendut!” teriak pendukung Rugi Sabuntel, yang membuat para penonton lagi senyum-senyum, bahkan ada yang tertawa.
Melihat Rugi Sabuntel diam saja, tumbuh rasa cemas di hati Nyai Demang, Campani dan Ageng.
Ctas!
Untuk kedua kalinya Ki Kumis mencambuk bahu kanan Rugi dari belakang. Kali ini lebih keras dan lebih bertenaga dalam.
“Yeee!” sorak penonton lagi. Namun, kali ini yang bersorak adalah pendukung Rugi Sabuntel. Mereka melihat Rugi berhasil menangkap ujung cambuk yang mendarat ke dada pemuda gemuk itu.
Ki Kumis yang berada di belakang cepat menarik cambuknya dengan tenaga dalam. Namun, Rugi Sabuntel yang memegang ujung cambuk sambil membelakangi Ki Kumis, bergeming. Tenaga Rugi begitu kuat menahan ujung cambuk itu.
Lalu Rugi berteriak kepada pendukungnya.
“Teriakkan yeee ooo!”
“Yeee ooo!” teriak para pendukung menirukan teriakan Rugi Sabuntel.
Pada saat pendukungnya berteriak seperti itu, Rugi Sabuntel tiba-tiba melompat ke depan sambil memutar balik tubuh besarnya. Sementara tangannya yang memegang ujung cambuk ikut menarik dengan tenaga gajah.
Ki Kumis yang sedang berusaha adu tarik dengan Rugi Sabuntel terbetot terlompat mengikuti tarikan Rugi Sabuntel, sampai-sampai tubuhnya meluncur ke arah Rugi.
Ki Kumis bukan pendekar kemarin sore. Meski tubuhnya tertarik karena kalah tenaga, tetapi dia sudah mempersiapkan tangan kiri yang mengepal dan berwarna kebiru-biruan dan berasap tipis.
Dak! Bdak!
Melihat Ki Kumis mendatanginya dengan tinju berbahaya, Rugi Sabuntel cepat maju sambil memalangkan lengan besarnya seperti gaya pegulat smack-smack.
Jangankan berhasil mendaratkan tinju panasnya, wajah Ki Kumis justru lebih dulu mencium lengan kekar Rugi Sabuntel. Itu membuat Ki Kumis terbanting ke belakang. Terdengar keras batok kepalanya menghantam lantai arena.
“Yeee!” sorak para pendukung Rugi Sabuntel.
Nyai Demang, Campani dan Ageng pun tersenyum melihat keunggulan Rugi Sabuntel.
“Rugiii! Aku mencintaimuuu!” teriak seorang wanita kencang tiba-tiba dan penuh histeris. Dia menjulurkan tangannya ke arah Rugi sambil berusaha menerobos rapatnya penonton lelaki.
Rugi Sabuntel sempat melirik ke sumber teriakan yang terdengar jelas di telinganya.
Deg!
Tersentak jantung Rugi Sabuntel, sebab wanita yang meneriakkan cinta kepadanya adalah wanita berusia separuh baya yang berpipi jingga terang seperti jeruk karena bedaknya. Meski mengejutkan, tetapi Rugi pada dasarnya baik hati dan tidak sombong karena kegendutannya. Jangankan seorang penggemar, Mak Gendong saja yang lebih tua Rugi goda. Karakter itulah yang membuat Rugi Sabuntel menyempatkan diri melambai tangan kepada wanita berbedak menor itu.
“Hahaha!” tawa para penonton melihat teriakan yang berbalas itu.
Bek bek!
Dalam kondisi sedikit lengah itu, Ki Kumis bangkit dengan gerakan cepat lalu melompat menerjang dada Rugi Sabuntel.
Tendangan itu membuat Rugi terdorong mundur selangkah. Sementara Ki Kumis terdorong balik, tapi bisa mendarat dengan baik.
Set! Blet!
Ki Kumis bergerak menyamping sambil merendahkan tubuhnya dan melesatkan cambuknya lebih rendah. Cambuk itu membelit betis kiri Rugi Sabuntel, lalu menghentaknya.
Terkejut Ki Kumis melihat upayanya untuk menjatuhkan Rugi gagal. Kaki Rugi Sabuntel bergeming sekuat tiang listrik.
“Yeee!” sorak penonton pendukung Rugi.
“Teriak yeee...!” teriak Rugi Sabuntel sambil dia melompat cepat gaya drum berputar di udara.
“Yeee ooo!” teriak para pendukung Rugi.
Bduk!
Bersamaan dengan sebutan “ooo”, tubuh Rugi Sabuntel yang berputar cepat membentur tubuh depan Ki Kumis.
Terpental tubuh Ki Kumis ke arah luar arena. Dia seperti ditabrak badan banteng yang melompat.
Bdak!
Namun, rupanya Ki Kumis masih beruntung. Tubuhnya yang seharusnya terlempar ke luar arena, jadi tertahan oleh cambuk yang ia pegang kuat. Ujung cambuk yang masih melilit di kaki Rugi, membantu Ki Kumis tertahan dan jatuh berdebam di lantai pinggir arena.
“Yeee!” sorak pendukung Rugi Sabuntel kian ramai.
“Bangun, Kumis! Langsung hajar si gendut itu!” teriak seorang pendukung Ki Kumis.
Teriakan itu membuat Ki Kumis tidak mau terlihat jadi pecundang, sebab dia masih memiliki kesaktian.
Ki Kumis bangkit dengan melepas gagang cambuknya. Kedua tangannya mengepal berwarna kebiru-biruan dan berasap tipis.
“Hiaaat!” teriak Ki Kumis keras dan panjang.
Tidak seperti biasanya, Rugi Sabuntel berlari maju menyongsong kedatangan Ki Kumis.
Bdak
“Akh!” pekik Ki Kumis dengan tubuh yang terpental seperti potongan kayu yang dilempar jauh agar dikejar anjing.
Ki Kumis hanya bisa terkejut karena Rugi yang maju kecepatannya tinggi. Ki Kumis bahkan belum sempat menyerangkan kedua tinjunya, tapi perut gendut Rugi Sabuntel sudah menabrak.
“Hahaha!” tawa para penonton melihat tubuh Ki Kumis terpental jauh.
“Yeee ooo!” teriak para penonton sambil memandangi tubuh Ki Kumis yang jatuh ke area tribun.
Brokr!
Bertepatan dengan teriakan “ooo”, tubuh Ki Kumis jatuh di tribun yang mematahkan papan yang ditimpanya.
“Yeee! Hidup Pendekar Gendut! Hidup Pendekar Gendut!” teriak para penonton bersorak menyambut kemenangan Rugi Sabuntel.
Dengan kemenangan itu, Rugi Sabuntel akan melaju ke putaran berikutnya, yaitu babak perempat final besok pagi, tapi agak siangan. (RH)
akhirnya si ikan hamil bisa berenang .